Ustadz Hanan Attaki Ungkap Kekuatan Doa yang Mengguncang Langit

Jakarta — 1miliarsantri.net : Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kita sering dihadapkan pada berbagai masalah yang seolah tak berujung. Namun, siapa sangka bahwa solusi dari permasalahan kita mungkin terletak pada sebuah zikir sederhana yang telah dipraktikkan sejak zaman Nabi? Ustadz Hanan Attaki, seorang ulama muda yang terkenal dengan gaya dakwahnya yang segar, baru-baru ini membagikan sebuah rahasia yang mungkin bisa menjadi game-changer dalam hidup kita. Dalam sebuah ceramahnya, Ustadz Hanan Attaki mengungkapkan kekuatan luar biasa dari zikir Nabi Yunus Alaihis Salam (AS). Beliau menyarankan untuk mengamalkan zikir ini secara konsisten, terutama ketika kita sedang menghadapi masalah. “Coba kalau kita punya masalah, dawamkan zikirnya Nabiyullah Yunus AS, setiap malam minimal 100 kali,” ujar Ustadz Hanan, dikutip Ahad (11/8/2024). Zikir yang dimaksud adalah: “La ilaha illa anta subhanak inni kuntu minadzdzalimiin.” Yang artinya: “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” Ustadz Hanan juga menekankan pentingnya pengucapan yang benar. Beliau menjelaskan bahwa waqof (tempat berhenti) yang tepat adalah setelah kata “subhanak”, bukan setelah “subhanaka”. Detil kecil ini, menurut beliau, sangat penting untuk diperhatikan. Namun, bukan hanya pengucapan yang penting. Konsistensi dan intensitas juga menjadi kunci. Ustadz Hanan menyarankan untuk membaca zikir ini minimal 100 kali setiap malam, dengan catatan tidak ada batasan maksimal. Yang lebih menarik lagi, beliau menganjurkan untuk melakukan praktik ini setidaknya selama 10 malam berturut-turut tanpa jeda.

Read More

Doa Untuk Pejabat yang Mempersulit Rakyat

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah RA, Rasulullah SAW pernah mengucapkan doa yang diperuntukkan bagi pejabat. Namun, doa yang satu ini diperuntukkan bagi pejabat yang berbuat buruk dengan jabatannya, dan juga pejabat yang berbuat baik lewat jabatan yang diembannya. Aisyah RA meriwayatkan bahwa dirinya pernah mendengar Rasulullah SAW mengucapkan doa di rumahnya. Beliau SAW berdoa sebagaimana berikut ini: اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ Allahumma man waliya min amri ummati syai’an fa syaqqo ‘alaihim fasyquq ‘alaihi, wa man waliya min amri ummati syai’an farofaqo bihim farfuq bihi “Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan untuk mengurusi umatku lalu dia mempersulit mereka, maka persulit jugalah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan untuk mengurusi umatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR. Muslim) Hadits itu menekankan bahwa jabatan di pemerintahan yang diemban oleh seseorang merupakan amanah berdasarkan nilai dan kompetensi yang disertai ilmu dan pemahaman. Jika seseorang yang telah diberi tanggung jawab atau jabatan yang membuatnya memiliki tanggung jawab, lalu mencelakakan atau mempersulit rakyatnya, maka celakalah pula ia dalam berbagai urusannya sebagai ganjaran.

Read More

Bulan Safar dianggap memiliki waktu yang sial

Jakarta — 1miliarsantri.net : Bulan Muharram pada tahun ini telah berakhir pada 5 Agustus 2024. Pada Selasa (6/6/2024), umat Islam telah memasuki bulan Safar, yaitu salah satu bulan dalam penanggalan Islam. Nama bulan Safar diambil dari kata “صَفَر” (safar) dalam bahasa Arab, yang berarti “kosong”. Dinamakan Safar karena masyarakat Arab saat itu berbondong-bondong keluar mengosongkan daerahnya, baik untuk berperang atau bepergian jauh. Mengutip dari buku “Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah” terbitan Balai Pustaka, Bulan Safar adalah bulan kedua setelah Muharam dalam kalender Hijriyah yang berdasarkan tahun qomariah (Perkiraan bulan mengelilingi bumi). Selain diambil dari kata kosong (safar), ada pula yang menyatakan bahwa nama Safar diambil dari nama suatu jenis penyakit sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Arab Jahiliyah pada masa dulu, yakni penyakit Safar yang bersarang di dalam perut, akibat dari adanya sejenis ulat besar yang sangat berbahaya. Itulah sebabnya mereka menganggap bulan Safar sebagai bulan yang penuh dengan kejelekan. Pendapat lain juga menyatakan bahwa Safar adalah sejenis angin berhawa panas yang menyerang bagian perut dan mengakibatkan orang yang terkena menjadi sakit. Karena itulah beberapa orang di masa lalu mungkin memiliki keyakinan atau kepercayaan tertentu terkait dengan bulan Safar, menganggapnya sebagai bulan yang membawa sial atau kesialan. Benarkah demikian? Sebagiamana diketahui, dalam sejarahnya orang Arab jahiliah beranggapan terdapat kesialan terdapat kesialan pada bulan Safar. Pemikian jahiliah ini pun masih diwarisi oleh segelintir umat Islam zaman ini akibat lemahnya keimanan dalam jiwa. Mereka beranggapan bulan Safar adalah bulan di mana Allah menurunkan kemarahan dan hukuman ke atas dunia. Oleh karena itu, banyak musibah dan bencana terjadi pada bulan Safar, khususnya pada Rabu Minggu terakhir. Namun, penting untuk dicatat bahwa pandangan ini ternyata tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam yang shahih. Dalam Islam, tidak ada bukti yang menghubungkan bulan Safar dengan kesialan atau peristiwa buruk.

Read More

Empat Contoh yang Bisa Membuat Masjid Jadi Pusat Penyebaran Najis

Jakarta — 1miliarsantri.net : Suci dari hadas dan najis menjadi salah satu syarat sah shalat. Tak hanya yang berkaitan dengan badan, kesucian juga harus diperhatikan pada pakaian maupun tempat sholat. Meski demikian, Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru NU (PP Pergunu), KH Nasrulloh Afandi, mengungkapkan, saat ini banyak masjid yang tidak terjaga kesuciannya. Padahal, dari segi arsitektur, masjid tersebut dibangun dengan megah dan indah. “Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) atau pengurus masjid seringkali kurang memperhatikan masalah kesucian masjid,’’ ujar pria yang akrab disapa Gus Nasrul. Gus Nasrul mengungkapkan, masalah kesucian masjid yang kurang diperhatikan itu sering ditemukannya pada masjid-masjid yang berada di rest area jalan tol, SPBU, tempat wisata, perkantoran, perusahaan, rumah makan bahkan permukiman. Kolam untuk mencuci kaki jamaah menjadi salah satu ciri khas Masjid Pathok Negoro Mlangi, Sleman, Yogyakarta. Masjid Pathok Negoro Mlangi atau Masjid Jami An Nur merupakan salah satu dari empat Masjid Pathok Negoro milik Keraton Yogyakarta. Masjid Pathok Negoro Mlangi merupakan yang pertama dibangun pada masa Sultan HB I pada Tahun 1758. Selain digunakan untuk ibadah warga sekitar, masjid ini juga menjadi tujuan wisata religi peziarah. Gus Nasrul mencontohkan, masalah kesucian yang kerap ditemukan di antaranya, keberadaan kobokan kaki depan toilet, dimana airnya menggenang, tidak mengalir dan volume airnya kurang dua kulah. Dia meyakini, banyak kaki yang terkena najis usai dari toilet, melewati kobokan itu, kemudian masuk ke masjid dan tanpa disadari jadi menyebarkan najis ke dalam masjid. Selain itu, desain bangunan yang kurang tepat juga sering kali menyebabkan pembuangan air dari toilet mengalir masuk ke kobokan cuci kaki di depan tempat wudhu. Air kobokan itu selanjutnya digunakan oleh orang-orang yang habis berwudhu. Gus Nasrul juga sering menemukan petugas kebersihan masjid menggunakan alat pel yang sebelumnya dipakai untuk mengepel lantai toilet. Setelah itu, alat pel tersebut digunakan untuk mengepel lantas masjid tanpa mensucikannya terlebih dahulu. “Lantai toilet sering kali terkena najis. Walaupun alat pel terlihat bersih, tapi jika digunakan tanpa disucikan terlebih dulu, maka najis dari toilet yang menempel di alat pel bisa menyebar ke seluruh lantai masjid atau mushola,’’ tutur Pengasuh Pondok Pesantren Balekambang Jepara Jateng itu.

Read More

Rasulullah Pernah Menjadi Makmum Masbuk

Jakarta — 1miliarsantri.net : Peristiwa ini terjadi ketika Makkah sudah dibebaskan dari kekuasaan musyrik (Fathu Makkah). Kabar kemenangan Rasulullah SAW dan umat Islam menggemparkan hingga ke luar Jazirah Arab. Di utara, penguasa Romawi sudah bersiap-siap menyerang Madinah. Kabar itu sampai kepada Rasulullah SAW. Maka, beliau bertolak ke Tabuk (sekira perbatasan Arab-wilayah kekuasaan Romawi) dengan ditemani 40 ribu orang prajurit Muslimin. Kabar itu sampai kepada Rasulullah SAW. Maka, beliau bertolak ke Tabuk (sekira perbatasan Arab-wilayah kekuasaan Romawi) dengan ditemani 40 ribu orang prajurit Muslimin. Belum sampai di tempat tujuan, langit menunjukkan tanda-tanda masuk waktu subuh. Rasulullah SAW pun menyuruh segenap kaum Muslimin yang menyertainya untuk singggah. Mereka pun bersiap melaksanakan shalat subuh berjamaah. Namun, Rasulullah SAW tiba-tiba berkeinginan buang hajat. Beliau pun pergi ke suatu tempat dengan didampingi al-Mughirah bin Syu’bah, yang bertugas membawa bejana berisi air. Sahabat ini lantas berdiri agak jauh dari tempat Rasulullah SAW buang hajat. Setelah itu, Rasulullah SAW keluar. Al-Mughirah dengan sigap menuangkan lagi dengan bejana air untuk beliau berwudhu. Para sahabat yang sudah bershaf-shaf tidak tahu bahwa Nabi SAW sedang buang hajat. Mereka pun menunggu dalam waktu yang cukup lama. Salah seorang dari mereka lantas menghampiri Abdurrahman bin ‘Auf, untuk memintanya menjadi imam Shalat Subuh. Karena pertimbangan waktu subuh yang menuju hampir habis, Maka Ibnu Auf pun setuju. Dia lantas mengimami shalat subuh seluruh pasukan Muslimin. Ketika itulah datang Rasulullah SAW bersama al-Mughirah. Beliau hanya mendapat satu rakaat dari shalat subuh berjamaah itu.

Read More

Kisah Imam Malik dan Imam Syafii

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ada ulama yang memegang pandangan bahwa rezeki datang dengan sendirinya. Dengan kata lain, seorang Muslim akan dikejar rezeki selama bertakwa kepada Allah SWT. Pendapat itulah yang dipegang oleh Imam Malik, salah satu imam mazhab dari empat mazhab yang populer. Imam Malik berpandangan, rezeki itu datang tanpa sebab, kecuali karena keimanan kepada Allah SWT. Dasar pendapat Imam Malik terkait datangnya rezeki ini adalah hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab RA. Berikut haditsnya: عَنْ أَبِي تَمِيمٍ الْجَيْشَانِيِّ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا Diriwayatkan dari Abu Tamim Al Jaisyani, dia mendengar Umar berkata bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan memberi rezeki kepada kalian, sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung, yang pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi dan Ahmad) Pandangan Imam Malik itu terbukti dalam sebuah kisah yang terjadi antara dirinya dan Imam Syafii. Untuk diketahui, Imam Syafii memiliki pendapat sebagai berikut: لولا غدوها ورواحها ما رُزقت. أي أنه لا بد من السعي. “Jika bukan karena pergi dan pulangnya itu, tidak akan mendapat rezeki.” Artinya, Imam Syafii menekankan bahwa untuk mendapatkan rezeki maka perlu berupaya. Suatu kali, Imam Syafii yang merupakan murid dari Imam Malik, melihat seorang pria tua yang sedang membawa sekantong kurma muda yang tampak berat untuk dibawanya. Lalu Imam Syafii membantu pria tersebut dengan membawakan sekantong kurma itu. Setibanya di rumah pria tersebut, Imam Syafii diberikan oleh pria itu beberapa kurma sebagai imbalan atas bantuan yang telah diberikan.

Read More

Qotzman Bukan Syahid, Ternyata Penghuni Neraka

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dakwah Rasulullah Muhammad SAW selama di Madinah tidak sepi dari rongrongan kaum musyrikin Quraisy. Perang Uhud merupakan salah satu bukti nyata provokasi orang-orang kafir itu yang tidak ridha akan syiar Islam. Dalam pertempuran ini, pasukan Muslimin berjumlah sekitar tujuh ratus orang. Rasulullah SAW memimpin langsung mereka. Sementara itu, kaum musyrikin yang bertolak dari Makkah mencapai tiga ribu orang. “Kalah” jumlah tak berarti surutnya semangat jihad. Bahkan, tekad para sahabat Nabi SAW semakin kuat untuk melawan musuh-musuh Allah. Mati syahid menjadi sebuah kerinduan; melindungi Rasul SAW menjadi sebuah dorongan hati yang kuat. Salah seorang yang berangkat ke medan pertempuran dari Madinah ialah Qotzman. Ia ikut dalam kubu Muslimin. Pasukan Muslimin hampir saja berhasil merebut kemenangan. Namun, sekelompok yang ditugaskan untuk berjaga-jaga di atas bukit melalaikan tugasnya. Alhasil, sejumlah prajurit musyrikin yang dipimpin Khalid bin Walid (waktu itu belum menjadi Muslim) berhasil menyerang balik Rasulullah SAW dan para sahabat beliau. Barisan Muslimin pun panik dan porak poranda. Bahkan, Nabi SAW mengalami luka-luka pada wajah beliau. Tak sedikit sahabat yang gugur. Ketika pertempuran Uhud benar-benar usai, Muslimin menderita kekalahan. Sementara, kaum musyrikin kembali ke Makkah dengan rasa puas karena dendam sejak Perang Badar telah terlampiaskan. “Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman.”, kata salah seorang sahabat. Sebab, Qotzman ditemukan telah ikut gugur dengan luka-luka yang banyak di sekujur tubuhnya. Mendengar perkataan itu, Nabi Muhammad SAW menjawab, “Sungguh, dia itu adalah golongan penduduk neraka.”

Read More

Cara Mandi Taubat untuk Pelaku Dosa Besar

Jakarta — 1miliarsantri.net : Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, memberikan nasihat penting bagi mereka yang telah melakukan dosa besar. Dalam sebuah pernyataan yang menarik perhatian publik, beliau menekankan pentingnya mandi taubat sebagai langkah awal untuk memohon ampunan kepada Allah SWT. Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa dosa besar mencakup berbagai tindakan yang sangat merugikan diri sendiri dan orang lain. Beberapa contoh yang disebutkan antara lain zina, aborsi, fitnah, dan kebohongan yang berdampak fatal bagi orang lain. Beliau menegaskan bahwa pelaku dosa-dosa tersebut perlu segera melakukan mandi taubat. “Segeralah mandi taubat. Basuhi seluruh rambutnya, kemudian sholat sunnat dua rakaat dengan baca disitu Astagfirullahaladzim Seratus kali,” terang Nasaruddin Umar. Prosedur mandi taubat yang dianjurkan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal ini meliputi beberapa langkah penting. Pertama, membasuh seluruh rambut dan tubuh. Kedua, melaksanakan sholat sunnah dua rakaat. Ketiga, membaca istighfar (Astagfirullahaladzim) sebanyak 100 kali. Keempat, dilanjutkan dengan membaca “Ya tawwab, ya ‘afuw, ya ghafur” sebanyak 100 kali. Terakhir, membaca surat Al-Fatihah. Nasaruddin Umar menekankan bahwa rangkaian ibadah ini memiliki riwayat atau dasar dalam ajaran Islam. Beliau berharap dengan melakukan mandi taubat ini, Allah SWT akan meringankan beban perasaan orang yang telah melakukan dosa besar.

Read More

Sedekah, Shalat, dan Amalan yang Bermanfaat untuk Orang Wafat

Jakarta — 1miliarsantri.net : Salah satu hal yang bermanfaat bagi orang yang sudah meninggal yakni hadiah pahala sedekah dari keluarga atau kerabat yang masih hidup. Ini misalnya, adalah sedekah anak untuk orang tuanya yang sudah meninggal dunia. Dikutip dari buku Azab dan Nikmat Kubur karya Syekh Husain bin Audah al-Awaisyah, diriwayatkan dari Aisyah, ummul mukminin, sebagai berikut. “Seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, ‘Ibuku meninggal dunia secara tiba-tiba, dan aku yakin, seandainya ketika itu ia masih bisa bicara, niscaya ia akan bersedekah. Bolehkah aku bersedekah atas namanya?’ Rasulullah SAW lalu menjawab, ‘Bersedekahlah atas namanya!’” (HR Bukhari dan Muslim). Di samping itu, hal lain yang bermanfaat bagi orang yang sudah meninggal adalah dishalatkan dan didoakan. Itu dapat memberikan syafaat bagi orang yang telah meninggal. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak seorang mayit pun yang dishalatkan oleh 100 orang Muslimin (dan mereka) memohonkan syafaat untuknya, kecuali Allah akan menerima permintaan syafaat mereka untuknya” (HR Muslim). Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak seorang Muslim pun yang meninggal, lalu 40 orang yang tidak melakukan kemusyrikan kepada Allah berdiri untuk menshalatkan jenazahnya, melainkan Allah pasti akan menerima permohonan syafaat mereka untuknya” (HR Muslim). Ada pula amalan-amalan yang pahalanya terus mengalir walaupun si pengamal sudah meninggal dunia. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga:, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakan kepadanya” (HR Muslim).

Read More

Terdapat 41 Nama Lain Kiamat

Jakarta — 1miliarsantri.net : Selain kata kiamat, ditemukan sekitar 41 nama yang mengisyaratkan tentang kiamat dalam Alquran. Sebagian nama terkait dengan proses kehancuran alam (kiamat), sebagian lainnya mengisyaratkan pada keadaan manusia sesudah terjadinya kiamat, seperti yaumul-mahsyar (hari tempat berkumpul), yaumul-jam‘i (hari pengumpulan seluruh makhluk), yaumul-hisab (hari perhitungan), dan yaumul-jaza’ (hari pembalasan). Secara umum, istilah Alquran yang menunjuk pada makna kiamat dapat dikelompokkan menjadi tiga. Yaitu pertama, nama yang menggambarkan karakteristiknya. Kedua, julukan yang menggambarkan keadaan hari dan manusia pada saat itu. Ketiga, julukan yang menggambarkan sifat-sifatnya. Berikut ini nama-nama kiamat dalam Alquran 27, Yaumul-Jidal (hari berbantah). Saat itu semua manusia akan membela diri dengan membantah semua dakwaan yang ditujukan kepadanya.

Read More