Ciri Orang yang Celaka dengan Shalatnya

Jakarta — 1miliarsantri.net : Shalat lima waktu adalah ibadah fardhu bagi setiap Muslim. Saat melaksanakan ibadah shalat, hendaknya setiap Muslim melakukannya dengan kesungguhan hati, yaitu hanya mengharapkan ridha Allah SWT. Pendakwah sekaligus pendiri Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym menyebut shalat sebagai shalat ada dzikir yang paling lengkap. “Shalat itu adalah dzikir yang paling lengkap. Mulai dari takbir, tahmid, tahlil, tasbih, ada Al-Fatihah, ada ayat-ayat Qur’an, ada doa di antara dua sujud, ada tasbih sambil ruku’, tasbih sambil sujud, ada shalawat, ada salam. Lengkap sekali. Maka kalau kita ingin menjadi ahli dzikir yang baik, perbaiki shalat,” kata Aa Gym dalam tausiyah “Orang yang Celaka dengan Shalatnya”, dilihat di chanel Aagym Official, Rabu (21/8/2024). Namun, di balik keutamaan ibadah shalat, Aa Gym mengingatkan ada 6 ciri orang yang shalatnya celaka dan merugi. “Ciri orang yang shalatnya celaka, rugi. Satu, dia merasa berat untuk shalat. Shalat dianggap beban, jadi mau melaksanakan shalat itu berat tidak gembira, tidak sukacita. Ini ciri orang yang jelek dalam shalatnya,” lanjutnya. Tanda kedua dari orang yang celaka dalam shalatnya adalah riya atau suka pamer. Kata Aa Gym, tipe orang seperti ini senang bila shalatnya diketahui orang lain. “Kalau ada orang lain tahu dia shalat, dia gembira dan agak semangat. Tapi kalau tidak ada yang tahu, dia malas. Dan dia (orang riya) kecenderungan shalatnya untuk dipamerkan,” jelas Aa Gym. Kemudian, dai berdarah Sunda ini menyebut orang yang suka menunda waktu shalat termasuk yang merugi. Padahal, lanjut Aa Gym, Allah SWT menyukai orang yang menyegerakan shalat atau mengerjakannya di awal waktu. “Keempat, cepat shalatnya. Tidak ada tuma’ninah. Jadi baca Alfatihahnya, dari takbirnya saja sudah kelihatan,” terang Aa Gym.

Read More

Gus Mustain: Pembagian Alat Kontrasepsi Jangan Diartikan Melegalkan Seks Bebas

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pembagian alat kontrasepsi kepada remaja yang termaktub dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024, sebaiknya jangan diartikan melegalkan seks bebas. Hal tersebut disampaikan Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam UIN Raden Mas Said Surakarta, Ahmad Muhamad Mustain Nasoha “Saya berhusnudzon pemerintah kita tidak mungkin memiliki niat tidak baik yaitu melegalkan seks bebas melalui terbitnya PP ini,” terang pria yang akrab dipanggil Gus Musta’in ini. Wakil presiden kita, lanjutnya, adalah ulama dan bahkan Mantan Ketua Umum MUI Pusat yang sangat paham mana yang halal dan mana yang haram. Tentunya pendapat beliau menjadi pertimbangan penting bagi presiden dan pejabat lainnya l, untuk menetapkan setiap kebijakan khususnya PP ini. Seperti diberitakan, pemerintah telah resmi menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 tentang Pelaksanaan Undang-Undang (UU) Kesehatan. Menurut Gus Mustain, peraturan ini sering kali disalahartikan sebagai regulasi yang berpotensi melegalkan seks bebas khususnya pada pasal berikut ini: Pasal 103 ayat (1): “Upaya Kesehatan sistem reproduksi usia sekolah dan remaja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (1) huruf b paling sedikit berupa pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi, serta Pelayanan Kesehatan reproduksi.” 
Pasal 103 ayat (2): “Pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit mengenai: a. sistem, fungsi, dan proses reproduksi; b. menjaga Kesehatan reproduksi; c. perilaku seksual berisiko dan akibatnya; d. keluarga berencana; e. melindungi diri dan mampu menolak hubungan seksual; dan f. pemilihan media hiburan sesuai usia anak.”
Pasal 103 ayat (3): “Pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan melalui bahan ajar atau kegiatan belajar mengajar di sekolah dan kegiatan lain di luar sekolah.” 
Pasal 103 ayat (4): “Pelayanan Kesehatan reproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit meliputi: a. deteksi dini penyakit atau skrining; b. pengobatan; c. rehabilitasi; d. konseling; dan e. penyediaan alat kontrasepsi.” Pasal 103 ayat (4): “Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf d dilaksanakan dengan memperhatikan privasi dan kerahasiaan, serta dilakukan oleh Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, konselor, dan/atau konselor sebaya yang memiliki kompetensi sesuai dengan kewenangannya.” Bahkan ia mengutip pernyataan pakar masyarakat Dr. F.X. Hadisoemarto, bahwa pemberian informasi yang benar kepada remaja dapat mengurangi perilaku seksual yang tidak aman.

Read More

Tiga Golongan Orang Beribadah Menurut Abu Bakar Ash Shiddiq

Jakarta — 1miliarsantri.net : Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani dalam kitab Nashaihul Ibad menukil riwayat yang diriwayatkan Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu anhu tentang tiga golongan orang yang beribadah. Sahabat Rasulullah Muhammad SAW tersebut juga menjelaskan ciri-ciri tiap golongan orang yang beribadah. Diriwayatkan dari Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu anhu bahwa ia berkata, “Mereka yang beribadah ada tiga golongan, masing-masing mempunyai tanda-tanda yang dapat diketahui. Yaitu, golongan pertama, beribadah kepada Allah karena takut kepada-Nya. Golongan kedua, beribadah kepada Allah karena mengharap anugerah-Nya. Golongan ketiga, beribadah kepada Allah karena cinta kepada-Nya.” “Adapun tanda-tanda golongan yang pertama adalah sebagai berikut, melihat dirinya hina, merasa kebajikannya sedikit dan merasa kejelekannya banyak.” “Golongan yang kedua memiliki ciri-ciri, ia mengikuti semua hal ihwal manusia, ia dermawan kepada orang lain, zuhud terhadap dunia, dan ia berbaik sangka kepada Allah dalam menghadapi semua makhluk.” “Sedangkan tanda-tanda golongan yang ketiga adalah sebagai berikut, ia memberikan sesuatu yang disenangi dan tidak peduli setelah Tuhannya ridha, mengerjakan pekerjaan yang membuat benci nafsunya dan tidak melayani nafsunya setelah mendapat ridha Tuhannya, dan di dalam segala hal ihwal hidupnya selalu bersesuaian dengan Tuhannya, baik mengenai perintah maupun larangan-Nya.” (Syekh Nawawi al-Banteni, Nashaihul Ibad) Syekh Nawawi al-Bantani juga menyampaikan pesan-pesan lainnya. “Jangan sampai salah satu dari kalian mati, melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah SWT.”

Read More

Kemenag Sumut Dorong Siswa Madrasah Terampil Berbahasa Asing

Medan — 1miliarsantri.net : Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) terus memperkuat kemampuan siswa madrasah terhadap penggunaan bahasa asing di sekolah. Hal tersebut disampaikan Kepala Kanwil Kemenag Sumut, Ahmad Qosbi. “Adanya pembiasaan bahasa asing, baik Arab maupun Inggris, kemudian tahfiz Alquran dan lain sebagainya,” terang Ahmad Qosbi kepada 1miliarsantri.net, Jumat (16/8/2024). Menurutnya, dengan pembiasaan menggunakan bahasa asing diharapkan bisa meningkatkan daya saing siswa madrasah, terutama Madrasah Aliyah ketika menjadi alumni di lapangan pekerjaan. Pentingnya keilmuan, baik sains dan pengetahuan umum yang dikombinasikan dengan pemahaman keagamaan agar siswa madrasah meraih kecerdasan dan pribadi yang berakhlakul karimah. Data Kanwil Kemenag Provinsi Sumut menyebutkan jumlah lembaga Raudhatul Athfal/RA (taman kanak-kanak) hingga madrasah di Sumatera Utara per 1 Januari 2024, sebanyak 4.844 unit dengan jumlah sebanyak 635.495 siswa. Terdiri atas RA swasta 1.968 unit dengan 86.302 siswa, Madrasah Ibtidaiyah Negeri/Swasta 1.067 unit dengan 204.629 siswa, Madrasah Ibtidaiyah 1.192 unit dengan 230.428 siswa, dan Madrasah Aliyah 617 unit dengan 114.136 siswa. “Siswa harus berhasil dalam hal sains dan ilmu pengetahuan umum, lalu siswa juga harus memiliki akhlakul karimah, dan pemahaman agama yang tinggi,” lanjutnya.

Read More

Dzikir Pembuka Rezeki

Surabaya — 1miliarsantri.net : Di antara salah satu amalan sederhana yang dapat membuka rezeki adalah dzikir. Dzikir yang ringan seperti mengucapkan tasbih, tahmida dan takbir, seperti yang dikutip dalam Rumah Fikih, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, جَاءَ الْفُقَرَاءُ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالُوا ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ مِنَ الأَمْوَالِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلاَ وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى ، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ ، وَلَهُمْ فَضْلٌ مِنْ أَمْوَالٍ يَحُجُّونَ بِهَا ، وَيَعْتَمِرُونَ ، وَيُجَاهِدُونَ ، وَيَتَصَدَّقُونَ قَالَ « أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ بِأَمْرٍ إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ أَدْرَكْتُمْ مَنْ سَبَقَكُمْ وَلَمْ يُدْرِكْكُمْ أَحَدٌ بَعْدَكُمْ ، وَكُنْتُمْ خَيْرَ مَنْ أَنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِ ، إِلاَّ مَنْ عَمِلَ مِثْلَهُ تُسَبِّحُونَ وَتَحْمَدُونَ ، وَتُكَبِّرُونَ خَلْفَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ » . فَاخْتَلَفْنَا بَيْنَنَا فَقَالَ بَعْضُنَا نُسَبِّحُ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ ، وَنَحْمَدُ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ ، وَنُكَبِّرُ أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ . فَرَجَعْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ « تَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ ، حَتَّى يَكُونَ مِنْهُنَّ كُلِّهِنَّ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ. “Ada orang-orang miskin datang menghadap Rasulullah SAW. Mereka berkata, orang-orang kaya itu pergi membawa derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka puasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa berhaji, berumrah, berjihad serta bersedekah. Nabi ﷺ lantas bersabda, “Maukah kalian aku ajarkan suatu amalan yang dengan amalan tersebut kalian akan mengejar orang yang mendahului kalian dan dengannya dapat terdepan dari orang yang setelah kalian. Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada kalian, kecuali orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan. Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir di setiap akhir shalat sebanyak tiga puluh tiga kali.” Kami pun berselisih. Sebagian kami bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, bertakbir tiga puluh empat kali. Aku pun kembali padanya. Rasulullah SAW bersabda, “Ucapkanlah subhanallah wal hamdulillah wallahu akbar, sampai tiga puluh tiga kali.” (HR. Bukhari, no. 843). Abu Shalih yang meriwayatkan hadits tersebut dari Abu Hurairah berkata,

Read More

Pemerintah Berikan Penghargaan Kepada 61 Tokoh Indonesia

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-79, Pemerintah Indonesia memberikan tanda jasa dan kehormatan kepada 61 tokoh dari berbagai latar belakang. Dari 61 tokoh tersebut, satu di antaranya adalah pencipta Shalawat Badar, KH Ali Manshur Shiddiq. Pemberian penghargaan akan dilakukan di Istana Presiden, Jakara Pusat. Putra bungsu KH Ali Manshur Shiddiq, Gus Saiful Islam Ali mengaku dihubungi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur mengenai penghargaan tersebut. “Saya bersyukur bisa mendampingi Kiai Syakir, putra sulung Kiai Ali Manshur sebagai ahli waris yang menerima tanda kehormatan dari Presiden,” ungkap Gus Saiful kepada 1miliarsantri.net, Kamis (15/8/2024). Gus Saiful mengungkapkan rasa bahagianya selepas pemerintah memberikan tanda penghormatan tersebut. Baginya, itu menunjukkan bahwa perhatian pemerintah terhadap nilai-nilai keislaman dalam perjuangan bangsa mendapatkan konsen yang khusus. “Shalawat badar dipakai untuk menyemangati umat Islam terkhusus kaum Nahdliyin yang waktu itu telah dirongrong oleh kelompok-kelompok yang ingin mengkudeta negara kita ini. Shalawat badar dipakai di mana-mana, oleh sebab itu kita sebagai generasi penerus marilah kita memakai shalat badar ini sebagai media kita memohon kepada Allah agar kiranya nanti selalu dalam koridor, jalan, dan dijaga oleh Allah,” tambahnya. Diketahui bahwa Shalawat Badar, yang diciptakan oleh KH Ali Manshur di Banyuwangi pada tahun 1962, telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) melalui sertifikat Nomor 2194/F4/KB.08.06/2022 tertanggal 21 Oktober 2022. Dia mengatakan bahwa shalawat ini lahir pada masa ketegangan politik setelah pembubaran Konstituante oleh Presiden Soekarno, sebagai bentuk doa dan ikhtiar batin untuk keselamatan umat dan bangsa.

Read More

Rasulullah SAW Berpesan tentang Apa yang Terjadi di Palestina Menjelang Kiamat

Jakarta — 1miliarsantri.net : Rasulullah SAW telah memberi pesan soal apa yang akan terjadi di Palestina menjelang hari kiamat. Hal itu didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Hawalah Al Uzdi RA. Berikut ini bunyi haditsnya: نزلَ عليَّ عبدُ اللَّهِ بنُ حوالةَ الأزديُّ فقالَ لي: بعثَنا رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ لنغنمَ على أقدامنا فرجعنا، فلم نغنم شيئًا وعرفَ الجَهْدَ في وجوهنا فقامَ فينا فقالَ: اللَّهمَّ لا تَكِلْهُم إليَّ، فأضعفَ عنهم، ولا تَكِلْهُم إلى أنفسِهِم فيعجزوا عنها، ولا تَكِلْهُم إلى النَّاسِ فيستأثروا عليهم ثمَّ وضعَ يدَهُ على رأسي، أو قالَ: على هامَتي، ثمَّ قالَ: يا ابنَ حوالةَ، إذا رأيتَ الخلافةَ قد نزَلَت أرضَ المقدَّسةِ فقَد دنَتِ الزَّلازِلُ والبَلابلُ والأمُورُ العِظامُ، والسَّاعةُ يومَئذٍ أقرَبُ منَ النَّاسِ من يدي هذِهِ من رأسِكَ Abdullah bin Hawalah datang lalu berkata, “Rasulullah SAW mengutus kami untuk mendapatkan rampasan perang dengan berjalan kaki. Kemudian kami tidak mendapatkan sesuatu, dan beliau mengetahui kondisi berat pada wajah kami. Kemudian beliau berdiri dan berdoa: Allaahumma laa takilhum ilayya fa-adh’ufa ‘anhum, wa laa takilhum ilaa anfusihim faya’jizuu anhaa, wa laa takilhum ilan naasi fayasta`ruu ‘alaihim Terjemahan: Ya Allah, janganlah engkau serahkan mereka kepadaku sehingga aku lemah (tidak kuat) menanggung mereka, dan janganlah Engkau serahkan diri mereka kepada mereka sehingga mereka tidak mampu menanggung diri mereka. Dan janganlah Engkau serahkan mereka kepada orang-orang sehingga mereka mementingkan diri mereka atas diri mereka. Kemudian Rasulullah SAW meletakkan tanganku (tangan Abdullah bin Hawalah) di atas kepalaku. Lalu beliau bersabda, “Wahai putra Hawalah, apabila engkau melihat kekhalifahan telah turun di Tanah yang Suci (Palestina), maka sungguh telah dekat bencana gempa dan berbagai kesedihan serta perkara-perkara besar. Pada saat itu hari kiamat lebih dekat kepada orang-orang daripada tanganku ini ke kepalamu” (HR Abu Daud).

Read More

MUI : Melarang Anggota Paskibra Pakai Jilbab Lecehkan Konstitusi dan Agama Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net : Bila benar pihak pemerintah melarang anggota Paskibra dalam kesempatan peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-79 di Ibu Kota Nusantara (IKN) memakai jilbab, maka berarti pemerintah telah melakukan tindak kekekerasan terhadap rakyatnya sendiri. Tindakan tersebut tentu jelas sangat kita sesalkan karena selain tidak menghormati HAM juga telah melecehkan konstitusi RI itu. Alasan konstitusi sudah dilecehkan sebab dalam pasal 29 ayat 1 dan 2 sudah jelas-jelas dikatakan bahwa (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Bagi perempuan Muslim atau Muslimah, memakai jilbab itu adalah ibadah. Karena itu, kalau ada orang yang melarang kaum perempuan yang beragama Islam memakai jilbab di negeri ini, maka hal demikian berarti yang bersangkutan sudah tidak menghormati konstitusi. Selain itu, pihak yang melarang perempuan Muslim di Indonesia memakai jilbab telah melecehkan ajaran agama Islam. Tentu saja hal tersebut tidak bisa diterima. Sebab, pihak yang melarang juga akan bisa memancing dan menimbulkan keresahan serta kegaduhan di tengah-tengah masyarakat terutama di kalangan umat Islam. (wink)

Read More

Polemik Nasab Ba Alawi di Indonesia Dinilai Kebablasan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Mengikuti polemik tersambung atau tidaknya nasab Ba Alawi yang menjadi muara garis keturunan para habib di Indonesia dengan Rasulullah SAW, memunculkan kesimpulan tentang hal-hal yang sudah kelewatan, dari kedua belah pihak. Padahal, sudah sepatutnya, dalam tradisi keilmuan Islam, mesti disertai dengan adab, akhlak, dan amanah ilmiyah. Sebagian tokoh mencatat setidaknya ada lima hal yang sudah kelewatan dari pro kontra nasab habaib, yaitu sebagai berikut: Pertama, hilangnya sikap adil dalam berpikir dan bersikap, sebagai ciri utama pengkaji ilmu. Kedua belah saling merasa dirinya benar. Satu hal yang sangat tidak dianjurkan dalam tradisi keilmuan Islam. Imam asy-Syafii pernah menuturkan demikian: رأيى صواب يحتمل الخطأ، ورأى غيرى خطأ يحتمل الصواب “Pendapatku benar namun mungkin saja salah, tetapi pendapat orang lain salah, dan bisa jadi benar.” Kedua, terlalu berlebihan membanggakan nasab Tak ada yang istimewa dari nasab. Nasab tidak akan menyelamatkan seseorang dari api neraka atau mengantarkannya dengan mudah menuju surga. Tak sedikit dari oknum habib yang merendahkan nasab orang lain sembari meninggikan dan mensucikan nasabnya. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَفْتَخِرُونَ بِآبَائِهِمْ الَّذِينَ مَاتُوا إِنَّمَا هُمْ فَحْمُ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنْ الْجُعَلِ الَّذِي يُدَهْدِهُ الْخِرَاءَ بِأَنْفِهِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالْآبَاءِ إِنَّمَا هُوَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ النَّاسُ كُلُّهُمْ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ خُلِقَ مِنْ تُرَابٍ Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Hendaklah mereka segera berhenti dari membangga-banggakan nenek moyang mereka yang telah mati, -hanyasanya nenek moyang mereka adalah arang neraka Jahannam- atau mereka lebih hina di sisi Allah dari hewan yang mendorong kotoran dengan hidungnya, sesungguhnya Allah telah menghapus dari kalian seruan Jahiliyyah dan berbangga-bangga dengan nenek moyang, (yang ada) hanyalah mukmin yang bertakwa atau pendosa yang celaka, semua manusia adalah anak Adam, sedangkan Adam tercipta dari tanah.” (HR Tirmidzi). Dalam Sunan al-kubra, Imam al-Bukhari menukilkan riwayat tengan nasihat Rasulullah SAW kepada putrinya Fatimah agar tidak membanggakan nasab. مَعْشَرَ قُرَيْشٍ اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا Artinya: “Wahai golongan orang Quraisy! Peliharalah diri kalian karena aku tidak dapat sedikit pun di hadapan Allah. Wahai Bani Abdi Manaf! Aku tidak dapat sedikit pun di hadapan Allah. Wahai Abbas bin Abdul Muthalib! Aku tidak dapat sedikit pun di hadapan Allah. Wahai Shafiyah bibi Rasulullah! Aku tidak dapat sedikit pun di hadapan Allah. Wahai Fatimah putri Muhammad! Mintalah kepadaku apa saja yang kamu mau (dari hartaku), sungguh aku tidak dapat sedikit pun di hadapan Allah.” (HR Bukhari dalam Sunan al-Kubra). Ketiga, hilangnya adab dan munculnya saling membenci. Kedua belah pihak saling membenci satu sama lain. Kebencian ini bahkan melibatkan para muhibbin (pecinta) masing-masing. Fenomena ini sangat bahaya jika diteruskan, bisa merusak persaudaraan umat Muslim. عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَكْذِبُهُ، وَلايَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ). رَوَاهُ مُسْلِمٌ Dari Abu Hurairah RA dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ”Janganlah kalian saling dengki, melakukan najasy, saling membenci, saling membelakangi dan sebagian dari kalian menjual apa yang dijual saudaranya. Jadilah kalian semua hamba–hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzhaliminya, menghinanya, mendustakannya dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini –sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali– cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram dan terjaga darah, harta dan kehormatannya.” (HR Muslim) Keempat, generalisasi yang berbahaya Di antara yang kelewatan dari polemik nasab habib di Indonesia adalah generalisasi yang berbahaya. Generalisasi berpikir dan generalisasi dalam bersikap. Generalisasi bersikap itu misalnya menegasikan seluruhnya nasab habaib di Indonesia terputus sama sekali, dengan menafikan kemungkinan adanya pendapat lain yang menyatakan ketersambungannya. Di saat yang sama, menafikan nasab walisongo tersambung dengan Rasulullah SAW secara keseluruhan. Demikian juga dalam bersikap memandang dan memperlakukan orang lain. Di setiap kelompok pasti ada oknum. Misalnya, terdapat oknum habib yang melenceng, tetapi bukan berarti kita memvonis semua Habib atau semua kiai telah menyimpang dari agama. Dalam kitabnya at-Tafkir al-Mudhui fi al-Islam, Fuad al-Banna menulis demikian: إن التعميم لا يجوز في المنطق الإسلامي، حتى في الدعاء، فلم يثبت أن الرسول صلى الله عليه وسلم دعا على أي من الكفار لكفرهم، لكنه دعا على المعتدين منهم، وهنا لن تجد أي مجتمع يتصف بصفات الاعتداء برمته، فهناك دوما من يكرهون ذلك. ولتقرير حقيقة المسؤولية الفردية وحرمة التعميم جاء في الحديث الشريف أن أبا هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ( قرصت نملة نبيا من الأنبياء فأمر بقرية النمل فأحرقت، فأوحى الله إليه أن قرصتك نملة أحرقت أمة من الأمم تسبح ) [1] . [ ص: 185 ] وفي سياق تحريم التعميـم أورد القرآن أنه حـتى في إطـار الجمادات لا يصح هذا التعميم، فمخلوق مثل الحجارة الصماء، ليست بذلك السوء الذي يظنه المشاهد لها، لاشتمالها على صور من الخير، كما قال تعالى: ( وإن من الحجارة لما يتفجر منه الأنهار وإن منها لما يشقق فيخرج منه الماء وإن منها لما يهبط من خشية الله ) (البقرة:74) ، وقال: ( لو أنزلنا هذا القرآن على جبل لرأيته خاشعا متصدعا من خشية الله ) وبين لنا القرآن أن هناك استثناءات صالحة في دوائر الفساد نفسها، حيث لا وجود للشر المطلق والخير المحض، قال تعالى: ( والشعراء يتبعهم الغاوون * ألم تر أنهم في كل واد يهيمون * وأنهم يقولون ما لا يفعلون * إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وذكروا الله كثيرا وانتصروا من بعد ما ظلموا وسيعلم الذين ظلموا أي منقلب ينقلبون ) (الشعراء:224-227). “Generalisasi tak boleh dalam logika Islam. Sekalipun dalam doa misalnya, tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi SAW mendoakan celaka…

Read More

Meditasi Islam yang Mampu Relaksasi Pikiran dan Mengurangi Stres

Jakarta — 1miliarsantri.net : Meditasi merupakan cara untuk merelaksasi pikiran dari semua bentuk perasaan. Praktik ini dinilai ampuh untuk menekan tingkat stres dan rasa cemas. Berbicara tentang meditasi, kita sering membayangkannya dengan yoga atau meditasi zen. Namun ada juga meditasi yang dapat dilakukan umat Muslim. Meditasi disebut sebagai inti dari spiritualitas Islam, yaitu dengan berserah diri pada kehendak Allah Ta’ala. Ada berbagai manfaat dari meditasi yang bisa dirasakan di antaranya mengurangi stres, meningkatkan daya ingat, menambah fokus dan konsentrasi, menurunkan reaktivitas emosional, hingga meningkatkan hubungan pribadi. Semua jenis meditasi Islam melibatkan kegiatan yang bentuknya mengingat Allah dan tujuannya untuk menyucikan hati dari pikiran negatif. Berikut lima cara meditasi Islam yang bisa dilakukan sehari-hari: Taffakur artinya berpikir dengan sengaja, konstruktif, terarah, dan positif. Berapa banyak waktu yang kita habiskan dalam sehari untuk merenungkan kebesaran Allah? Di masa kekinian, taffakur dianggap sangat penting. Sebab, bila tidak ada waktu untuk merenung dan berpikir maka akan timbul rasa ketakutan. Akibatnya, hal ini dapat menimbulkan stres, kecemasan, dan kurangnya kedamaian dalam diri. Yang perlu kita lakukan adalah melepaskan diri dari belenggu yang mengikat dengan urusan duniawi. Cara yang bisa dilakukan adalah duduk diam selama lima menit setelah shalat fardhu. Pejamkan mata dan pikirkan bagaimana Allah selalu mengawasi kita. Renungkan bagaimana, pada saat ini, Allah Ta’ala mengetahui segala sesuatunya baik itu kekhawatiran, ketakutan, harapan hingga impian. Rasa syukur kita perlu ditanamkan setiap hari dan dilakukan secara sadar. Ibnul Qayyim menjabarkan syukur sebagai menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, seperti pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah” (Madarijus Salikin, 2/244). Dikutip dari Universitas Islam Indonesia (UII), disebutkan bahwa syukur adalah sifat para nabi. Nabi Muhammad tidak luput dari syukur walaupun telah dijamin baginya surga. Diceritakan oleh Ibunda ‘Aisyah i,“Rasulullah ` biasanya jika beliau shalat, beliau berdiri sangat lama hingga kakinya mengeras kulitnya. ‘Aisyah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau sampai demikian? Bukankan dosa-dosamu telah diampuni, baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Rasulullah besabda: ‘Wahai Aisyah, bukankah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur?’” (H.R. Bukhari no. 1130, Muslim no. 2820). I’tikaf adalah berdiam diri atau mengisolasi diri dari hal-hal yang mengganggu konsentrasi dalam beribadah. Tujuannya untuk memperbanyak ibadah kepada Allah SWT dan mendekatkan diri kepada-Nya. I’tikaf merupakan ibadah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dengan menghabiskan waktu berhari-hari di Gua Hira sebelum kenabiannya. Setelah kenabian, beliau menetapkan itikaf di bulan Ramadhan sebagai ibadah yang pahalanya sangat besar. Berdiam diri datang dengan keheningan.

Read More