Sedikitnya 100 Ulama Syahid, 1.000 Masjid Hancur di Jalur Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Pembantaian yang dilakukan teroris Israel di Jalur Gaza menyebabkan 100 ulama di Jalur Gaza syahid sejak 7 Oktober lalu. Selain itu, menurut Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Gaza,serangan udara Israel menyebabkan 1.000 masjid hancur dari 1.200 masjid yang ada. “Pembangunan kembali masjid-masjid ini akan memakan biaya sekitar $500 juta,” pernyataan Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Gaza, Selasa (23/1/2024). Menurut kementerian terseut, lebih dari 100 ulama syahid dibunuh serangan Israel dan membongkar puluhan pemakaman serta menggali kuburan. “Pasukan pendudukan Israel terus menghancurkan puluhan pemakaman dan menggali kuburan, melanggar kesucian mereka dan mencuri jenazah di dalamnya, pelecehan terang-terangan terhadap piagam internasional dan hak asasi manusia,” sambung pernyataan tersebut. Menurut pernyataan tersebut, sebuah gereja, beberapa bangunan administratif, sekolah-sekolah Al-Quran, dan kantor pusat bank juga hancur dalam serangan Israel. “Kami mengajak bangsa Arab dan Islam serta orang-orang yang punya1 nurani untuk memenuhi tanggung jawab mereka terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza,” tutupnya. (zul) Baca juga :

Read More

Para Pengungsi di Jalur Gaza Harus Menghadapi Bencana Kelaparan

Gaza — 1miliarsantri.net : Pembantaian yang dilakukan teroris Israel terhadap warga sipil Jalur Gaza sudah memasuki bulan keempat. Perang genosida tersebut tak hanya menghilangkan nyawa puluhan ribu korban, hancurnya seluruh bangunan rumah dan rumah sakit, namun juga menciptakan krisis pangan yang sangat parah. Orang tua di Jalur Gaza harus mengurangi jatah makan agar anak-anak mereka bisa mengunyah sedikit makanan. Saat bersamaan kerap mereka berpura-pura sudah kenyang demi perut sang buah hati tak keroncongan. Meskipun begitu, bencana kelaparan tidak bisa dihindari. Krisis pangan di Jalur Gaza yang menyebabkan bencana kelaparan semakin memburuk menimpa lebih dari dua juta murabith saat memasuki bulan keempat perang Israel di wilayah tersebut. Ini terjadi di tengah peringatan dari lembaga-lembaga PBB bahwa bencana kelaparan mengintai di depan mata. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengatakan, bayangan kelaparan menghantui penduduk Gaza, bersamaan dengan ancaman penyakit, malnutrisi, dan ancaman kesehatan lain. Seorang pengungsi dari Jalur Gaza utara ke Rafah, Amal Muhammad, menceritakan kondisi anak-anaknya sebelum teroris Israel melakukan pembantaian di Jalur Gaza. anak-anaknya bisa bermain sambil menyelesaikan makan malam. “Namun, mereka sekarang sangat membutuhkan makanan, tetapi dia hampir tidak dapat memberi mereka makan. Kami berpura-pura di depan anak-anak bahwa kami tidak lapar atau terlalu sibuk, sehingga kami tidak bisa makan,” tutur Amal. Menurut Amal, harga-harga bahan makanan dan kayu bakar untuk memasak telah meningkat secara signifikan. Hal itu membuat konsumsi daging menjadi “impian”. Sementara, para orang tua membatasi jatah makan agar anak-anak bisa makan. “Kami semua kehilangan berat badan karena kurangnya makanan,” ujar Amal. Penduduk Gaza sekarang bergantung hampir sepenuhnya pada bantuan luar yang dibawa melalui dua titik masuk, Rafah di perbatasan dengan Mesir, dan Kerem Shalom di perbatasan dengan Israel. Pertanian perdagangan di wilayah Palestina mengalami kerugian, sementara bantuan, termasuk tepung, minyak, beras, kacang-kacangan, dan makanan kaleng, sebagian besar disalurkan ke gudang PBB untuk didistribusikan kepada pengungsi, yang terkadang harus berdiri dalam antrean selama berjam-jam untuk mendapatkan makanan. Wakil Direktur Operasional UNRWA di Gaza, Scott Anderson, mengatakan, Israel telah mulai mengizinkan beberapa kiriman komersial ke Gaza, tetapi itu tidak cukup. Maka itu, dia memperingatkan tentang bencana yang semakin memburuk dan meminta Israel untuk membuka lebih banyak lintasan dan menyederhanakan proses pemeriksaan truk. “Serangan terus-menerus oleh Israel menghambat distribusi makanan,” terang Scott. Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia, Cindi McCain, mengatakan, orang-orang di Gaza menghadapi ancaman kematian kelaparan hanya beberapa mil dari truk-truk penuh makanan. Krisis kelaparan dapat dicegah jika pasokan yang cukup dan akses aman ke semua yang membutuhkan dapat disediakan. Menurut penilaian Program Pangan Dunia, semua penduduk Gaza menghadapi “krisis atau tingkat keamanan pangan yang lebih buruk,” sementara lebih dari 500 ribu orang menghadapi “bencana,” didefinisikan sebagai kekurangan pangan yang parah. Pada Desember 2023, organisasi “Human Rights Watch” menyebut Israel menggunakan kelaparan sebagai “alat perang” di Gaza. Israel dengan sengaja menghalangi pengiriman air, makanan, dan bahan bakar. Koordinator Bantuan PBB, Martin Griffith, mengatakan, bencana kelaparan hampir terjadi dan penyakit menyebar di tempat pengungsian yang padat. Orang-orang menghadapi tingkat keamanan pangan yang tertinggi yang pernah tercatat. Menurut laporan Financial Times, rak-rak toko kelontong di Jalur Gaza kosong dari semua barang kecuali beberapa bahan makanan dasar seperti daging kaleng, kacang, dan keju. Hampir tidak ada yang memiliki pendapatan, membuat harga-harga lebih tinggi dari kemampuan mereka. Makanan segar seperti telur dan susu sekarang jarang dan harganya tinggi, dengan harga satu baki telur (30 butir) mencapai 90 shekel (24 dolar) sebelum turun menjadi sekitar 50 shekel (13,36 dolar), masih tiga kali lipat dari harga sebelum perang. Sementara harga susu sekitar 12 shekel per liter (3,21 dolar), dua kali lipat harga sebelum perang. Anderson mengatakan bahwa tingkat kelaparan “semakin buruk seiring bergerak ke utara,” dengan kemungkinan terjadinya kelaparan segera di daerah utara yang hancur, di mana sekitar 300 ribu orang masih belum menerima bantuan secara signifikan. Dia mengatakan, sulit mendapatkan izin dari Israel untuk mengirimkan bantuan ke utara. Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazarini, menjelaskan, banyak pengungsi mendekati truk bantuan untuk mengambil makanan langsung tanpa harus menunggu distribusi, dan ketika Israel memperbolehkan distribusi, truk-truk sudah hampir kosong. (zul) Baca juga :

Read More

Menlu Saudi Menekankan Perlunya Gencatan Senjata di Jalur Gaza

Dubai — 1miliarsantri.net : Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al-Saud menegaskan negaranya tidak akan menormalisasi hubungan dengan Israel jika isu Palestina tidak terselesaikan. “Itulah satu-satunya cara kita mendapat manfaat (dari normalisasi hubungan). Jadi, ya, karena kita memerlukan stabilitas dan stabilitas hanya bisa dicapai melalui penyelesaian masalah Palestina,” ungkap Faisal kepada media, Senin (22/1/2024). Pekan lalu, Faisal berbicara dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Dia mengatakan bahwa Israel tidak dapat menikmati perdamaian tanpa pembentukan negara Palestina. Faisal juga menekankan perlunya gencatan senjata di Jalur Gaza. Sebelum perang Israel di Gaza yang dimulai pada 7 Oktober tahun lalu, Arab Saudi sedang dalam proses perundingan untuk menormalisasi hubungan dengan Israel. Negosiasi itu dimediasi oleh Amerika Serikat. Namun, para analis yakin perang tersebut telah menyebabkan penundaan pembicaraan antara kedua pihak. Israel melancarkan serangan mematikan di Jalur Gaza menyusul serangan lintas batas oleh kelompok pejuang Hamas Palestina. Serangan zionis Israel membunuh sedikitnya 25.105 warga Palestina dan melukai 62.681 orang lainnya, sementara hampir 1.200 warga Israel diyakini tewas dalam serangan Hamas. PBB mengatakan serangan Israel juga menyebabkan 85 persen penduduk Gaza mengungsi, di tengah kekurangan makanan, air bersih dan obat-obatan. Sebanyak 60 persen infrastruktur di wilayah kantong tersebut telah rusak atau hancur. (dul/AP) Baca juga :

Read More

Warga Gaza Bergantung Hidup dan Matinya Hanya Kepada Allah

Gaza — 1miliarsantri.net : Di puncak pembantaian di Jalur Gaza, tiba-tiba terdengar suara adzan dari masjid yang hancur seperti suara kehidupan yang berasal dari lorong-lorong kematian, untuk dijawab oleh seorang nenek tua dari para pejalan kaki dengan suara keras, “Allahu Akbar, dan Allah lebih besar darimu, wahai Israel.” Orang-orang berjalan dengan terheran-heran melihat malapetaka yang melanda wilayah Al-Rimal di tengah kota Gaza. Mereka berupaya memahami geografi baru dari Al-Rimal setelah penarikan pasukan teroris Israel beberapa hari yang lalu. Mereka menemukan Al-Rimal dalam keadaan yang sangat berbeda. Penduduk wilayah ini bingung dengan pintu masuk gang dan keluar jalan yang dihalangi. Mereka berjalan di sana dengan langkah-langkah seperti anak kecil yang tersesat mencoba memahami hal-hal di sekitar untuk pertama kalinya. Ini adalah Gaza seperti yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, atau lebih tepatnya, ini bukan Gaza lagi. Untuk pertama kalinya, kerusakan terlihat menakutkan dan meluas, tidak meninggalkan sesuatu pun. Berdiri di mana saja dan lihatlah bagaimana Israel mengancurkan kabel listrik, komunikasi, dan internet, kemudian merobohkan pohon di jalan, merusak jalan-jalan beraspal, merusak saluran pembuangan. Pasukan teroris Israel lalu berjalan dengan tank melewati mobil yang diparkir di depan rumah, membakar gedung-gedung dan menara satu per satu. Setiap rudal jatuh di satu titik, tank langsung mengikuti. Orang bertanya-tanya, apakah ini perang melawan pejuang Palestina? Sebaliknya, ini adalah perang balas dendam terhadap kehidupan, infrastruktur, dan manusia. Wilayah Al-Rimal menjadi sasaran utama dari serangan teroris Israel, dan deskripsi ukuran kerusakan di sana tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ini dikenal sebelumnya sebagai “Jantung Gaza,” salah satu lingkungan paling mewah di kota itu, dan tujuan bagi penduduk Gaza selama liburan akhir pekan, tempat berkumpulnya markas perusahaan besar, pusat perbelanjaan, restoran terbaik, barang-barang terbaik, dan pasar. Di atas puing-reruntuhan rumahnya yang hancur yang ditembaki oleh pesawat pengeboman Israel, kemudian dihancurkan saat invasi darat, Mohammad Al-Jarousha mendirikan tenda dan menaruh apa yang tersisa dari pembantaian penghancuran. “Dia menantang Israel yang bermaksud mengusir warga Palestina dan memaksa mereka meninggalkan rumah mereka,” terang Al-Jarousha, Ahad (21/1/2024). Anak perempuan Al-Jarousha, Sherine, merespons pertanyaan tentang bagaimana mereka mengatasi hujan dan angin di tenda ini, dengan mengatakan, “Yahudi tidak bisa menilai kami, angin perlu dihargai?” Dia memuji ayahnya yang “mahir dalam memperbaiki dan mengakali tenda ini, yang dia lihat sebagai tempat paling hangat di dunia selama keluarganya baik-baik saja.” Keadaan Al-Jarousha, seperti banyak warga Gaza yang memeluk pepatah “Jika mereka meruntuhkan rumah kami, kami akan membangun tenda di atas puing-puing dan tidak akan bergerak,” sebagai keyakinan, dan mereka menjalankannya sebagai kenyataan, bukan slogan. Di seberang tenda Al-Jarousha, ada sisa rumah yang terbakar untuk keluarga Abu Sharar, yang pemiliknya memperbaiki ruangan yang tersisa darinya, dan kembali dengan keluarganya tanpa memedulikan cuaca dingin atau keadaan yang sulit. “Pembakaran rumah” menjadi sangat mencolok di daerah yang ditinggalkan oleh mesin penghancur Israel, sebagian besar rumah tempat tentara tinggal selama beberapa jam, mereka bakar untuk menyembunyikan jejak mereka terlebih dahulu, sesuai dengan kebijakan penghancuran yang satu-satunya tujuannya berhasil dicapai oleh Israel di sini. Amira Arafat, warga Gaza yang tinggal di dekat Mesjid Palestine, Al-Rimal. Deskripsi pemandangan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, gambar hinaan di dinding rumah dan tulisan Ibrani di atas perabotan, pengrusakan dan pemeriksaan pada semua tas dan rak, seolah-olah invasi oleh pasukan bayaran atau mafia. “Jumlah kotoran yang ditinggalkan di rumah tidak pernah saya perkirakan, tetapi meskipun mereka merusaknya, kami akan membangunnya kembali, dan jika mereka mengotorinya, kami akan membersihkannya, dan pilihan untuk meninggalkannya tidak mungkin sama sekali,” ungkap Amira. Dia menemukan sejumlah peluru dan kabel yang ditarik untuk menyalakan api di rumah, “tapi mereka (tentara Israel) hancur oleh salah satu pejuang.” Di sisi lain, seorang wanita berusia 50-an yang terlihat elegan berdiri di depan rumahnya yang telah terbakar penuh, berkata dengan suara gemetar, “Rumah kami dan rumah anak-anak kami dan mobil kami tidak ada yang tersisa untuk kami, kemana kita akan pergi? Apa yang mereka lakukan kepada kami!” Orang di sekelilingnya menjawab, “Semoga Allah memberikan ganti rugi yang lebih baik kepada Anda, ya hajj, yang penting adalah keselamatan.” Beberapa langkah ke depan, seorang nenek tua denganpunggung bungkuk menopang kedua tangannya yang saling terkait berdiri di depan reruntuhan rumah kerabatnya, dan berbisik dengan kata-kata yang tidak dimengerti, tampaknya dia berbicara kepada seseorang “16 syuhada di bawah reruntuhan selama 35 hari kami tidak dapat mengangkatnya,” dia menjawab tatapan orang-orang yang menuduhnya gila. Pedagang bergegas setelah penarikan pasukan pendudukan untuk memeriksa toko-toko mereka, beberapa dari mereka mengeluarkan barang dagangan yang selamat, sementara yang lain mencoba memperbaiki pintu toko yang dicabut karena tekanan serangan dan peluru artileri. “Kaos ini hanya 3 syikal,” teriak seorang pedagang pakaian elegan, setelah mengeluarkan barang dagangannya yang berdebu di pintu toko yang dulu mewah sebelum dihancurkan oleh invasi Israel, dan menempatkannya di atas tikar di depan orang banyak untuk dijual dengan harga kurang dari satu dolar. Dia melakukannya karena terpaksa mencari nafkah untuk anak-anaknya setelah absen dari pekerjaan selama lebih dari 50 hari, kata dia kepada kerumunan di sekitarnya. Di sisi lain, seorang pedagang lain tetap duduk di kursi di depan reruntuhan tokonya, tidak mengangkat pandangannya darinya, seolah-olah dia kembali melalui waktu ke hari di mana perdagangannya ini adalah kenyataan bukan mimpi yang hilang hari ini setelah Israel mengubahnya menjadi tumpukan abu dengan sekali mata. “Semoga Allah membantu mereka, uang setara dengan jiwa,” komentar orang-orang di sekitar pedagang ini. Pemandangan para pejalan kaki yang mengenakan “masker pandemi” kembali terlihat sangat biasa, di mana puing-puing berserakan dan mayat-mayat tergeletak di tanah yang dipenuhi aroma kematian, meskipun salah satu dari mereka memberi tahu saya tentang mayat “yang tergeletak di jalan selama lebih dari dua minggu, dan belum membusuk. Ini adalah salah satu kemuliaan para syuhada yang disampaikan oleh Rasul Muhammad,” katanya. Di jalan-jalan lingkungan ini, setelah melewati mayat, kita menemukan tumpukan sampah di tepi jalan yang mengeluarkan aroma yang memberitahu Anda bahwa usianya mencapai 100 hari atau lebih. Rasa ngeri menusuk Anda saat berjalan di tengah kehancuran ini, mungkin karena penularan keputusasaan yang terpancar dari wajah-wajah orang-orang, seolah-olah bom depresi telah melanda semua orang yang berjalan di sini. Mereka menatap satu sama lain, seolah-olah mereka menanyakan rahasia keselamatan, dan mereka bergumam dengan malu-malu, “Alhamdulillah atas keselamatan,” dan…

Read More

Serangkaian Serangan Zionis Israel Mengakibatkan Kesulitan Mencari Warga Tertimpa Reruntuhan

Gaza — 1miliarsantri.net : Pasukan pendudukan Israel melakukan 16 pembantaian selama 24 jam terhadap keluarga-keluarga sipil di Jalur Gaza. Serangan-serangan itu mengakibatkan syahidnya 163 orang dan 350 luka-luka. Kantor berita WAFA melaporkan, hingga hari Sabtu (20/1/2024), sejumlah jenazah masih hilang di bawah reruntuhan dan di jalan. Sementara itu, kru ambulans serta pertahanan sipil tidak dapat menjangkau mereka. Sejumlah warga Palestina syahid sementara puluhan lainnya terluka menyusul serangan udara Israel yang menargetkan wilayah al-Tawam dan sekitar Rumah Sakit Kamal Adwan di Jalur Gaza utara. Lebih dari 100 warga Palestina itu syahid pada Rabu dan Kamis malam, menyusul serangan udara Israel yang sedang berlangsung yang menargetkan beberapa wilayah di Jalur Gaza hingga Sabtu malam. Sumber lain mengatakan bahwa kru pertahanan sipil dan ambulans mengambil jenazah sedikitnya 25 orang dan puluhan orang yang terluka setelah serangan udara Israel yang menargetkan beberapa rumah di lingkungan Daraj di Kota Gaza. Mereka juga menemukan tujuh jenazah setelah kendaraan pendudukan mundur dari sekitar Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis, selatan Jalur Gaza. Kelompok zionis Israel mengebom sebuah rumah milik keluarga Al-Namrouti, mengakibatkan terbunuhnya empat warga Palestina. Serangan udara Israel lainnya menargetkan rumah keluarga Safi, yang menyebabkan kematian tragis tiga orang lainnya. Selain itu, sejumlah warga terluka akibat pemboman Israel terhadap rumah milik keluarga Hamdan dan Muhaisen. Artileri pendudukan menargetkan lingkungan al-Manara, Batn al-Sameen, dan bagian tengah dan selatan Khan Yunis. Daerah sebelah timur kamp Jabalia juga dibom oleh kekuatan militer Israel. Angkatan Udara Israel selanjutnya melakukan serangan udara intensif yang menargetkan kompleks Ansar dan pelabuhan sebelah barat Kota Gaza. Sumber-sumber medis memperingatkan akan adanya komplikasi kesehatan serius yang dihadapi pasien kronis, karena 350 ribu pasien kronis tidak mendapatkan pengobatan di Jalur Gaza. Sejumlah besar orang masih hilang di bawah reruntuhan dan di jalan, dan kru ambulans serta pertahanan sipil tidak dapat menjangkau mereka. Selama enam hari berturut-turut, pemadaman total layanan komunikasi dan Internet di Jalur Gaza terus berlanjut akibat agresi Israel yang sedang berlangsung. Ini setidaknya ketujuh kalinya komunikasi terputus sepenuhnya dari Jalur Gaza sejak dimulainya agresi pada 7 Oktober. Jaringan dan menara transmisi rusak akibat kehancuran besar-besaran akibat agresi terhadap infrastruktur, dan kekurangan bahan bakar akibat pengepungan. Hal ini menyebabkan seringnya pemadaman, tekanan pada jaringan, dan lemahnya transmisi di berbagai bagian sektor. Berdasarkan perhitungan Kementerian Kesehatan di Gaza, agresi Israel yang berlangsung di Gaza sejak 7 Oktober telah mengakibatkan sedikitnya 24.285 korban jiwa, lebih dari 70 persen di antaranya adalah perempuan dan anak-anak, dan 61.154 orang terluka. (zul) Baca juga :

Read More

Bentrok antara Polisi dengan Massa Menentang Pembakaran Al Qur’an di Belanda

Amhem — 1miliarsantri.net : Bentrokan terjadi antara polisi dan kelompok yang menentang pembakaran Al-Quran di Belanda. Kelompok massa berdemonstrasi menentang pembakaran Al-Quran yang dilakukan pemimpin gerakan Patriotik Eropa Melawan Islamisasi Barat (PEGIDA), Edwin Wagensveld, dan telah mendapat izin dari pemerintah kota di Arnhem. Kelompok tersebut berusaha melakukan intervensi, sehingga demonstrasi terhenti. Tiga orang ditangkap karena ketidakpatuhan dan tiga petugas menderita luka ringan. Sementara, pimpinan PEGIDA tersebut ditempatkan di bawah perlindungan polisi. Walikota Arnhem asal Maroko, Ahmed Marcouch, mengatakan pembakaran kitab suci tidak dilarang di Belanda. Marcouch mencatat bahwa meskipun tindakan seperti itu dapat dimengerti karena berdampak pada orang lain, penggunaan kekerasan tidak dapat diterima. Di Belanda, walikota berwenang untuk melarang demonstrasi jika mereka mengantisipasi gangguan ketertiban umum. Anggota dewan dari Partai Denk di Arnhem, Yildirim Usta, mengkritik pernyataan Marcouch yang mengizinkan serangan Quran PEGIDA. Usta mengkritik pengawasan terhadap serangan PEGIDA Quran, dan menyebutnya sebagai kejahatan rasial denergan kedok kebebasan berpendapat. Dia juga menyatakan ketidakpuasannya terhadap penanganan polisi terhadap pengunjuk rasa Muslim dan mengumumkan rencana untuk mengambil inisiatif di dewan kota untuk mengambil tindakan yang lebih kuat melawan kejahatan rasial. Dalam rencana pembakaran kitab suci agama Islam itu, polisi akan turun tangan karena sesuai dengan tata tertib dan keselamatan umum, dilarang membakar di tempat umum. Sebelumnya, Wagensveld tercatat telah melakukan penistaan terhadap Al-Qur’an pada tahun 2022 dan 2023. Wagensveld merobek Alquran di bawah perlindungan polisi di depan gedung sementara parlemen Belanda di Den Haag pada 22 Januari 2023, dan sendirian dalam demonstrasi di Utrecht pada 13 Februari. Demikian pula dengan rencana pembakaran Alquran yang dilakukan PEGIDA di Rotterdam pada 22 Oktober 2022, berakhir sebelum dimulai dengan penangkapan Wagensveld. Kelompok Muslim berkumpul di lokasi yang direncanakan di Rotterdam, meskipun PEGIDA mengumumkan pembakaran tersebut, dan mengorganisir demonstrasi tandingan karena pertunjukan tersebut tidak dilarang. Setelah ditahan dan dibebaskan pada hari yang sama, Wagensveld keesokan harinya mencoba melakukan tindakan serupa di Den Haag namun kembali ditangkap polisi karena tidak mematuhi aturan demonstrasi. (ris/AP) Baca juga :

Read More

Republik Chechnya Siap Bangun Apartemen Untuk Warga Palestina

Chechnya — 1miliarsantri.net : Pemimpin Republik Chechnya, Ramzan Kaydrov mengatakan mulai membangun apartemen untuk warga Palestina yang mengungsi dari Gaza. Hal tersebut diungkap saat mengumumkan peresmian peletakan batu pertama di area pembangunan blok apartemen. Area tersebut akan dibangun lima blok apartemen yang masing-masing terdiri dari 35 apartemen. “Apartemen tersebut dibangun dekat dengan sekolah dan taman kanak-kanak. Dengan senang hati, saya mengucapkan selamat kepada para pemukim yang akan segera menerima rumah [baru],” tulis Kadyrov di Telegram, seperti dilansir dari RT, Jumat (19/1/2024). Dia menegaskan akan terus memberikan bantuan dan dukungan secara komprehensif pada warga Palestina, salah satu nya yakni proyek pembangunan apartemen yang didanai lewat badan amal regional. Setiap keluarga akan diberikan 100.000 rubel atau sekitar Rp17,6 juta. Pejabat Chechnya mengatakan, sekitar 130 juta rubel atau Rp22,9 miliar telah dialokasikan untuk bantuan kemanusiaan kepada warga dan pemukiman pengungsi Gaza. Sejauh ini, Chechnya telah menampung lebih dari 200 warga Palestina yang mengungsi imbas perang antara Hamas dan Israel. Sementara Rusia sudah menerima 1.158 pengungsi dari Gaza sejak konflik pecah pada 7 Oktober. (lik) Baca juga :

Read More

Memasuki 100 hari Serangan Genosida, Israel Tak Mengindahkan Seruan Penghentian Perang

Gaza — 1miliarsantri.net : Serangan Genosida yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza telah memasuki hari ke 100. Dorongan untuk dilakukan gencatan senjata dan penghentian serangan terus dilakukan meski belum membuahkan hasil. Zionis Israel tak mengindahkan semua seruan penghentian perang ini. Dengan membabi buta, pasukan zionis tetap pada pendirian mereka menyerang rakyat di Gaza dengan dalih menumpas kelompok Hamas. Namun banyak hal telah terjadi dalam 100 hari Perang Israel dan Hamas di Jalur Gaza ini. Langkah Afrika Selatan (Afsel) menyeret Israel ke sidang Mahkamah Internasional (ICJ) membuat kagum banyak pihak. Persidangan dugaan genosida Israel di Gaza, digelar selama dua hari di ICJ. Di hari pertama persidangan, Afsel, selaku penggugat, memaparkan bukti-bukti terkait adanya intensi dan tindakan genosida yang dilakukan Israel di Gaza. Pengacara yang mewakili Afsel, Adila Hassim, mengatakan kepada panel hakim ICJ bahwa Israel telah melanggar Pasal II Konvensi Genosida. Hal itu mencakup “pembunuhan massal” terhadap warga Palestina di Gaza. Meski begitu, namun langkah Afsel ini tak digubris oleh Israel. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan tidak ada hal yang bisa menghentikan negaranya untuk menumpas habis Hamas di Jalur Gaza, termasuk keputusan ICJ. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan, agresi Israel ke Jalur Gaza yang sudah berlangsung selama 100 hari telah menyebabkan pengungsian terbesar rakyat Palestina sejak peristiwa Nakba di tahun 1948. UNRWA mencatat dari 2,3 juta penduduk Gaza, 1,9 juta di antaranya telah mengungsi dan tinggal di kamp-kamp pengungsian. Sangat jauh dari angka pengungsian saat peristiwa Nakba, saat itu 760 ribu warga Palestina melakukan eksodus selama perang. Perang yang terjadi antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza nyatanya kini semakin meluas. Di Laut Merah, kelompok Houthi Yaman mengklaim ikut membantu Palestina dengan menyerang kapal-kapal Israel. Namun kini tak hanya kapal Israel yang menjadi sasaran Houthi, kapal kargo milik AS dan Inggris pun menjadi objek serangan. Hal tersebut membuat AS dan Inggris akhirnya melancarkan serangan ke Yaman dengan dalih ingin membuat Houthi menghentikan serangannya di Laut Merah. Di perbatasan Lebanon ketegangan meningkat di sepanjang perbatasan Lebanon dengan Israel sejak tentara negara Zionis itu melancarkan serangan militer mematikan di Jalur Gaza menyusul serangan Hamas pada 7 Oktober. Baku tembak lintas batas baru-baru ini terjadi antara HIzbullah dan pasukan Israel, yang merupakan bentrokan paling mematikan sejak kedua pihak terlibat perang skala penuh pada 2006. Salah satu upaya yang dilakukan masyarakat di seluruh dunia untuk membantu Palestina adalah dengan melakukan aksi boikot sejumlah produk yang terafiliasi dengan Israel. Dan aksi tersebut nyatanya berdampak cukup besar pada merek-merek tersebut. Starbuck misalnya, aksi boikot dalam satu tahun terakhir menyebabkan perusahaan mengalami penurunan nilai pasar sebesar hampir 11 miliar dolar AS pada akhir 2023. Begitu juga dengan waralaba McDonalds terutama untuk gerai gerai di wilayah Timur Tengah. Begitu juga dengan merek-merek lain yang masuk dalam daftar boikot BDS, ikut merasakan dampak nyata. Di dalam negeri tak heran jika kemudian merek-merek yang masuk dalam daftar boikot berusaha “membersihkan nama” dengan ramai-ramai menyalurkan bantuan untuk Palestina. Terbaru, Israel menjanjikan rakyat Palestina akan menjadi pemimpin dan bisa membentuk pemerintahaan sendiri di Jalur Gaza usai perang. Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant meyakinkan publik bahwa Jalur Gaza akan dikontrol dan diperintah oleh rakyat Palestina ketika perang dengan Hamas berakhir. Namun dia mengatakan, nantinya pasukan Israel akan tetap memiliki kebebasan beroperasi di wilayah tersebut. Perang di Jalur Gaza belum berakhir, namun rakyat Palestina di sana terus melakukan perlawanan. Meski Israel menyatakan sedikit lagi akan memenangkan pertempuran di Gaza, namun fakta di lapangan justru pasukan Israel terus mengalami kerugian baik dari sisi peralatan maupun personel. Dukungan terhadap Palestina juga masih terus mengalir deras dari berbagai penjuru dunia, termasuk di dalam negeri. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan Indonesia akan memberikan masukan di Mahkamah Internasional terkait konflik Palestina-Israel pada 19 Februari nanti. Indonesia merupakan salah satu negara anggota PBB yang diundang ICJ untuk memberikan pandangan hukum soal genosida yang dilakukan Israel di Gaza. Retno mengatakan tindakan tak sah yang dilakukan Israel harus dihentikan. Hadirnya Indonesia di Mahkamah Internasional ini diharapkan akan menjadi langkah diplomasi kuat dalam mendukung upaya perjuangan Palestina. Jangan berhenti membela Palestina, sampai Palestina merdeka. (zul) Baca juga :

Read More

Israel Lakukan Serangan Udara Intensif ke Selatan Lebanon

Beirut — 1miliarsantri.net : Sumber keamanan Lebanon dan militer Israel mengatakan Israel menggelar serangkaian serangan udara intensif ke lembah di selatan Lebanon. Israel jarang mengungkapkan operasi pasukan khususnya di perbatasan. Pada Selasa (16/1/2024) sumber keamanan Lebanon mengatakan terjadi 16 serangan udara berturut-turut di Lembah Suluki. Sumber menggambarkannya sebagai “pengeboman terpadat dalam satu lokasi” sejak baku tembak di perbatasan dimulai tiga bulan yang lalu. Hizbullah yang didukung Iran melakukan baku tembak lintas batas di selatan Lebanon dengan pasukan Israel sebagai dukungan pada Hamas di Jalur Gaza. Hamas menggelar serangan mendadak ke Israel pada 7 Oktober lalu. Serangan balasan Israel sudah menewaskan lebih dari 24 ribu orang di Gaza. Militer Israel mengatakan mereka menggelar “serangan udara dan artileri” terhadap infrastruktur dan lokasi Hizbullah di Lembah Suluki “dalam waktu singkat.” Sumber keamanan Lebanon tidak mengkonfirmasi apakah target-target Hizbullah yang ditembak tapi mereka mengatakan kelompok bersenjata itu menggunakan Lembah Suluki untuk meluncurkan roket ke Israel. Stasiun radio Israel, Kan melaporkan, apa yang mereka gambarkan sebagai serangan skala besar angkatan udara dan artileri Israel pada lusinan target ke lembah tersebut. Sebelumnya Hizbullah mengatakan mereka meluncurkan roket-roket ke pasukan Israel di seberang perbatasan. Militer Israel mengatakan pasukan khususnya menggelar serangan ke area Ayta al-Shaab di selatan Lebanon “untuk menghilangkan ancaman” dan pesawat-pesawat tempurnya juga menyerang peluncur rudal anti-tank Hizbullah di daerah tersebut. Militer Israel hanya mengakui operasi itu digelar pasukan khusus. Mereka tidak mengungkapkan tepat lokasinya atau ancaman seperti apa yang hendak dihilangkan. (ssk)

Read More

Tim Medis di Gaza Terus Berjuang Menolong Korban Luka Akibat Genosida

Gaza — 1miliarsantri.net : Hampir aetiap hari puluhan korban luka dievakuasi ke Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir Al-Balah, Jalur Gaza tengah. Petugas medis di sana tetap berusaha memberikan perawatan dan pertolongan pertama meski mengalami krisis obat-obatan, krisis peralatan, ruang perawatan, hingga kekurangan tim medis. Dokter Khaled Abu Awamer mengatakan, persediaan medis di rumah sakit hampir habis. Selain itu, banyak petugas medis sudah mengungsi karena dipaksa oleh teroris Israel. Di tengah keterbatasan itu, Abu Awamer sering menghadapi kasus-kasus yang tidak bisa ditangani lantaran tidak ada persediaan obat-obatan. Tidak ada yang bisa dilakukan dalam kondisi itu, selain memberikan perawatan seadanya. Sejak 7 Oktober 2023, militer teroris Israel telah melancarkan perang genosida yang menghancurkan di Gaza. Hal itu menyebabkan lebih dari 23 ribu syahid dan 60 ribu lebih korban luka. Genosida itu juga merusak infrastruktur secara besar-besaran dan menciptakan bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. PBB telah memperingatkan tentang runtuhnya sistem kesehatan akibat kesulitan yang dihadapi oleh rumah sakit di Jalur Gaza, serta kondisi pengeboman yang dihadapi oleh tim medis di bawah pemadaman listrik, kekurangan pasokan air, dan kekurangan persediaan medis. Sementara Abu Awamer berbicara, puluhan tim penyelamat tanpa henti mengevakuasi korban ke rumah sakit. Sementara, petugas medis menyiapkan perban untuk memberikan pertolongan pertama. Abu Awamer mengatakan, sekitar rumah sakit telah diserang baru-baru ini, dan merusak ambulans. Palestine Red Crescent Society mengatakan, tentara teroris Israel menargetkan salah satu ambulans mereka di Deir al-Balah. Hal itu menyebabkan kematian empat tenaga medis dan melukai dua lainnya. Di salah satu tempat tidur, seorang pasien terbaring dengan masker ventilator buatan di wajah dan darah terus mengalir dan terkumpul di lantai. Di tempat lain, seorang pria terluka duduk di lantai sementara air bercampur darah mengalir dari ruangan sebelah. Sementara itu terdapat seorang dokter Inggris James Smith menjadi bagian dari misi sukarelawan Medical Aid for Palestinians yang berbasis di Inggris. Misi itu telah bekerja di Rumah Sakit Al-Aqsa sejak akhir Desember lalu, hingga dia terpaksa meninggalkan tempat tersebut akhir pekan lalu, karena pembantaian yang terus-menerus. Smith mengatakan, pasien di rumah sakit mengalami cedera paling serius yang pernah dia lihat. “Setiap hari kita menyaksikan korban luka terus berdatangan tanpa berhenti dan RS Al-Aqsa adalah satu-satunya rumah sakit yang beroperasi di wilayah tersebut,” terangnya. Dia menambahkan, ratusan orang tiba setiap hari, sebagian besar dari mereka mengalami luka fisik, tetapi banyak dari mereka dalam keadaan stres berat. Beberapa bahkan tidak dapat mengendalikan tangisan dan napas terganggu oleh keadaan emosi yang tidak stabil. Dokter dan perawat bekerja dalam shift sepanjang waktu, merawat pasien di lantai karena kekurangan tempat tidur. Seorang petugas medis mungkin bekerja untuk menyelamatkan satu pasien, sementara yang lain meninggal di ruangan yang sama. Dia menggambarkan kondisi seorang gadis berusia 11 atau 12 tahun yang datang satu hari setelah pengeboman, wajahnya dan sebagian besar bagian atas tubuhnya terbakar parah, sehingga merusak wajahnya. Lengannya menyusut sehingga tangannya menunjuk ke langit. Hidup tidak akan dituliskan untuk gadis itu. “Selain dari bahaya cedera akibat pengeboman, kekurangan makanan, air bersih, listrik, dan pengungsian massal penduduk Gaza ke tenda-tenda juga berdampak pada kesehatan,” pungkas James. (zul) Baca juga :

Read More