Beberapa Jalur Rejeki Yang Didatangkan Oleh Allah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi (2344), disebutkan, ”Kalaulah kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, maka kalian akan diberikan rizki seperti halnya seekor burung. Burung tersebut pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” Hadis ini memberikan keyakinan kepada umat beragama untuk tidak meragukan bagaimana Allah akan melimpahkan rizki kepada hambanya yang memang memiliki kepercayaan yang besar kepada Allah. Begitu pun dalam alquran, ada beberapa jalur rizki yang juga sudah ditetapkan oleh Allah. Jalur jalur ini diinfokan dengan jelas agar hambanya memiliki keyakinan yang besar dan optimisme yang kuat bahwa rizki itu adalah ketentuan yang akan diberikan kepada hamba hambanya. Seperti yang tergambar di bawah ini: Ada jalur rizki yang sudah dijamin. Jalur ini terdapat dalam surat Hud, ayat 6. Ada juga rizki yang diberikan melalui jalur usaha. Ketentuan ini seperti dijelaskan secara gamblang dalam surat An-Najm ayat 39. Ada jalur bersyukur. Rizki itu akan dilewatkan jalur bersyukur. Ketentuan ini seperti yang termaktub dalam alquran surat Ibrahim ayat 7. Ada juga jalur rizki yang diberikan melalui jalur yang tidak terduga atau tidak disangka sangka. Ketentuan ini seperti tergambar dalam alquran surat At-talaq ayat 2-3. Ada juga jalur karena istighfar. Rizki itu akan dialirkan melalui jalur istighfar seperti yang sudah dijelaskan dalam alquran surat Nuh ayat 10-11. Ada juga rizki dialirkan melalui jalur menikah.

Read More

Beberapa Penyesalan Manusia Ketika Sudah di Akhirat

Surabaya — 1miliarsantri.net : Keberadaan manusia di dunia ini adalah suatu kesempatan yang diberikan untuk melakukan amal baik dan berbuat kebajikan. Manusia, sebagai makhluk yang diberi akal dan hati, memiliki tanggung jawab moral untuk memperbanyak amal baik demi menciptakan kedamaian di dunia ini dan mempersiapkan diri untuk kehidupan di akhirat. Allah telah memberikan penjelasan yang banyak dalam Alquran terkait dengan balasannya terhadap setiap manusia yang tidak taat dan beriman kepada Allah. Oleh karena itu, setiap manusia perlu menyiapkan bekal untuk di akhirat sebelum merasakan penyesalan-penyesalan seperti berikut ini: Pertama menyesal karena tidak berbuat baik dan beramal soleh selama di dunia Kehidupan dunia bagi umat Muslim bukanlah hanya sekadar tempat untuk mencari kesenangan duniawi semata, melainkan juga merupakan ladang amal untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jika semasa hidup umat Muslim tidak pernah berbuat baik dengan sesama, beramal sholeh, dan beriman kepada Allah, maka ia akan mendapatkan siksaan yang pedih di akhirat. Sebagaimana penyesalan manusia digambarkan dalam ayat berikut: يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْۚ Dia berkata, “Oh, seandainya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini!” (QS Al Fajr: 24). Begitu pula digambarkan tentang manusia yang menyesali perbuatannya semasa di dunia tidak beriman kepada Allah. Berikut bunyi surat Al An’am ayat 27: وَلَوۡ تَرٰٓى اِذۡ وُقِفُوۡا عَلَى النَّارِ فَقَالُوۡا يٰلَيۡتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِاٰيٰتِ رَبِّنَا وَنَكُوۡنَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ Seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, “Seandainya kami dikembalikan (ke dunia), tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman. (QS Al An’am: 27). Ayat ini menerangkan keadaan mereka di hari akhir nanti yang akan disaksikan oleh umat manusia. Ketika mereka dihadapkan ke muka api neraka, barulah mereka menyadari azab yang akan diterima dan timbul penyesalan dalam diri mereka atas kekafiran dan kelancangan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya selama di dunia. Maka pada saat yang sangat mengerikan dan dahsyat itu mereka mengajukan permohonan kepada Allah agar berkenan mengembalikan mereka ke dunia untuk bertobat dan beramal saleh serta beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak lagi mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka berjanji akan menjadi orang mukmin. Ketika seorang Muslim tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam kehidupan dunia, dia membuka diri terhadap konsekuensi yang serius, baik di dunia maupun di akhirat. Ketidaktaatan ini tidak hanya mempengaruhi hubungan individu dengan penciptanya, tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial dan spiritualnya. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Al Ahzab bahwa setiap manusia yang semasa hidupnya tidak taat terhadap ajaran Allah dan Rasul, maka akan mendapatkan siksaan yang pedih di akhirat. Sehingga mereka yang mendapat siksaan akan menyesali perbuatannya. يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوْهُهُمْ فِى النَّارِ يَقُوْلُوْنَ يٰلَيْتَنَآ اَطَعْنَا اللّٰهَ وَاَطَعْنَا الرَّسُوْلَا۠

Read More

Ungkapan Islami Kini Jadi Budaya Populer di Barat

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Istilah-istilah islami saat ini seakan sudah menjadi hal biasa diungkapkan oleh masyarakat dunia, bahkan oleh orang non-Muslim. Kata-kata “insya Allah” hingga “masya Allah” adalah beberapa kata yang sering terdengar di berbagai kesempatan. Kata-kata ini tidak lagi hanya dapat didengar di dunia Barat saat khutbah bagi umat Muslim. Tapi juga dapat ditemukan dalam lagu rap atau dalam beberapa acara olahraga. Atlet Ultimate Fighting Championship seperti Khabib Nurmagomedov tidak malu dengan warisan Muslim mereka dan telah menggunakan ekspresi Islami dalam wawancara. Di tempat lain, entertainer seperti DJ Khaled menerima tantangan untuk mengajarkan kata-kata Arab kepada penggemar mereka. Dalam salah satu klip viral, produser musik itu memperagakan pengucapan bahasa Arab. Beberapa kata sebenarnya sudah menjadi mainstream bahkan di dunia Barat, diantaranya sebagai berikut. Berasal dari bahasa Arab, kata salam adalah salah satu salam yang paling banyak digunakan di Timur Tengah dan dunia Islam. Secara harfiah, salam berarti “damai”. Kata ini serumpun dengan salam Ibrani shalom, karena bahasa Arab dan Ibrani adalah bahasa Semit dengan nenek moyang yang sama. Dalam konteks Islam, salam adalah cara singkat untuk mengatakan Assalamualaikum. Saat ini, varian salam banyak digunakan oleh komunitas non-Muslim dan sekuler di Timur Tengah, serta di negara-negara di mana Muslim menjadi minoritas. Ungkapan itu cukup dikenal oleh rapper Maroko-Amerika French Montana untuk merilis single berjudul Salam Alaykum. Presiden AS Joe Biden menjadi berita utama karena penggunaan ungkapan insya Allah dalam debat dengan Donald Trump menjelang pemilihan presiden AS 2020. Ungkapan tersebut sarat dengan konotasi yang beragam di dunia Islam, tergantung konteks penggunaannya. Ungkapan insya Allah berarti “jika Tuhan menghendaki” dan digunakan oleh umat Islam setiap kali mereka mengungkapkan harapan mereka untuk masa depan. Ini berfungsi sebagai pengingat kendali Tuhan atas masa depan, serta ketidakmampuan manusia untuk mengubah apa yang ditakdirkan. Dalam konteks lain, rapper Kanada Drake menggunakan insya Allah dalam lagunya di 2018 “Diplomatic Immunity”. Pada 2017, aktor Lindsay Lohan memposting foto dirinya di Instagram dengan judul “insya Allah” dan tanpa konteks lebih lanjut, membuat para penggemarnya bingung. Setahun kemudian, dia menggunakannya lagi di pos berkabung mendiang Raja Arab Saudi Abdullah, yang meninggal pada 2015. Lagu T5 oleh Swet Shop Boys (duo rap Himanshu Kumar Suri dan Rizwan Ahmed) juga dibuka dengan “Insya Allah”.

Read More

Menjadi Morning Person Mendatangkan Manfaat Bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Istilah morning person disematkan pada orang-orang yang terbiasa bangun pagi. Bagi umat Islam, menjadi morning person adalah sebuah “keharusan” karena ada ibadah yang dilakukan sebelum matahari terbit yaitu Sholat Subuh. Morning person dianggap sebagai hal yang positif, entah itu bagi kesehatan mental dan juga fisik. Mengutip laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), umat Islam memiliki adab tersendiri ketika bangun tidur pada pagi hari. Dalam Kitab Bidayat al-Hidayah karya Imam Abu Hamid Al Ghazali, diterangkan tentang adab seorang Muslim ketika bangun tidur. Adab paling utama adalah harus diusahakan bangun sebelum adzan subuh (sekitar pukul 04.30 WIB). Dalam hadistnya, Rasulullah SAW mengingatkan untuk memaksimalkan ibadah di waktu tersebut. يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَلَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ Artinya: “Rabb kita, tabaroka wa ta’ala, turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata, ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, Aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Aku ampuni’,” (HR Bukhari). Setelah itu, adzan berikutnya adalah berzikir, dan diikuti dengan berdoa ketika bangun dari tidur dengan doa sebagai berikut: الْحَمْدُ للهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ للهِ وَالْعُظْمَةُ وَالسُّلْطَانُ ِللهِ وَالْعِزَّةُ وَالْقُدْرَةُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الْإِسْلَامِ وَعَلَى كَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مَحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. أَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحَيَا وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ. أَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَبْعَثَنَا فِى هَذَا الْيَوْمِ إِلَى كُلِّ خَيْرٍ وَنَعُوْذُ بِكَ أَنْ نَجْتَرِحَ فِيْهِ سُوْأً أَوْنجْرِهِ إِلَى مُسْلِمٍ أَوْ يُجْرِهِ أَحَدٌ إِلَيْنَا. نَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا فِيْهِ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا فِيْهِ Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nyalah kami kembali. Aku memasuki pagi, sedang kekuasaan tetap hanyalah milik Allah, kemuliaan dan kekuasaan milik Allah pula. (Dialah) Tuhan seru sekalian alam. Aku menyongsong pagi dengan kesucian Islam dan dengan kalimat ikhlas (syahadat) serta dengan agama (yang dibawa) Rasulullah SAW”. Sementara itu, dilansir Times of India, menjadi morning person memiliki berbagai manfaat kesehatan dan keuntungan, berikut ini adalah tujuh di antaranya: Pagi hari menawarkan waktu yang tenang dan tanpa gangguan untuk fokus pada tugas tanpa gangguan kehidupan sehari-hari. Dengan bangun pagi, Anda dapat menyelesaikan proyek penting, menetapkan tujuan hari itu, dan membangun momentum produktif sepanjang sisa hari. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang bangun pagi cenderung lebih proaktif dan memiliki keterampilan manajemen waktu yang lebih baik, sehingga menghasilkan peningkatan produktivitas dan kesuksesan baik dalam upaya pribadi maupun profesional. Bangun pagi memungkinkan Anda memulai hari dengan pikiran jernih dan waspada. Saat otak Anda bertransisi dari tidur ke terjaga, fungsi kognitif seperti memori, konsentrasi, dan kemampuan pemecahan masalah dioptimalkan. Dengan memanfaatkan kejernihan mental ini di pagi hari, Anda dapat melakukan tugas dengan lebih fokus dan efisien, sehingga menghasilkan pengambilan keputusan dan pemecahan masalah yang lebih baik sepanjang hari.

Read More

Kisah Hanzhalah, Seorang Sahabat Rasulullah SAW Yang Jenazah nya Dimandikan Malaikat

Surabaya — 1miliarsantri.net : Hanzhalah bin Abi Amir bin Malik Al-Anshari adalah salah satu sahabat Nabi SAW yang meninggal dalam perang Uhud. Ia adalah syuhada yang dalam sejarah Islam terkenal sebagai sahabat Nabi SAW yang dimandikan langsung oleh malaikat. Hingga kemudian kalangan sahabat memberinya julukan Hanzhalah Al-Ghasil atau Ghasil Al-Malaikah (orang yang dimandikan Malaikat). Karena julukan itu juga orang-orang lalu memanggil keturunannya dengan Banu Ghasil Al-Malaikah. Dikutip dari buku “40 Sahabat Nabi yang Memiliki Karomah” karya Abdul Wadud Kasyful Humam, Hanzhalah bin Abi Amir merupakan anak seorang pendeta Yastrib, Abu Amir bin Shaify. Ia adalah salah satu petinggi suku Aus yang sangat benci dan memusuhi Islam. Pada masa jahiliah, ia mendapat julukan Abu Amir Ar-Rahib, namun kemudian diganti oleh Rasulullah saw., dengan julukan Abu Amir Al-Fasiq. Julukan tersebut Rasulullah berikan karena dulunya dia adalah scorang pendeta (rahib) yang mengakui akan datangnya seorang Nabi dan berpegang pada agama hanif. Tapi, ketika Muhammad sudah menjalankan risalah kenabiannya, ia justru membenci dan memusuhinya. Bahkan, dalam perang Uhud ia berada di garda depan bersama pasukan Quraisy untuk memerangi Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Pada waktu pembukaan kota Makkah, Abu Amir pergi ke Romawi menemui raja Heraklius hingga akhirnya meninggal dunia pada 9 H. Tidak lama kemudian, anak Hanzhalah masuk Islam dan menjadi muslim yang baik. Bahkan ia pernah meminta izin Rasulullah untuk membunuh ayahnya, tetapi beliau tidak mengizinkan. Setelah memeluk Islam, Hanzhalah menikahi Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul, satu hari sebelum terjadinya Perang Uhud. Malam harinya, ia meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk bermalam bersama istrinya. Nabi SAW mengizinkan Hanzhalah untuk bersama dengan istri yang baru saja dinikahinya itu. Setelah melaksanakan salat Subuh, ia ingin secepatnya bergabung dengan pasukan Nabi ke Uhud. Namun sebelum berangkat, ia sempat bersenggama terlebih dahulu dengan istrinya. Tiba-tiba, ia mendengar seruan untuk berjihad, maka ia segera keluar memenuhi seruan itu dalam kondisi masih junub, belum sempat mandi besar. Dalam peperangan itu, Abdullah bin Zubair memberikan kesaksian bahwa Hanzhalah berduel dengan Abu Sufyan bin Harb. Ketika Abu Sufyan hampir dikalahkan oleh Hanzhalah, dengan pedangnya yang siap menghunus dan merobek leher Abu Sufyan, namun Abu Sya’ub atau Syadad bin Al-Aswad melihat hal itu. Abu Sya’ub lalu mengayunkan pedangnya kepada Hanzhalah hingga membuatnya jatuh tersungkur dan akhirnya gugur sebagai syuhada. Dalam syariat, orang yang mati syahid bisa langsung dimakamkan tanpa harus dimandikan, kecuali jika ia dalam keadaan junub. Karena para sahabat tidak mengetahui Hanzhalah dalam keadaan junub, mereka pun hendak langsung menguburkannya tanpa dimandikan. Lalu Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya aku melihat malaikat sedang memandikan Hanzhalah bin Abi Amir di antara langit dan bumi dengan air dari awan di sebuah tempat yang terbuat dari perak.” Abu Sa’id Sai’di, RA berkata, “Ketika Baginda Rasulullah SAW berkata demikian, aku pergi melihat jenazahya. Kulihat bulir-bulir air bekas mandi menetes dari kepala Hanzhalah.” Sepulang dari perang Uhud, para sahabat lalu bertanya kepada Istri Hanzhalah mengenai kabar suaminya. Istri Hanzhalah menjawab, “Ketika mendengar panggilan perang, Hanzhalah segera keluar dalam keadaan junub dan belum sempat mandi…” (yat)

Read More

Rasulullah SAW Menganjurkan Kita Memelihara dan menyayangi Anak Yatim

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Di Indonesia banyak terdapat panti-panti asuhan bagi anak yatim piatu yang didirikan oleh individu maupun kelompok dan lembaga. Ada pula yang bergerak secara individu mengasuh anak yatim tanpa mendirikan panti asuhan. Ahli hadis, As-Samarqandi dalam bukunya 200 Motivasi Nabi & Kisah Inspiratif Pembangun Jiwa mengatakan mengasuh anak yatim merupakan perbuatan mulia. Rasulullah SAW bahkan menyebut surga adalah janji bagi mereka yang mengasuh anak yatim. Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang menjamin anak yatim dan yang lainnya, maka aku dan dia seperti ini di surga.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR Bukhari dan Muslim). Meskipun anak yatim hidup tanpa kelengkapan keluarga, namun mereka mempunyai syafaat luar biasa. Itu sebabnya mereka yang merawatnya dijanjikan surga. Diceritakan, seorang saleh berkata, “alasan yang membuatku bertobat dari suka meneggak minuman keras dan bergaul dengan para pengangguran, adalah karena suatu hari aku berjumpa dengan seorang anak yatim yang telanjang, lalu aku memakaikannya pakaian. Ia kelaparan, lalu aku memberinya makan. Dan, aku juga memandikannya. Malam harinya, aku bermimpi seolah kiamat sudah datang. Aku didatangkan bersama makhluk yang lain. Setelah amalku dihisab, aku diperintahkan ke neraka. Di tengah perjalanan, aku melihat anak yatim itu Ia berkata kepada malaikat Zabaniyah, ‘Wahai malaikat Tuhanku, orang ini telah berbuat baik kepadaku di dunia. Tunggulah sebentar, aku akan memintakan syafaat untuknya kepada Tuhanku.’ Malaikat berkata, ‘Aku tidak diperintahkan untuk menunda-nunda.’ Tiba-tiba terdengar suara, ‘Lepaskan dia. Kami telah memberinya yang pantas untuknya berkat syafaat si anak yatim yang ia perlakukan dengan baik.’ Setelah terbangun, aku bertobat dan berhenti dari perbuatan buruk yang selalu kulakukan. Selanjutnya, aku lebih giat lagi mencurahkan kasih sayang dan membantu anak-anak yatim.” Beberapa ayat Alquran telah menyebutkan tentang perintah agar memuliakan anak yatim. Seperti dalam Surah an-Nisa’ ayat 36: وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ Wa‘budullāha wa lā tusyrikū bihī syai’aw wa bil-wālidaini iḥsānaw wa biżil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wal-jāri żil-qurbā wal-jāril-junubi waṣ-ṣāḥibi bil-jambi wabnis-sabīl(i), wa mā malakat aimānukum, innallāha lā yuḥibbu man kāna mukhtālan fakhūrā(n).

Read More

Beberapa Doa Agar Hati Tenang Ketika Mengalami Post Holiday Blues

Yogyakarta — 1miliarssntri.net : Post holiday blues adalah perubahan suasana hati sebagai transisi antara masa liburan dan aktivitas rutin yang harus dijalani. Perasaan yang muncul pada kondisi ini seperti rasa sedih, kesepian, hingga kekecewaan. Rasa sedih merupakan salah satu emosi yang ditanamkan kepada setiap manusia. Saat merasakan emosi ini umumnya orang akan menjadi lebih banyak diam, kurang bersemangat dan menarik diri. Memiliki rasa sedih itu wajar namun jika kesedihan itu terlalu dalam bisa menimbulkan dampak negatif ke dalam diri seseorang. Seorang muslim yang tengah merasakan kesedihan dianjurkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai cara seperti shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir dan berdoa. Rasulullah SAW mengajarkan sejumlah doa yang bisa dibaca saat merasakan kesedihan. Doa pertama diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Imam Ahmad dalam sebuah hadits yang telah dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud. اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِي كُلَّهُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ “Allahumma rahmataka arju fala takilni ila nafsi tharfaka ainin ashlihli sya’ni kullaha laa ilaha illa anta.” “Ya Allah, rahmat-Mu aku harapkan, janganlah Engkau serahkan (segala urusanku) kepada diriku walau sekejap mata, perbaikilah segala urusanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.” Rasulullah mengajarkan doa seperti dikutip dalam Hadits Sunan An-Nasa’i). أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ ابْنِ فُضَيْلٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَقَ عَنْ الْمِنْهَالِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَ دَعَوَاتٌ لَا يَدَعُهُنَّ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Read More

Ini Waktu Paling Tepat Membaca Ayat Kursi

Surabaya — 1miliarsantri.net : Ayat kursi memiliki banyak keutamaan bahkan salah satu ayat yang memiliki kedudukan agung dalam Alquran. Ayat ini turun pada suatu malam saat setelah Rasulullah SAW hijrah dari kota Makkah ke Madinah. Berikut bacaan ayat kursi sebagaimana tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat ke-255: اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ Latin: Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum. Laa ta’khudzuhuu sinatuw wa laa naum. Lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardh. Man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi idznih. Ya’lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum. Wa laa yuhiithuuna bi syai-im min ‘ilmihii illaa bi maa syaa-a. Wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardha wa laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa Wahuwal ‘aliyyul ‘azhiim. Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.” (QS Al-Baqarah [2]:255). Lalu kapan waktu yang paling utama atau paling afdhol membaca Ayat Kursi? Meskipun ayat Kursi dapat dibaca kapan saja, ada tiga waktu yang paling afdhol untuk membaca ayat ini. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW, ada tiga waktu utama yang sangat dianjurkan membaca ayat Kursi, yaitu setiap pagi dan petang, setelah sholat lima waktu, dan sebelum tidur. Ayat kursi dianjurkan dibaca di waktu pagi dan petang untuk melindungi dari gangguan setan. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab tentang jin yang mencuri kurmanya. Dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu Anhu: bahwa ada jin (syaitan) yang berkata kepadanya: “Apabila kamu membaca ayat Kursi pada pagi hari, maka kamu akan dilindungi dariku sampai petang, dan apabila kamu membacanya pada waktu petang (sore hari), maka kamu akan dilindungi dariku sampai waktu pagi (esok harinya)”. Ubay Radhiyallahu Anhu berkata: Aku pun pergi menemui Rasulullah SAW, kemudian aku mengabarkan kepada beliau hal tersebut, dan beliau bersabda: “Makhluk yang buruk itu berkata jujur”. Rasulullah SAW bersabda, مَنْ قَرَأَ آيَةَ اَلْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ اَلْجَنَّةِ إِلَّا اَلْمَوْتُ

Read More

Beberapa Peristiwa Penting Yang Terjadi di Bulan Syawal

Surabaya — 1miliarsantri.net : Dalam sejarah Islam, Syawal dikenal sebagai bulan yang penuh sejarah heroik. Dahulu, peperangan yang melibatkan Nabi dan para pengikutnya melawan musuh-musuhnya terjadi di bulan Syawal. Setidaknya peperangan itu tercatat empat kali di bulan Syawal. Demikian ini sebagaimana dipaparkan Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur dalam artikelnya dengan judul 6 Peristiwa Penting yang Terjadi pada Bulan Syawal. Selain tentang peperangan heroik kaum Muslimin yang bertepatan di bulan Syawal, ada dua peristiwa besar lain juga tercatat dalam sejarah Islam terjadi di bulan Syawal, yakni pernikahan Nabi dan waktu lahir dan wafatnya Imam Bukhari. عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: تَزَوَّجَنِى رَسُولُ اللَّهِ فِى شَوَّالٍ. وَفِي رِوَايَةٍ: أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَ أُمَّ سَلَمَةَ فِي شَوَّالٍ Artinya, “Dari Aisyah ra, ia berkata: Rasulullah saw menikahiku di bulan Syawal. Dalam riwayat yang lain: Sungguh Nabi menikah dengan Ummu Salamah ra pada bulan Syawal.”

Read More

KH Mustofa Bisri : Halal bi Halal Merupakan Produk Asli Nusantara

Semarang — 1miliarsantri.net : Mpmentum Lebaran Idul Fitri sering kali dijadikan untuk ajang berkumpul dengan sanak famili, tetangga, maupun teman lama yang jarang bertemu. Salah satu kegiatan yang kerap dilakukan di bulan Syawal adalah halal bihalal. Menurut sejarahnya, kegiatan halal bihalal merupakan ide yang dicetuskan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah seusai diminta saran oleh Presiden Indonesia kala itu, Soekarno atau Bung Karno. Hal ini sebagaimana keterangan yang tertera pada tulisan di NU Online berjudul KH Wahab Chasbullah, Pelopor Tradisi Halal Bihalal. Baca Juga KH Wahab Chasbullah Penggagas Istilah “Halal Bihalal” Kala itu, pada 1948, situasi politik Indonesia sedang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab menyarankan Bung Karno untuk mengadakan silaturahim yang mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara guna menghadiri silaturahim bertajuk halal bihalal. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah menyampaikan bahwa halal bihalal merupakan produk budaya asli Nusantara. “Halal bihalal itu (budaya asli) Indonesia, berkembang sejak jaman Nusantara. Di Arab itu tidak ada. Banyak yang Mengira Halal Bihalal Produk Arab,” jelasnya yang diakses pada Selasa (16/4/2024). Menurut Gus Mus, kegiatan halal bihalal ini merupakan bentuk dari kecerdasan sesepuh yang ada di Nusantara waktu itu.

Read More