Penyebab Perang Armagedon dan Jalannya Perang

Jakarta — 1miliarsantri.net : Perang Armagedon, atau Perang Akhir Zaman, merupakan peristiwa besar yang disebutkan dalam berbagai tradisi agama, termasuk dalam Islam. Dalam konteks Islam, perang ini sering dikaitkan dengan akhir zaman dan tanda-tanda kiamat. Konflik Israel dengan beberapa negara semakin mengarah kepada perang akhir zaman ini. Karena, Perang Armageddon menyeret semua negara ke dalam dua poros, yaitu poros kaum kafir yang dipimpin oleh Dajjal dan poros kaum Muslimin yang dipimpin oleh Al Mahdi bersama Isa Al Masih. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Hari kiamat tidak akan terjadi, hingga dua kelompok berperang. Pembunuhan besar-besaran akan berlangsung dan mereka berperang dengan tuntutan yang sama.” (HR Bukhari dan Muslim) Beberapa tahun terakhir ini Israel mulai banyak bermusuhan dengan berbagai negara di dunia. Baru-baru ini hubungan Israel dan Lebanon memanas. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun berupaya mencegah perang keduanya pasca serangan ke Majdal Shams, kota di Dataran Tinggi Golan, yang diduduki Israel pada Sabtu (27/7/2024). Tidak hanya bersitegang dengan Lebanon, hubungan Israel dengan Turki juga kembali memanas menyusul rencana Presiden Recep Tayyip Erdogan “menginvasi” negara Zionis itu demi membela Palestina di Jalur Gaza. Armageddon sendiri merupakan sebuah nama gunung di Palestina/Israel. Arti Armageddon berasal dari bahasa Yunani, yaitu Ar berarti ‘gunung’, dan Mageddon (Magiddo) adalah nama kota kuno di wilayah Israel sebelah utara. Lalu apa sebenarnya penyebab perang Armagedon ini? Dan seperti apa jalannya Perang al-malhamah kubra ini? Penyebab Perang Armagedon: Salah satu yang menjadi penyebab Perang Armagedon adalah kemerosotan moral. Hadis-hadis menyebutkan bahwa tanda-tanda akhir zaman termasuk merosotnya moral dan akhlak manusia. Banyak orang akan meninggalkan ajaran agama dan melakukan kejahatan serta kemaksiatan. Munculnya pemimpin-pemimpin yang tidak adil dan tirani juga disebut sebagai penyebab perang ini. Mereka akan menindas rakyat dan menimbulkan kekacauan. Hal ini mulai tampak dengan kejamnya para pemimpin dunia, khususnya pemimpin Israel. Umat manusia akan terpecah belah dan terjadi banyak pertentangan serta konflik antar bangsa dan kelompok. Jalannya Perang Armagedon Dalam hadis-hadis Islam, munculnya Imam Mahdi merupakan salah satu tanda besar akhir zaman. Imam Mahdi akan datang sebagai pemimpin yang adil dan memimpin umat Islam dalam perjuangan melawan kezaliman. Rasulullah bersabda: “Umat tidak akan rusak, yang aku ada di awalnya, Isa ibn Maryam berada di akhirnya, dan al-Mahdi pada pertengahannya (sebelum akhir). Dajjal adalah sosok yang sangat ditakuti dalam Islam, digambarkan sebagai penipu besar yang akan menyesatkan banyak orang. Kedatangannya akan menandai dimulainya masa fitnah dan ujian besar bagi umat manusia. Dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim dinyatakan bahwa Dajjal itu adalah seorang Yahudi. إنه يهودي وإنه لا يولد له ولد وإنه لا يدخل المدينة ولا مكة “Sesungguhnya ia adalah seorang Yahudi. Sesungguhnya ia tidak punya keturunan. Sesungguhnya ia tidak bisa masuk di Madinah, dan tidak masuk Makkah.” Pertempuran besar antara “golongan putih” yang dipimpin oleh Imam Mahdi melawan “golongan hitam” yang dipimpin oleh Dajjal. Perang ini akan melibatkan banyak bangsa dan berlangsung dalam skala besar. Dalam Islam, Nabi Isa akan turun kembali ke bumi untuk membantu Imam Mahdi dalam melawan Dajjal. Kedatangan Nabi Isa akan menjadi penentu kemenangan pasukan kebaikan. Al-Hakim dalam al-Mustadrak ‘ala as-Shahihayn mentakhrij dari Abi Hurairah, hadits marfu’: إن روح الله عيسى نازل فيكم فإذا رأيتموه فاعرفوه فإنه رجل مربوع إلى الحمرة والبياض، عليه ثوبان ممصران كأن رأسه يقطر وإن لم يصبه بلل ، فيدق الصليب ويقتل الخنزير ويضع الجزية ويدعو الناس إلى الإسلام ، فيهلك الله في زمانه المسيح الدجال. ويقع الأمنة على الأرض فذكر الحديث . وفيه: فيمكث أربعين سنة ثم يتوفى ويصلي عليه المسلمون Artinya: “Sesungguhnya Ruhullah Isa (akan) turun di tengah-tengah kalian (umat Nabi Muhammad di akhir zaman). Ketika kalian melihatnya (Ruhullah Isa), maka kenalilah ia, yang seorang (berwarna kulit) putih kemerahan, dan mengenakan dua baju, seakan kepalanya meneteskan air dan basah. Kemudian Allah menghancurkan Dajjal (pembohong besar yang mengaku nabi dan mengaku sebagai Allah), pada zamannya. Ia (Ruhullah Isa) tinggal di bumi selama 40 tahun, kemudian diwafatkan dan dishalati kaum muslimin.” Akhirnya, pasukan Muslim akan menang dalam perang besar ini, Dajjal akan dikalahkan, dan kedamaian akan kembali di muka bumi untuk sementara waktu sebelum datangnya hari kiamat yang sebenarnya. Beberapa hadis lain yang menggambarkan Perang Armagedon dan tanda-tanda akhir zaman, antara lain sebagai berikut: Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW Bersabda, “Tidak akan datang hari kiamat sehingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi dan membunuh mereka. Sehingga, bersembunyilah orang-orang Yahudi di belakang batu atau kayu, kemudian batu atau kayu itu berkata, ‘Wahai orang muslim, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakang saya, kemarilah dan bunuhlah dia!’ Kecuali pohon Gharqad (yang tidak berbuat demikian) karena ia termasuk pohon Yahudi.” Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW juga bersabda, “Kalian akan diperangi oleh bangsa Yahudi. Lalu, kalian diberi kemenangan atas mereka, sampai-sampai batu pun akan berbicara, ‘Hai muslim, ini seorang Yahudi di balikku, bunuhlah ia!’” Itulah penyebab dan gambaran jalannya perang Armagedon. Namun, perlu dicatat bahwa pemahaman tentang Perang Armagedon dan tanda-tanda akhir zaman ini beragam dan dipengaruhi oleh interpretasi dari berbagai ulama dan tradisi Islam. (jeha) Baca juga :

Read More

Kisah Abu Bakar Menjadi Ahli Surga

Jakarta — 1miliarsantri.net : Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq Radhiyallahu Anhu adalah orang yang paling utama di antara seluruh manusia di dunia ini selain para nabi. Abu Bakar dipastikan termasuk ahli surga. Baginda Rasulullah SAW memberi kabar gembira bahwa Abu Bakar adalah ahli surga. Bahkan, dikatakan akan menjadi pimpinan kaum tua yang akan masuk surga. Semua pintu surga akan memanggil namanya dan menyampaikan kabar gembira kepadanya. Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda, “Orang yang paling dahulu masuk surga di kalangan umatku adalah Abu Bakar.” Meskipun demikian, Abu Bakar juga berkata, “Alangkah bahagianya, jika aku menjadi sebatang pohon yang akhirnya ditebang.” Abu Bakar juga berkata, “Alangkah bahagianya, jika aku menjadi rumput yang dimakan hewan.” Kadangkala Abu Bakar juga berkata, “Alangkah bahagianya, jika aku menjadi sehelai bulu di badan seorang mukmin.” Suatu ketika, Abu Bakar pernah berada di dalam sebuah kebun dan melihat seekor burung yang sedang berkicau. Sambil menarik napas berat, Abu Bakar berkata, “Wahai burung, alangkah beruntungnya hidupmu. Kamu makan, minum, dan beterbangan di antara pepohonan, tetapi di akhirat tidak ada hisab bagimu. Alangkah bahagianya, jika Abu Bakar menjadi sepertimu” (dari kitab Tharikhul Khulafa). Sayyidina Rabi’ah Aslami Radhiyallahu anhu bercerita, “Suatu ketika pernah terjadi kesalahpahaman antara aku dan Abu Bakar. Dia berbicara kasar kepadaku sehingga aku tersinggung. Ketika dia menyadari kesalahannya, dia berkata kepadaku, ‘Ucapkanlah kata-kata kasar kepadaku sebagai balasan’. Namun, aku menolaknya.” Abu Bakar berkata lagi, “Kamu harus mengucapkannya. Jika tidak, akan aku adukan kepada Rasulullah SAW.” Sementara, Rabi’ah Aslami tetap tidak menjawab apa pun. Lalu, Abu Bakar bangun dan pergi meninggalkanku. Ketika itu, beberapa orang dari kabilahku (Banu Aslam) yang menyaksikan kejadian tersebut berkata, “Orang ini aneh sekali. la sendiri yang bersalah dan ia sendiri yang mengadukannya kepada baginda Rasulullah SAW.” Rabi’ah Aslami berkata, “Tahukah kamu siapa dia? Dialah Abu Bakar. Jika ia marah kepadaku, tentu baginda Rasulullah SAW kekasih Allah SWT akan marah kepadaku, dan jika beliau marah, Allah SWT pun akan marah. Jika demikian, maka Rabi’ah dipastiakan binasa.” Kemudian aku pergi menemui Nabi Muhammad SAW dan menceritakan kejadian tersebut. Rasulullah SAW bersabda, “Sikapmu benar, memang sebaiknya kamu tidak membalasnya, tetapi katakanlah, ‘Semoga Allah SWT memaafkan kamu, wahai Abu Bakar’.” Kitab Kisah-Kisah Sahabat yang ditulis Syaikhul Hadits Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi diterbitkan Pustaka Ramadhan, menjelaskan, inilah contoh perasaan takut kepada Allah SWT. Hanya karena sepotong kalimat yang sepele, Abu Bakar demikian takut balasannya (di akhirat). Abu Bakar sangat cemas dan khawatir, sehingga ia sendiri yang minta dibalas, bahkan mengadukannya kepada Nabi Muhammad SAW agar Rabi’ah membalasnya. Pada hari ini, kita mudah untuk saling mencaci tanpa rasa khawatir sedikit pun akan balasan perbuatan kita kelak di akhirat atau hari hisab. (jeha) Baca juga :

Read More

Kisah Syahidnya Abu Ubaidah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ketika pada zaman sahabat Rasulullah SAW pernah dilanda wabah daulah Islam. Ketika itu, episentrum sebaran penyakit mematikan tersebut berada di Amawas, suatu kota sebelah barat Baitul Makdis, Palestina. Muhammad Husain Haekal dalam buku biografi tentang Umar bin Khattab menjelaskan, wabah tersebut terus menjalar ke Syam (Suriah) dan bahkan Irak. Tiap orang yang tertular tak lama kemudian akan meninggal dunia. Sebulan lamanya wabah tersebut menyeruak. Total korban jiwa mencapai 25 ribu orang. Basrah di Irak menjadi kota dengan jumlah korban terbanyak. Sapuan epidemi juga tiba di kompleks barak tempat tinggal tentara Muslimin di Syam. Jenderal Khalid bin Walid ikut terdampak. Sebanyak 40 orang anaknya meninggal dunia setelah terjangkit penyakit itu. Kala itu, Muslimin sedang konfrontasi dengan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium). Namun, para jenderal Romawi memilih pasif, alih-alih memanfaatkan “kesempatan” saat pasukan Islam diserang wabah. Sebab, mereka pun tak mau terimbas epidemi yang sama. Khalifah Umar bin Khattab menyadari bahaya sebaran wabah yang kian menjadi. Saat itu, sahabat berjulukan al-Faruq ini beserta rombongannya dalam perjalanan dari Madinah menuju Suriah (Syam). Turut bersama sang khalifah adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abi Sufyan, dan Syurahbil bin Hasanah. Khalifah Umar baru saja tiba di Sar, dekat Tabuk, ketika tiga tokoh tersebut memberitahukan kepadanya ihwal kian merebaknya wabah Amawas. Mendengar keterangan mereka, Umar merasa khawatir. Ia lantas memimpin musyawarah untuk menentukan sikap: apakah meneruskan perjalanan ke Syam atau balik ke Madinah. Sebagian mendesak agar perjalanan dilanjutkan. Sebagian yang lain meminta Umar untuk kembali saja ke Kota Nabi. Keesokan harinya, usai memimpin shalat subuh Umar berseru, “Saya akan kembali ke Madinah, maka ikutlah kalian pulang.” Namun, keputusan Umar itu didebat Abu Ubaidah. Salah satu jenderal terbaik kaum Muslimin ini mengatakan, dirinya tak mau meninggalkan pasukannya yang masih ada di barak di Syam. “Wahai Umar, kita akan lari dari takdir Allah?” tanya Abu Ubaidah, retoris. “Ya, lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah juga,” jawab Umar. Saat keduanya sedang beradu argumen, datanglah Abdurrahman bin Auf. Ia lantas mengingatkan kepada mereka berdua ihwal sabda Rasulullah SAW: “Jika ada wabah di suatu kota, janganlah kalian masuk. Kalau kalian sedang ada di dalamnya, janganlah kalian lari keluar.” Mendengar nasihat itu, Umar semakin merasa yakin. Ia dan para pengikutnya lantas beranjak pulang. Adapun Abu Ubaidah tetap dalam ijtihadnya, yakni meneruskan perjalanan ke Sam. Sebab, ia ingin mendampingi seluruh pasukannya yang masih bertahan di sana. Sesampainya di Madinah, berhari-hari lamanya Umar memikirkan keadaan rakyat–termasuk Abu Ubaidah–di Syam. Dalam benaknya, Abu Ubaidah-lah yang pantas menggantikannya kelaksebagai amirul mukminin. Al-Faruq kemudian bersurat kepada Abu Ubaidah. Isinya mengajak yang bersangkutan agar segera menemuinya di Madinah. Membaca surat itu, Abu Ubaidah sudah dapat menangkap maksud implisit Khalifah Umar. Sang khalifah hendak membebaskannya dari wabah. Ia pun menulis surat balasan, “Saya sudah tahu tujuan Anda kepada saya. Saya berada di tengah-tengah pasukan Muslimin. Saya tidak ingin menjauhi mereka dan berpisah dengan mereka sampai nanti Allah menentukan keputusan-Nya untuk saya dan untuk mereka. Lepaskanlah saya dari kehendak Anda, wahai Amirul mukminin, dan biarkanlah saya bersama dengan prajurit saya.” Ketika surat itu sampai di Madinah, Umar membacanya sambil menitikkan air mata. Ia pun menulis lagi surat kepada Abu Ubaidah. Isinya menyarankannya agar memimpin rakyat Syam untuk pindah ke tanah yang lebih tinggi. Belum sempat instruksi itu sampai dan dilakukan, Abu Ubaidah lebih dahulu meninggal dunia. Muadz bin Jabal tampil sebagai penggantinya. Namun, ia pun ikut terserang wabah yang sama hingga wafat beberapa hari kemudian. Posisinya digantikan oleh Amr bin Ash. Gubernur Mesir itu lantas berpidato di hadapan rakyat Suriah, “Penyakit ini bila sudah menyerang, menyala bagaikan api. Maka hendaknya kita berlindung dari penyakit ini ke bukit-bukit!” Seluruh warga mengikuti anjuran ini. Amr dan para pengungsi terus bertahan di dataran-dataran tinggi hingga sebaran wabah Amawas hilang sama sekali. Amr kemudian bersurat ke Madinah. Khalifah Umar tak menyalahkan Amr yang berinisiatif melaksanakan instruksinya kepada Abu Ubaidah. Sesudah mengetahui ihwal meredanya wabah Amawas, Umar pun berangkat menuju Syam. Sang khalifah berusaha memulihkan kembali kondisi seluruh warga, termasuk yang sampai mengungsi ke bukit-bukit. (jeha) Baca juga :

Read More

Kisah Tersusunnya Muwatta’ Kitab Populer Pertama

Jakarta — 1miliarsantri.net : Semenjak Khalifah Umar bin Abdul Aziz menghimbau para Alim Ulama untuk membukukan hadis-hadis Nabi, dari situ gerakan pembukuan mulai berjalan dan terus berkembang waktu demi waktu. Mula-mula ulama hanya mengumpulkan hadis Nabi dalam satu karangan kitab tanpa menyortir dan mengelompokannya dalam bab-bab yang tersusun, sebagaimana kitab yang dikarang Az-Zuhri dan Ibnu Hazm. Hingga pada tahun 170 H kitab Muwatta’ muncul menjadi kitab pertama yang disusun dengan pengelompokan hadis dalam bab tertentu. Kitab fenomenal ini dikarang oleh Imam Malik bin Anas bin Malik, pendiri mazhab Maliki. Berawal dari pertemuannya dengan Khalifah Abu Ja’far al-Mansur pada saat tengah melaksanakan ibadah haji, Khalifah Abbasiyah kedua itu meminta Imam Malik untuk menulis kitab yang memuat hadist beserta fiqih didalamnya—sebagaimana yang tercantum dalam kitab Tartibul Madarik, lebih lengkapnya beliau berpesan, “Orang alim yang tersisa hanya aku dan dirimu. Aku saat ini telah disibukkan dengan politik, maka yang tersisa hanya dirimu. Karanglah kitab yang berguna bagi umat, yang di dalamnya memuat hadis dan fiqih, hindari rukhsas-rukhsas Ibnu Abbas, pendapat-pendapat yang memberatkan milik Ibnu Umar, dan pendapat syadz Ibnu Mas’ud. Lalu jelaskan secara perinci.”, sejak saat itulah Imam Malik mulai menggarap kitab sesuai dengan permintaan Al-Manshur. Dalam penulisannya beliau menggunakan metode yang moderat dengan proporsi seimbang. Kitab ini oleh Imam Malik diberi nama “Muwatta’” yang artinya yang disepakati, karena setelah menyelesaikannya Imam Malik memberikan Muwatta’ ke tujuh puluh ulama fiqih Madinah dan mereka semua menyepakati isi dari kitab Muwatta’. Dalam Muwatta’ sendiri terhimpun sepuluh ribu hadist yang selama empat puluh tahun oleh Imam Malik semua hadis tersebut dikoreksi. Hadis-hadis yang cacat serta yang tak diamalkan oleh para Imam, dihapus sehingga sampai selesainya tahap pengkoreksian hadis yang tersisa lima ratus lebih. Muwatta’ merupakan kitab yang memuat hukum asal dan cabang ilmu fiqih, yang diterima oleh ulama dan umat pada masa itu. Kitab ini pun menjadi terkenal ke seluruh penjuru negeri serta menuai decak kagum dan pujian dari banyak kalangan. Banyak orang dari segala penjuru yang pergi untuk menuntut ilmu ke Imam Malik karena kagum akan keluasaan ilmu yang beliau tuang dalam Muwatta’. Salah satu penyebab terkenalnya Muwatta’ ialah keinginan Abu Ja’far—dalam keterangan lain Harun Ar-Rasyid—yang ingin menggantung Muwatta’ di Ka’bah dan menyebarkannya ke seluruh negeri agar seluruh masyarakat mengamalkannya sehingga tidak ada lagi perselisihan. Namun Imam Malik menolaknya, dikarenakan para Sahabat Nabi terdahulu banyak yang hijrah ke tempat-tempat lain lalu meriwayatkan hadist yang dijadikan dalil oleh masyarakat setempat. Akhirnya Abu Ja’far mengurungkan niatnya tersebut. Melihat luasnya pandangan Imam Malik mengenai hal itu serta tak mau melibatkan politik (pemerintah) untuk membuat kitabnya terkenal, umat Islam dengan sendirinya menerima Muwatta’ tanpa ada tekanan. Kitab ini menjadi rujukan untuk kitab-kitab hadis yang lain, sampai-sampai ada riwayat yang mengatakan kutubus-sittah seluruhnya merujuk ke Muwatta’. Begitu banyak komentar dan cerita tentang keagungan kitab Muwatta’ yang bisa dilihat dengan banyak kitab manaqib Muwatta’. (jeha) Baca juga :

Read More

Kisah Ketika Yahudi Pembangkang Menjadi Kera

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ada tiga ayat dalam Alquran yang menyebutkan perihal kera. Semuanya itu berkaitan dengan kisah orang-orang Yahudi yang tidak menaati perintah Allah SWT. Karena melanggar ketentuan-Nya tentang hari Sabat (Sabtu), mereka diubah wujud oleh Allah menjadi kera. Menukil buku Hewan Dalam perspektif Alquran dan Sains yang disusun Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran, disebutkan bahwa ayat-ayat yang menyebut kera tersebut dipahami beragam oleh para mufasir. Sebagian memandang bahwa kera hanyalah metafora dari suasana hati orang-orang Yahudi yang enggan menerima nasihat dan peringatan. Ada pula yang memahami penyebutan kera itu sebagai perubahan fisik yang nyata, bukan sekadar metafora. Kera menjadi perwujudan orang-orang Yahudi itu, tetapi mereka dipercaya tidak beranak, tidak pula makan dan minum. Mereka hanya hidup selama tiga hari, lalu mati serentak. Ayat-ayat Alquran yang dimaksud adalah sebagai berikut. Pertama, surah al-Baqarah ayat ke-65. وَلَقَدۡ عَلِمۡتُمُ الَّذِيۡنَ اعۡتَدَوۡا مِنۡكُمۡ فِىۡ السَّبۡتِ فَقُلۡنَا لَهُمۡ كُوۡنُوۡا قِرَدَةً خَاسِـِٔـيۡنَ ‌ۚ‏ “Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu Kami katakan kepada mereka, ‘Jadilah kamu kera yang hina!’” Kedua, surah al-Maidah ayat ke-60. قُلۡ هَلۡ اُنَـبِّئُكُمۡ بِشَرٍّ مِّنۡ ذٰ لِكَ مَثُوۡبَةً عِنۡدَ اللّٰهِ‌ ؕ مَنۡ لَّعَنَهُ اللّٰهُ وَغَضِبَ عَلَيۡهِ وَجَعَلَ مِنۡهُمُ الۡقِرَدَةَ وَالۡخَـنَازِيۡرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوۡتَ‌ ؕ اُولٰٓٮِٕكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَّاَضَلُّ عَنۡ سَوَآءِ السَّبِيۡلِ “Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang fasik) di sisi Allah? Yaitu, orang yang dilaknat dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah Tagµt.’ Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” Terakhir, surah al-A’raf ayat ke-166. فَلَمَّا عَتَوۡا عَنۡ مَّا نُهُوۡا عَنۡهُ قُلۡنَا لَهُمۡ كُوۡنُوۡا قِرَدَةً خٰسِـٮِٕیْنَ “Maka setelah mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang. Kami katakan kepada mereka, ‘Jadilah kamu kera yang hina.’” Ketika Bani Israil bertambah kezalimannya tidak mengindahkan nasihat-nasihat, maka Allah mengazab mereka dengan menjadikan mereka sebagai kera yang hina. Menurut para mufassirin, itu merupakan tafsiran dari perkataan ‘azab yang sangat pedih’, yang terdapat pada ayat di atas. Sebagian mengatakan, hal ini merupakan azab yang lain yang ditimpakan Allah di samping azab yang pedih itu. (jeha) Baca juga :

Read More

Membaca Tujuh Tanda Kedatangan Al-Masih Si Pendusta, Mesiah yang Dinantikan Bangsa Yahudi

Jakarta — 1miliarsantri.net : Israel memang bukan ‘negara’ biasa. Dia merupakan sebuah pertanda, terutama bagi penganut Islam, Kristen, dan Yahudi. Seperti ditulis pakar eskatologi Islam, Imran Hosein, dalam bukunya, Jerusalem in the Qur’an, Yahudi meyakini restorasi Israel setelah dua ribu tahun Kerajaan Israel dihancurkan merupakan satu dari tujuh tanda kehadiran Mahsiah, atau Moshiah, atau Mashiach, atau Moshiach. Itu adalah bahasa Ibrani dari al-Masih atau Messiah. Tapi, al-Masih yang mereka tunggu bukanlah kedatangan Nabi Isa al-Masih, sebagaimana keyakinan Islam dan Kristen. Mereka menunggu Messiah yang lain. Meski sedang berlangsung, restorasi Israel tersebut belumlah sempurna. Yang dimaksud restorasi Israel bukanlah sekadar pendirian negara Israel, tapi juga negara dengan luas seperti pada era Nabi Daud, yang merupakan era keemasan Bani Israil. Bahkan, gerakan Zionis saat ini menambahkannya dengan gagasan Israel Raya (Eretz Yisrael), yang membentang dari Delta Nil (yang kini masih dikuasai Mesir) hingga ke Sungai Eufrat (yang kini masih dikuasai oleh Irak), seperti yang tertulis di Kitab Genesis, bahkan lebih luas lagi. Tanda kedua, dari kehadiran Messiah versi Yahudi, ini, adalah kembalinya orang-orang Yahudi yang semula terpencar (diaspora) ke Tanah Suci (Yerusalem). Tanda kedua ini telah lama berlangsung, dan masih berlangsung sampai saat ini. Terus mengalirnya orang-orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia ke Israel, membutuhkan tempat tinggal. Dan, persoalan inilah yang sampai saat ini terus menerus memicu persoalan, karena Israel terus mem bangun pemukiman baru, dan mengusir orang Arab. Tanda ketiga, adalah pembebasan Tanah Suci (Yeru salem) dari tangan goyim (sebutan untuk semua orang non-Yahudi). Tanda ketiga ini pun sudah terjadi, tapi juga belum sepenuhnya sempurna. Pada 1948, saat Israel diproklamasikan, mereka telah menguasai Yerusalem Barat. Setahun kemudian, Israel menobatkan Yerusalem sebagai ibu kota. Bahkan, saat itu, parlemen Israel (Knesset) yang semula di Tel Aviv, telah diboyong ke sana. Namun, saat itu, Yerusalem Timur yang meru pakan lokasi Kota Tua Yerusalem, dan merupakan tempat berdirinya situs penting tiga agama, termasuk Masjid al-Aqsa— masih dikuasai bangsa Arab (Yordania). Yerusalem Timur dicaplok Israel, setelah Perang Enam Hari pada 1967. Meski Israel secara sempurna telah menguasai Yerusalem, dan mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota abadi Israel, namun sampai saat ini prosesnya masih tarik-ulur. Pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel itu kerap muncul dalam kampanye presiden Amerika Serikat, terutama Donald Trump. Tanda keempat, adalah kembali dibangunnya Kuil Sulaiman (Haykal Sulaiman atau Masjid Sulaiman). Tanda ini pun belum terpenuhi. Kendati Kota Tua Yerusalem telah berada di bawah pendudukan Israel, namun Masjid al-Aqsa dan Masjid Kubah Batu (the Dome of Rock) masih berdiri. Kompleks Haram al-Sharif ini, berdiri di atas reruntuhan Haikal Sulaiman yang dihancurkan Romawi. Kompleks ini, sampai saat ini masih dikelola Yayasan Wakaf di bawah pemerintahan Palestina dan Yordania. Tapi, skenario penghancuran Masjid al-Aqsa itu, hanyalah menunggu waktu. Di atas kompleks itulah di rencanakan akan dibangun Kuil Sulaiman. Ini merupakan kuil ketiga. Kuil pertama dibangun Nabi Sulaiman, sebelum akhirnya dihancurkan Nebukadnezar. Kuil kedua dibangun Cyrus Agung, dan kemudian dihancur kan Romawi. Sedangkan kuil ketiga, menurut keyakinan Yahudi, akan dibangun di masa mendatang, yang menjadi pertanda era messiah (the messianic age). Tanda kelima, Israel suatu saat akan menjadi negara superpower, seperti halnya Kerajaan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Ini pun hanya perkara waktu. Israel antara lain sudah memiliki senjata nuklir, yang merupakan salah satu prasyarat negara superpower. Saat ini, yang menguasai percaturan poliitik dan perekonomian dunia pun orang-orang Yahudi. Tanda keenam, super power Israel itu akan dipimpin oleh Messiah. Dia akan memerintah dari atas tahta Nabi Daud atau dari Yerusalem.Tanda ketujuh, kekuasaan itu akan abadi, hingga kiamat tiba. Persoalannya adalah, siapa Messiah yang ditunggu-tunggu oleh orang Yahudi itu? Lebih dari dua ribu tahun lalu, kaum Yahudi telah menolak Nabi Isa sebagai al-Masih. Mereka bahkan berkonspirasi dengan penguasa Romawi untuk menya libnya. Sampai saat ini, orang Yahudi menanggap Nabi Isa sebagai al-Masih palsu (the false messiah), karena menurut anggapan mereka Nabi Isa telah terbunuh, dan selama hidupnya tidak memenuhi nubuatan sebagai al- Masih, seperti merestorasi Israel, membangun kembali haikal Sulaiman, mengembalikan bani Israil ke tanah Suci, menjadi raja, dan seterusnya. Bahkan, orang Yahudi menyampaikan tuduhan-tuduhan keji kepada Nabi Isa dan ibunya, Maryam. Bahwa Nabi Isa adalah anak zina, dan melakukan sihir. Sedangkan ibunya, Maryam, adalah seorang pezina. Setelah peristiwa penolakan Nabi Isa yang merupakan keturunan Nabi Daud sebagai al-Masih tersebut, Tuhan tidak lagi menurunkan nabi kepada Bani Israil. Dan beratus-ratus tahun, persoalan ini menjadi perdebatan antara kaum Yahudi yang menolak Nabi Isa dengan Yahudi pengikut Nabi Isa, yang menjadi cikal bakal Nasrani. Sampai Nabi Muhammad SAW diutus, yang membenarkan Nabi Isa adalah al-Masih yang sebenarnya. Dan, al-Masih akan turun kembali di akhir zaman, menjadi hakimun adl, atau penguasa adil. Lalu, siapa Messiah yang ditunggu oleh kaum Yahudi? Nabi Muhammad telah memperingatkan tentang kedatangan al-Masih Dajjal, yang secara harfiah berarti al-Masih Pendusta. Orang Kristen menyebutnya sebagai antikristus. “Setelah kaum Yahudi menolak mengakui al-Masih yang asli, yaitu Nabi Isa Putra Maryam, sebuah divine punishment yang paling buruk pun menanti. Ya’juj dan Ma’juj kini membawa orang-orang Yahudi kepada al-Masih palsu, yang akan memimpin mereka dalam petualangan menuju kehancuran,” kata Imran Hosein. (jeha) Baca juga :

Read More

Kisah Bahtera Nabi Nuh dalam Al-Qur’an

Jakarta — 1miliarsantri.net : Nabi adalah utusan Allah yang datang dari waktu ke waktu untuk membimbing umat manusia ke jalan Allah, jalan kebenaran. Di antara sekian banyak orang yang datang sebagai pembimbing dan pemberi peringatan kepada manusia, Nabi Nuh (Alaihisalam) [1] adalah salah satunya. Beliau hidup jauh sebelum zaman Nabi Muhammad (Salallahu alaihi wasalam), nabi terakhir. [2] Allah mengangkat Nuh sebagai nabi bagi umatnya, agar dapat membimbing mereka ke jalan yang benar dan menjauhkan mereka dari jalan yang jahat. Al-Qur’an menceritakan kisah Nabi Nuh dan kaumnya dalam beberapa surah[3], yaitu surah 71 (Nuh), surah 11 (Hud), dan surah 23 (al-Mu’minun), dan masih banyak lagi. ayat-ayat [4] di dalamnya. Kisah ini menceritakan kepada kita tentang keimanan yang kuat yang dimiliki Nabi kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tentang kebinasaan terakhir bagi mereka yang mengabaikan Pesan Ilahi. Memerintahkan Nabi Nuh untuk memperingatkan umatnya, Allah berfirman: “Peringatkanlah umatmu sebelum mereka mendapat hukuman yang pedih.” — Al-Qur’an, 71:1 Menaati perintah Allah, Nabi Nuh mendatangi kaumnya dan berkata: “Aku datang kepadamu dengan peringatan yang jelas bahwa kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kepadamu siksa hari yang celaka.” — Al-Qur’an, 11:25-26 Para pemimpin yang khawatir akan kehilangan kekuasaan dan wibawa mereka atas rakyat yang mereka pimpin, tidak menyetujui apa yang dikhotbahkan Nabi Nuh dan berusaha menyesatkan rakyat dari Jalan yang Benar. Mereka berdebat dengan Nabi yang bersabda: “Kami tidak melihat sesuatu yang istimewa dalam dirimu kecuali sebagai manusia seperti kami. Kami juga tidak melihat orang-orang yang mengikuti Anda, melainkan orang-orang yang paling hina di antara kami dan tidak dewasa dalam menilai. Kami juga tidak melihatmu lebih unggul dari kami; sebenarnya kami pikir kamu pembohong.” — Al-Qur’an, 11:27 Nabi Nuh tidak terganggu oleh komentar-komentar menghina mereka dan melanjutkan misi ilahinya dengan sengaja. Dia menyerukan kepada umatnya dengan cara yang sangat sopan dan penuh kasih untuk memperbaiki cara hidup mereka. Ia juga memperingatkan mereka akan akibat buruk yang akan terjadi jika mereka terus menyembah dewa-dewa palsu dan menjalani kehidupan yang amoral. Meyakinkan mereka bahwa dia tidak mencari kekayaan atau kekuasaan atau bantuan apa pun dari mereka, dia berkata: “Dan hai umatku! Aku tidak meminta kepadamu imbalan harta, pahalaku hanya dari Allah.” — Al-Qur’an, 11:29 Namun para pemimpin terus menghalangi Nabi Nuh dalam misinya dengan menimbulkan keraguan terhadap Nuh. Mereka berkata kepada orang-orang: “Dia tidak lebih dari pria sepertimu. Keinginannya adalah untuk menegaskan superioritas atas Anda. Seandainya Allah menghendaki (mengirimkan rasul), Dia bisa saja menurunkan Malaikat. Kami belum pernah mendengar hal seperti itu (seperti yang dikatakannya), di kalangan nenek moyang kami dahulu kala.” — Al-Qur’an, 23:24. [5] Para kepala suku kemudian menjadi marah terhadap Nabi dan menantangnya dengan arogan: “Wahai Nuh! Sesungguhnya kamu telah berselisih dengan kami dan kamu telah memperpanjang perselisihan itu: sekarang bawakan kepada kami apa yang telah kamu ancam kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang jujur.” — Al-Qur’an, 11:32 Nabi Nuh kemudian mengingatkan mereka bahwa bukanlah kekuasaannya melainkan kekuasaan Allah untuk menghukum mereka karena perbuatan jahat mereka. “Sesungguhnya Allah akan menimpakannya kepadamu jika Dia menghendakinya, — dan kemudian, kamu tidak akan dapat menggagalkannya.” — Al-Qur’an, 11:33 Namun semua peringatannya, nasehat dan nasehatnya yang baik sepertinya tidak didengarkan. Kecuali segelintir orang yang mengikuti petunjuknya, sebagian lainnya terus memuja berhala batu dengan nama berbeda sebagaimana dibuktikan dalam ayat berikut: “Dan mereka berkata (satu sama lain) ‘Jangan tinggalkan tuhan-tuhanmu: jangan tinggalkan Wadd, Suwa, Yaguth, Yauq, atau Nasr. — Al-Qur’an, 71:23 Nabi Nuh kembali melipatgandakan usahanya namun semuanya sia-sia. Dia kemudian berseru kepada Tuhannya: “Ya Tuhanku! Aku telah menyeru umatku di siang dan malam hari, namun seruanku hanya (meningkatkan) pelarian mereka (dari Jalan yang Benar). Dan setiap kali Aku berseru kepada mereka, agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari-jari mereka ke dalam telinga mereka, menutupi diri mereka dengan pakaian mereka, menjadi keras kepala dan menyerahkan diri kepada kesombongan. Maka aku telah menyeru mereka dengan lantang: selanjutnya aku telah berbicara kepada mereka di muka umum dan secara diam-diam secara sembunyi-sembunyi.” — Al-Qur’an, 71:5-9 Ketika masyarakat menjadi lebih keras kepala dan menolak menerima pesan Tuhan yang menuduh Nabi Nuh melakukan kebohongan, Tuhan memutuskan untuk menjatuhkan hukuman-Nya kepada orang-orang kafir. Kepada Nabi Nuh, Allah memerintahkan: “Bangunlah Tabut itu di hadapan Kami dan di bawah petunjuk Kami. Kemudian ketika datang perintah Kami, dan air mancur di bumi memancar, naiklah ke atas kapal berpasangan dari segala jenis, jantan dan betina, dan umatmu kecuali mereka yang telah diberi Firman, dan janganlah kamu berseru kepada-Ku sehubungan dengan mereka yang tidak adil; karena sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan (dalam banjir).” — Al-Qur’an, 23:27 Sesuai perintah, Nabi Nuh kini menetapkan tugas membangun Bahtera dengan bantuan sekelompok kecil orang beriman. Pemandangan Nabi Nuh dan anak buahnya membangun Bahtera nampaknya menghibur para pemimpin dan orang-orang kafir. Mereka tidak menyadari keseriusan situasi namun hanya tertawa dan mencemooh. “Setiap kali para pemimpin kaumnya melewatinya, mereka mengejeknya…” — Al-Qur’an, 11:38 Nabi Nuh sekarang akan menjawab kembali komentar-komentar mereka yang mengejek dengan cara yang sangat berani dan terus terang: “…Jika kamu mengejek kami sekarang, sesungguhnya kami juga akan mengejekmu, sama seperti kamu mengejek (kami). Tetapi kelak kamu akan mengetahui siapakah yang akan mendapat hukuman yang memalukan dan siapa yang akan mendapat hukuman yang kekal.” — Al-Qur’an, 11:38-39 Ketika Tabut itu selesai dibangun, Nabi Nuh membawa serta keluarganya dan orang-orang mukmin, serta sepasang dari setiap makhluk yang terdapat di daratan disekitarnya. Kini peringatan Tuhan kepada manusia bahwa Dia akan mengirimkan air bah ke atas mereka telah terjadi. “Pada akhirnya, lihatlah! datanglah Perintah kami, dan mata air di bumi memancar keluar.” — Al-Qur’an, 11:40 Air banjir mulai meninggi. Orang-orang beriman yang sejauh ini menderita di tangan para pemimpin dan penyembah berhala menemukan diri mereka aman di Bahtera Nuh. Mereka memanjatkan doa dan sujud kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai rasa syukur atas Rahmat yang telah Dia berikan kepada mereka. Orang-orang kafir yang mengabaikan petunjuk Tuhan berada dalam keadaan yang menyedihkan. Semuanya hilang bagi mereka. Hujan deras, angin kencang, guruh yang memekakkan telinga, dan kilat yang menyilaukan membuat mereka kebingungan dan ketakutan di hati mereka. Mereka lari pontang-panting mencari keselamatan. Mereka memanjat atap-atap rumah dan pohon-pohon, namun kini tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka karena…

Read More

Serentaun Kasepuhan Adat Ciptamulya Jadi Daya Tarik Wisata Selatan Sukabumi

Sukabumi — 1miliarsantri.net : Acara adat serentaun di Kasepuhan Adat Ciptamulya di Desa Sirna Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat kembali digelar, Ahad (28/7/2024). Upacara tersebut mampu menarik perhatian warga khususnya wisatawan untuk berkunjung dan menyaksikan acara adat. Momen ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen padi yang masih bisa dilakukan. Kegiatan yang digelar setiap tahun ini menyedot perhatian warga baik lokal Sukabumi maupun dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri. Acara adat itu diperlihatkan warga membawa hasil panen yang dibawa ke Leuit (Lumbung) Si Jimat di komplek Kasepuhan Adat Ciptamulya. Serentaun di lakukan di kasepuhan adat yang berada di selatan Sukabumi yang merupakan bagian dari Kesatuan Masyarakat Adat Banten Kidul. Rangkaian kegiatan serentaun tahun ini dilakukan sejak Kamis (25/7/2024) dan mencapai puncaknya pada Ahad. Dalam acara itu digelar pementasan kesenian gondang buhun dan wayang golek. Puncaknya pada Ahad digelar upacara adat seren taun, warga membawa hasil panen untuk disimpan di lumbung padi Leuit Sijimat dan nantinya padi yang disimpan ini nantinya akan digunakan oleh warga sebagai benih untuk musim tanam berikutnya. ”Kegiatan serentaun di kasepuhan ini untuk mensyukuri hasil menanam padi dari tahun ke tahun. Kegiatan ini sebagai upaya menjaga nilai budaya yang menjadi kearifan lokal,’’ terang Pimpinan Kasepuhan Adat Ciptamulya E Suhendri Wijaya atau sering disebut Abah Hendrik. Terutama dalam menanam padi, baik di ladang maupun sawah. Abah Hendrik menambahkan, serentaun merupakan sarana puji dan syukur ke hadirat Allah SWT karena selama ini warga telah diberikan kenikmatan dan kebarokahan. ‘’Tanah subur makmur dan menghasilkan panen yang dirasakan masyarakat. Sehingga kegiatan cocok tanam berjalan dengan lancar dan tidak ada gangguan. Selain seren taun, ada acara lainnya sebelum puncak seren taun yakni menanam padi atau ngaseuk yang artinya padi tumbu satu minggu,’’ ujar Abah Hendrik. Kegiatan lainnya yakni ritual pare mapag bare beukah dan detik-detik akan panen atau padi digelar ritual mengambil padi. Terakhir puncaknya syukuran serentaun.Serentaun yang digelar di Kasepuhan Adat Cipta Mulya ini mendapatkan perhatian tidak hanya warga lokal melainkan dari luar daerah hingga luar negeri. Mereka datang ke daerah kasepuhan Adat Ciptamulya dan menginap di rumah-rumah warga yang berada di kawasan tersebut. Salah satunya Balqisa (34) warga Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi yang datang melihat upacara adat serentaun. Ia menuturkan, acara ini dikemas cukup menarik. Misalnya acara kesenian lais yang menampilkan seorang lelaki yang bergelantungan di atas tali yang membuat berdebar-debar warga yang menontonnya. ”Acara adat yang menarik, sebagai rasa syukur atas hasil panen,” ujar dia yang baru pertama kali melihat acara adat serentaun. (lik) Baca juga :

Read More

Gunung-gunung Juga Banyak ditemukan di Jazirah Arab

Jakarta — 1miliarsantri.net : Gunung-gunung di Indonesia umumnya berwarna hijau karena ditutupi rimbunnya pepohonan. Selain itu, gunung-gunung di Indonesia banyak yang aktif bahkan pernah meletus. Sedangkan di jazirah Arab, umumnya gunung terlihat tandus dan tidak ditutupi rimbunnya pepohonan. Apakah gunung-gunung di jazirah Arab aktif dan pernah meletus? Di seluruh wilayah barat Jazirah Arab dari Al-Nafud (gurun di Arab Saudi) di utara hingga ujung selatan Yaman, terdapat rangkaian gunung berapi. Keberadaannya adalah akibat runtuhnya Dataran Tinggi Afrika-Arab yang mengakibatkan munculnya Laut Merah sekitar 30 juta tahun yang lalu. Sebagian besar gunung berapi ini sekarang tidak aktif, namun beberapa di antaranya, terutama di Yaman selatan, masih hidup dan mungkin meletus jika kondisi geologisnya menyebabkan hal tersebut. Wilayah Kerajaan Arab Saudi sendiri terletak di atas 2.000 gunung berapi yang tidak aktif selama ribuan tahun. Ketika gunung berapi ini aktif, dengan ledakan dan lava yang tersebar, terbentuklah 13 gunung berapi yang dihasilkan oleh aliran vulkanik yang besar dan terjadi di masa lampau. Persentase terbesar dari anakan dan kawah gunung berapi tersebut terdapat di wilayah Madinah. Menurut situs Survei Geologi, dalam 6.000 tahun terakhir telah terjadi 11 letusan gunung berapi di Harrat Rahat, Arab Saudi. Letusan terakhir adalah letusan gunung berapi terkenal yang terjadi pada tahun 654 H, yang berlangsung selama lebih dari 52 hari. Salah satu gunung berapi yang terkenal di Kerajaan Arab Saudi adalah Jabal al-Qadr, yang terletak di jantung Harrat Khaybar. Jabal Al Qadr merupakan gunung vulkanik yang sudah punah dengan ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan bumi. Kawah gunung ini sangat dalam dan terdapat rongga-rongga besar. Dari kawah Gunung Al-Qadr, ada lava beku yang memanjang lebih dari 50 Km dalam pemandangan geologi yang langka. Di area yang sama terdapat kawah gunung berapi Jabal al-Abyad, dengan warna aneh dan formasi beragam, yang dapat dianggap sebagai salah satu landmark geologi langka di dunia. Dekat Taif, di tengah Harrat Kashab yang terkenal, terdapat kawah Gunung Berapi Al-Waaba atau yang disebut Tambang Tamiya. Ini adalah salah satu kawah gunung berapi terdalam di Kerajaan Arab Saudi, dengan kedalaman mencapai 240 meter dan diameter lebih dari 2.500 meter. Adapun gunung berapi di Yaman yang jumlahnya 11, lima di antaranya meletus dalam kurun waktu 1500 tahun terakhir. Pertama adalah Harrat Arhab yang meletus pada 500 M. Kedua, Bir Barhout yang meletus pada 905 M. Ketiga, Harrat Al-Sawad yang meletus 1253 M. Keempat, Harrat Dhamar yang meletus 1937 M. Adapun yang terakhir adalah gunung berapi Jabal Al-Tair yang meletus pada tahun 2007. Secara global, terdapat daftar gunung berapi yang menyebabkan kerusakan terbesar sepanjang sejarah modern. (jeha) Baca juga :

Read More

Alm Hamzah Haz Orang yang Telah Membiasakan Shalat Jama’ah

Bogor — 1miliarsantri.net : Mantan Wakil Presiden ke 9 RI Hamzah Haz meninggal dunia pada Rabu (24/7/2024) sekitar pukul 09.45 WIB. Sebelum nya jenazah disalatkan di masjid yang dibangun Hamzah Haz di Jalan Nenas, Bogor, kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga di Bogor. Sejumlah tokoh tampak hadir di rumah duka, diantaranya Wapres ke-10 dan 12 Jusuf Kalla (JK) hingga Wakil Presiden ke-11 Boediono. Selain kedua tokoh ini, hadir Menteri ATR/BPN Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Kepergian Hamzah Haz meninggalkan duka mendalam bagi orang-orang yang mengenalnya, khususnya bangsa Indonesia. “Selamat jalan, semoga Allah meridloi dan menerima amalnya sebagai bekal memenuhi panggilan-Nya. Mengampuni kesalahan dan dosanya, menempatkannya dalam alam kebahagiaan,” tulis mantan Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) Maskuri. Senior Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini bersaksi, almarhum Hamzah Haz adalah orang yang telah membiasakan shalat jama’ah di Istana Wapres. “Saya menjadi saksi hidup, selain para saksi hidup lainnya, beliau telah membiasakan shalat jama’ah di istana wapres. Karena belum ada mushalla, beliau mengajak seluruh karyawan, mulai petugas kebersihan, staf, dan para ASN yang mengabdi di istana wapres,” ungkapnya. Maskuri melanjutkan, setidaknya jama’ah duhur dan ashar bila Hamzah Haz di Istana Wapres, selalu mengajak karyawan shalat berjamaah. “Almarhum mempunyai kebiasaan shalat di awal waktu dan berjamaah selalu beliau lakukan di mana pun,” terangnya kepada 1miliarsantri.net, Jumat (26/7/2024). Sekarang di lingkungan Istana Wapres sudah ada masjid, karena amal dari Hamzah Haz. Di setiap transit bandara, juga disediakan tempat shalat yang representatif. “Selamat jalan, semoga Allah pertemukan dengan para kekasih-Nya dan orang-orang soleh,” pungkasnya. (den) Baca juga:

Read More