Jalan Memilih Sahabat Surga

Jakarta — 1miliarsantri.net : Seorang lelaki datang ke majelis Rasulullah SAW. Seperti biasa, semua kalangan ingin menyerap madu ilmu dari sumber utama. Tak disebutkan jelas siapa nama lelaki itu. Perawakannya layaknya sang Arab badui. Mengelana dari satu tempat ke tempat lain, lelaki ini ingin bertanya tentang masa depan kepada sang Nabi. Sang pembantu Nabi, Anas bin Malik RA, mencatat setiap gerak-gerik lelaki itu. Sekonyong-konyong si Arab badui ini melontarkan pertanyaan kepada Rasulullah. Tak ada basa-basi, tak perlu pendahuluan. “Kapankah hari kiamat terjadi?” Nabi SAW memang layak digelari fathanah. Beliau SAW bisa menjawab semua pertanyaan dari semua golongan. Cara menjawabnya pun disesuaikan dengan kapasitas sang penanya. Rasulullah SAW tak hendak menerangkan ciri-ciri atau tanda-tanda hari akhir. Selain itu, tak ada kapasitas beliau SAW menjawab dengan persis kapankah hari pembalasan itu akan datang. Namun, beliau SAW justru balik bertanya kepada sang Arab badui. Sebuah pertanyaan yang akan melahirkan kaidah ilmu nan agung. “Apa yang telah engkau persiapkan untuknya (hari kiamat)?” Sebuah jawaban jujur mengalir. “Cinta Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang (pada hari kiamat) akan bersama dengan orang yang dia cintai.” Hadis yang termaktub dalam jalur periwayatan Imam Muslim itu memberikan sebuah ilmu. Barang siapa mencintai seseorang karena Allah dan Rasul-Nya, ia akan dikumpulkan pada hari akhir bersama yang dicintainya. Rasulullah tidak menjawab, “Seseorang akan bersama Allah dan Rasul-Nya jika ia mencintai keduanya.” Namun, baginda Nabi meluaskan objek persaudaraan ini. Siapa saja, yang mengikrarkan cinta terhadap sesama atas dasar iman, maka ia akan bersamanya kelak saat hari akhir. Maka tak berlebihan jika menyebut persahabatan tak hanya akan berhenti di dunia. Persaudaraan akan kekal nanti hingga akhirat. Hadis ini juga memberikan makna lain. Siapa yang berteman dengan penjual minyak wangi maka akan terciprat bau harum wewangian. Jika ingin bersama seseorang di surga, kita sudah paham rumusnya. Cintailah orang yang gemar mengamalkan amalan ahli surga hingga ajalnya menjelang.

Read More

Keindahan Masjid Tertua di Iran

Isfahan — 1miliarsantri.net : Kebudayaan Persia turut mengisi peradaban Islam sejak pertengahan abad ketujuh. Salah satu karya monumentalnya adalah Masjid Agung Isfahan. Bangunan yang juga disebut Masjid Jumat ini mulai didirikan kaum Muslim setempat pada tahun 771. Luas kompleksnya mencapai 20 ribu meter persegi. Penyempurnaan bangunan Masjid Agung Isfahan terjadi berangsur-angsur hingga abad ke-20. Sejak 2012 lalu, UNESCO telah mengakui situs Alun-alun Besar Isfahan, termasuk di dalamnya masjid tersebut, sebagai Warisan Dunia. Memang, Kota Isfahan sendiri begitu kaya akan peninggalan bersejarah sejak era sebelum Masehi. Sampai saat ini, Masjid Agung Isfahan dianggap sebagai masjid tertua di Iran. Secara signifikan, pembangunannya bermula pada masa Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus. Masjid ini memiliki empat gerbang raksasa (iwan) yang menghubungkan bagian dalamnya dengan lapangan luar. Bentuk iwan merupakan khas kebudayaan Persia, yang dapat dilacak hingga era Kekaisaran Sasania. Adapun iwan yang menjadi mihrab di Masjid Agung Isfahan, dihiasi dengan ukiran muqarna dari abad ke-13. Bentuknya mirip stalaktit tetapi juga menyerupai dedaunan yang mengembang. Muqarna ini mengisi rongga bagian dalam lengkung iwan. Dinasti Seljuk menjadikan Isfahan sebagai ibu kota pada abad ke-11. Kesultanan ini kemudian memperbaiki Masjid Agung Isfahan yang sempat hancur pada tahun 1120 akibat kebakaran hebat. Restorasi masjid ini berlangsung dalam masa pemerintahan Sultan Il Khanid, Timurid, Safavid, dan Qajar. Barulah ketika Sultan Malik Shah I berkuasa, Masjid Agung Isfahan memiliki bentuk seperti yang dikenal sekarang. Sejak saat itu, masjid ini menjadi cikal bakal gaya arsitektur Persia Islam yang bercirikan empat iwan besar yang mengelilingi lapangan luas di bagian dalam bangunan. Bagian lapang itu agaknya berfungsi sebagai tempat pengunjung merasakan keleluasaan di tengah hiruk pikuk perkotaan. Pengunjung dapat menikmati udara terbuka tetapi dengan suasana yang tenang. Bila dilihat dari atas, penampakan Masjid Agung Isfahan mirip dengan Masjid al-Haram. Bedanya, kolam air mancur menjadi pusat tanah lapang di bagian dalam masjid. Selain itu, ada pula puluhan kubah-kubah kecil yang menutupi bagian atas bangunan Masjid Agung Isfahan.

Read More

Contoh Sikap Orang Tua Ketika Memondokkan Anaknya

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Memondokkan anak di pesantren merupakan momen penting dalam perjalanan pendidikan mereka. Sikap orangtua dalam menghadapi situasi ini dapat menjadi kunci untuk membentuk hubungan yang kuat dan memberikan dukungan yang tak ternilai bagi pertumbuhan anak-anak mereka. Akan tetapi, tak jarang orang tua merasakan kesedihan saat berpisah dengan anak. Apalagi, setiap pondok pesantren memiliki aturan khusus terkait pertemuan orang tua dan anak. Hal itu sudah menjadi konsekuensi demi kelancaran pendidikan anak di pesantren. Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua? Pendakwah asal Yogyakarta, Salim A Fillah, menjelaskan, Al-Qur’an sebenarnya sudah memberikan solusi atas perkara tersebut. Orang tua yang sedang merasakan rindu kepada anak di pondok pesantren dianjurkan membaca Surah Ibrahim ayat 37. “Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim: 37) Ayat tersebut merupakan doa Nabi Ibrahim AS saat meninggalkan Ismail di Mekkah. Mekkah kala itu hanya gurun pasir. Tidak ada peradaban dalam kasat mata manusia. Namun, berkat kesabaran dan tawakkal Nabi Ibrahim AS, Mekkah menjadi kota penyebaran agama Islam. “Kuncinya, anak yang mondok itu kan sama, kita tinggalkan. Jadi satu lembah yang tidak bertanaman di dekat rumah Allah yang mulia, yang fasilitasnya tidak seperti kalau di rumah. Tetapi Insya Allah, secara ibadah lebih kondusif kalau di pondok gitu,” kata Salim A Fillah, Senin (24/07/2023).

Read More

Gerakan Mahasiswa Pencari Surga Mencari Beberapa Masjid dan Musholla

Bekasi — 1miliarsantri.net : Gerakan yang dilakukan sekelompok pemuda Universitas Islam 45 Bekasi, yaitu Gerakan Gemmas (Gerakan Membersihkan Masjid), memiliki tujuan yang sangat mulia. Gerakan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian anak muda atau remaja terhadap tempat ibadah, baik masjid maupun musholla di sekitar mereka. Selain itu, gerakan ini juga ingin menanamkan rasa kecintaan terhadap agama, moral, dan etika kepada anak muda atau remaja saat ini. Gerakan ini dilaksanakan di daerah Bekasi, khususnya di Mushola Al-Munawaroh di Jalan Banteng RT 04/15 Kranji Bekasi Barat. Penting bagi gerakan ini untuk meminta izin terlebih dahulu kepada Pengurus dan ketua DKM Mushola Al-Munawaroh, Bapak Tarya ada S.Pd. M.Pd. Beberapa peralatan yang dibeli untuk kegiatan ini antara lain sapu, pengharum ruangan, keset kaki, soklin lantai, dan sabun cuci tangan. Walaupun dana yang dikeluarkan tidak banyak, gerakan ini ingin memberikan dorongan motivasi kepada anak muda.

Read More

Wamenag : Agama dan Budaya Tidak Dapat Dipisahkan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Wakil Menteri Agama Saiful Rahmat Dasuki mengatakan seni dan budaya bukanlah sekadar dekorasi yang menghiasi jalinan masyarakat Indonesia. Keduanya adalah inti dari identitas Indonesia sebagai bangsa yang menghubungkan masyarakatnya dengan para leluhur dan menjadi inspirasi untuk merangkul kemanusiaan. Makna seni dan budaya ini disampaikan Wakil Menteri Agama Saiful Rahmat Dasuki saat mewakili Menteri Agama membuka Temu Konsultasi Seniman dan Budayawan Nusantara 2023 di Jakarta. Helat yang diinisiasi Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama ini mengusung tema Saleh Beragama dan Saleh Berbudaya. “Gelaran Temu Konsultasi Seniman Budayawan Nusantara ini menjadi momentum bagi kita untuk membangun kesalehan beragama kita agar tidak terjerabut dari identitas kebangsaan Indonesia yang multikultural,” ungkap Wamenag, kepada media, Jumat (21/7/2023) malam. Dirinya berharap, para seniman dan budayawan dapat membawakan pesan-pesan agama melalui produk-produk budaya yang bisa menggerakkan masyarakat agar tetap guyub, rukun, saling tolong menolong, dan berperan aktif dalam pembangunan bangsa. Dalam konteks agama dan budaya, Wamenag berkisah tentang Clifford Geertz, seorang ahli antropologi asal Amerika Serikat yang menganggap kyai/ulama’ pesantren sebagai makelar budaya atau cultural broker. Clifford Geertz, menyimpulkan demikian, karena melihat para kyai melakukan fungsi screening bagi budaya luar. Nilai-nilai baru yang dianggap merugikan, disaring oleh mereka agar tidak menanggalkan budaya lama. “Jika diilustrasikan, kyai bagaikan dam atau waduk yang menyimpan air untuk menghidupi daerah sekitar. Agama dan budaya adalah dua entitas yang saling mengisi dan saling mempengaruhi. Islam memiliki nilai universal, sedangkan budaya juga mencerminkan nilai-nilai moral, etika, dan identitas suatu masyarakat, ” tandas Wamenag.

Read More

Tata Taufik : Tak Mudah Mengajak Pesantren Ikut Program Muadalah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Presiden Perhimpunan Pengasuh Pesantren Indonesia (P2I) KH M Tata Taufik, mengatakan masih ada beberapa kendala dan evaluasi dalam pengembangan program pesantren muadalah. Namun beberapa kendala yang ditemui masih dalam tahap wajar dan dapat dimaklumi. Salah satunya terkait dengan birokrasi pemerintahan. Misalnya pada saat melakukan sosialiasi mengenai muadalah terinformasi dengan baik oleh pihak Kemenag di kabupaten/kota tapi tidak beberapa lama kemudian ada pergantian pejabat. Sehingga pihak Kemenag Kabupaten tersebut bakal bertanya lagi terkait dengan muadalah. Tentu saja meski bukan kendala berarti tapi cukup memakan waktu untuk kembali mensosialisasikan pesantren muadalah. “Jadi mereka akan mempertanyakan hal baru lagi, makhluk apa Muadalah dan seterusnya, Baru mereka studi tentang aturan-aturannya dan ini memakan waktu yang agak lama untuk bisa memahami,” ungkap Tata Taufik. Tata Taufik menambahkan, mengenai kendala teknis, seperti persyaratan-persyaratan yang harus disiapkan. Mulai dari badan hukum, rekomendasi-rekomendasi dari kantor urusan agama (KUA) dan lain sebagainya san untungnya semuanya bersifat online. Sementara animo atau keinginan pesantren untuk muadalah sangat tinggi. Bisa juga kendala berikutnya, karena berbagai kesibukan dari pemerintah misalnya. “Tapi saya pikir itu bukan kendala yang berarti. Karena itu kan wajar dalam sebuah birokrasi seperti itu,” kata Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash tersebut.

Read More

Penampakan Nyi Roro Kidul Saat Pengajian Gus Miftah di Lampung

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pimpinan Pondok Ora Aji, Sleman, Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Miftah, buka suara terkait video penampakan seorang wanita bermahkota yang sempat diunggah di Instagram pribadinya saat menghadiri acara pengajian di Lampung. “Oh iya mas, kemarin saya pengajian di Lampung ada anak kecil ngerekam di belakang itu ada muncul sosok pakai mahkota. Lha saya bongso klenik itu nggak begitu ngeh lah (macam klenik begitu tidak begitu memperhatikan-Red), karena saya orangnya rasional,” ujar Gus Miftah kepada 1miliarsantri.net, Selasa (18/07/2023). Gus Miftah mengatakan, seorang temannya yang mengetahui perihal tersebut, mengatakan bahwa sosok penampakan itu menyerupai Nyi Roro Kidul. Namun, ia malah bersyukur apabila sosok tersebut ikut mengaji padanya. “Beberapa teman yang memang dunianya seperti itu bilang kayak kanjeng Nyi Roro Kidul, ya saya bilang Alhamdulillah Nyi Roro kidul mau ikut mengaji sama saya,” imbuhnya.

Read More

Mengenal Rofiqoh Dharto Wahab, Umi Kultsum Indonesia

Jakarta – 1miliarsantri.net : Bagi generasi millenial saat ini bisa jadi belum pernah mendengar nama Rofiqoh. Dia adalah perempuan pertama yang mewarnai grup kasidah di Indonesia masuk dapur rekaman. Perempuan asal Pekalongan, Jawa Tengah ini wanita pertama menembus Istana Negara dengan lagu qasidah, lalu mempopulerkan. Dia memulai semua itu saat kondisi politik negara sedang mencekam. Pada 1960-an, saat organisasi Islam ditekan oleh pemerintahan Orde Baru, Rofiqoh memperkenalkan genre musik gambus atau kasidah berbahasa Arab kepada masyarakat. Liriknya berisi pujian-pujian kepada Tuhan yang diiringi alat musik. Dalam setiap penampilannya selalu menggunakan kebaya, kerudung, dan batik ciri khas perempuan Jawa pada masanya. Ia muncul pertama kali di depan publik pada tahun 1964 dan mencoba hijrah ke Jakarta pada tahun 1965. Pada tahun yang sama ia menikah dengan Dharto Wahab seorang wartawan yang beralih profesi menjadi pengacara. Ia pernah tampil di Istana Negara membawakan kasidah ‘Habibi Ya Rasulullah’ dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad, sebelum meletusnya pergerakan G30S/PKI. Suatu ketika Rofiqoh dikejutkan oleh suara sirine panjang di Istana Negara menjelang pecahnya Gestapu atau G30S PKI (Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia). Saat itu dia baru selesai melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Dari podium dia leluasa melihat kecamuk di wajah para tamu perhelatan Isra Miraj di bulan September tahun 1965 itu. “Saya melihat pak Harto (Soeharto) melaporkan sesuatu ke pak Soekarno. Dan para tamu mulai berdiri dari kursi, saling pandang. Bingung ada apa? Saya juga khawatir,” ujar Hj Rofiqoh Dharto Wahab, saat itu dalam sebuah wawancara bersama wartawan, 2021 silam. Beberapa hari setelah insiden sirine itu, meletuslah G30S PKI. Peristiwa politik paling kelam yang menjadikan fitnah sebagai mesiu mematikan. Puluhan tahun kemudian, tepatnya hari ini aroma dupanya masih saja dihembus-hembuskan. “Waktu itu pak Karno naik ke podium ngasih pengumuman untuk menenangkan para tamu istana. Jadi selain saya, ada pak Karno dan Duta Besar Aljazair di atas podium,” lanjut Rofiqoh. Pengumuman yang disampaikan Presiden Soekarno saat itu, lebih mengejutkan Rofiqoh. “Pak Karno bertanya, apakah yang mengaji bisa bernyanyi? Saya bilang bisa. Lalu saya diminta bernyanyi,” ujar Rofiqoh yang lebih dari setengah usianya dihabiskan untuk berdakwah dan pendidikan umat.

Read More

Kulturalisasi Islam di Tanah Jawa

Yogyakarta – 1miliarsantri.net : “Muslim Jawa itu Muslim nominal!” Pernyataan yang meragukan orang Jawa bisa menjadi Muslim yang sejati seperti ini telah berdengung minimal dalam kurun setengah abad terakhir. Ini dimulai ketika ilmuwan sosial asal Amerika Serikat, Clifford Geertz, pada ujung dekade 50-an mengemukakan hasil penelitiannya mengenai pengaruh agama di kalangan masyarakat Jawa. Saat itu, Geertz melakukan penelitian di kota yang disebutnya sebagai Mojokuto atau tepatnya Kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Hasil penelitian Geertz kemudian menelurkan tiga varian tentang orang-orang Jawa (Trikotomi), yakni santri, priayi, dan abangan. Santri adalah mereka yang taat pada ajaran Islam, priayi adalah kelompok sosial yang terpengaruh ajaran leluhur, yakni Hindu-Buddha, dan abangan adalah kelompok rakyat jelata yang tak terlalu taat pada Islam dan mempraktikkan agama secara sinkretis. ”Memang sudah lama sekali pengelompokan Geertz itu. Banyak pihak yang bertanya apakah masih berlaku sampai sekarang, yakni setelah lebih dari setengah abad. Jawabnya sudah berubah sama sekali. Keberagamaan orang Islam di Jawa kini tak bisa lagi dianggap nominal. Islam sudah begitu merasuk ke dalam masyarakat itu?” kata DR Pipip Rifai Hasan, pengajar pada Universitas Paramadina, ketika ditanya soal isu Islam nominal di kalangan kaum Muslim di Jawa. Adanya sinyalemen bahwa orang Jawa tidak bisa menjadi Islam yang kaffah yang itu kemudian dijawab oleh Pipip bahwa keadaannya sudah berubah, semakin membuat penasaran untuk melihat kenyataan yang terjadi di lapangan. Pada sebuah perjalanan yang khusus untuk melihat kenyataan berubahnya kondisi sosial keagamaan di Jawa itu terekam kuat ketika pergi mengunjungi sebuah kota kecamatan di wilayah Jawa ‘pedalaman’, yakni Piyungan, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan, memang Piyungan yang terletak di perbatasan tiga wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Sleman, Bantul, dan Gunung Kidul, belakangan mencuri perhatian publik karena mendadak ada sebuah website yang sangat ‘menggebu-gebu’ mengabarkan berita yang terkait dengan isu umat Islam. Bagi publik yang selama ini kerap menganggap bahwa orang Jawa tak bisa berislam secara kaffah atau total jelas tercengang-cengang. Apalagi, semenjak dahulu wilayah ini kondang sebagai wilayah kaum abangan. “Mana mungkin mereka kini bisa jadi santri seperti itu,” begitu pertanyaan yang berkelebat di banyak benak orang. Klaim bahwa ‘pedalaman’ Jawa tak bisa berubah semakin kuat bila melihat kenyataan bahwa di sana terdapat beberapa situs pemujaan peninggalan masyarakat Hindu. Dengan begitu, menjadi sangat tidak masuk akal bila wilayah itu menjadi berwajah begitu Islami. ”Memang banyak yang terheran-heran setelah datang langsung ke sini. Mereka berkata kok bisa ya, Piyungan jadi seperti ini, yakni begitu banyak sekolah Islam, majelis taklim, swalayan, dan BMT syariah. Ini terjadi sebab pasti yang kini datang berkunjung ke Piyungan masih membayangkan situasi Piyungan seperti tahun 1970-an,” kata Nugroho, warga Dusun Ngijo, Piyungan

Read More

Mantan Perampok Yang Kini Memiliki Pondok Pesantren

Kulon Progo – 1miliarsantri.net : Jalan kehidupan manusia memang tidak akan ada yang pernah tahu. Kutipan itu cocok disematkan kepada Sandiman Nur Hadi Widodo, mantan perampok yang akhirnya hijrah dan mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ghifari di Lendah, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sandiman lahir di Desa Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kulon Progo, 60 tahun silam. Masa muda bapak dua anak dan empat cucu itu dihabiskan dengan berjudi, main wanita hingga melakukan pelbagai tindak kriminal lainnya. Ia bahkan pernah dijuluki perampok spesialis emas, karena bersama komplotan tidak pernah gagal melancarkan aksi kejahatan tersebut. Namun, sepandai-pandainya tupai meloncat pasti jatuh juga. Sandiman Cs yang berhasil menggasak logam mulia seberat tujuh kilogram dari sebuah toko emas di wilayah Kota Yogyakarta pada tahun 1995 berujung antiklimaks. Polisi mencium pelaku merupakan kelompok Sandiman, satu per satu perampok pun akhirnya diringkus. Sandiman yang sempat buron ke luar jawa menjadi yang terakhir ditangkap. Ia dibekuk di Riau, tak lama setelah aksinya terbongkar. Divonis empat tahun penjara, Sandiman jadi pesakitan di Lapas Wirogunan, Yogyakarta sejak 1995, tetapi masa hukumannya dipangkas jadi tiga tahun karena mendapatkan remisi. Pada 1998, Sandiman kembali menghirup udara bebas. Kehidupan di hotel prodeo mengubah jalan hidup Sandiman. Di sana, Sandiman yang ketika itu berusia 32 tahun mulai mendalami Islam. Sejumlah warga binaan di lapas tersebut mengajarinya salat dan membaca Al-Qur’an. “Sewaktu saya masuk itu (Lapas Wirogunan) belum bisa salat apalagi ngaji, dan kebetulan di sana ada sesama napi yang ngajarin dan ada ustaznya juga,” ucap Sandiman saat ditemui 1miliarsantri.net di Ponpes Al-Ghifari, Jumat (14/07/2023). Perlahan tapi pasti, Sandiman bertransformasi menjadi sosok baru. Pria yang dulu dikenal garang dan ditakuti itu berubah jadi pribadi yang bersahaja nan religius. Selepas bebas, ilmu agama yang diperolehnya selama mendekam di jeruji besi coba ditularkan Sandiman kepada warga di tempat kelahirannya. “Awalnya kita kumpulkan aja anak-anak di sekitar sini untuk dilatih ngaji dan belajar salat, karena waktu saya merintis itu masih banyak anak-anak yang jarang salat,” ungkapya. Upaya Sandiman mengajari warga di Desa Sidorejo, Lendah tentang agama Islam kian kuat. Ia pun membangun masjid, panti asuhan dan pondok pesantren yang selain ditujukan sebagai tempat ibadah juga sekaligus wahana belajar agama Islam. Diberi nama Al-Ghifari, pembangunan kompleks seluas 2.400 meter persegi itu berlangsung sejak tahun 1999 dan rampung serta bisa digunakan setahun kemudian. Adapun lahan yang digunakan adalah tanah warisan milik orang tua Sandiman.

Read More