Sejarah Syiar di Kepulauan Maluku

Ternate — 1miliarsantri.net : Kalangan sejarawan umumnya sepakat, Islam sudah berkembang pesat di Maluku ketika Portugis datang pada 1512 M. Salah satu kerajaan terbesar di sana, Ternate, telah diperintah oleh seorang raja Muslim. Kesultanan itu akhirnya mengetahui bahwa Portugis tidak hanya menjalankan perdagangan rempah-rempah secara curang, tetapi juga berkedok menyebarkan agama Kristen. Pemimpin dan rakyat setempat pun bahu-membahu untuk memerangi bangsa Eropa tersebut. Jejak kejayaan Islam di Maluku tampak dari pelbagai bangunan setempat yang telah berumur ratusan tahun. Salah satunya ialah Masjid Wapauwe di Kaitetu, Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Hingga kini, tempat ibadah tersebut masih tegak berdiri walau usianya telah melewati enam abad. Inilah masjid tertua se-Indonesia timur. Untuk sampai ke sana, pengunjung dari pusat Kota Ambon bisa menggunakan transportasi darat dengan menempuh waktu satu jam perjalanan. Masjid Wapauwe didirikan pada 1414 M. Semula, namanya adalah Masjid Wawane. Disebut begitu karena lokasi pendiriannya ada di lereng Gunung Wawane. Pendirinya merupakan Pernada Jamilu, seorang bangsawan Kesultanan Jailolo dari Moloko Kie Raha (empat gunung Maluku). Jamilu tidak hanya bertindak sebagai elite kerajaan. Bahkan, perannya besar sebagai mubaligh di tengah masyarakat. Sekitar tahun 1400 M, ia menyambangi Tanah Hitu untuk menyebarkan Islam. Ada lima desa (negeri) di kaki Gunung Wawane yang menerimanya, yakni Assen, Wawane, Atetu, Tehala dan Nukuhaly. Sebelumnya, agama tauhid cenderung dikenal hanya di daerah pesisir, khususnya yang berinteraksi dengan para pedagang Arab. Perpindahan Masjid Wawane ke lokasi yang ada sekarang tak lepas dari konteks perang melawan kolonialisme. Pada 1580, Belanda di bawah bendera Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mulai berupaya menguasai Tanah Hitu. Memasuki tahun 1600-an, kongsi dagang yang juga disebut Kompeni itu tidak mengurangi gangguannya terhadap penduduk lokal. Akhirnya, pada 1634 perang pun pecah antara kedua belah pihak. Dengan alasan keamanan, Muslimin di kaki Gunung Wawane bersepakat untuk memindahkan Masjid Wawane ke lokasi baru. Tempat ibadah itu pun dipindah pada 1614 ke Kampung Tehala yang berjarak sekira 6 km arah timur Wawane. Nama baru pun dipilih untuk bangunan tersebut. Antara lereng Gunung Wawane dan Tehala terdapat bentangan daratan yang marak ditumbuhi pepohonan mangga hutan atau mangga berabu. Buah itu dalam bahasa Kaitetu disebut sebagai wapa. Terinspirasi dari itu, masyarakat setempat pun menyebut masjid ini sebagai Masjid Wapauwe. Artinya, masjid yang didirikan di bawah pohon mangga berabu. Pada tahun 1646 Belanda akhirnya dapat menguasai seluruh Tanah Hitu. Dalam rangka kebijakan politik ekonominya, Belanda kemudian melakukan proses penurunan penduduk dari daerah pegunungan, tidak terkecuali warga kelima negeri tadi. Proses pemindahan itu berlangsung hingga tahun 1664. Pada saat itu pula, Desa Kaitetu dibentuk. Corak arsitektur yang ditampilkan Masjid Wapauwe barangkali tampak sederhana. Akan tetapi, ada keunikan di sana bila diperhatikan dengan saksama. Masjid ini dibangun tanpa paku. Sebagai gantinya, pasak-pasak kayu digunakan untuk menyambung antarsetiap bagian bangunan. Alhasil, setiap bagian-bagiannya dapat dibongkar pasang. Inilah salah satu keunikannya sehingga memungkinkan masjid tersebut bisa dipindah-pindah dari satu area ke area lain. Bentuk masjid ini seperti bujur sangkar. Ukuran tidak begitu luas, hanya 10×10 meter persegi. Ketika pertama kali didirikan, masjid ini tidak memiliki serambi. Dalam renovasi dilakukan penambahan beranda berukuran 6,35 x 4,75 m persegi. Banyak bagian bangunan tersebut yang menerapkan pola tradisional Maluku. Sebagai contoh, dinding masjid tersebut yang terbuat dari gaba-gaba, yaitu pelepah sagu yang dikeringkan. Setengah dinding itu, termasuk yang telah dipugar, didirikan dengan bahan campuran kapur. Mimbar Masjid Wapauwe berukuran 2×2 m persegi. Bentuknya seperti sebuah kursi yang berbahan dasar kayu. Untuk menambah ketinggian, alasnya ditambahi dengan anak tangga. Pada bagian atasnya, terdapat lengkungan dan ukiran bermotif floris. Seperti umumnya masjid-masjid tua di Jawa, Masjid Wapauwe pun dilengkapi dengan beduk. Benda yang digantung pada sebuah balok itu terbuat dari gelondongan kayu utuh dengan diameter dua meter. Kulit beduk diikat dengan tali rotan yang kencang. Seni cipta bangunan Jawa terlihat mempengaruhi Masjid Wapauwe. Sisi interiornya memiliki saka guru atau empat pilar yang menyangga bagian atap. Atapnya pun berupa tajug bertingkat, sehingga lagi-lagi menampilkan kekhasan Jawa. Penutup atas bangunan itu terbuat dari daun-daun rumbia kering. Pada puncaknya, terdapat ukiran kayu berbentuk silindris dengan alur-alur dan molding. Di antara atap di atas dan atap yang di bawah terdapat lubang jendela yang berfungsi sebagai ventilasi udara. Bagian paling bawah atapnya menjorok ke luar dan membentuk sebagian dari elips seperti daun. Di setiap ujungnya terdapat ukiran yang menampilkan lafaz “Allah” dan “Muhammad.” Keunikan lainnya dari Masjid Wapauwe ialah fungsinya yang juga sebagai tempat penyimpanan benda historis. Diketahui, terdapat lembaran-lembaran Alquran yang diperkirakan sebagai mushaf tertua se-Indonesia di sana. Mushaf itu selesai ditulis tangan oleh Imam Muhammad Arikulapessy pada 1550. Naskah yang ada tanpa hiasan atau iluminasi. Tidak hanya itu, Masjid Wapauwe juga menyimpan Mushaf Nur Cahya. Teks itu selesai ditulis pada 1590, tanpa iluminasi pula. Mushaf yang tergurat pada kertas Eropa itu ditulis oleh seorang cucu Imam Arikulapessy. Ada pula sebuah kitab Barzanji dan sekumpulan naskah khutbah. Dari tarikh yang ada, manuskrip tersebut berasal dari masa 1661 M. (uud) Baca juga :

Read More

Mengenal Sosok Maulana Syekh Abdurrahman bin Abdullah al-Khalidi, Kakek Proklamator Mohammad Hatta

Jakarta — 1miliarsantri.net : Maulana Syekh Abdurrahman bin Abdullah al-Khalidi lahir pada 1783 M di Desa (Nagari) Batuhampar–kini bagian dari Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatra Barat. Ada pula yang menyebut, tahun kelahirannya ialah 1777 M. Sang alim wafat pada 23 Oktober 1899. Seperti tampak pada gelarnya, tokoh tersebut merupakan seorang pemimpin aliran tarekat, tepatnya Naqsyabandiyyah Khalidiyah. Dalam sejarah, namanya juga dicatat sebagai kakek sang proklamator RI, Mohammad Hatta. Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi merupakan anak tunggal dari pasangan Abdullah alias Rajo Intan dan Ibu Tuo Tungga. Menurut Mansur Malik dalam buku Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat (1981), sejak kecil Abdurrahman sudah menunjukkan tanda-tanda kecerdasan. Abdurrahman muda mengadakan rihlah intelektual ke berbagai kota pusat keagamaan Islam; mulai dari daerah Minangkabau hingga Aceh Darussalam. Bahkan, dirinya pun pernah belajar di Makkah al-Mukarramah, Jazirah Arab. Abdurrahman pertama kali berpamitan kepada ibundanya untuk pergi menuntut ilmu saat berusia 15 tahun. Setelah mendapat restu dari sang ibu, ia pun berangkat ke Batusangkar untuk belajar kepada Syekh Galogandang. Bekal yang ia bawa saat itu hanya berupa sedikit beras, uang sepiak, dan satu mushaf Alquran. Setelah bertahun-tahun belajar kepada Syekh Galogandang, Abdurrahman kemudian pamit, untuk menuju Tapak Tuan, Aceh. Dirinya hendak berguru kepada Syekh Abdurrauf Singkil. Usai delapan tahun belajar kepada Syekh Abdurrauf, pemuda ini memulai perjalanan haji. Kemudian, ia berguru pada sejumlah masyayikh termuka di kota kelahiran Nabi Muhammad SAW. Hingga tujuh tahun lamanya, putra daerah Batuhampar tersebut menuntut ilmu di Tanah Suci. Bila ditotal, 48 tahun lamanya Syekh Abdurrahman belajar dari satu guru ke guru lainnya. Usai nyaris setengah abad menghabiskan usia dalam tholabul ‘ilmi, ia akhirnya pulang ke kampung halaman. Kala itu, umurnya mencapai 63 tahun. Satu hal yang merisaukannya, masyarakat Batuhampar saat itu masih jauh dari akhlak Islam. Banyak warga setempat yang sering bermaksiat secara terang-terangan. Sebagai seorang alim, hatinya tergerak untuk membina umat. Dalam berdakwah, Syekh Abdurrahman melakukan pendekatan secara bertahap. Sikap ramah dan pemurah menjadi langkah awal baginya untuk mendekati masyarakat. Syekh Abdurrahman menjalankan misi dakwahnya dengan lembut. Syiar Islam disampaikannya dengan sopan santun. Alhasil, orang-orang yang diajaknya untuk berbuat baik tak merasa sedang dihakimi. Dalam tulisannya yang berjudul “Dakwah Kelembutan Maulana Syekh Abdurrahman bin Abdullah al-Khalidi Batuhampar”, Apria Putra menuturkan sebuah kisah. Pernah suatu ketika, ada segerombolan pemuda datang kepada Syekh Abdurrahman. Mereka membawa beberapa ayam aduan. Kepada sang alim, mereka meminta doa agar ayam-ayam itu nantinya menang di gelanggang. Bukannya marah, Syekh Abdurrahman justru hanya tersenyum. Dengan ramah, ia menerima kedatangan mereka. Mulailah dipegang ayam-ayam itu. Lisannya tampak menggumamkan sesuatu. Namun, doa yang dirapalkan Syekh Abdurrahman sejatinya adalah munajat kepada Allah SWT, agar para pemuda tersebut diberikan hidayah. Setelah didoakan, ayam-ayam itu diserahkan kepada mereka. Amatlah gembira orang-orang itu. Sesampainya di arena aduan, ayam yang telah “didoakan” itu ternyata menang. Anak-anak muda ini semakin percaya dan hormat kepada Syekh Abdurrahman. Rasa respek itu menimbulkan kedekatan. Dan, lambat laun, hari demi hari perangai mereka berubah menjadi lebih baik. Kebiasaan sabung ayam ditinggalkannya sama sekali. Untuk kepentingan syiar Islam, Syekh Abdurrahman mendirikan kompleks pendidikan tradisional Islam. Kalau di Jawa, lembaga demikian disebut sebagai pesantren. Namun, orang-orang Sumatra Barat menamakannya surau. Pembangunan surau itu sangat didukung masyarakat Nagari Batuhampar. Mereka bergotong royong untuk mewujudkannya. Rumah-rumah penduduk menjadi ramai karena diinapi santri Syekh Abdurrahman. Karena sudah tak muat di rumah penduduk, sang alim pun memperluas kompleks surau itu. Kawasan ini perlahan namun pasti menyerupai sebuah desa baru, yang akhirnya dinamakan Kampung Dagang (kampung para perantau; perantau penuntut ilmu). Kampung Dagang memiliki fasilitas yakni surau gadang (masjid utama). Di depannya, terdapat kolam ikan. Kemudian, di sekitarnya sebuah rumah gadang didirikan. Pada sekeliling surau dan rumah gadang itu, ada surau-surau kecil yang umumnya bertingkat dua. Jumlahnya mencapai 30 unit. Puluhan surau kecil itu menjadi tempat tinggal anak-anak muda yang menuntut ilmu pada Syekh Abdurrahman. Mereka disebut sebagai orang siak–sepadan dengan sebutan santri. Mereka tidak dimintai biaya. Menurut Mansur Malik, jumlah murid yang belajar pada Syekh Abdurrahman mencapai dua ribu orang. Dalam buku Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III, Prof Azyumardi Azra menjelaskan, sistem yang dibangun Syekh Abdurrahman merupakan surau besar. Secara garis besar, metode pengajaran yang diterapkan di sana tak ubahnya kebanyakan pesantren di Jawa. (yan) Baca juga :

Read More

Benarkah Lahirnya Ratu Adil Berasal dari Solo

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Setelah HOS Tjokroaminoto masuk dalam jajaran pimpinan Syarikat Islam (SI), kemajuan SI makin hebat dengan semangat berkobar-kobar sehingga SI dipandang sebagai ‘Ratu Adil’. Kemajuan Syarikat Islam yang pesat saat itu membuat penasehat pemerintah kolonial, Snouck Hurgronye, menulis dalam majalah Indologen Blad, meminta pemerintah mewaspadai kebangkitan gerakan Islam ini dan jangan sampai lengah. Belanda awalnya menolak kehadiran SI. Namun mereka kemudian mengakui Syarikat Islam sebagai badan hukum pada 10 September 1912. Anggota Syarikat Islam sendiri memandang tanggal 16 Oktober 1905 sebagai kelahiran SI yang sejati. Tanggal inilah yang diperingati kaum SI setiap tahun. Setelah menjadi badan hukum, SI bertambah maju, melompat-lompat ke depan menuntut kemerdekaan Indonesia di bawah pimpinan Tjokroaminoto yang bergelar ‘raja tanpa mahkota’. Kaum reaksioner Belanda menjadi saling menyalahkan satu sama lain. Mereka menyalahkan Gubernur Jenderal Indenburg yang mengakui Syarikat Islam secara resmi dalam politik. Mereka bahkan memelesetkan SI sebagai Salahnya Indenburg. Berbeda dengan Syarikat Islam yang sejak 1912 telah menuntut kemerdekaan Indonesia, Budi Utomo (BU), menurut mantan tokoh Masyumi 1950-an, KH Firdaus AN dalam buku Dosa-dosa Politik Orla dan Orba, merupakan perkumpulan kaum ambtenaar, yaitu para pegawai negeri yang setia kepada pemerintah kolonial Belanda. Pertama kali Budi Utomo diketuai Raden T Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, yang dipercaya Belanda. Ia memimpin Budi Utomo sejak 1908 sampai 1911. Kemudian dia digantikan oleh Pangeran Arjo Noto Dirojo dari Istana Paku Alam, Yogyakarta. Dengan dipimpin oleh kaum bangsawan yang inggih selalu, tidak mungkin BU akan dapat melangkah maju untuk mengadakan aksi massa. Sulit rasanya BU berjuang guna mengubah nasib mereka yang menderita di bawah telapak kaki penjajah Belanda. Dengan sifat kebangsawanan yang pasif dan setia kepada Belanda itu, juga membuat BU terjauh dari rakyat. Menurut Firdaus AN, BU bukan bersifat kebangsaan yang umum bagi seluruh Indonesia, tetapi bersifat regional, kedaerahan dan kesukuan yang sempit. Keanggotaan Budi Utomo selalu terbatas bagi kaum ningrat aristokrat. Anggota mereka hanya terbatas bagi suku Jawa dan Madura. SI yang dilahirkan di Solo tahun 1905 dengan sifat nasional dan dasar Islam yang tangguh, merupakan organisasi Islam terpanjang dan tertua umurnya dari semua organisasi massa di tanah air. Dengan sifat nasionalnya SI meliputi seluruh bangsa Indonesia yang beragama Islam yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Ini tercermin pada wajah para tokoh pemimpin SI dari berbagai kepulauan di Indonesia. Di bawah pimpinan trio politikus yang terkenal — Tjokroaminoto, Agus Salim dan Abdul Muis — SI menjadi organisasi massa pertama yang bukan hanya menuntut tapi memperjuangkan kemerdekaan RI. Kemudian menyusul berdirinya Muhammadiyah pada 1912 yang diketuai oleh KH Ahmad Dahlan yang berjuang di lapangan sosial dan pendidikan demi kecerdasan umat. Muncul pula Persatuan Islam (Persis) pada tahun 1923 di bawah pimpinan KH Zamzam dan kemudian diperkuat oleh A Hassan. Persis bergerak dalam pelurusan akidah. Lahir pula NU pada tahun 1926 yang dimotori oleh para ulama di bawah pimpinan KH Hasyim Ashari. Muncul pula PERTI di Bukittinggi pada 20 Mei 1930 yang juga dipelopori oleh para ulama bermazhab Syafi’i. Bangkit pula Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI) yang bergerak di bidang politik pada 1930 yang bersikap non-kooperator dengan Belanda. Setelah lahir berbagai organiasi Islam lainnya yang terus melakukan perlawanan terhadap penjajah. Pada 1937 lahirlah MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) yang kemudian menjadi Masyumi. Begitu besar jasa SI dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tetapi, menurut KH Firdaus AN, sungguh aneh dan ajaib, bukan SI yang menjadi patokan hari Kebangkitan Nasional, tetapi Budi Utomo yang sama sekali tidak memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, pengurusnya tidak pernah masuk penjara dan tidak dibuang ke Digul. ”Apakah ini bukan manipulasi sejarah,” tulis KH Firdaus AN. (mif) Baca juga :

Read More

Benarkah Kekuasaan Kerajaan Majapahit Hanya Manipulasi Sejarah

Mojokerto — 1miliarsantri.net : Selama ini Kerajaan Majapahit yang dipercaya memiliki kekuasaan yang sangat luas di era puncak kejayaannya, disebut sebagai rekayasa alias manipulasi sejarah. Kekuasaan Majapahit yang terus direproduksi melalui pelajaran sejarah di sekolah dan penataran ideologi menyebabkan orang-orang terdidik sulit melepaskan diri dari manipulasi yang diciptakan penguasa. Pendapat itu disampaikan sejarawan Universitas Negeri Medan, Dr Ichwan Azhari. Beberapa tahun lalu seperti dinukil dari Antara, Dr Ichwan berpendapat, penulisan dan pengajaran sejarah nasional dengan mengangkat teks Jawa sebagai fakta sejarah diperkirakan tidak dapat dipertahankan lagi dan harus dihilangkan. “Hanya saja, meski penempatan kekuasaan Majapahit yang dijadikan sebagai simbol persatuan Indonesia sejak lama ditolak sebagian cendekiawan Indonesia dan juga segi historisnya diragukan sejarawan, tapi penguasa seperti tidak peduli dan tetap menggunakan citra tentang hegemoni Majapahit sebagai dasar persatuan masa lalu Indonesia,” ungkapnya. Ia mengatakan dalam sistem penulisan yang sentralistik, wacana-wacana yang hidup di luar Jawa seolah-olah diabaikan. Tapi gelombang perubahan yang saat ini terus berlangsung di Indonesia seharusnya memunculkan orientasi penulisan sejarah yang desentralistik, pusat kekuasaan tidak bisa lagi memonopoli satu wacana yang dianggapnya benar. “Untuk itu sudah sepantasnya sekarang reproduksi teks klasik Jawa tentang kebesaran kekuasaan Majapahit yang penuh kebohongan itu segera diakhiri dalam penulisan sejarah nasional, termasuk dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah,” tegasnya. (tin) Baca juga :

Read More

PWNU Jatim Gelar Pembacaan 1 miliar Sholawat Nariyah di Gedung ex MBO

Sidoarjo — 1miliarsantri.net : Rangkaian Hari Santri Nasional (HSN) 2023 diisi dengan pembacaan 1 miliar Shalawat Nariyah oleh jajaran warga NU dari pusat hingga ranting desa pada Sabtu (21/10/2023) jam 18.30 WIB. Pembacaan Shalawat Nariyah dipusatkan di dua titik, yakni di eks gedung Markas Besar Oelama (MBO) Waru, Sidoarjo, dan di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS). Pembacaan 1 Miliar Shalawat Nariyah dalam rangka Hari Santri 2023 itu merupakan instruksi PBNU kepada PWNU (provinsi), PCNU (kabupaten/kota), dan MWC NU (kecamatan) serentak se-Indonesia. Kalau PWNU lainnya mengadakan acara itu di kantor masing-masing, berbeda dengan PWNU Jatim yang mengadakan di MBO dan MAS. PWNU Jatim menempatkan lokasi “Pembacaan 1 Miliar Shalawat Nariyah” di eks gedung MBO yang bersejarah. Alasannya dipilih gedung MBO karena Hari Santri memiliki kaitan dengan sejarah perjuangan kaum santri untuk membela kemerdekaan negara yang dikenal dengan Pertempuran 10 November 1945. Dalam sejarahnya, MBO merupakan markas perjuangan para ulama, seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, dalam menggembleng spiritualitas santri agar memiliki semangat juang. Semua itu terbukti dengan kemenangan Arek-Arek Suroboyo dan pemuda daerah lainnya untuk membela kemerdekaan yang sudah diproklamasikan Soekarno-Hatta. Spirit itu diperkuat dengan keluarnya Resolusi Jihad. Peristiwa Pertempuran 10 November 1945 itu ada kaitannya dengan peran kaum santri, yang hal itu bukan hanya di garda depan di kota Surabaya, tapi juga berangkat dari markas-markas perjuangan para ulama di daerah-daerah perbatasan ke arah Surabaya, seperti di Waru, Sidoarjo. Gedung MBO pun rencananya akan direvitalisasi. Dalam buku “Perjuangan Laskar Hizbullah” karya Isra Kayyis (cetakan 1 Tahun 2015, Unit Penerbitan Pesantren Tebuireng, Jombang) pada halaman 193 dijelaskan pada 3 Desember 1945, Laskar Hizbullah dipindahkan ke Waru, menempati perumahan bekas Pabrik Gula. Catatan itu menguatkan adanya markas ulama yang menjadi tempat penggemblengan pejuang-pejuang santri yang turut bertempur di Kota Pahlawan Surabaya, pada Pertempuran 10 November 1945. Bahkan, disebutkan markas itu merupakan tempat melakukan konsolidasi kekuatan yang ditempatkan di daerah di luar jangkauan artileri Sekutu. Sementara dalam buku “TRI Hizbullah Berjuang” karya Abdul Jalal SH yang terbit pada 11 September 1982 disebutkan, pasukan Hizbullah meminta agar surat undangan disebar kepada para ulama sekitar Jawa, minta doa ke kiai di markas Waru, Sidoarjo, Jatim. Catatan lain yang menguatkan keberadaan MBO itu juga ditulis putra KH Hasyim Latief, yakni dr H Fathoni Rozi, dalam buku “Kyai Hasyim Latief, Pejuang dan Pendidik” (Penerbit Yayasan Pendidikan dan Sosial Ma’arif Sepanjang, Sidoarjo, cetakan Mei 2005, halaman 20) bahwa Kiai Hasyim Lathief siaga di markas kiai, Desa Pagerwojo, Waru, Sidoarjo, (barat Kota Surabaya). Artinya, sejarah yang terkait Hari Santri perlu direvitalisasi untuk menunjukkan peran santri dan ulama dalam perjuangan bangsa. Lebih dari itu, Hari Santri juga penting untuk dimaknai dengan pentingnya semangat cinta Tanah Air. Hari Santri sejatinya bukan bermakna khusus, apalagi hari khusus untuk santri. Hari Santri memiliki makna penting yakni tentang hubbul wathon minal iman (cinta Tanah Air adalah sebagian dari Iman). Cinta Tanah Air (hubbul wathon) itu seperti cinta yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW dengan kerinduan/kecintaan Nabi kepada Mekkah, ketika Rasulullah berada di Madinah yang jauh dari tanah kelahirannya itu. Upacara peringatan Hari Santri Nasional 2023 dipimpin Presiden Joko Widodo, dengan komandan upacara Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, dipusatkan di Tugu Pahlawan Surabaya pada 22 Oktober 2023 pukul 07.00 WIB. Tidak hanya upacara Hari Santri Nasional (HSN) di Tugu Pahlawan, rangkaian HSN 2023 juga mengandung makna historis, yakni rencana pertemuan Presiden dengan ulama setelah upacara HSN 2023 di kantor PCNU Kota Surabaya, yang merupakan tempat perumusan Resolusi Jihad oleh para ulama. (pang) #harisantri #santriindonesia #puncakharisantri Baca juga :

Read More

Ketika Terjadinya Kesepakatan Membunuh Rasulullah SAW

Surabaya — 1miliarsantri.net : Ketika kesepakatan membunuh Rasulullah SAW telah diambil, malaikat Jibril segera memberitahu Rasulullah SAW tentang rencana makar mereka. Dia juga memberitahukan bahwa Allah SWT telah mengizinkannya untuk melakukan hijrah. Seperti dikutip dari Sejarah Hidup dan Perjuangan Rasulullah SAW disarikan dari kitab ar-Rahiq al-Makhtum, Rasulullah SAW segera menuju rumah Abu Bakar, di siang hari yang terik dan pada waktu yang biasanya jarang orang lalu lalang. Sesampainya di rumah Abu Bakar, Rasulullah SAW meminta kepadanya agar tidak ada seorangpun keluarganya yang berada di dalam, karena dia akan menerangkan rencana perjalanan Hijrahnya kepadanya. Abu Bakar sangat gembira dengan dipilihnya dia sebagai teman yang mendampingi hijrah Rasulullah SAW. Setelah itu Rasulullah SAW kembali ke rumahnya, menunggu datangnya malam. Pada saat yang bersamaan para pembesar suku Quraisy sudah bersiap-siap untuk melaksanakan rencana mereka. Rencana sudah mereka susun di siang harinya secara matang. Mereka telah memilih 11 orang dari masing-masing suku untuk menunaikan tugas tersebut. Ketika gelap malam mulai tiba, mereka bergerak dengan mengintai rumah Rasulullah SAW, jika mereka melihat beliau telah tertidur, maka ekskusi tersebut akan mereka lakukan. Berdasarkan kesepakatan, eksekusi tersebut akan mereka lakukan pada pertengahan malam. Mereka sangat yakin ekskusi tersebut akan berhasil dilaksanakan. Namun di balik semua itu ada Allah Ta’ala yang selalu melindungi hamba-Nya dan berbuat sesuai kehendak-Nya. Dia berfirman : وَاِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِيُثْبِتُوْكَ اَوْ يَقْتُلُوْكَ اَوْ يُخْرِجُوْكَۗ وَيَمْكُرُوْنَ وَيَمْكُرُ اللّٰهُ ۗوَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS al-Anfal ayat 30). Maka pada waktu yang sangat kritis tersebut, Rasulullah SAW memerintahkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhu untuk tidur di tempat tidurnya dengan menggunakan selimut yang biasa beliau gunakan. Setelah itu Rasulullah SAW keluar menerobos kepungan mereka yang saat itu penglihatannya Allah SWT cabut sehingga tidak melihat Rasulullah SAW. Bahkan beliau SAW sempat mengambil tanah dalam dua genggam tangannya dan menuangkannya di atas kepala-kepala mereka. وَجَعَلۡنَا مِنۡۢ بَيۡنِ اَيۡدِيۡهِمۡ سَدًّا وَّمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدًّا فَااَغۡشَيۡنٰهُمۡ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُوۡنَ “Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS Yasin ayat 9) Kemudian pada malam itu juga, Rasulullah SAW berjalan menuju rumah Abu Bakar radhiyallahuanhu. Sementara itu para pengepung rumah Rasulullah SAW masih menunggu-nunggu waktu pelaksaan ekskusi tersebut. Namun seseorang datang melewati tempat mereka, seraya bertanya, “Apa yang kalian tunggu?”, mereka menjawab, “Muhammad”, orang tersebut lantas berkata, “Kalian telah tertipu dan gagal, demi Allah, dia telah pergi meninggalkan kalian, dan dia telah menuangkan debu di atas kepala kalian.” Mereka berkata, “Demi Allah, kami tidak melihatnya”, lalu mereka membersihkan debu dari kepala mereka. Mereka segera masuk ke rumah dan melihat ada seseorang yang sedang tidur. Mereka mengira bahwa dia adalah Rasulullah SAW yang sedang tidur dibalik selimutnya. Namun ternyata yang tidur di tempat itu adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. (yat) Baca juga :

Read More

Kisah Asal Usul Telaga Sarangan Magetan, Jawa Timur

Magetan — 1miliarsantri.net : Semua orang pasti sudah mengenal dan mengetahui Telaga Sarangan, atau yang dikenal juga sebagai Telaga Pasir. Sebuah telaga alami yang berada di ketinggian 1.200 mdpl, terletak di lereng Gunung Lawu, Kecamatan Plaosan, berjarak sekitar 16 kilometer arah barat Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Di balik keindahan danau di lereng gunung lawu ini ternyata danau telaga Sarangan menyimpan legenda cerita rakyat tentang asal-usul nya. Pada zaman dahulu di kaki gunung Lawu hiduplah sepasang suami istri yang hingga usia senja belum memiliki keturunan. Setiap harinya hanya satu yang mereka minta kepada Sang Pencipta yaitu segera diberikan seorang anak. Pasangan suami istri itu bernama Ki pasir dan Nyi Pasir. Aktivitas keseharian mereka adalah berkebun di ladang dan berburu binatang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Hingga suatu hari datanglah sebuah kabar yang menggembirakan bahwa Nyi pasir akhirnya mengandung. Mereka berdua sangat bahagia serasa semesta mendukung mereka dan mengabulkan keinginan yang sudah lama mereka harapkan. Setelahnya Nyi pasir mengandung selama 9 bulan lahirlah anak laki-laki yang kemudian diberi nama Joko Lelung. Terasa lengkaplah kebahagiaan mereka sebagai pasangan suami istri. Singkat cerita Joko Lelung telah tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan cekatan, namun sayangnya dia jarang berada di rumah. Joko Lelung selalu berkelana ke berbagai tempat baru yang belum pernah ia datangi. Joko Lelung juga mendalami ilmu kebatinan dengan bersemedi. Joko Lelung hanya sesekali mampir ke rumah kemudian esoknya pergi lagi entah ke mana. Kian hari tubuh Ki pasir mulai terlihat lemah dia berharap anaknya Joko lelung pulang dan membantunya bekerja di ladang. Namun, harapan itu hanya dipendam oleh Ki pasir dan dia pun memilih untuk bersemedi di dalam gua. Ki pasir menginginkan supaya tubuhnya yang sudah lama ini bisa menjadi kuat dan kembali sehat serta memiliki umur yang panjang melebihi Manusia biasa. Tak diangka-sangka dalam semedinya Ki pasir mendapatkan sebuah wangsit. Dalam wangsit itu Ki pasir menemukan sebuah telur yang sangat besar dalam waktu tersebut ia diberitahu harus memakan telur tersebut agar keinginannya untuk hidup abadi tercapai. Ki Pasir mencari arti dari wangsit itu hingga tubuhnya semakin rental sampai-sampai dia lupa dengan wangsit yang pernah dia dapat dahulu. Suatu ketika sepulang dari ladang dia tak sengaja melihat sebuah benda bulat di bawah pohon tua benda itu seperti telur namun memiliki ukuran yang lebih besar daripada telur biasanya. Ki pasir kemudian kembali teringat dengan wangsit yang pernah ia dapatkan. Ki pasir terlihat sangat bahagia dan berniat memakan telur itu setibanya di rumah nanti. Keesokan harinya Ki pasir memasak telur itu menggantikan istrinya yang sudah lebih dulu berangkat ke hutan untuk mencari kayu bakar. Ki pasir kemudian membagi telur itu menjadi dua bagian setengahnya untuknya dan setengahnya lagi untuk istrinya Nyi pasir. Usai Ki pasir merasa kenyang setelah menyantap telur berangkatlah Ki pasir menuju ladangnya. Suasana begitu cerah Ki pasir sangat bahagia, dia merasa dapat menyatu dengan alam. Alam pun seakan melukiskan keindahannya yang tak terbatas untuk di pasir. Ki pasir juga merasa tubuhnya semakin segar dan kuat bahkan terasa puluhan tahun lebih muda dari umur yang sebenarnya saat ini. Tiba-tiba kepala Ki Pasir terasa sangat pening dan sekujur tubuh mulai gatal-gatal. Semakin Ki pasir menggaruk semakin mengelupas pula kulitnya dan dari bekas luka itu mengeluarkan uap yang panas. Ki pasir pun mulai panik dan segera mencari mata air terdekat untuk berendam agar panas dan gatal di tubuhnya mereda. Sebelum berhasil berendam justru kulitnya berubah menjadi bersisik seperti hewan yang menyeramkan dan menakutkan. Setelah menemukan mata air, Dia segera berlari merendam tubuhnya di sana. Di tempat lain Nyi pasir telah sampai di rumah dan membawa cukup banyak kayu bakar dari hutan. Ketika ingin masuk rumah dia melihat ada makanan di dekatnya Dia pun akhirnya memakan separuh telur itu. Sesaat setelah memakan telur itu Nyi pasir mengalami hal yang sama tubuhnya gatal dan panas ia pun panik dan menyusul suaminya ke ladang untuk meminta bantuan. Namun ia tidak dapat menemukan suaminya di ladang. Nyi pasir berusaha memanggil-manggil Ki Pasir akan tetapi tidak ada jawaban dia sudah tidak kuat. Nyi pasir pun mencari sumber air untuk merendam tubuhnya sambil mencari keberadaan Ki pasir saat ini. Sayup-sayup dari arah mata air terdengar suara gemuruh seakan terdapat makhluk besar yang mengamuk di mata air. Nyi pasir penasaran dan mencoba melihatnya dari balik semak-semak. Nyi pasir terkejut melihat seekor ular naga raksasa yang tengah berenang mengamuk di dalam mata air, tetapi Nyi pasir justru merasa jika ular besar itu adalah wujud dari suaminya. Di tengah kepanikan Nyi Pasir terperosok dan berguling di dekat mata air dalam sekejap badan Nyi pasir juga berubah menjadi seekor naga lalu masuk ke dalam mata air yang sama dengan suaminya. Di dalam air Nyi pasir mencari suaminya dan melampiaskan amarahnya karena telah merubah dirinya menjadi wujud ular. Naga wujud dari Ki pasir pun turut ikut naik pitam dia juga tidak terima jika berubah wujud. Ki pasir pun merasa bahwa alam semesta telah mengutuknya. Akhirnya Ki pasir mengajak istrinya yang sudah berwujud naga itu untuk menenggelamkan Gunung Lawu dengan cara membuat pusaran air yang besar hingga menyebabkan tanah di sekitar sumber air itu longsor semakin besar dan semakin dalam dan jika dibiarkan maka Gunung Lawu akan segera mengamuk hebat. Seketika itu Joko Lelung yang pulang dari semedinya mengetahui jika bencana yang sedang terjadi sekarang disebabkan oleh kedua orang tuanya yang telah berubah menjadi naga. Maka segeralah Joko lelung bersila dan memanjatkan doa, dia berdoa agar alam semesta menundukkan kedua ular naga raksasa itu. Tiba-tiba kedua naga perwujudan dari ki Pasir dan Nyi Pasir itu bercahaya dan menjadi lebih tenang. Akhirnya kedua naga itu pun moksa di dalam perairan tersebut. Joko Lelung pun merasa sedih ditinggal kedua orang tuanya. Bekas dari amukan kedua naga raksasa itu membentuk seperti sebuah Telaga dengan pulau kecil di tengahnya. Untuk mengenang kebaikan kedua orang tuanya tempat itu akhirnya diberikan nama yaitu Telaga pasir atau sekarang disebut dengan Telaga sarangan. (tri) Baca juga :

Read More

Masjid Suraya Diklaim Sebagai Masjid Tertua di Meksiko

Meksiko — 1miliarsantri.net : Hampir seluruh umat Islam di Meksiko tinggal di daerah perkotaan, seperti Mexico City, Coahuila de Zaragoza, dan Jalisco. Secara taraf sosial-ekonomi, masyarakat muslim di negara tersebut hidup cukup makmur. Mayoritas angkatan kerja mereka berprofesi sebagai pengusaha. Menurut penelitian de Castro dan Vilela, ada belasan masjid yang tersebar di penjuru Meksiko. Masjid yang sering disebut-sebut ialah Masjid Suraya (Mezquita Soraya) di Torreon, Coahuila. Rumah ibadah itu berdiri sejak 1989 dan menjadi masjid pertama yang berdiri secara resmi di Meksiko. Demikian berdasarkan keterangan dari lembaga Salafi Centre of Mexico. Wilayah sekitar Torreón didatangi imigran Timur Tengah sejak awal abad ke-20. Namun, baru pada tahun 1983, sekitar 35 orang, keturunan imigran generasi pertama, mendirikan rumah pertemuan umat Islam pertama di Meksiko. Gedung tersebut dipimpin oleh Hassan Zain Chamut. Salah satu jamaah yang hadir, Elias Serhan Selim, mengusulkan agar gedung pertemuan tersebut memiliki tempat ibadah yang didedikasikan untuk masyarakat. Dia mensponsori proyek tersebut dan meminta keahlian arsitek Zain Chamut untuk mendesain masjid yang mencerminkan tradisi arsitektur Islam dan Hispanik. Pemerintah Meksiko memperkirakan terdapat sekitar 3,700 Muslim di negeri tersebut. Sementara, Pew Forum on Religion and Public Life yang berbasis di Washington memperkirakan jumlah Muslim sekitar 110,000. Dikutip Fox News Latino, disamping soal jumlah, Louahabi, seorang guru di Meksiko, mengatakan, tak ada keraguan bahwa komunitas ini berkembang cepat. Menurutnya, Islam berkembang dengan sangat cepat. “Terdapat banyak kesamaan antara Nasrani dan Yahudi, sehingga tidak terlalu sulit untuk memahami dan memeluknya. Islam akan terus terkembang, pertumbuhannya sebanding dengan kelompok Evangelis dalam beberapa tahun terakhir ini,” ungkap Eduardo Luis Leajos Frias, seorang Meksiko yang memeluk Islam dan merubah namanya menjadi Lokman Idris. Di antara anggota paling penting komunitas Muslim di Meksiko adalah Mark Omar Weston, mualaf kelahiran Inggirs. Sebelumnya, dia adalah professional kelas dunia olah raga ski air. Dia mengelola hotel dan Islamic Center di negara bagian Morelos. Hotel ini menyediakan makanan halal. “Sebagian besar mualaf Meksiko menemukan Islam melalui internet. Fenomena ini seperti Evangelis, atau pengikut tradisi al Kitab lainnya yang sekarang ada di negeri ini,” ujarnya dalam wawancara dengan Fox News Latino. Menurut Zidane Zeraoui al Awad, profesor hubungan internasional di the Technological Institute of Monterrey, Islam di Mexico dapat dilihat sejak penaklukan oleh Spanyol. “Di seluruh Amerika Latin, Islam datang bersamaan dengan kolonialisme Spanyol,” imbuhnya. Tetapi Islam waktu itu dipraktekkan secara diam-diam, oleh para pengikutnya yang dipaksa berpindah ke agama Katolik. Zeraoui menambahkan, ketika banyak anak dari imigran Muslim kehilangan agama mereka, jumlah pemeluk Islam terus berkembang karena tubuhnya pemeluk baru. “Di satu sisi, anak-anak (imigran) Muslim cenderung menjadi non Muslim, tetapi Islam bertumbuh melalui perpindahan keyakinan dari agama lain. Mereka merupakan kompensasi dari hilangnya Islam dari pemeluk aslinya. Terdapat sedikit perbedaan kultural antara imigran Muslim yang menjalankan agama dengan serius dan mualaf asal Meksiko yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi,” kata Omar Weston. Omar menambahkan, tetapi pada umumnya, remaja dan para pemuda usia 20-an melihat adanya pilihan lain, tambahnya. “Saya pikir pendidikan secara keseluruhan membantu orang lebih terbuka terhadap Islam,” urainya. Meskipun masih merupakan komunitas kecil dibandingkan dengan di Amerika Latin lainnya, komunitas Muslim di Meksiko sangat tersebar. Di selatan negara bagian Chiapas, terdapat komunitas kecil suku asli Maya yang masuk Islam atas dakwah dari anggota gerakan Muhabitun dunia yang berbasis di Spanyol. Suku Maya tersebut menggabungkan ajaran Islam dengan tradisi mereka. “Disini, kita melihat satu bentuk Islam yang beradaptasi dengan tradisi lokal. Mereka menempatkan adat sebagai agama, seperti yang dilakukan oleh Katolik dalam periode kolonial,” kata Zeraoui said. Secara persentase, populasi Muslim terbesar di Amerika berada di Suriname, yang mana satu diantara lima orang adalah Muslim, menurut data CIA World Factbook 2013. Komunitas Muslim yang signifikan juga ada di Guyana, Trinidad and Tobago, Argentina and Brazil. (zed/AP) Baca juga :

Read More

Fawzy : Asal-Muasal Konflik Palestina-Israel, Juga Asal Muasal Nama Palestina.

Yerussalem — 1miliarsantri.net : Palestina sekarang sedang menjadi pembicaraan dunia. Konflik bangsa Palestina dan Israel kembali mencuat dalam beberapa hari terakhir. Bencana ini telah menyebabkan malapetaka terburuk dengan menyebabkan ribuan jiwa melayang. Namun, terlepas dari konflik berkepanjangan itu, kajian mengenai sejarah Palestina sendiri telah banyak dilakukan, termasuk oleh pengarang asal Tunisia Fawzy Al-Ghadiry. Dalam buku Sejarah Palestina: Asal-Muasal Konflik Palestina-Israel, Fawzy juga menjelaskan asal muasal nama Palestina. Palestina diketahui sejak sejarah kuno sebagai tanah Kan’an di mana disebutkan dalam laporan salah satu pemimpin tentara King Mary. Sebagai tambahan, nama ini ditemukan tertulis dengan jelas di tugu Admiri, yaitu seorang raja Alkha (Tal Al-A’tashenah) selama pertengahan abad kelima sebelum Kristus. Menurut Fawzy Al-Ghadiry, asal kata Palestina, seperti disebutkan dalam catatan atau rekaman Asiria selama masa raja Assyiria (Addizary III) sekitar tahun 800 SM, datang dari kata Philsta. Ia menuliskan kata tersebut di tugunya bahwa dalam tahun kelima kekuasaannya, tentaranya telah menyerahkan Palastu di bawah kontrolnya, dan memaksa orang-orangnya untuk membayar pajak. Juga kata Palestina disebutkan oleh Herodotus dalam basis Aramin, seperti kita temukan bahwa dia menggunakannya untuk mengacu pada sebuah tempat di bagian selatan Syra (Syria Palestina) dekat Finithya hingga batas-batas Mesir. Lebih lanjut, sejarawan Rumania, seperti Aghatar Chides, Strabo, dan Diodoru telah menggunakan penamaan semacam itu. Selama era Rumania, nama Palestina digunakan untuk menyebutkan semua tanah suci, lalu nama ini berkembang menjadi nama resmi di distrik ini sejak Era Hadrian. Oleh karenanya, nama ini digunakan dalam laporan-laporan sejarah Kristen. “Di sisi lain, Palestina digunakan sebagai bagian dari Bilad Al-Sham selama Era Islam,” jelas Fawzy. Dia menambahkan, kesuburan tanah Palestina merupakan tambahan penting pada posisi berbeda yang membuatnya bisa dihuni sejak masa kuno. Di masa tersebut, daerah ini memainkan peran penting sebagai persimpangan budaya antara tempat-tempat berbeda di dunia. “Berdasarkan atas posisi sentral ini, Palestina dikenali dalam sejarah sejak masa kun,” kata Fawzy. (yud/reu) Baca juga :

Read More

Kisah Ketika Aisyah Menangis Mendengar Munculnya Dajjal di Palestina

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Masih terus bergejolaknya konflik antara Palestina dan Israel dalam kurun waktu belakangan ini, sepatutnya sebagai orang Muslim harus memperkaya diri dengan berbagai keutamaan yang dimiliki Palestina. Salah satu keutamaan Palestina terkait dengan peristiwa di hari kiamat kelak. Hal itu bisa diketahui dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah RA, sebagaimana bunyi lengkap hadits berikut ini: أن عائشة أخبرته، قالت: دخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا أبكي، فقال لي : ” ما يبكيك؟ ” قلت: يا رسول الله، ذكرت الدجال فبكيت، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” إن يخرج الدجال وأنا حي كفيتكموه، وإن يخرج بعدي ، فإن ربكم عز وجل ليس بأعور، وإنه يخرج في يهودية أصبهان، حتى يأتي المدينة فينزل ناحيتها، ولها يومئذ سبعة أبواب على كل نقب منها ملكان، فيخرج إليه شرار أهلها حتى الشام مدينة بفلسطين بباب لد، وقال أبو داود مرة: حتى يأتي فلسطين باب لد، فينزل عيسى عليه السلام فيقتله، ثم يمكث عيسى عليه السلام في الأرض أربعين سنة إماما عدلا، وحكما مقسطا “ Aisyah berkata, “Rasulullah SAW datang kepadaku ketika aku sedang menangis.” Lalu beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Aisyah RA menjawab, “Wahai Rasulullah SAW, aku teringat Dajjal, sehingga aku menangis.” Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Jika Dajjal muncul dan aku masih hidup di tengah kalian, aku yang menghadapinya. Namun jika dia muncul setelah (wafatnya) aku, ketahuilah bahwa Tuhan kalian tidaklah buta mata sebelah kirinya. Dajjal akan muncul di antara Yahudi Asbahan, kemudian datang ke Madinah, lalu dia berhenti di luarnya. Madinah punya tujuh pintu. Pada setiap pintu ada dua malaikat. Para penduduk Madinah yang jahat akan keluar, menuju Dajjal. Hingga tibalah Dajjal di Palestina, di daerah bernama Baab Ludd. Kemudian Isa bin Maryam turun dan membunuh Dajjal. Isa akan hidup di bumi selama empat puluh tahun, sebagai imam dan pemimpin yang adil.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban) Dalam Shahih Muslim, disebutkan tentang tanda-tanda datangnya hari kiamat. Di antaranya ialah kemunculan Dajjal, dan matahari yang terbit dari barat. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kiamat tidak terjadi sampai kalian melihat sepuluh tanda: Asap; Dajjal; binatang melata; terbitnya matahari dari barat; turunnya Isa bin Maryam; Ya’juuj dan Ma’juuj; tiga gempa (di timur, barat dan Jazirah arab), dan yang terakhir adalah api yang keluar dari ‘And yang menggiring manusia ke Makhsyar.” (HR Muslim) Banyak orang yang tertarik dengan fitnah Dajjal di hari akhir nanti. Orang-orang yang tertarik itu kemudian akan menjadi pengikut Dajjal. Mereka terperangkap dalam tipu daya Dajjal karena sejatinya, di dalamnya ada banyak kesengsaraan. Di antara manusia, ada yang tergoda untuk masuk ke dalam fitnahnya. Sebagian lagi dilindungi Allah SWT sampai Allah melenyapkan Dajjal. (yus) Baca juga :

Read More