Pemerintah Iran Mengapresiasi Haji Ramah Lingkungan dari Kemenag Indonesia

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kebijakan Haji Ramah Lansia yang diterapkan Indonesia pada pelaksanaan haji 1444H/2023M lalu mendapat apresiasi dari pemerintah Republik Islam Iran. Apresiasi tersebut disampaikan Amirul Hajj Iran Hojjat-ol-Eslam Seyyed Abdol Fattah Navab saat berkunjung ke Kantor Kementerian Agama, di Jalan Lapangan Banteng Barat no.3-4, Jakarta. “Saya senang sekali mendengar penjelasan terkait penyelenggaraan haji yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Izinkan saya memberikan apresiasi terhada kebijakan Haji Ramah Lansia ini. Kebijakan ini sangat mulia dan terpuji,” terang Amirul Hajj Iran Abdol Fattah Navab di Kantor Kemenag, Rabu (30/11/2023). Hadir menyambut kedatangan Delegasi Haji Iran, Direktur Jenderal (Dirjen) Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Hilman Latief, Sekretaris Ditjen PHU Abdullah, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Subhan Cholid, beserta jajaran Direktorat Jenderal PHU. Lebih lanjut, Navab juga mengungkapkan keinginannya untuk menjalin kerja sama perhajian dengan Indonesia, salah satunya adalah penguatan literasi perhajian. “Saat ini Iran memiliki 1.000 buku tentang perhajian, serta empat jurnal ilmiah tentang perhajian. Saya berharap, ke depan kita ada kolaborasi untuk menulis jurnal bersama terkait perhajian,” tutur Navab. Dirjen PHU Kemenag Hilman Latief menyambut baik ide tersebut. Menurutnya ise tentang kolaborasi penguatan literasi haji ini sangat baik sekali. Dan kami juga merasa terhormat dapat berkerja sama dengan Iran. “Beberapa cara pengelolaan haji yang dilakukan Iran juga dapat menjadi inspirasi kami untuk memperbaiki layanan haji kepada para jamaah. Misalnya terkait dengan penyediaan dapur untuk layanan konsumsi yang telah dilakukan Iran,” ungkap Hilman. Sebelumnya, Delegasi Haji Iran menjelaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan pangan halal jamaah Iran selama musim perhajian, mereka telah memiliki dapur sendiri di Madinah dan Makkah. “Kami juga memiliki tenaga jagal yang direkrut dari jemaah haji Iran. Begitu juga juru masaknya. Mereka adalah jemaah haji yang menyedekahkan tenaganya untuk membantu pelayanan haji. Jadi yang kami lakukan, dari jamaah haji untuk jamaah,” lanjut Navab. Navab mengungkapkan, selama ini Iran menyediakan tiga kali makan setiap hari bagi semua jamaah. “Besaran harganya sekitar 50 SAR/hari. Ini mencakup tiga kali makan,” sambungnya. Menanggapi skema pemberian konsumsi jemaah haji tersebut, menurut Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Subhan Cholid juga serupa dengan yang dilakukan Indonesia pada pelayanan haji mendatang. “Untuk layanan katering, tahun 2024 jamaah haji akan mendapat 126 kali makan, terdiri atas: 27 kali makan di Madinah, 84 kali makan di Makkah, dan 15 kali makan selama di Arafah dan Mina (Armuzna). Selain itu, jamaah juga mendapat 1 kali snack berat di Muzdalifah,” pungkas Subhan. (rid) Baca juga :

Read More

Amani Al-Baba, Menggambarkan Perjuangan Palestina Lewat Seni

Gaza — 1miliarsantri.net : Amani Al-Baba merupakan salah satu pelukis Palestina yang mengabdikan karya lukisnya untuk perjuangan Palestina. Dia sudah berkarya sejak 1998 hingga sekarang. Menurutnya seni bisa menggambarkan perjuangan Palestina. Seni adalah bahasa universal dan sarana untuk mengekspresikan apa yang dialami rakyat Palestina dalam bentuk pembantaian dan kengerian. Seni adalah bahasa visual berpengaruh yang merangkum banyak makna, dan tidak memerlukan terjemahan. Seni juga menyebar dengan cepat, dan mengkomunikasikan pemikiran kepada semua orang melalui situs jejaring sosial. “Kami memperhatikan bahwa gambar-gambar yang berkaitan dengan perang tidak adil di Gaza mendominasi Di sebagian besar publikasi, meskipun beberapa video disensor atau dilarang, gambar-gambar tersebut berhasil melanggar larangan tersebut,” terang Amani, dikutip Al Jazeera, Jumat (01/12/2023). Dia menjelaskan, seni mengekspresikan senimannya dan masyarakat yang diwakili. Seni merupakan cerminan dari apa yang terjadi dalam pikiran masyarakat. Oleh karena itu, seni dapat menjadi motivator, ekspresif, atau alat penghiburan, dan melodi. Seni menghubungkan pemikiran. Pemikiran yang bebas dan teguh adalah bagian yang melekat dalam jiwa seniman mana pun. Amani mengemukakan, karya seni memiliki peran besar dalam menyampaikan pesan perjuangan ke setiap generasi. Maka itu, kewajiban bagi setiap seniman untuk menyampaikan pesan tersebut. “Karena kita sebenarnya sedang hidup dalam perang nilai, baik langsung maupun tidak langsung. Maka sudah menjadi tugas kita untuk memberikan perhatian pada pembentukan kesadaran, yang dimulai dengan menanamkan kesadaran di benak anak-anak dan keluarga melalui soft power, yaitu segala bentuk seni,” tuturnya. Saat ini, Amani bersama sejumlah seniman sedang menggarap program “Benih Semangka.” Ide tersebut didasarkan pada apa yang dilakukan penulis Al-Quds, Ziad Khadash, dengan berkomunikasi dengan anak-anak di Gaza untuk menghilangkan rasa takut dan menghibur mereka. Amani mengatakan, Ziad merekam cerita untuk anak-anak tentang seekor burung yang melarikan diri dari pemburu. Ragam cerita akan diabadikan dalam program tersebut untuk membangkitkan semangat warga Palestina, terutama anak-anak yang menjadi korban pembantaian. “Kami terus bekerja untuk mereka melalui Pengumpulan Benih Semangka,” tutup Amani. (zul/AZ) Baca juga :

Read More

Kaighla Berjuang Mempertahankan Hijabnya

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kaighla Um Dayo merupakan seorang muallaf dan terlibat dalam proyek penulisan buku The New Muslim’s Field Guide (Panduan Lapangan Muslim Baru) yang diterbitkan pada Februari 2018. Awalnya, Kaighla adalah seorang penganut Kristen dan memiliki gaya berpakaian serba terbuka. Namun, ada satu perasaan yang tidak bisa dia gambarkan saat ‘merasa dekat dengan Tuhan’. Dia memiliki dorongan untuk menutup kepala, meski kala itu masih berstatus sebagai penganut Kristen. Suatu ketika dia mendapat tugas dari seorang profesor dari World Religions 101 untuk mencoba eksperimen sosial tentang agama. Dia memutuskan untuk mengenakan “hijab”. “Tentu saja, saya tidak tahu aturannya, jadi saya hanya melilitkan syal jenis shayla (kain persegi panjang yang dililitkan dan disematkan) seperti yang saya lihat di internet, mengenakan t-shirt dan celana jins, lalu pergi ke kelas,” terang Kaighla melalui laman About Islam, Rabu (27/11/2023). Ketika eksperimen berakhir, anehnya Kaighla merasa tidak ingin melepas hijab. Namun kala itu, teman-teman Kaighla merasa tidak nyaman sehingga terpaksa melepas hijab. Pada Agustus 2009 dan Kaighla secara resmi memeluk Islam. Semua wanita yang dia kenal memberikan saya shalwar kameez dan abaya. Tak satu pun yang cocok dengan tubuh Kaighla yang tinggi dan gemuk. Tetapi, dia mencoba yang terbaik untuk menyesuaikan diri. “Pergelangan kaki saya terlihat dan lekuk tubuh saya juga,” tambahnya. Tak lama setelah muallaf, dia menikah dengan seorang pendakwah dari Al-Azhar Mesir dan menjadi imam masjid di Brooklyn. Pada saat itu, Kaighla mengaku kaget karena harus mengenakan model hijab layaknya orang Timur Tengah. Tidak ada lagi hijab warna-warni. Tidak ada lagi pakaian yang ketat. “Sekarang yang ada hanyalah abaya dan kain besar berbentuk persegi yang dilipat menjadi segitiga dan disematkan di bawah dagu,” sambungnya. Seiring berjalannya waktu, dia merasa nyaman dan bersemangat dengan penampilan barunya itu, seperti yang sering dilakukan oleh para mualaf. Pada saat kami pindah ke Mesir untuk lebih dekat dengan keluarganya, dia sudah mengenakan niqab. “Tetapi satu hal menjadi semakin jelas: Saya tidak merasa lebih dekat dengan Tuhan semakin saya menutup tubuh saya. Saya merasa lebih suci daripada Engkau, dan saya tidak bisa bernapas-secara harfiah,” ujarnya. Apalagi, dia tidak terbiasa dengan cuaca panas di Timur Tengah. Suatu ketika dia berangkat ke Madinah untuk membeli beberapa fool dan falafel (kacang fava rebus atau goreng) untuk sarapan. Seperti biasa, orang-orang di kios melongo dan tertawa satu sama lain tentang amrikiyya (orang Amerika) di balad (desa). Salah satu dari mereka mulai mengikuti dan memanggil dalam bahasa Arab, “Anda bukan dari sini? Anda orang asing yang cantik?” Awalnya dia merasa muak dengan diri sendiri lalu memutuskan mengenakan nigab besar. Tidak ada lagi yang terlihat, termasuk mata hijau-coklatnya. Kendati begitu, dia merasa tenang lantaran tidak ada lagi godaan-godaan dari orang sekitar. “Kepribadian saya akhirnya terhapus. Saya telah menjadi seperti yang dikatakan oleh semua buku yang diberikan oleh suami saya bahwa saya harus menjadi seorang Muslimah: tidak terlihat, diam, meluncur dengan tenang di dunia, menyembunyikan sifat asli saya sampai saya merasa aman di rumah saya yang nyaman, dengan jendela yang tertutup rapat dan gorden yang tertutup,” imbuhnya. Beberapa bulan kemudian, Kaighla kembali ke Amerika untuk melahirkan. Dia melepaskan niqab. Dia merasa senang karena para pria Amerika tidak banyak yang tersenyum kepadanya, apalagi mencoba menggoda. Tetapi dia masih mengenakan abayat saja, dan masih mengenakan warna-warna kusam dan menjemukan, agar tidak menimbulkan daya tarik dengan warna-warna cerah dan bahagia. “Ketika kami kembali ke Mesir nanti, saya tetap mempertahankan gaya tersebut dan berusaha mengabaikan para pria yang mengganggu saya,” ujarnya. Kaighla bercerai dengan suaminya dari Mesir. Dia akhirnya tak mengenakan lagi pakaian ala Timur tengah. Namun, mengenakan hijab seperti muslimah biasa dengan jilbab warna warni dengan fashion kekinian. “Saya melepaskan semua abaya saya dan mulai mengenakan gaun panjang selutut di atas legging, ditambah dengan hijab yang tidak terlalu ketat namun tetap cantik dan kardigan yang sesuai dengan cuaca. Seandainya saja saya menurunkan jilbab saya sedikit saja, saya akan menyatu dengan sempurna dengan tren mode hipster dengan pakaian longgar dan warna-warna kalem,” lugasnya. Kendati begitu, dia merasa tenang dan nyaman dengan hijab di kepala serta pakaian yang longgar. Dia bisa menunjukkan diri sebagai seorang muslimah yang bisa beradaptasi dengan budaya dan lingkungan sosial. “Ini adalah jalan yang panjang, dan saya yakin saya akan berkembang lebih jauh lagi di masa depan, tetapi saya sangat bersyukur bahwa saya dapat membiarkan diri saya beradaptasi dengan perasaan saya yang sebenarnya. Saya telah menemukan gaya hijab yang cocok untuk saya tanpa harus mengorbankan kepribadian atau budaya saya,” tutup Kaighla. (Iin) Baca juga :

Read More

Syair Julid Hassan bin Tsabit Dapat Menyerang Balik Hinaan Musuh Rasulullah SAW

Jakarta — 1miliarsantri.net : Warganet Indonesia menggulirkan gerakan Julid FiSabilillah dengan menyerang akun media sosial seperti Instagram milik tentara-tentara Israel. Tujuan dari aksi ini untuk melemahkan propaganda Zionis dan memperkuat narasi pro Palestina. Akibatnya tak sedikit tentara Israel yang kemudian menggembok akun media sosialnya usai dibanjiri hujatan dari pengguna Instagram di Indonesia. Aksi Jihad FiSabilillah mengingatkan pada penyair kesayangan Rasulullah, Hassan bin Tsabit. Bila para sahabat lain membela Nabi SAW di medan perang, berbeda dengan Hassan bin Tsabit yang membela lewat syair-syairnya. Buku “Kisah Keteladanan dan Hikmah Terbaik Para Sahabat” menjelaskan, Hassan memeluk Islam di usia yang tak lagi muda. Ia pun membela agama Islam melalui syair-syairnya yang menghujam. Hal ini disebabkan, orang-orang yang tak ingin masuk Islam kerap melontarkan celaan kepada Rasulullah. Karena membela dengan keahliannya sebagai penyair, Hassan pun dijuluki sebagai ‘Syairun Nabi’. Meski dikenal sebagai penyair kawakan namun sejak masuk Islam, syair-syair Hassan bin Tsabit semakin berkualitas dan bermakna. Ini dikarenakan Hassan mempelajari keindahan bahasa yang digunakan lewat Al-Qur’an. Pada mulanya Hassan ragu untuk melanjutkan menulis syair. Ia mengira, setelah Allah SWT menurunkan Al-Qur’an kaum muslimin dilarang bersyair. Hingga akhirnya Hassan memberanikan diri bertanya pada Rasulullah. Ternyata Nabi SAW justu bersabda, “Balaslah mereka (orang-orang yang menjelek-jelekan Rasulullah) dengan syair. Semoga Jibril senantiasa bersamamu”. Hassan kemudian meminta izin pada Rasulullah untuk mengkritik Abu Sufyan, salah satu tokoh pencela Nabi. Semula Rasulullah agak segan dengan permintaan Hassan tersebut lantaran Abu Sufyan masih memiliki hubungan kekerabatan. Namun Hassan bin Tsabit berjanji dan berkata, “Demi Allah yang telah memuliakanmu, aku tidak akan menyindirnya dengan menggunakan nasab (garis keturunan)”. Syair yang dibuat Hassan bin Tsabit semata-mata sebagai balasan terhadap musuh Islam yang mengejek Rasulullah. Di antara sebaik syair yang terkenal berbunyi sebagai berikut: Engkau (Abu Sufyan) menghina Muhammad dan aku membantah semua celaanmu.Aku tidak diam karena aku mengharap pahala dari Allah.Mengapa kamu menghina? Padahal kamu tak sebanding dengan beliau.Kamu hanyalah simbol keburukan sedangkan Nabi adalah lambang kebaikan.Kamu menghina orang penuh berkah dan kebaikan, pewaris keyakinan yang lurus.Orang itu adalah pemegang amanah Allah, yang penyayang dan ikhlas. (Iin) Baca juga :

Read More

Proses Ziarah ke Makam Rasulullah Lebih Tertata Dengan Rapi dan Tidak Berjubel

Madinah — 1miliarsantri.net : Saat ini para jamaah haji maupun umrah akan merasakan perbedaan proses ziarah ke makam Rasulullah SAW ketika berada di Madinah Almunawaroh. Dulu, biasanya saling berebut, siapa duluan, kuat kuatan, yang duluan dan kuat dapat. Bisa dikata semua serba rebutan untuk bisa masuk ke raudhoh yang menjadi tempat makam Rasulullah SAW. Saking berebutnya, saking banyaknya manusia yang bertumpuk di pusaran sekitar raudhoh, menyebabkan sholat pun kesulitan. Jika bisa sholat di sekitar raudhoh, berdiri tidak kokoh karena tubuh kita akan tersenggol dengan jamaah yang terus berlalu lalang mencari tempat terdekat raudhoh untuk bisa sholat dan berdoa. Meskipun masih tetap sholat dengan berdiri yang tidak kokoh tersebut, saat mau rukuk pun bisa nubruk punggung atau pun tubuh jamaah lainnya karena terlalu dempet dempetan saat sholat. Bukan rukuk saja yang menjadi problem, saat mau sujud pun kepala akan mencari posisi untuk benar-benar bisa sujud. Karena jarak untuk sujud super sempit akibat jumlah umat Islam yang berebut agar bisa sholat di raudhoh terlalu besar jumlahnya. Maka sangatlah wajar.ketika di raudhoh, banyak pasukan keamanan atau yang biasa disebut askar, berteriak-teriak mengamankan jamaah, dan tidak segan segan mengusir yang sholatnya lama atau berdoanya lama. Bagi jamaah yang, tetap bandel berdiri di tempat sholat, jangan heran karena bisa diangkat askar untuk didorong keluar area dan terkena pentungan askar. Namun kondisi seperti itu sudah mulai berubah sedikit mulai sekitar 2016, dimana pola masuk ke area raudhoh dibuat dengan batasan garis. Para askar membatasi dengan memegang tali dari ujung ke ujung yang dibuat perkelompok mulai 1,2,3,4 dan 5. Ketika tali 1 di dekat raudhoh dibuka, jamaah yang berada di arena tali 1 diijinkan masuk ke area raudhoh untuk sholat maupun berdoa. Sementara kelompok lain yang sudah menunggu di garis kotak 2,3,4 dan 5 tetap menunggu giliran berikutnya. Namun, pola ini tidak bertahan lama karena masih berkesan tak beraturan. Mulai 2021 setelah covid, model ziarah ke makam Rasulullah berubah lagi. Sistem ziarah dibuat dengan pola mendaftar ke tim ziarah. Pengelola ziarah hanya menerima pendaftaran perkelompok yg dibawa biro umroh/haji. Sistem per biro ini menjadi lebih baik karena jadwal waktu ziarah lebih pasti dan dijamin tidak rumit. Karena jamaah yang ingin ziarah sudah ditentukan waktunya sesuai waktu pendaftaran. Para calon peziarah ini, sesuai jadwal diminta antre dan baris secara rapi di dekat pintu raudhoh. Hasilnya lumayan baik dan banyak jamaah puas, karena dengan sistem ini, setiap rombongan jamaah dapat giliran 3-5 menit untuk berada di area raudhoh. Lumayan, sholat dan berdoa menjadi lebih khusuk. Namun pola yang sudah baik ini, mulai dimodifikasi lagi di tahun 2023, dimana untuk ziarah tahapannya bertambah. Yang semula, diawali pendaftaran oleh pempinpin rombongan umroh haji, kemudian sesuai jadwal jamaah baris antre di tempat yang sudah ditentukan lalu menunggu giliran masuk raudhoh. Tetapi sekarang ada perubahan lagi: mendaftar, mengantre, transit di tempat lain lagi yang waktu menunggunya cukup lama 40 menit, baru menunggu giliran ziarah. Perubahan ini membuat proses menuju ziarah menjadi lebih lama, namun hasilnya lumayan dan menjadi lebih baik: jamaah tetap bisa khusuk sholat dan berdoa di raudhoh. Namun waktu ziarah tetap terbatas karena jumlah jamaah umroh saat pasca covid menjadi meningkat pesat dan meningkat. (dul) Baca juga :

Read More

Sebanyak 47 Tokoh Buddha dari 17 Negara Gelar Dialog Perdamaian Dunia

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Sebanyak 47 tokoh Buddha dari 17 negara yang tergabung dalam International Network of Engaged Buddhists (INEB) melakukan kunjungan ke Muhammadiyah di Yogyakarta, Rabu (22/11/2023). Mereka mengakui pentingnya dialog dan pertemuan dengan pemimpin Muhammadiyah sebagai langkah strategis dalam mendorong moderasi beragama dan perdamaian dunia. Yuli Mumpuni Widarso, seorang penasehat Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, menyatakan kunjungan ini merupakan refleksi dari pertemuan puncak tokoh Buddha dunia di Yogyakarta pada 2015, di mana Muhammadiyah juga terlibat sebagai mitra. Baginya, pertemuan lintas agama seperti ini perlu diperkuat, mengingat salah satu tantangan terbesar kita adalah melawan diskriminasi dan kekerasan bermotif agama. Delegasi INEB dalam kunjungannya mengunjungi Museum Muhammadiyah di Kompleks Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD), dilanjutkan dengan dialog bersama unsur PP Muhammadiyah di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta pada hari yang sama. Kunjungan ke Museum Muhammadiyah agar tokoh Buddha dapat memahami latar historis di balik perkembangan Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi Islam terkemuka di dunia. Sementara itu, kunjungan ke Madrasah Muallimin merupakan bagian dari upaya delegasi INEB untuk lebih memahami lembaga pendidikan yang dianggap sebagai basis pengkaderan Muhammadiyah. Di Muallimin, INEB berkolaborasi dengan PP Muhammadiyah dalam menggelar Interfaith Diapraxis dengan tema “Religious Moderation for a Just and Peaceful Civilization.” Diapraxis ini merupakan dialog untuk mencari solusi terhadap situasi sosial dan kemanusiaan, dan diawaki oleh Ambassador Yuli Mumpuni Widarso dan KV Soon Vidyananda sebagai perwakilan PP Muhammadiyah dan Komite Eksekutif INEB. Pertemuan juga dihadiri oleh Sekretaris Eksekutif INEB Moo Somboon Chungprampree, Sekretaris LHKI PP Muhammadiyah Yayah Khisbiyah, Direktur Jenderal Bimbingan Buddha Kementerian Agama Supriyadi, serta Direktur Muallimin Aly Aulia selaku tuan rumah. Selain dialog, kegiatan di Muallimin dimeriahkan dengan pertunjukan seni oleh santri, menjadi bagian dari pengenalan budaya kepada delegasi yang berasal dari berbagai negara. Kunjungan para tokoh Buddha dari International Network of Engaged Buddhists (INEB) ke Muhammadiyah ini tidak hanya memperkuat kerjasama lintas agama, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam membangun pemahaman dan toleransi antarumat beragama. Di tengah tantangan global terkait diskriminasi dan kekerasan berbasis agama, pertemuan ini memberikan harapan akan terciptanya masyarakat yang lebih damai dan adil. (yus) Baca juga :

Read More

Istilah dan Gambaran Santri Pesantren

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Santri adalah seseorang yang menuntut Ilmu dan memperdalam agama Islam di pesantren, mereka juga menetap di pesantren hingga lulus atau menuntaskan pendidikan nya. Ciri seorang santri identik dengan hidup sederhana dan menerima apa adanya (qonaah) seperti makan, berpakaian, tempat tidur. Dengan pola sederhana Ini seorang santri diajarkan untuk tidak berlebih-lebihan dalam kenikmatan dunia. Seorang santri biasanya diajarkan untuk saling berbagi, bertoleransi, empati, berakhlak, dan Budi pekerti. Tidak hanya itu saja, seorang santri juga diajarkan untuk belajar bersabar, terutama dalam bentuk mengantri, contoh nya seperti: antri mengambil makan, antri mandi, antri mengaji dan masih banyak lagi, dengan diajarkan nya mengantri kita dapat memahami bahwa semua hal itu harus di awali dengan proses dan kesabaran bukan secara instan. Sedangkan istilah santri itu sendiri terdapat dua macam pembagian kategori : Bedasarkan pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa santri kalong itu hanya mengikuti pelajaran dan tidak menetap sedangkan santri mukim itu mengikuti pelajaran dan menetap. Mereka pulang ke rumah setahun dua kali atau setahun sekali bahkan ada beberapa pesantren yang menerapkan peraturan untuk pulang tiga tahun sekali. Seorang santri yang menetap di pesantren tidak hanya mempelajari atau memperdalam ilmu agama saja, namun juga di didik untuk menaati dan menerapkan semua peraturan yang di buat oleh pesantren, biasanya peraturan yang di buat dari pesantren itu dimulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Setiap orang yang menuntut ilmu itu pasti ada cobaan terkadang ada rasa malas bahkan terlintas dalam pikiran untuk menyerah, terlebih seseorang yang memutus kan untuk menghafal Al-Qur’an atau seseorang yang terpaksa menghafalkan Al-Qur’an karena orang tuanya. Menghafal Al-Qur’an itu butuh perjuangan dan pengorbanan merelakan tidak tidur siang dan menunda tidur malam untuk menghafalkan Al-Qur’an. Dalam situasi ini lah seorang santri butuh semangat dan kekuatan yang tinggi untuk menghadapi itu semua dan menguatkan niat dalam hati untuk selalu bersabar dalam menghafal Al-Qur’an. Keadaan ini lah seorang santri selalu mengingat (nyengkal moto jiret weteng) artinya : perbanyak lah tirakat tahan lah lapar( puasa) atau bisa di simpulkan bahwa menuju kesuksesan yang sesungguhnya itu harus di landasi ketekunan dan kesabaran dalam menuntut ilmu. Menghafal kan Al Qur’an dan mempertahankan hafalan agar tidak hilang dari pikiran dan hidup kita menjadi lebih tenang, nyaman, dan tertata dalam menghadapi suatu hal. Ada pun hadist yang menjelaskan bahwa ” barang siapa membaca Al Qur’an kemudian mempelajarinya dan mengamalkannya. “Maka ia akan diberikan mahkota oleh Allah disurga kelak. Sinarnya lebih terang dari pancaran oleh seluruh makhluk hidup yang ada di sana”. Hadist di atas membuat kita semakin membangun semangat, tekat, dan niat untuk berjuang demi mendapatkan mahkota untuk orang tua kita nanti di surga. Dengan kata lain, kita bisa mengungkapkan rasa terimakasih atas pengorbanan, jasa kedua orang tua dalam mendidik dan membiayai kita dalam menuntut ilmu di pesantren. Jika seseorang yang khotmil Al Qur’an (selesai dalam menghafal Alquran) maka akan di turunkan nya Rahmat dari Allah SWT untuk para penghafal Al-Qur’an, sebagaimana dari ( H.R at- Thabrani dan Ibnu Abi Syaibah dari Mujahid) yang artinya: ” Apabila di khatamkan Al Qur’an, maka turunlah Rahmat Allah”. Khatam Al Qur’an bukan berarti menghafal kan semua isi Al Qur’an di luar kepala tapi juga dapat diartikan bahwa Khatam Al Qur’an itu seseorang yang membaca semua isi Alquran. Dari deskripsi di atas dapat di simpulkan bahwa Gaya hidup santri itu di perlukan niat yang kuat serta semangat yang tinggi, karena seorang santri itu harus bisa qonaah ( menerima apa adanya) dan tirakat dalam menuntut ilmu atau menghafal kan Al Qur’an. Merelakan jauh dari keluarga terutama orang tua yang selalu menguatkan kita disaat kesulitan melanda. Menuju kesuksesan itu butuh pengorbanan, niat serta mental yang kuat, dengan tekat yang kuat menjadi kunci kesuksesan dalam meraih cita-cita. (mif) Baca juga :

Read More

Momen Ketika Rasulullah SAW Ingin Menyendiri Dari Istri-istri nya

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Betapa suka cita perasaan Rasulullah SAW. Sebab, beliau kala itu baru saja dianugerahi kelahiran seorang putra dari seorang istrinya, Mariyah al-Qibthiyyah. Beliau menamakan anaknya, yakni Ibrahim. Akan tetapi, kelahiran Ibrahim ternyata mengundang cemburu dari istri-istri Nabi SAW yang lain, utamanya ‘Aisyah dan Hafshah. Masing-masing merupakan putri para sahabat beliau, yang Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Beberapa waktu kemudian, ‘Aisyah di kediamannya mengatakan kepada Rasulullah SAW bahwa paras wajah Ibrahim tidak menyerupai beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Mendengar hal itu, Rasulullah SAW menunjukkan wajah tidak suka. Alih-alih menenangkan, Hafshah juga menyampaikan hal yang sama kepada sang suami. Itu pun diucapkannya saat Rasulullah SAW menyambangi biliknya. Perasaan cemburu yang berlebihan, itulah yang ditunjukkan kedua ummahatul mu`minin ini. Mereka merasa tersaingi oleh Mariyah yang telah memberikan seorang anak laki-laki untuk Nabi SAW. Dalam menghadapi sikap keduanya yang diwarnai iri hati ini, Rasulullah SAW memilik sikap lemah-lembut. Bagaimanapun, beliau sebagai pemimpin umat tidak punya waktu untuk melayani perangai cemburu yang ekstrem. Demikian pula, beliau tak mau membiarkan dirinya dipermainkan istri. Keduanya dinilai harus mendapat pelajaran, yakni dengan sikap yang tegas. Akhirnya, selama sebulan penuh Rasulullah SAW mendiamkan keduanya. Dalam rentang waktu itu, Rasulullah SAW memusatkan perhatian pada upaya-upaya dakwah dan penyebaran Islam di Jazirah Arab. Pada saat demikian, Abu Bakar dan Umar sebagai para mertua Rasulullah SAW merasa gelisah sekali. Mereka khawatir, Rasulullah SAW tidak hanya akan menceraikan masing-masing putri mereka. Bukan tak mungkin perangai ‘Aisyah dan Hafshah yang menyulitkan Nabi SAW akan menyebabkan kemurkaan Allah SWT. Maka, kini keduanya menyesal. Mereka merasa khilaf lantaran telah terdorong rasa cemburu yang berlebihan sampai-sampai melukai hati sang suami yang tadinya sangat lemah-lembut itu. Kini, Rasulullah SAW menjauhi mereka. Lebih memilih menghabiskan sebagian waktu dalam sebuah bilik, alih-alih rumah keduanya. Selama beliau tinggal dalam bilik itu, ada pelayannya yang bernama Rabah. Dia selalu menunggu di ambang pintu, menjaga agar tidak ada orang yang masuk kecuali atas izin Rasulullah SAW. Desas-desus bahwa Rasulullah SAW akan menceraikan istri-istrinya itu mencuat. Alhasil, rasa cemas serta gundah gulana pun kian menggelayuti pikiran Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Bahkan, kedua sahabat senior itu sampai menegur keras putri mereka masing-masing, yang telah melukai hati Rasulullah SAW. Hingga pada suatu hari, Umar begitu ingin bertemu dengan Rasulullah SAW. Maka, dipanggilnya Rabah–yakni seorang pembantu beliau–agar memintakan izin baginya untuk bisa menemui Rasulullah SAW. Namun, Rabah tidak berkata apa-apa. Artinya, Rasulullah SAW belum mengizinkan. Sekali lagi, Umar mengulangi permintaannya. Namun, Rabah tetap tidak memberikan jawaban. Demikian seterusnya hingga sahabat bergelar al-Faruq itu meminta sebanyak tiga kali. Ketika Umar hendak beranjak pergi, Rasulullah SAW memberikan isyarat kepada Rabah agar mengizinkan sahabatnya itu masuk. Umar pun gembira. Setelah mengucapkan salam, dia memasuki bilik kecil itu. Ketika Umar sudah duduk dan membuang pandang ke sekeliling tempat itu, ia tiba-tiba menangis. “Apa yang membuatmu menangis, ya Ibnul Khathab?” tanya Rasulullah SAW dengan nada lembut. Umar mengatakan, dirinya menangis setelah menyaksikan tikar tempat Rasulullah SAW berbaring begitu kasar, sampai-sampai meninggalkan bekas pada punggung dan dada beliau yang mulia. Selain itu, di dalam bilik sempit tersebut nyaris tak ada apa-apa kecuali segenggam gandum, kacang-kacangan, dan alas kusam. Setelah itu, Rasulullah SAW menasihatinya. Segala yang dilihatnya itu adalah perkara duniawi. Urusan dunia adalah sementara. Umar pun kembali tenang. “Wahai Rasulullah,” kata Umar, “Apakah yang menyebabkan tuan tersinggung adalah karena para istri itu? Kalau mereka itu tuan ceraikan, niscaya Allah mendukung engkau. Demikian juga para malaikat, Jibril dan Mikail, juga saya, Abu Bakar, dan semua orang-orang beriman. Mereka berada di pihakmu.” Umar terus berbicara. Rasulullah SAW mendengarnya dan kemudian tersenyum. Rasulullah SAW menyatakan kepadanya, beliau tidak akan menceraikan mereka. Mendengar itu, Umar merasa gembira. Dia pun meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk mengumumkan hal ini kepada orang-orang yang masih menunggu di luar masjid. (mif) Baca juga :

Read More

Sukses Event Pertama, Bengkel Hijrah Iklim 2.0 akan Digelar Awal Desember 2023 di Salatiga

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Setelah sukses pada penyelenggaraan event pertama nya, Muslims for Shared Action on Climate Impact (MOSAIC) kembali akan menggelar Bengkel Hijrah Iklim (BHI) 2.0 atau jilid kedua pada 4-9 Desember 2023 mendatang di Salatiga, Jawa Tengah. Sama seperti penyelenggaraan pertama yang berlangsung di Bogor, acara di Salatiga nanti juga menargetkan peserta sebanyak 20 orang. Sejumlah narasumber yang akan dihadirkan pada event tersebut di antaranya adalah Rubby Emir (AktivAsia), Rara Salsabila (aktivis), Gus A’ak (LPBI NU), M Rifandi (MLH Muhammadiyah), Kholida Anissa (IPM & Alumni BHI), serta Aldy Permana (Purpose). “Bengkel Hijrah Iklim adalah salah satu inisiatif dari MOSAIC yang bertujuan memberdayakan dan menyiapkan anak muda Islam untuk menjadi pemimpin dalam solusi iklim di Indonesia,” ujar Project Lead Bengkel Hijrah Iklim, Aldy Permana, di sela-sela acara Media Briefing – Bengkel Hijrah Iklim yang mengangkat tema ‘Anak Muda dan Aksi Perubahan Iklim di Akar Rumput’ di Yogyakarta, Selasa (21/11/2023). Aldy mengatakan, pendekatan keagamaan dirasa penting dikarenakan terdapat survei yang dilakukan Purpose yang menemukan bahwa mayoritas anak muda menyatakan bahwa agama merupakan hal yang penting bagi mereka. “Sebanyak 92 persen anak muda perkotaan menyatakan bahwa agama penting bagi mereka,” papar Aldy mengawali presentasinya. Setidaknya terdapat lima kurikulum yang diberikan saat penyelenggaraan BHI di antaranya kekuasaan dan non-violence, strategi kampanye, pengorganisasian komunitas, strategi komunikasi publik, serta krisis iklim. Kurikulum ini dikembangkan bersama oleh AktivAsia, Purpose, serta Pesantren Ekologis Miskyat Al-Anwar. Tahapan dari event BIH ini, kata Aldy, yakni MOSAIC memberikan program pelatihan, melakukan coaching dan mentoring, serta implementasi pilot project. “Waktu itu (penyelenggaran di Bogor), ada lima alumni BHI yang proyeknya kami danai serta kami berikan coaching and mentoring. Kelimanya adalah My Green Leaders, Salawaku Movement, Shankara Tani, Penanaman Mangrove, dan Sadari Bumi,” terang Aldy. Ketua Bidang Lingkungan Hidup di Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Kholida Annisa, pun menceritakan proyeknya yang didanai MOSAIC yaitu My Green Leaders pada acara Media Briefing di hadapan para wartawan. Youth Movement for Green Leaders adalah sebuah gerakan pemuda yang berkomitmen untuk memperjuangkan keadilan sosial-ekologis di Indonesia. “Kami percaya bahwa isu lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari isu sosial, dan kedua isu ini harus menjadi prioritas utama bagi pemimpin Indonesia nantinya,” kata perempuan yang akrab dipanggil Lida ini. Kegiatan-kegiatan yang ada di Green Leaders ini di antaranya adalah Future Green Leader Camp, Coaching & Mentoring, Deklarasi Pemimpin Pro-Lingkungan, Pawai Budaya untuk Iklim, Aksi Pelajar untuk Iklim, Training of Trainer, serta Launching Buku ‘Menjadi Pemimpin Pembela Lingkungan’. Lida pun mengeklaim tidak mudah untuk menyebarkan gagasan mengenai perubahan iklim di kalangan anak muda. Hal tersebut dikarenakan meskipun terdapat survei yang menyatakan bahwa anak muda adalah kalangan yang paling tinggi kepeduliannya terhadap iklim, banyak di kalangan anak-anak muda tersebut yang tidak tahu harus berbuat apa. Ia pun menceritakan salah satu cara untuk menyampaikan gagasannya adalah dengan cara melalui pendekatan emosional. “Karena jika lingkungan di masa depan ini rusak maka yang paling merasakan adalah anak muda,” kata Lida. Sementara itu, alumni BHI 1.0 yang lain, Koordinator Program di Serikat Perempuan Kinasih & Salawaktu Movement, Aniati Tokomadoran, menceritakan pengalamannya melakukan advokasi iklim di kalangan pesantren dan masyarakat pedesaan. Ia juga mengungkapkan bahwa memunculkan kesadaran di kalangan tersebut juga tak kalah sulitnya. “Dalam beberapa kesempatan mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan sudah merupakan bagian dari mitigasi iklim. Dari situ saya jadi menyadari bahwa isu krisis iklim ini terlihat eksklusif dan memakai bahasa yang terlalu tinggi, sehingga sulit diterima oleh masyarakat desa,” kata perempuan yang akrab dipanggil Ani tersebut. Peneliti Departemen Sosiologi dan Pusat Kajian Kepemudaan Fisipol UGM, Ragil Wibawanto, menyampaikan memang terdapat sejumlah tantangan dalam melakukan sosialisasi perubahan iklim di antaranya adalah sulitnya melibatkan generasi yang lebih senior mengingat mereka memiliki cara pandang tersendiri yang sangat berbeda dari generasi muda yang berusia di bawahnya. “Oleh karena itu keluarga saya kira menjadi lembaga sosial yang penting dalam isu ini,” kata Ragil. Selain itu, Ragil memaparkan bagaimana pengenalan isu lingkungan di ranah pendidikan masih dalam tahap sosialisasi. Sedangkan implementasi program dari pemerintah masih jauh dari kondisi ideal. “Masih terdapat gap dalam pengenalan isu lingkungan di ranah pendidikan yang perlu dikontekstualisasikan,” pungkas alumnus Australian National University (ANU) Australia itu. (yus) Baca juga :

Read More

Terdapat 12 Madrasah Aliyah Menjadi Sekolah Terbaik Versi UTBK – SBMPTN

Jakarta — 1miliarsantri.net : Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) beberapa waktu lalu baru merilis daftar 1.000 sekolah terbaik (Top 1000 Sekolah) Berdasarkan Nilai Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) 2022. Tercatat ada 23.657 sekolah yang mengikuti Ujian Tertulis Berbasis Komputer-Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UTBK-SBMPTN) 2022. Total ada 745.115 siswa yang mengikutinya. Dari 12 MA terbaik yang masuk TOP 100, terdapat 11 Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan satu Madrasah Aliyah Swasta (MAS). “Alhamdulillah, dari 100 sekolah terbaik versi hasil UTBK, ada 12 madrasah. Bahkan, Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia atau MAN IC Serpong menjadi yang terbaik, disusul MAN IC Pekalongan pada urutan keempat. Ini bukti madrasah makin kompetitif,” terang Plt Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah M Sidik Sisdiyanto kepada 1miliarsantri.net di Jakarta, Selasa (21/11/2023). MAN Insan Cendekia Serpong menempati peringkat pertama nasional dengan nilai rata-rata UTBK mencapai 666,494. MAN IC Serpong berhasil mempertahankan prestasi nasional yang diraih pada 2021. Saat itu nilai rata-rata UTBK MAN IC mencapai 637,807. Sementara MAN IC Pekalongan menempati urutan keempat dengan nilai rata-rata UTBK mencapai 637,499. “Selain MAN IC, ada MAN 2 Kota Malang yang berada pada urutan ke-19 atau terbaik ketiga untuk kategori madrasah dengan nilai rata-rata UTBK mencapai 617,605,” sambungnya. Berikut daftar 12 Madrasah Aliyah (MA) yang Masuk 100 Sekolah Terbaik di Indonesia Versi UTBK: (wink)

Read More