Kisah Masjid Quba yang Memiliki Dua Kiblat di Madinah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Semua orang pasti sudah mengetahui masjid bersejarah yang penting, dimana dikenal sebagai salah satu masjid paling awal dalam Islam. Didirikan pada masa Nabi di lingkungan terpencil di Madinah. Maknanya terletak pada kenyataan bahwa setelah Nabi Muhammad SAW menerima perintah untuk mengubah kiblat atau arah shalat dari Masjid al-Aqsa di Yerusalem ke Masjidil Haram (Ka’bah) di Makkah, seluruh jamaah yang dipimpin oleh seorang pendamping di masjid ini berpindah haluan dalam shalat. Selanjutnya masjid ini dikenal dengan nama Masjid al-Qiblatayn (masjid dua kiblat) karena kedua kiblat tersebut berhadapan dalam satu shalat. Al-Bukhari dalam Shahihnya meriwayatkan kejadian tersebut sebagai berikut: “Ketika Nabi SAW datang ke Madinah, pertama-tama beliau tinggal bersama kakek atau paman dari pihak ibu yang berasal dari Ansar. Dia salat menghadap Baitul-Maqdis (Yerusalem dan Masjid al-Aqsa) selama enam belas atau tujuh belas bulan, namun dia berharap bisa salat menghadap Ka’bah (di Makkah). Sholat pertama yang dipanjatkannya menghadap Ka’bah adalah salat Asar dengan ditemani beberapa orang. Kemudian salah satu orang yang salat bersamanya keluar dan melewati beberapa orang di masjid yang sedang rukuk saat salat (menghadap Yerusalem). Dia berkata kepada mereka: ‘Demi Allah, aku bersaksi bahwa aku telah sholat bersama Rasul Allah menghadap Makkah (Ka’bah).’ Mendengar hal itu, orang-orang itu segera mengubah arahnya menuju Ka’bah. Orang-orang Yahudi dan ahli kitab dulu senang melihat Nabi menghadap Yerusalem dalam shalat, tetapi ketika beliau mengubah arahnya menuju Ka’bah, saat shalat, mereka tidak menyetujuinya (Sahih al-Bukhari). Secara arsitektural, masjid ini dengan cermat memperhatikan banyak kepribadian gaya sepanjang sejarah Muslim. Banyak program perluasan, pembangunan kembali dan renovasi dilakukan. Salah satu tokoh pertama yang melakukan hal ini adalah Umar II. Kesultanan Ottoman juga unggul dalam hal yang sama. Bentuk masjid yang sekarang berasal dari tahun 1987. Masjid ini dibangun sebagai bagian dari berbagai inisiatif pembangunan di Madinah oleh Raja Fahd. Denah dan desain masjid mengacu pada bahasa dan kosa kata arsitektur tradisional Islam sebagai sumber inspirasi. “Secara eksternal, kosakata arsitektur terinspirasi oleh elemen dan motif tradisional dalam upaya yang disengaja untuk menawarkan citra otentik untuk sebuah situs bersejarah” (archnet.org). Arsiteknya adalah Abdul-Wahid al-Wakil dari Mesir. Masjid ini jauh lebih kecil dibandingkan Masjid Quba’. Hal ini mungkin terjadi karena tempat ini tidak termasuk dalam daftar tempat yang direkomendasikan Nabi SAW untuk dikunjungi di Madinah. Luasnya yang relatif kecil merupakan ajakan tidak langsung kepada masyarakat untuk tidak menganggapnya penting untuk dikunjungi sebagaimana tempat yang telah ditentukan secara eksplisit, sehingga tidak berduyun-duyun ke sana jika tidak diperlukan. Interior masjid ini sangat mirip dengan masjid Ahmad ibn Tulun dan beberapa masjid Fatimiyah di Kairo. Terdapat dua menara di sisi kanan dan kiri pintu masuk utama. Meski agak lebih pendek, namun menyerupai empat menara masjid Quba’. Basis menaranya berbentuk persegi dan porosnya berbentuk segi delapan. Ada tiga balkon di setiap menara, yang kedua dan ketiga ditopang oleh muqarnas. (yan) Baca juga :

Read More

Makna Bulan Ramadhan Bagi Calon Jamaah Haji Nusantara di Masa Lalu

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pada zaman dahulu bulan Ramadhan bagi para haji adalah bulan impian. Selain soal ibadah puasa dalam rukun Islam, bagi para jamaah haji kala itu adalah waktu-waktu yang sangat nikmat. Mengapa? Ini karena saat itulah mereka sudah sampai ke Makkah setelah melalui perjalanan panjang yang berbahaya, dimana mereka naik kapal laut dan tiba di pelabuhan Jeddah, setelah melalui rute panjang mengarungi samudera luas, dari Nusantara menuju pelabuhan di India dari pelabuhan Aceh –ada yang singgah di Singapura – lalu berlayar ke Jeddah. Ini baru rute utamanya. Sedangkan kecilnya, rute dalam negeri, ketika di nusantara mereka pun menempuh dalam waktu panjang dan berbahaya. Mereka datang dari kampung-kampung dari seantero Nusantara lalu naik kapal besar –misalnya Nederland Loyd—dari pelabuhan yang ada di Sulawesi, Kalimantan, Surabaya, Batavia, lalu ke Singapura. Sungguh perjalanan yang rumit dan teramat panjang. Nah, ketika sampai ke Makkah pada bulan Ramadhan itulah mereka jelas merasa sangat bahagia. Selama waktu tinggal di Tanah Suci itu atau sembari menunggu bulan haji (Dzulhijah), mereka belajar aneka rupa ilmu agama Islam dan manasik haji. Mereka belajar pada mukimim nusantara yang ada di Makkah, yang lazim di kenal sebagai orang ‘Jawah’. Salah satu Madrasah legendaris yang dijadikan tempat menimba ilmu adalah Al-Shaulatiyah di Makkah. Salah satu tempat belajar utama para jamaah haji dan pelajar Nusantara di Makkah waktu itu. Dua orang lulusan madrasah ini sangatlah terkanal sampai kini, yakni KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari. Letaknya tak jauh dari pelataran Masjidil Haram. Sekarang gedung madrasah ini lokasinya sudah dipindahkan ke luar kota Makkah. Seorang Wakil konsul Belanda di Jeddah kala itu, Hoesin Iscandar pada tahun 1931 sempat menulis soal situasi jamaah haji ketika berada di Makkah. Dia berkisah begini: ‘’Orang Jawa adalah satu-satu komunitas di Makkah yang tidak mencari uang, melainkan membelanjakan uang di Tanah Arab. Kebanyakan mereka tidak mempunyai profesi yang menghasilkan upah, dan mereka yang berdagang pun hanya berlangganan sesama orang ‘Jawah’ saja, sehingga penduduk Makkah asli mendapat untung besar dari komunintas ini. Dari catatan arsip Belandadari Snouck Hurgronje, menyatakan bahwa komunitas Mukimin merupakan wujud hubungan paling konkret antara ‘Jawah’ dengan Haramain. Inti dari dari mereka (komuntas mukimin Jawah) adalah para guru dan siswa. Di Makkah, merekalah yang dipandang tertinggi. Mereka amat disanjung oleh sesama orang Nusantara yang nak haji, dan dari Makkah mereka memimpin kehidupan-keagamaan desa-desa asli mereka.” Jadi para haji zaman dahulu memanfatkan bulan Ramadhan hingga tibanya bulan haji untuk belajar agama. Bukan berdagang atau aktivitas lainnya. Mereka belajar dan menemui para ulama ‘Jawi’ yang mengajar di Makkah yang pada abad ke-19 jumlahnya banyak dan dipandang tinggi. Para ulama masyhur itu ternyata juga kebanyakan mengajar di rumah seperti Syekh Nawasi al Bantani. Para calon jamaah haji mendalami berbagai risalah dan kitab. Mereka belajar juga soal kitab fiqih karangan ulama ‘Jawi’ di Makkah selama ini yang ada di pesantren. Pada Ramadhan itu mereka belajar langsung pada sumbernya, Memang dibanding para pelajar yang bermukim di Makkah, para calon haji ini belajar dalam waktu relatif singkat, yakni dari dari bulan Ramadhan sampai ke bulan Dzulhijah, yakni ketika waktu berhaji telah tiba. Namun, arti kehadiran mereka di Makkah yang sekitar tiga sampai empat bulan, sangat penting artinya. Sebab, dari merekalah ajaran ulama yang ada di Makkah tersebar. Jamaah haji zaman dahulu selain berguru dan membawa kepingan ajaran ulama Makkah, mereka juga pulang dengan membawa sejumlah kitab dalam bentuk naskah. Di antara naskah-naskah agama dari para jamaah haji yang membawa pulang itu, kini tersimpan dalam berbagai perpustakaan umum di Indonesia, Malaysia, serta luar negeri lainnya. Ketika mereka tiba di rumah ternyata kemudian menyalin nya dan menyebarkannya ke masyarakat. Jadi itulah arti bulan Ramadhan bagi jamaah haji zaman dahulu. Mereka memanfatkan masa tinggalnya ketika menunggu bulan haji, dengan memperdalam ilmu agama dan ilmu Alquran. Mereka ternyata di sana tidak untuk mencari kerja atau uang. Mereka mencari ilmu ternyata, Maka itulah cerminan pada haji zaman dahulu ketika memanfatkan datangnya bukan Ramadhan ketika sudah tiba di Makkah. Aktivitas mereka selama itu – sekitar tinggal tiga bulan– dipakai untuk belajar dan menyalin naskah karya para ulama termashur tersebut. (mif) Baca juga :

Read More

Pasukan Mongol Ketika Dikalahkan Tentara Jawa Madura

Surabaya.– 1miliarsantri.net : Kerajaan Kediri dapat dihancurkan oleh tiga gabungan pasukan Mongol, pasukan Raden Wijaya, dan Arya Wiraraja, dari Madura. Langkah selanjutnya yakni bagaimana caranya mengusir tentara Mongol dari Pulau Jawa. Sekali lagi Raden Wijaya dan Arya Wiraraja menggunakan strategi licik dan cerdik. Kemenangan peperangan melawan Kediri ini konon membuat pasukan Tartar Mongol begitu senang. Selayaknya kemenangan perang, maka diadakanlah pesta yang melibatkan seluruh pasukan Mongol, Raden Wijaya, dan Arya Wiraraja. Tapi menariknya di sela-sela pesta itu Raden Wijaya dan pasukannya pamit pulang. Alasannya mereka kembali ke Desa Tarik, untuk mempersiapkan diri menyerahkan dirinya ke tentara Mongol. Dikisahkan pada “Sandyakala di Timur Jawa (1042 – 1527 M) : Kejayaan dan Keruntuhan Kerajaan Hindu dari Mataram Kuno II hingga Majapahit” pulangnya Raden Wijaya dan pasukannya ke Tarik disetujui oleh pimpinan pasukan Mongol. Bahkan pimpinan pasukan Mongol secara khusus mengutus sekitar ratusan pasukannya untuk mengawal kepulangan rombongan Majapahit ini. Pengawalan ini sebagai bentuk bagian dari skema penyerahan diri yang disepakati antara Raden Wijaya dengan pasukan dari Kekaisaran Mongol dari Cina. Sejarah Cina kemudian mencatat bahwa sebulan kemudian setelah penaklukan itu, Raden Wijaya yang kembali ke Tarik membunuh 200 orang prajurit Mongol yang mengawalnya ke Majapahit. Penumpasan pertama rombongan Mongol itu dilakukan oleh Sora dan Ranggalawe, dua panglima perang Majapahit yang merupakan paman dan keponakan tersebut. Setelah rombongan yang jadi penghalang itu telah habis, Raden Wijaya dan para panglimanya menyusun rencana lanjutan, yaitu untuk menyerang balik pasukan Mongol yang sedang dilanda ‘mabuk kemenangan’. Dengan membawa pasukan yang lebih besar, Raden Wijaya menggerakkan pasukannya menuju markas utama pasukan Mongol dan melancarkan serangan tiba-tiba. Pasukan Mongol yang masih larut dalam pesta pora usai menang perang tak menyangka bakal menerima serangan balasan, dari pasukan yang turut serta berperang melawan Kediri di Daha. Alhasil serangan gabungan Majapahit dan pasukan Madura dari Arya Wiraraja ini mampu membunuh banyak prajurit Mongol di markas utama. Sisanya berusaha untuk lari ke kapal mereka. Tapi mereka terus dikejar oleh pasukan gabungan Jawa-Madura. Setelah mencapai sebuah candi, tentara Mongol disergap oleh tentara Jawa yang telah menunggu. Raden Wijaya tidak menyerang Mongol secara langsung, sebaliknya ia menggunakan semua taktik yang memungkinkan untuk mengacaukan dan mengurangi pasukan musuh sedikit demi sedikit. Selama pelarian itulah pasukan Mongol juga kehilangan semua rampasan perang yang ditangkap sebelum dari Kediri. Mereka terpaksa harus memikirkan nyawa masing-masing agar bisa selamat kembali ke kapal, dan cabut dari tanah Jawa. (riz) Baca juga :

Read More

Momentum Ramadhan Dimanfaatkan Pengurus DKM Sabilul Muttaqien Patra Sediakan Ifthar

Indramayu — 1miliarsantri.net : Bulan Suci Ramadan kembali menjadi momen bagi ummat Muslim untuk berlomba meraih berkah. Hal tersebut juga dilakukan di lingkungan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit VI Balongan, yakni melalui penyediaan takjil dan ifthar bagi ratusan jamaah Masjid Sabilul Muttaqien Perumahan Pertamina Bumi Patra Indramayu, Jawa Barat. Setiap hari, setidaknya ada sekitar 150 hingga 200 orang yang berasal dari sekitar Kompleks Perumahan Bumi Patra dan mahasiswa hadir untuk berbuka puasa dan Sholat Maghrib berjamaah di Masjid kompleks pekerja Pertamina RU VI ini. Takjil yang sediakan Dewan kemakmuran Masjid (DKM) pun beraneka ragam, seperti kue tradisional, kurma, buah, dan teh manis hangat untuk membatalkan puasa, serta nasi kotak sebagai menu makan malam. Area Manager Communication, Relation and CSR PT KPI RU VI Balongan Mohamad Zulkifli menerangkan, penyediaan takjil dan iftar ini merupakan program kerja Badan Dakwah Islam (BDI) Pertamina RU VI yang rutin dilaksanakan saat Ramadan. Anggaran penyediaan ifthar ini, kata Zulkifli, bersumber dari donasi para pekerja di lingkungan Kilang Pertamina Balongan. “Silakan bagi masyarakat yang ingin berbuka puasa bisa ke Masjid di Kompleks Bumi Patra,” ungkap Zulkifli, Sabtu (16/3/2024). Sementara itu, Burhanudin, pengurus DKM Masjid Sabilul Muttaqin, mengatakan, hingga Ramadan ke-3 ini ada 64 pekerja RU VI yang telah mendonasikan dananya untuk kebutuhan ifthar dengan total donasi yang terkumpul sebesar Rp 33.970.000. “Alhamdulillah penyediaan ifthar semuanya berjalan lancar, total sudah lebih 500 ifthar nasi kotak yang telah disalurkan selama selama 3 hari Ramadhan,” kata Burhan. Evi (34 tahun) salah satu warga Balongan yang turut berbuka di Masjid Sabilul Muttaqien menuturkan, momen berbuka puasa di Masjid yang berada di kompleks Pertamina merupakan salah satu momen yang dinantikannya setiap tahun. Disampaikan Evi, buka puasa bersama di Masjid adalah sebuah keberkahan yang tidak bisa dirasakan setiap saat, hanya ada di Bulan Ramadan saja. “Alhamdulillah tiap Ramadan selalu menyempatkan buka puasa disini, suasananya sangat saya rindukan,” ungkapnya. (fer) Baca juga :

Read More

Kisah Ketika Sultan Agung Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Dikisahkan ada dua abdi keraton tengah menggunjing Sultan Agung yang tidak berpuasa disaat bulan Ramadhan. Karena tidak berpuasa, Sultan Agung membuat repot para abdi keraton. Pagi-pagi para abdi harus menyiapkan hidangan untuk sarapan sang raja Mataram itu. Sultan Agung makannya cukup banyak, berbeda dengan hari-hari di luar bulan puasa. “Kok malah makan sampai lima-enam kali. Apa tidak kasihan dengan para pembantu,” kata salah satu abdi kepada temannya. Mereka tidak tahu alasan Sultan Agung tidak berpuasa. Dua abdi itu sengaja menggunjing saat mereka lewat depan rumah Kiai Penghulu Keraton. Saat itu, Kiai Penghulu sedang bercengkerama dengan anak cucu di halaman rumah. Keesokan harinya, Kiai Penghulu sengaja menyempatkan waktunya untuk menghadap Sultan Agung pada pagi hari. Tiba di keraton, ia melihat banyaknya makanan yang terhidang dan Sultan Agung siap menyantapnya. Kiai Penghulu pun langsung menyindir Sultan Agung karena sebagai panatagama tidak memberi contoh berpuasa selama Ramadhan. “Mana ada kalifah yang menjadi tuntunan malah tidak bisa dipatuhi. Kitab apa yang mengajarkan hal ini?” tanya Kiai Penghulu. Tidak paham maksud Kiai Penghulu, Sultan Agung mengajukan pertanyaan mengenai isi pernyataan Kiai Penghulu. “Sekarang bulan Ramadhan, Gusti. Mengapa panjenengan tidak berpuasa?” jawab Kiai Penghulu. “Aku tahu ini bulan puasa, namun yang berpuasa kan bulannya. Jadi, aku tak perlu ikut berpuasa,” jawab Sultan Agung bermain kata-kata. Kiai Penghulu pun menyesali hal itu. Sebab selama ia bertugas menjadi penghulu keraton, ia telah mengajarkan hal ihwal puasa kepada semua abdi dalem di keraton yang telah beragama Islam. “Duh. Bagaimana ini, Gusti?” kata Kiai Penghulu. Ia pun segera menyatakan bahwa ia mengajarkannya di keraton pun atas perintah Sultan Agung. Ia semula hanyalah petani biasa di Kramatwatu, Panarukan. Sultan Agung bertemu dengannya saat Sultan Agung hendak berangkat shalat Jumat ke Makkah. Kepada Sultan Agung ia yang saat itu sedang mengerjakan kebun menitip pesan kepada Sultan Agung untuk Imam Syafii di Makkah. Ketika bertemu Imam Syafii, Sultan Agung tahu jika petani yang menitip pesan itu justru lima kali sehari shalat di Makkah. Imam Syafii pun menyarankan agar Sultan Agung mengangkatnya sebagai penghulu keraton. Sultan Agung memintanya untuk mengajarkan Islam di lingkungan keraton, termasuk hal ihwal puasa Ramadhan. Kiai Penghulu pun menyatakan kekhawatirannya, jika rakyat mengetahui rajanya tidak berpuasa, tentu mereka akan ikut tidak berpuasa juga. Sultan Agung pun meminta agar Kiai Penghulu tidak salah pengertian. Sultan Agung menjelaskan, sebagai kalifatullah panatagama dirinya memang memiliki kedudukan yang berbeda dengan rakyat kebanyakan. Kiai penghulu mengakui kebenaran pernyataan Sultan Agung itu. Namun ia mengingatkan bahwa jasadnya sama dengan jasad rakyat kebanyakan. Rakyat memiliki syahwat, raja juga memiliki syahwat. Raja memiliki hasrat untuk makan, tidur, bangun, rakyat juga memilikinya. Lupa, kaget, tertawa, sakit, meninggal, yang dipunyai rakyat kebanyakn, juga dipunyai oleh raja Mataram. Menjadi kalifatullah itu , kata Kiai Penghulu, hanyalah menjadi wakil Allah di muka bumi, yang menjadi penguasa keadilan seluruh jagad. Karena itu, Kiai Penghulu menyarankan, sebaiknya Sultan Agung tetap berpuasa di bulan Ramadhan karena rakyat kebanyakan juga berpuasa. Penjelasan Kiai penghulu yang panjang lebar itu membuat Sultan Agung tertawa. Ia pun kemudian bertanya kepada Kiai Penghulu, “Puasanya rakyat kebanyakan itu seperti apa?” Maka, Kiai Penghulu pun menjelaskan tata cara berpuasa Ramadhan yang telah ia ajarkan. Selama bulan Ramadhan, rakyat kebanyakan akan bangun pukul tiga pagi untuk makan sahur. Setelah itu, mereka tidak makan dan minum sepanjang hari hingga tiba waktu Maghrib ketika kelelawar keluar dari sarangnya. “Ketika kelelawar sudah beterbangan di sore hari, itulah waktunya berbuka,” kata Kiai Penghulu. Sultan Agung pun bertanya cukup begitukah yang disebut berpuasa? Begitulah syariat berpuasa di bulan Ramadhan, kata Kiai Penghulu. Mendengar penjelasan Kiai Penghulu itu, Sultan Agung merasa sudah cukup untuk menyudahi pengujiannya tentang ilmu puasa kepada Kiai Penghulu. Maka Sultan Agung pun lantas berpuasa Ramadhan. Ihwal kejadian itu sebenarnya Sultan Agung sengaja melakukan hal itu untuk menguji kedalaman ilmu Kiai Penghulu. (mif) Baca juga :

Read More

Alquran Cantumkan Kisah Tenggelam nya Firaun dan Bala Tentaranya

Jakarta — 1miliarsantri.net : Memang, orang mengetahui bahwa Firaun tenggelam di Laut Merah ketika mengejar Nabi Musa alaihissalam dan kaumnya. Tetapi menyangkut keselamatan badannya dan menjadi pelajaran bagi generasi sesudahnya merupakan satu hal yang tidak diketahui siapapun pada masa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, bahkan tidak disinggung oleh Perjanjian Lama dan Baru. Pakar Ilmu Tafsir Prof Quraish Shihab dalam buku Mukjizat Alquran mengatakan kisah Firaun di dalam Alquran banyak ditemukan. Salah satunya adalah kabar mengenai kematian Firaun yang tenggelam. Dalam Alquran ditemukan sekitar 30 kali Allah SWT menguraikan kisah Nabi Musa dan Firaun. Yang mana itu adalah suatu kisah yang tidak dikenal pada masa itu kecuali melalui kitab Perjanjian Lama. Tetapi satu hal yang menakjubkan adalah bahwa Nabi Muhammad SAW, melalui Alquran, telah mengungkap suatu perincian yang sama sekali tidak diungkap oleh satu kitab pun sebelumnya. Bahkan tidak diketahui kecuali yang hidup pada masa terjadinya peristiwa tersebut, yakni pada abad ke-12 SM atau sekitar 3.200 tahun yang lalu. Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat Yusuf ayat 90-92: وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ Yang artinya, “Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut. Mereka pun diikuti oleh Firaun dan tentaranya, karena mereka hendak menganiaya dan menindas (Bani Israil). Ketika Firaun telah hampir tenggelam berkatalah dia, ‘Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang disembah oleh Bani Israil dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)’. (Allah menyambut ucapan Firaun ini dengan berfirman), ‘Apakah sekarang baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhakasejak dahuu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Hari ini Kami selamatkan badanmu, supaya kamu menjadi pelajaran bagi (generasi) yang datangsesudahmu dan esungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” Prof Quraish mengatakan, yang perlu digarisbawahi dalam konteks ayat tersebut adalah firman-Nya yang berbunyi, “Hari ini Kami selamatkan badanmu, agar engkau menjadi pelajaran bagi generasi yang datang sesudahmu.” Seorang pakar sejarah Mesir Kuno, Maspero, menjelaskan dalam “Petunjuk bagi pengunjung Museum Mesir” setelah mempelajari dokumen-dokumen yang ditemukan di Alexandria Mesir bahwa penguasa Mesir yang tenggelam itu bernama Maneptah (Memptah). Yang mana kemudian oleh sejarawan Driaton dan Vandel—melalui dokumen-dokumen lain—membuktikan bahwa penguasa Mesir itu memerintah antara 1224 SM hingga 1214 SM atau 1204 (menurut pendapat lain). Sekali lagi pada masa turunnya Alquran pada 15 abad yang lalu, kata Prof Quraish, tidak seorang pun yang mengetahui di mana sebenarnya penguasa yang tenggelam itu berada dan bagaimana pula kesudahan yang dialaminya. Namun pada 1896, kepurbakalaan Loret, menemukan jenazah tokoh tersebut dalam bentuk mumi di Wadi Al-Muluk (lembah para raja) yang berada di daerah Thaba, Luxor, di seberang Sungai Nil, Mesir. Kemudian pada 8 Juli 1907, Elliot Smith membuka pembalut-pembalut mumi itu dan ternyata badan Firaun tersebut masih dalam keadaan utuh. Prof Quraish mengatakan bahwa ia pernah melihat itu di museum Mesir ketika ia melakukan studi di Kairo. Kepala dan leher mumi terbuka, bagian-bagian badannya masih tertutup dengan kain dan kesemuanya diletakkan dalam satu peti berkaca yang memungkinkan para pengunjung melihatnya dengan jelas. Pada Juni 1975, ahli bedah Prancis bernama Maurice Bucaille mendapat izin untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang mumi tersebut dan menemukan bahwa Firaun meninggal di laut. Ini terbukti dari bekas-bekas garam yang memenuhi sekujur tubuhnya, walaupun sebab kematiannya—menutur pakar tersebut—dilakukan oleh shock. Bucaille pada akhirnya berkesimpulan bahwa: betapa agungnya contohh-contoh yang diberikan oleh ayat-ayat Alquran tentang tubuh Firaun yang sekarang berada di ruang mumi Museum Mesir di Kota Kairo. Penyelidikan dan penemuan modern telah menunjukkan kebenaran Alquran. (yan) Baca juga :

Read More

Beberapa Sejarah Perang Islam Yang Dilakukan Dalam Bulan Ramadhan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Umat Islam di dalam masa Ramadhan memang dilarang melakukan berbagai tindakan yang menyakiti pihak lain. Bahkan Rasullah SAW mengatakan perang yang terbesar adalah perang melawan diri sendiri. Ini dinyatakan beliau usai melakukan perang Badr melawan kaum Qurays di perbatasan Madinah Makkah pada tahun 624 M. Ajaran Islam sebenarnya melarang perang keculai untuk mempertahankan diri. Dan perang Badr yang dilakukan Rasullah adalah dalam rangka mempertahankan diri dan eksistensi ajaran Islam. Bila kalah perang kala itu ajaran Islam akan hilang. Perang Badr ini dilakukan tidak seimbang karena kala itu tentara Islam hanya sekitar 300 orang dan minim persenjataan. Sedangkan tentara Qurays jumlahnya ribuan atau 3-4 kali lipatnya. Mereka pun bersenjata lengkap dan didukung perbekalan yang berlimpah. Tapi ternyata yang kuat dan berlimpah, yakni tentara Qurays berhasil dikalahkan. Mereka melarikan diri kembali ke Makkah. Namun, kerugian di pihak tentara Islam kala itu juga cukup besar. Paman Nabi Muhammad, Hamzah bin Abi Thalib menjadi syahid dalam perang di tangan tentara Qurays bernamma Wahsyi. Namun, kala itu kematian Hamzah diketahui Hindun bin Utbah yang juga ikut dalam perang Badr. Dia sangat girang karena merasas hutang nyawa atas kematian suaminya, Utbah bin Rabiah, terbayangkan. Maka dia kemudian menunaikan sumpah pembalasannya dahulu ketika menemukan ayahnya dibunuh oleh Hamzah dalam sebuah percekcokan. Ketika menemukan jenazah Hamzah, Hindun kemudian memberlakukan tindakan biadab, Dia kemudian merobek perrut Hamzah. Hatinya di makan. Itulah tragedi perang Badr yang terjadi pada bulan Ramadhan. Terkait perang di bulan Ramadhan, berikut ini daftar pertempuran yang dilakukan selama Ramadhan oleh umat Islam sepenjang sejarah. 624 – Pertempuran Badar. Melawan penyembah berhala Makkah. “Pertempuran Besar Badar”, merupakan pertempuran pertama antara kaum muslim dan non-muslim. 627 – Pertempuran Parit. Umat Muslim dilatih untuk pertempuran ini pada bulan Ramadhan, meskipun terjadi pada bulan Syawal berikutnya. 630 – Pertempuran Tabouk (juga disebut Pertempuran Tabuk). Itu tentara Islam di bawah pimpinan Muhammad SAW mendirikan kamp pelatihan dan pertempuran di Tabouk selama bulan puasa. Tentara Bizantium tidak menunjukkan agresi sehingga umat Islam kembali dengan damai tanpa pertempuran. 653 – Penaklukan Rhodes. Penaklukan Maghreb oleh Kekhalifahan Rashidun dan Umayyah dimulai pada tahun 647 dan berakhir pada tahun 709, ketika Kekaisaran Bizantium kehilangan benteng terakhirnya yang tersisa di bawah kekuasaan Khalifah Al-Walid I. Kampanye di Afrika Utara adalah bagian dari abad penaklukan Muslim awal yang cepat. 710 – Umat Islam dipimpin oleh Tarek bin Ziyad, menyerbu Spanyol kota-kota perbatasan selatan di pantai Andalusia mengalahkan [[Raja Roderick]]. Mereka tinggal selama delapan ratus tahun, menyebarkan Islam. 1099 – Pertempuran Ascalon. Berlangsung pada tanggal 22 Ramadhan (12 Agustus), tentara salib yang baru didirikan Kerajaan Yerusalem mengalahkan Mesir Fatimiyah. 1187 – Pertempuran Hattin. Berlangsung saat fajar—setelah Malam Kekuasaan (Lailat ul-Qadr) (atau “Malam Takdir”). Sultan Saladin (Salah Al-Din Al-Ayubi) memusnahkan tentara Frank dan melanjutkan untuk merebut kembali Yerusalem untuk Islam. Pertempuran itu terjadi pada 4 Juli. 1260 – Pertempuran Ain Jalut. Qutuz mengalahkan bangsa Mongol di Palestina. 1962 hingga 1970 – Perang Saudara Yaman. Pertarungan berlanjut hingga pukul sembilan Ramadhan. 1973 – Perang Ramadhan (Di tempat lain dikenal sebagai Perang Yom Kippur). Mesir dan Suriah melancarkan serangan ke Semenanjung Sinai yang telah direbut dan diduduki Israel sejak Perang Enam Hari tahun 1967. 1975 hingga 1990 – perang saudara di Lebanon. Pertarungan pun terjadi selama tujuh belas Ramadhan. 1981 – Iran menolak tawaran Irak untuk gencatan senjata di bulan Ramadhan. 1982 – Iran melancarkan serangan ke Irak yang mereka terang-terangan disebut “Operasi Ramadhan.” 1987 – Iran kembali menolak tawaran Irak untuk melakukan gencatan senjata di bulan Ramadhan. 1987 hingga 1993 – Intifada Palestina pertama terjadidikobarkan selama enam Ramadhan. 1990an – Setidaknya ada 20 contoh kekerasan Ramadhan yang dilakukan umat Islam selama perang saudara Aljazair. 2000 – Perdana Menteri India Atal Bihari Vajpayee menyatakan: India akan memulai gencatan senjata sepihak menjelang bulan suci Ramadhan sebagai langkah menuju perdamaian di Kashmir. Meskipun demikian, pertempuran yang meluas terus berlanjut antara pasukan India dan India gerilyawan di Jammu-Kashmir. 2003 hingga 2007 – Perang Irak. Pertempuran terjadi selama ini empat Ramadhan. 2024: Tidak jelas apakah ada gencatan sejata antara Hamas dan Israel di Gaza. Menjelang awal Ramadhan pasukan Israel kembali melakukan operasi militer besar-besaran. Ratusan warga Israel kembali tewas. Perempuran yang sudah berlangsung sekitar delapan bulan sebelum Ramadhan 2024 telah menewaskan setidaknya 33.000 warga Palestina. Sekitar 1.500 tentara Israel terbunuh. (yan) Baca juga :

Read More

Ketika Sultan Agung Memakai Kalender Jawa Islam

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pada tahun 1633, Sultan Agung tidak ingin mengikuti kalender yang digunakan Kompeni. Maka, ia tetap menggunakan kalender Jawa, tetapi kemudian memadukan dengan kalender Islam. Sultan Agung memutuskan untuk menggunakan penanggalan bulan yang terdiri atas 354 atau 355 hari dan jadilah kalender Jawa-Islam. Maka, acara-acara tradisi keraton di kemudian hari diselaraskan dengan penanggalan Islam. Diantaranya gerebeg puasa, gerebeg mulud, gerebeg besar. Angka tahun kalender Sultan Agung ini tidak mengikuti tahun Hijriyah. Melainkan tetap mengikuti tahun Jawa. Bulan-bulan dalam tahun Jawa yang dipadukan dengan kalender Islam ada 12. Yaitu Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud,Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Syawal, Apit, Besar. Jumlah hari ada lima. Yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. Pada awalnya kalender Jawa mengikuti kalender Hindu dengan nama Saka. Tahun Saka dalam legenda Jawa dimulai sejak kedatangan Aji Saka di Jawa pada tahun 78 Masehi. Hitungannya masih menggunakan hitungan matahari. Setelah 1633 tarikh Saka yang tua sekali yang dimulai pada 78 Masehi dilanjutkan tetapi lanjutannya ini tidak dengan perhitungan tahun matahari melainkan dengan perhitungan tahun bulan yang terdiri dari 354 atau 355 hari. Sultan Agung mengganti sistem penanggalan ini setelah mengunjungi Tembayat. Kunjungan ke Tembayat dilakukan untuk meredam rencana pemberontakan kalangan mistik Islam yang berpusat di Tembayat. Mereka menyamar keluar masuk desa untuk mengumpulkan kekuatan melakukan pemberontakan. Tapi rencana ini bisa dipadamkan sebelum mereka benar-benar melakukan pemberontakan. Tembayat masuk wilayah Pajang, negeri yang kemudian dikalahkan oleh Mataram. Di sana ada makam Sunan Bayat. Apa makna perubahan sistem penanggalan ini bagi Mataram? Bagaimanapun, perubahan ini dapat dianggap sebagai perwujudan kesadaran kemusliman yang semakin kuat. Berbagai perayaaan tradisi di Mataram kemuduan berbeda dengan waktu perayaan ketika masih menggunakan penanggalan matahari. Itu terjadi karena setiap tahun jumlah hari menusut 10 hari dati perhitungan penanggalan matahari. Untuk menemukan padanannya dengan tahun Masehi, tidak mungkin lagi ditambahkan begitu saja angka 78, tetapi kita harus melihat tabel kesesuaian. Perayaan gerebeg dan sekaten mengikuti sistem penanggalan yang disusun Sultan Agung. Tradisi gerebeg ada tiga jenis: gerebeg pasa (puasa), gerebeg mulud, gerebeg besar. Gerebeg puasa (pasa) diadakan pada 1 Syawal, menyambut berakhirnya bulan puasa dan datangnya hari Lebaran. Gerebeg pasa dikenal juga sebagai gerebeg syawal dan gerebeg bada. Sekaten dan gerebeg mulud diadakan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad pada bulan Mulud. Dalam kalander Islam, bulan Mulud adalah Rabiul Awal. Gerebeg besar diadakan pada bulan Besar. Dalam kalender Islam, bulan Besar sama dengan bulan Zulhijah. Acara gerebeg merupakan tradisi peninggalan Hindu-Jawa. Ini merupakan tradisi mengucap syukur atas berlimpahnya hasil pertanian. Maka dalam acara gerebeg selalu disediakan gunungan yang disusun dari berbagai hasil bumi. Gunungan itu diarak lalu diperebutkan. (mif) Baca juga :

Read More

Masjid Agung Madaniyah Karanganyar Terinspirasi Masjid Nabawi

Karanganyar — 1miliarsantri.net : Masjid Agung Madaniyah di Karanganyar, Jawa Tengah diresmikan Presiden Joko Widodo, Jumat, 8 Maret 2024 lalu. Masjid ini menjadi kebanggan masyarakat Karanganyar karena desainnya terinspirasi dari Masjid Nabawi di Madinah. Bupati Karanganyar periode 2013-2023 yang juga menjabat sebagai Ketua Takmir Masjid Madaniyah, Juliyatmono menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Presiden yang berkenan salat Jumat sekaligus meresmikan masjid tersebut. “Kami sangat bersyukur Bapak Presiden bersedia salat Jumat di masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Karanganyar. Ini menjadi kebanggaan kami karena beliau adalah presiden yang sangat dicintai oleh rakyat,” ungkap Juliyatmono. Masjid Agung Madaniyah dibangun dari tahun 2019 hingga 2021 dengan dana senilai Rp101 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Karanganyar. Pembangunan masjid ini bertepatan dengan perayaan Hari Jadi Karanganyar yang ke-101, memberikan makna yang mendalam bagi masyarakat setempat. “(Pembiayaan) dari APBD murni sehingga ini milik rakyat Karanganyar,” imbuhnya. Juliyatmono juga berharap kehadiran Presiden Joko Widodo dapat membawa berkah yang luar biasa bagi masyarakat Karanganyar. Dengan peresmian masjid ini, diharapkan Masjid Agung Madaniyah tidak hanya menjadi pusat ibadah yang makmur tapi juga ikon monumental di Karanganyar. “Mudah-mudahan beliau sehat selalu, diberikan kekuatan, dan terus bisa memberikan kontribusi untuk bangsa dan negara,” tambahnya. Turut mendampingi Presiden Jokowi dalam kesempatan tersebut yakni Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan Pj. Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana. (hud) Baca juga :

Read More

Berikut 5 Kerajaan Pertama di Indonesia

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Indonesia terdiri dari berbagai kerajaan pada masa lalu. Kerajaan-kerajaan tersebut berperan penting dalam membentuk budaya dan identitas bangsa. Lantas kerajaan apa yang pertama ada di Indonesia? Kerajaan pertama di Indonesia diidentifikasi berdasarkan temuan tertua peninggalan yang ada. Kerajaan tersebut memiliki corak berbeda-beda, mulai dari Hindu-Buddha hingga Islam. Berikut daftarnya yang dirangkum dari sumber laman Pemprov Aceh, Direktori Majapahit, dan situs UNY. Kerajaan Martapura didirikan sekitar abad ke-4 Masehi di hulu Sungai Mahakam, yaitu Muara Kaman. Pendiri dinasti Kerajaan Martapura adalah Aswawarman Putra Kundungga. Nama ini ditunjukkan di kitab Salasilah Kutai. Selain itu, berdirinya Kerajaan Kutai dibuktikan oleh prasasti Kutai yang berwujud tujuh buah tugu batu yang disebut Yupa. Prasasti berbahasa Sansekerta ini dikeluarkan oleh Raja Mulawarman sebagai tugu batu yang menambatkan lembu kurban. Bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara adalah peninggalan Raja Purnawarman yang berupa prasasti-prasasti. Di antaranya ada prasasti Ciaruteun, prasasti Kebon Kopi, prasasti Tugu, prasasti Lebak, prasasti Pasir Awi, dan prasasti Muara Cianten. Tak hanya dari prasasti, informasi mengenai kerajaan ini juga bersumber dari berita musafir China bernama Fa-Hien. Musafir ini datang pada tahun 414 Masehi dan membuat catatan mengenai Kerajaan Taruma. Kerajaan Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Bukti keberadaan kerajaan ini adalah prasasti Kedukan Bukit dan prasasti Talang Tuo. Pada prasasti tersebut menjelaskan bahwa Dapunta Hyang adalah raja pertama Kerajaan Sriwijaya. Diketahui, Dapunta Hyang melakukan perjalanan sebagai raja pertama bersama 20.000 tentara dari Minanga Tamwan ke Palembang, Jambi, dan Bengkulu untuk menaklukkan daerah-daerah strategis bagi perdagangan Sriwijaya. Pada masa Kerajaan Majapahit, berkembang dua agama yaitu Hindu dan Buddha. Dalam mengatur kehidupan beragama di masa itu, dibentuk badan atau pejabat yang disebut Dharmadyaksa. Kerajaan Majapahit mengalami masa kejayaannya di abad ke-13 hingga 14 Masehi dan dipimpin pertama kali oleh Raden Wijaya, yang juga merupakan pendiri kerajaan. Pada masa Kerajaan Majapahit ini, Kitab Sutasoma karya Empu Tantular populer hingga saat ini karena memuat semboyan negara Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Berdasarkan laman Pemerintah Aceh, kerajaan Samudera Pasai berdiri pada abad ke-13 oleh Marah Silu. Kerajaan ini merupakan kerajaan besar yang menjadi pusat perdagangan dan perkembangan agama Islam. Sejarah kerajaan Samudera Pasai dapat dipelajari di nisan makam Sultan Malik As Saleh dan sumber-sumber dari para pengembara dari China. Sejarah yang populer pada kerajaan ini adalah ketika masa kejayaannya, kerajaan Samudera Pasai menjadi pusat perdagangan yang sering dikunjungi oleh China, India, Arab, dan Persia. (mif) Baca juga :

Read More