Israel Lancarkan Serangan ke Lebanon

Tell Aviv — 1miliarsantri.net : Israel melancarkan serangan baru ke Beirut selatan pada Kamis dini hari, beberapa jam setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan presiden terpilih AS Donald Trump membahas tentang “ancaman Iran.” Perdana Menteri Israel menjadi salah satu pemimpin dunia pertama yang mengucapkan selamat kepada Trump, menyebut kemenangannya sebagai “comeback terbesar dalam sejarah.” Melalui telepon pada hari Rabu, keduanya “sepakat untuk bekerja sama demi keamanan Israel” dan “membahas ancaman Iran,” demikian pernyataan dari kantor Netanyahu. Tak lama setelah itu, militer Israel melancarkan serangan terbarunya ke basis utama Hizbullah yang didukung Iran di Beirut selatan, dengan footage media menunjukkan kilatan oranye dan kepulan asap di atas kawasan padat penduduk tersebut. Tentara Israel sebelumnya telah mengeluarkan perintah evakuasi, meminta warga meninggalkan empat lingkungan, termasuk satu yang dekat dengan bandara internasional. Di Lebanon timur, kementerian kesehatan negara itu menyatakan serangan Israel pada hari Rabu menewaskan 40 orang, dengan tim penyelamat menyisir puing-puing mencari korban selamat. “Rangkaian serangan musuh Israel di Lembah Bekaa dan Baalbek” menewaskan “40 orang dan melukai 53 orang,” kata kementerian dalam pernyataannya. Hizbullah telah menegaskan hasil pemilihan AS tidak akan berpengaruh pada perang, yang meningkat pada September ketika militer Israel memperluas fokusnya dari Gaza ke pengamanan perbatasan utaranya dengan Lebanon. Dalam pidato televisi yang direkam sebelum kemenangan Trump namun disiarkan setelahnya, pemimpin baru Hizbullah Naim Qassem mengatakan: “Kami memiliki puluhan ribu pejuang perlawanan terlatih” yang siap bertempur. “Yang akan menghentikan perang ini adalah medan pertempuran,” katanya. Qassem, yang menjadi sekretaris jenderal Hizbullah pekan lalu, memperingatkan bahwa tidak ada tempat di Israel yang akan “bebas dari serangan.” Hizbullah mengumumkan pada hari Rabu mereka memiliki rudal Fatah 110 buatan Iran, senjata dengan jangkauan 300 kilometer yang oleh pakar militer Riad Kahwaji disebut sebagai “yang paling akurat” milik kelompok tersebut. Kelompok tersebut mengklaim serangkaian serangan ke Israel pada hari Rabu, termasuk dua yang menargetkan pangkalan angkatan laut dekat kota Haifa Israel dan dua dekat pusat bisnis Tel Aviv. Hizbullah memulai kampanye lintas perbatasan intensitas rendahnya tahun lalu untuk mendukung sekutu Hamas setelah serangan militan Palestina 7 Oktober ke Israel. Israel meningkatkan serangan udaranya ke benteng Hizbullah di Lebanon selatan, Beirut dan Lembah Bekaa timur sejak 23 September, mengirim pasukan darat seminggu kemudian. Lebih dari setahun pertempuran di Lebanon telah menewaskan setidaknya 3.050 orang, kata kementerian kesehatan pada hari Rabu. Upaya mengakhiri konflik di Gaza dan Lebanon tetangga sejauh ini berulang kali gagal. Sementara pemerintahan Presiden AS Joe Biden menekan Netanyahu untuk menyetujui gencatan senjata, Washington tetap memberikan dukungan politik dan militer kepada Israel. Banyak yang melihat kembalinya Trump ke Gedung Putih sebagai kemungkinan berkah bagi Israel.

Read More

Hamas Berhasil Bobol Data Pribadi Ribuan Tentara Israel

Tell Aviv — 1miliarsantri.net : Surat kabar “Haaretz” beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa Hamas memiliki data rinci lebih dari 2.000 tentara Israel, yang mengindikasikan bahwa perlawanan Palestina membocorkan data mereka untuk “membalaskan dendam para pembunuh anak-anak Gaza”. Keberhasilan jihad siber Perlawanan Islam Hamas telah membongkar data pribadi ribuan tentara Israel. Menurut surat kabar tersebut, Hamas telah membuat file terperinci untuk sejumlah besar tentara Israel, termasuk nama lengkap tentara, pangkalan atau unit kerjanya, nomor ID, nomor ponsel, alamat email, akun media sosial, nama anggota keluarganya, dan terkadang kata sandi, nomor plat mobil, nomor kartu kredit, dan informasi rekening bank. Surat kabar Israel tersebut mencontohkan beberapa tentara seperti “Y” yang bekerja sebagai teknisi utama di skuadron pesawat tempur, “Z” yang menduduki peran penting dalam sistem pertahanan udara Israel, “S” yang memiliki akses terhadap teknologi canggih, dan “K” pilot di angkatan udara, dan mengatakan bahwa kesamaan di antara mereka adalah bahwa nama-nama mereka termasuk di antara daftar intelijen yang terperinci yang disiapkan oleh Hamas. Berkas-berkas tentang para tentara itu panjangnya berkisar dari beberapa halaman hingga lebih dari 200 halaman, dan telah beredar di dunia maya selama beberapa bulan, diterbitkan ulang dan dibagikan oleh sekelompok jurnalis investigasi internasional yang dipimpin oleh Paper Trail Media yang bekerja sama dengan Die Zeit dan ZDF di Jerman, Der Standard di Austria, dan Haaretz di Israel. Laporan-laporan tentang tentara Israel itu disusun melalui kombinasi informasi yang bocor atau diambil dari peretasan yang kemungkinan besar menyasar situs web non-IDF, serta informasi yang dikumpulkan dari jejaring sosial, basis data publik, dan bocoran-bocoran sebelumnya. Menurut surat kabar Israel, file-file ini dibuat dengan menggunakan alat otomatis yang dikenal sebagai Profiler, yang mampu mengumpulkan, menganalisis, dan memadukan informasi dari sumber-sumber terbuka untuk membuat profil terperinci dari target intelijen.

Read More

Liga Arab Desak PBB Hentikan Serangan Israel ke Palestina

Gaza — 1miliarsantri.net : Liga Arab pada Sabtu (2/11/2024) mendesak Dewan Keamanan PBB dan komunitas internasional untuk mengambil tanggung jawab mereka dan menekan Israel menghentikan serangannya terhadap rakyat Palestina. Mereka juga meminta jaminan bantuan kemanusiaan yang dibutuhkan warga Gaza. Dalam pernyataan memperingati 107 tahun Deklarasi Balfour, Liga Arab mendesak Inggris dan negara-negara yang belum mengakui negara Palestina untuk mengambil langkah mendukung perdamaian sesuai solusi dua negara. Liga Arab menekankan bahwa satu-satunya cara mencapai perdamaian yang adil, menyeluruh dan berkelanjutan adalah dengan mengakhiri pendudukan Israel atas semua wilayah Palestina dan Arab yang diduduki sejak 1967. Tujuannya untuk mendirikan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya sesuai resolusi internasional dan Inisiatif Perdamaian Arab. “Deklarasi Balfour terus menjadi luka mendalam dalam nurani kemanusiaan akibat Nakba yang dialami rakyat Palestina dan perampasan hak-hak mereka yang sah. Ini termasuk pelanggaran pendudukan Israel, permukiman ilegal, penghancuran mata pencaharian rakyat Palestina, dan penodaan tempat suci mereka,” kata pernyataan Liga Arab. Liga Arab menegaskan bahwa kejahatan dan pelanggaran Israel mencerminkan ketidakmampuan komunitas internasional memenuhi kewajibannya melindungi rakyat Palestina. Israel harus mematuhi prinsip hukum internasional dan resolusi terkait untuk mengakhiri pendudukan, sehingga rakyat Palestina bisa menentukan nasib sendiri di negara merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibukota.

Read More

Jepang Segera Akui Palestina sebagai Negara Merdeka

Gaza — 1miliarsantri.net : Dalam perkembangan terbaru, Yoichi Nakashima selaku Duta Besar Jepang untuk Urusan Palestina mengungkapkan bahwa negaranya sedang mempertimbangkan untuk mengakui Palestina secara resmi sebagai negara merdeka. Langkah ini diambil demi mewujudkan perdamaian dan stabilitas di kawasan Asia Barat. “Masyarakat internasional yakin bahwa solusi terbaik adalah keberadaan dua negara, yaitu Palestina dan Israel,” tutur Nakashima dalam wawancara program “With the Editor-in-Chief” yang disiarkan di TV Palestina, Jumat lalu. Dia menegaskan bahwa tindakan sepihak Israel selama ini justru menghambat terbentuknya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. Nakashima menjelaskan hubungan Palestina-Jepang sudah terjalin sejak lama dan terus berkembang. Dia mengakui rakyat Palestina hidup dalam kondisi yang sangat sulit, sehingga mendapat perhatian khusus dari komunitas internasional dan negara-negara donor. Menurut Nakashima, Israel sengaja menyasar organisasi internasional, terutama UNRWA (Badan PBB untuk Pengungsi Palestina) beserta stafnya dengan dalih yang dibuat-buat demi mencapai tujuan politik tertentu. Sebagai salah satu donor terbesar UNRWA, Jepang berkomitmen penuh mendukung kegiatan badan PBB tersebut dalam membantu rakyat Palestina. Terkait keputusan Mahkamah Internasional (ICJ) untuk membawa resolusi pengakhiran pendudukan Israel ke Majelis Umum PBB, Tokyo menyatakan dukungannya dan menghormati semua keputusan lembaga internasional serta prinsip-prinsip hukum internasional. Nakashima juga menyoroti kejahatan Israel terhadap tahanan Palestina yang melanggar semua piagam dan resolusi internasional. Dia menegaskan Jepang terus memantau kondisi para tahanan dan mendukung ICJ sebagai badan hukum yang keputusannya harus dipatuhi semua pihak. “Kami mendukung Palestina agar dana yang ditahan Israel segera dikembalikan sehingga mereka bisa memberikan layanan kepada warganya dan mencapai stabilitas keuangan,” kata Nakashima.

Read More

Israel tak pernah menjadi negara aman seperti yang dijanjikan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dalam artikelnya yang dipublikasikan Aljazeera, berjudul Ardh al-Wada’ wa al-‘Alamat as-Sab’u Li Zawali Israel, Nahad Zaky, menjelaskan menuliskan analisis tentang eksistensi Israel yang semakin terancam Dia menulis bahwa pada 2003, ketika Israel berada di tengah-tengah upayanya untuk memadamkan Intifada Al-Aqsa, ketika mereka mengepung Presiden Palestina saat itu, Yasser Arafat, di dalam markas besar kepresidenan di Ramallah, dan beberapa bulan sebelum melaksanakan beberapa operasi terkejam yang menargetkan faksi-faksi perlawanan Palestina, Abraham Burg, yang menjabat selama empat tahun sebagai Pembicara Knesset Israel, menulis, “Ada kemungkinan besar bahwa generasi kita akan menjadi generasi Zionis terakhir.” Burg percaya bahwa proyek kolonial Zionis yang dimulai pada abad ke-19 akan segera berakhir dan tidak memiliki tempat di abad ke-21. Lebih dari 20 tahun kemudian, spekulasi yang sama digaungkan oleh sejarawan anti-Zionis Israel, Ilan Pappé, ketika dia menyatakan pada awal agresi Israel terhadap Jalur Gaza pada Oktober 2023 dalam sebuah wawancara dengan podcast Al-Maqdisi Street: “Israel bukan hanya sebuah negara, melainkan sebuah proyek kolonial pemukim, dan saat ini kita sedang menyaksikan awal dari akhir proyek ini.” Pappé mengakui bahwa akhir dari proyek ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Awal dari akhir Zionisme adalah era yang panjang dan berbahaya yang mungkin berlangsung selama beberapa dekade, tetapi dia menganggapnya sebagai takdir yang tak terelakkan yang harus kita persiapkan saat ini. Dalam konteks ini, Pappé membuat daftar beberapa indikator yang ia anggap sebagai pendahulu keruntuhan Zionisme. Indikator-indikator ini telah dibahas oleh banyak sejarawan dan pemikir selama beberapa dekade terakhir, terutama oleh Dr Abdelwahab El-Messiri, dan dalam laporan ini kami akan membuat daftar 7 indikator yang disebutkan oleh Pappé, El-Messiri, dan sejarawan serta pemikir lain yang tertarik dengan proyek gerakan Zionisme: Pertama, perang saudara Israel Pada bulan-bulan menjelang perang Gaza, ratusan ribu pemukim Israel turun ke jalan dalam demonstrasi besar-besaran menentang pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam apa yang pada saat itu dikenal sebagai ‘krisis amandemen yudisial’. Pada saat itu, pemerintah Netanyahu mengupayakan beberapa amandemen konstitusional yang akan membatasi kekuasaan lembaga peradilan demi kepentingan cabang eksekutif. Untuk memahami tingkat keparahan perubahan ini, pertama-tama kita harus memahami konteks yang melatarbelakanginya. Menurut banyak analis dan pakar, pemerintahan sayap kanan Netanyahu adalah salah satu pemerintahan paling ekstremis dalam sejarah Israel. Pemerintahan ini muncul di saat “partai-partai Zionis” di dalam Israel lebih terpecah belah daripada sebelumnya, seiring dengan berkecamuknya konflik antara Zionisme sekuler dan Zionisme religius, yang oleh Pappé dilihat sebagai elemen penting yang akan menulis garis akhir proyek Zionis. Dia menunjukkan bahwa persatuan yang tampak dari masyarakat Israel akan mulai hancur dengan berakhirnya perang Israel di Gaza, dan konflik agama-sekuler di Israel akan segera berkobar lagi, terutama dengan munculnya partai-partai sayap kanan. Pada 2015, sejarawan Israel Ilan Pappé dan akademisi Amerika Serikat Noam Chomsky menerbitkan sebuah buku bersama, On Palestine, di mana mereka menganalisis rezim apartheid di Afrika Selatan dan rezim apartheid di Palestina, serta mendiskusikan kedua kasus tersebut sebagai model perlawanan terhadap imperialisme. Dalam bab keempat buku “Masa Depan Negara Israel”, Chomsky mencatat bahwa sepuluh tahun terakhir di dalam Israel telah menyaksikan perubahan politik yang besar, di mana mentalitas Israel telah condong ke arah nasionalis kanan ekstrem, sebuah situasi yang digambarkan oleh pemikir Amerika itu mirip dengan hari-hari terakhir rezim apartheid di Afrika Selatan. Pada November 2022, tujuh tahun setelah penerbitan buku ini, hasil pemilihan umum Israel mengkonfirmasi visi ini, setelah “koalisi sayap kanan” yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu meraih kemenangan telak, memenangkan 64 dari 120 kursi Knesset, yang mengembalikan Netanyahu ke tampuk kekuasaan 18 bulan setelah ia meninggalkannya. Penulis dan jurnalis Israel, Nahum Brennai, mengomentari hasil pemilu ini dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Yediot Aharonot, dengan mengatakan bahwa pemilu ini merupakan awal dari berakhirnya era Zionisme sekuler, sementara mantan direktur Pusat Studi Strategis Gavi di Tel Aviv, Yossi Alpher, menulis sebuah artikel yang diterbitkan oleh gerakan “Perdamaian Sekarang” Israel yang menganjurkan solusi dua negara, dengan mengutip visi masa depan Israel yang suram yang diprediksi cendekiawan dan filsuf Israel Yeshayahu Leibowitz. Leibowitz meramalkan masa depan Israel setelah perang 1967, ketika dia mengatakan bahwa euforia ekstrem yang terjadi setelah Perang Enam Hari akan mengubah Negara Israel dari model kebanggaan nasionalisme yang sedang naik daun menjadi semacam nasionalisme religius yang ekstrem, yang pada gilirannya akan mengarah pada lebih banyak kekerasan, yang pada akhirnya akan mengarah pada akhir dari proyek Zionis. Kedua, Israel telah gagal menjadi negara yang stabil dan aman Negara Zionis didirikan atas dasar keyakinan bahwa orang Yahudi hanya dapat merasa aman dalam satu negara yang pemerintahan dan hukumnya mereka kendalikan. Keamanan adalah tujuan utama yang menjadi dasar gagasan Zionis dalam bukunya “The State of the Jews” pada 1896, yang kemudian mengumumkan berdirinya negara Israel pada 1948. Meskipun demikian, Israel belum mampu menjaga keamanan orang-orang Yahudi di dalam wilayahnya karena beberapa alasan, yang paling penting adalah bahwa Israel terus mengikuti logika kekerasan dan pemukiman yang sama seperti yang telah dilakukannya lebih dari 75 tahun yang lalu. Berlanjutnya sistem apartheid terhadap orang-orang Palestina, pendudukan tanah mereka, penghancuran rumah-rumah mereka dan dehumanisasi, di samping peperangan tentara penjajah melawan Mesir, Yordania, Suriah dan Lebanon, dan akhirnya kegagalan yang sangat memalukan dalam Operasi Banjir Al-Aqsa, semua ini mengakibatkan kegagalan Israel menjadi stabil dan aman, yang merupakan salah satu indikator terpenting dari awal runtuhnya proyek Zionisme, menurut para pengamat. Selain itu, Israel telah gagal menjadi negara bagi semua orang Yahudi dari seluruh dunia, seperti yang diinginkan oleh proyek Zionis sejak awal. Meskipun pemandangan dominan sepanjang abad ke-19 dan ke-20 diwakili oleh gelombang imigrasi Yahudi ke Palestina, kita menemukan bahwa abad ke-21 menyaksikan gelombang migrasi terbalik dari wilayah pendudukan ke Amerika Serikat dan Eropa. Jumlah pemukim yang meninggalkan Israel melebihi 750 ribu orang pada akhir 2020, dan mencapai 900 ribu orang pada akhir 2022. Sejak 7 Oktober 2023, gelombang emigrasi dari Israel telah meningkat secara signifikan, dengan hampir 470 ribu warga Israel beremigrasi sejak peluncuran Operasi Badai Al-Aqsa, menurut laporan Otoritas Kependudukan dan Imigrasi Israel. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak sumber mengindikasikan bahwa orang-orang Yahudi Barat yang saat ini tinggal di Amerika Serikat dan Eropa lebih bahagia daripada orang-orang Yahudi yang tinggal di wilayah pendudukan di Palestina, yang tercermin dalam generasi baru Yahudi,…

Read More

Iran Tegaskan tak Ragu Hancurkan Israel dengan Rudal Canggihnya

Teheran — 1miliarsantri.net ” Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Al Mayadeen, Kepala Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri Iran Kamal Kharrazi, mengartikulasikan sikap Iran terhadap ketegangan regional, menekankan kesiapan negara itu untuk menanggapi setiap eskalasi sambil mengungkapkan keinginan untuk menghindari perang lebih lanjut. Dikutip dari Kantor Berita Mehr, Ahad (3/11/2024), dia menyoroti kemampuan militer Iran dan potensi perubahan kebijakan nuklirnya dalam menanggapi “ancaman eksistensial” yang dirasakan, membingkai diskusi dalam konteks yang lebih luas tentang sikap geopolitik Iran dan komitmennya terhadap kedaulatan nasional. Dalam konteks ini, Kharrazi menekankan bahwa Iran telah memamerkan kemampuan penangkalannya melalui Operasi Janji Sejati II, di mana Iran meluncurkan ratusan rudal balistik ke Israel, dan mencatat bahwa untuk saat ini, hal itu tergantung pada Zionis, jika mereka memilih untuk melanjutkan tindakan permusuhan mereka, Iran akan merespons dengan tepat. Menanggapi pertanyaan tentang kemungkinan perubahan doktrin nuklir Iran, Kharrazi mengindikasikan bahwa perubahan semacam itu mungkin saja terjadi, terutama jika Iran menghadapi “ancaman eksistensial”. Dia menegaskan bahwa Iran memiliki kemampuan teknis untuk memproduksi senjata nuklir dan tidak menemui hambatan yang berarti dalam hal ini. Namun, dia menekankan bahwa Fatwa yang dikeluarkan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei menjadi satu-satunya kendala yang menghalangi Iran untuk mengembangkan persenjataan nuklir. Pejabat Iran tersebut juga menyebutkan bahwa perubahan kebijakan akan berlaku untuk proyektil. Kharrazi mencatat bahwa kemampuan rudal Iran sudah sangat terkenal, yang telah ditunjukkan dalam berbagai operasi. Dia menyatakan bahwa fokus saat ini adalah pada jarak tempuh rudal yang digunakan sejauh ini, di mana mereka [Iran] telah mempertimbangkan kekhawatiran negara-negara Barat. Namun, Kharrazi menyatakan bahwa jika negara-negara Barat tidak mengakui kekhawatiran Iran, terutama mengenai kedaulatan dan integritas teritorialnya, Iran akan mengabaikan kekhawatiran negara-negara Barat. Oleh karena itu, ada kemungkinan Iran akan mengembangkan dan memperluas jangkauan rudalnya. Kharrazi berbicara tentang perang yang “tidak seimbang” di wilayah tersebut, mengatakan kepada Al Mayadeen bahwa perang tersebut “dipimpin oleh Israel, yang melakukan pembersihan etnis dan pemusnahan orang-orang,” dan memerangi mereka yang mempertahankan hidup, eksistensi, dan tanah mereka. Dia menyatakan harapannya bahwa perang akan segera berakhir, dan menegaskan bahwa Israel terlibat dalam “pembersihan etnis yang mengerikan” sementara secara keliru meyakini bahwa mereka telah mencapai kemenangan. Kharrazi menekankan bahwa tindakan semacam itu tidak dapat dianggap sebagai kemenangan yang sebenarnya, melainkan sebagai pelanggaran besar terhadap hak asasi manusia. Dia juga menyoroti tindakan Israel baru-baru ini dalam memblokir Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) untuk mengirimkan pasokan penting, dengan menyatakan bahwa badan tersebut “ingin memberikan air dan makanan kepada orang-orang Gaza yang terkepung, tetapi mereka telah dihalangi untuk melakukannya.” Dia menekankan bahwa langkah ini merupakan “puncak dari nilai-nilai anti-kemanusiaan.”

Read More

UNRWA Jadi Tulang Punggung Pengungsi Palestina di Gaza dan Tepi Barat

Gaza — 1miliarsantri.net : Parlemen Israel alias Knesset baru saja menggolkan undang-undang pelarangan operasional badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) melalui rapat pada Senin malam. Bagaimana nantinya dampak pelarangan tersebut? UNRWA adalah badan pengungsi utama bagi warga Palestina dan beroperasi di Timur Tengah. Awalnya didirikan pada tahun 1948 untuk mendukung 700.000 warga Palestina yang terusir dari kampung halaman mereka oleh tentara Zionis. Selama berpuluh tahun, UNRWA menyediakan layanan pendidikan, layanan kesehatan, bantuan dan layanan sosial, infrastruktur kamp serta menjalankan tempat penampungan selama periode konflik. Operasinya tersebar di Tepi Barat yang diduduki, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza. UNRWA juga mengurusi pengungsi Palestina di Suriah, Lebanon, dan Yordania. UNRWA sebagian besar didanai oleh kontribusi sukarela dari negara-negara anggota PBB, dan juga menerima sejumlah dana langsung dari PBB. Dengan mempekerjakan 30.000 warga Palestina, organisasi ini melayani hampir 6 juta pengungsi, termasuk di Gaza di mana 1.476.706 warga Palestina terdaftar sebagai pengungsi di delapan kamp pengungsian. Sementara di Tepi Barat 800.000 terdaftar sebagai pengungsi. Selama agresi brutal Israel di Gaza saat ini, hampir seluruh penduduk Gaza bergantung pada UNRWA untuk kebutuhan dasar, termasuk makanan, air dan perlengkapan kebersihan. Lebih dari 200 staf Unrwa gugur akibat serangan Israel selama perang yang berlangsung selama setahun tersebut. Pada Senin(28/10/2024), 92 anggota parlemen Israel menyetujui tindakan yang melarang kegiatan UNRWA di Israel, sementara hanya 10 orang yang memilih menentang tindakan tersebut. RUU kedua memutuskan hubungan diplomatik dengan badan tersebut. Israel telah lama mengeluhkan, UNRWA sudah ketinggalan zaman dan menuding bahwa dukungannya yang terus menerus terhadap keturunan Palestina yang awalnya mengungsi pada tahun 1948 merupakan hambatan bagi penyelesaian perdamaian. Faktanya, adalah tindakan Israel seperti keengganannya menerima secara penuh dasar negara Palestina, dan melanjutkan aktivitas pemukiman ilegal di tanah yang diperuntukkan bagi negara Palestina – merupakan hambatan paling signifikan bagi perdamaian. Selama agresi ke Gaza, Israel juga berulang kali mengklaim bahwa Unrwa telah mempekerjakan militan dari Hamas. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di masa lalu telah meminta AS – sekutu utama Israel dan donor terbesar bagi badan tersebut – untuk mengurangi dukungannya, dengan mengatakan bahwa badan tersebut “disusupi oleh Hamas”. Tamara Alrifai, direktur hubungan eksternal dan komunikasi di UNRWA, mengatakan jika undang-undang Knesset diterapkan, kemungkinan besar undang-undang tersebut akan menghalangi UNRWA untuk bekerja di bagian mana pun di wilayah pendudukan Palestina.

Read More

Pesan Keras Ayatollah Khamenei untuk Israel

Teheran — 1miliarsantri.net : Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Seyyed Ali Khamenei telah mengisyaratkan bahwa Iran akan menanggapi serangan Israel yang dilakukan pada Sabtu (26/10/2024) dengan memberi tahu para pejabat militer negara itu untuk membuat Israel menyadari kekuatan dan tekad Iran melalui tanggapan yang mereka anggap tepat. “Mereka (Israel) perlu memahami kekuatan, tekad, dan inovasi bangsa Iran dan kaum mudanya,” katanya dalam pertemuan Ahad dengan keluarga personel militer Iran yang gugur seperti dilansir tehrantimes. Dia menambahkan, bagaimana menyampaikan kekuatan dan tekad bangsa Iran ini kepada rezim Zionis adalah tugas para pejabat kami untuk menentukan, dan apa yang menjadi kepentingan terbaik bangsa dan negara harus dilakukan. Khamenei lebih lanjut menekankan bahwa tindakan jahat Israel tidak boleh dibesar-besarkan atau diremehkan. Jet tempur Israel menembakkan rudal balistik jarak jauh ke radar pertahanan Iran dari wilayah udara Irak pada Sabtu dini hari. Serangan tersebut sebagian besar berhasil ditangkis dan jet tempur rezim tersebut dicegah memasuki wilayah udara Iran, empat personel militer yang bertugas di Angkatan Darat negara tersebut tewas dalam serangan udara tersebut. Seorang warga sipil juga dinyatakan mati syahid pada Ahad. Berpidato pada Ahad, Ayatollah Khamenei juga mengutuk kekejaman mengerikan yang dilakukan oleh rezim Zionis di Gaza, dengan menyoroti mati syahidnya sepuluh ribu anak-anak dan lebih dari sepuluh ribu wanita sebagai lambang kejahatan perang yang paling mengerikan. “Perang beroperasi dalam kerangka aturan, hukum, dan batasan. Batasan-batasan ini tidak dapat diabaikan begitu saja selama perang. Namun, geng kriminal yang menguasai wilayah yang diduduki telah menginjak-injak semua batas dan aturan,” katanya.

Read More

Israel Bom Posko Pengungsi di Beit Lahiya, 20 Anak Tewas

Gaza — 1miliarsantri.net : Pasukan Penjajah Israel telah melancarkan serangkaian serangan udara di jalur Gaza, termasuk pengeboman dahsyat di kota utara Beit Lahia, yang mengakibatkan banyak korban tewas dan luka-luka. Setidaknya 77 jenazah telah ditemukan pada Selasa dari sebuah bangunan tempat tinggal berlantai lima milik keluarga Abu Nasr, tempat sekitar 100 warga Palestina yang mengungsi berlindung. Di antara korban, terdapat 20 anak-anak, dan masih banyak lagi yang diyakini terjebak di bawah reruntuhan, menurut Aljazirah. Dr. Hussam Abu Safiya, direktur Rumah Sakit Kamal Adwan, melaporkan bahwa penembakan hebat terus berlanjut di sekitar rumah sakit tersebut. Sementara itu, staf medis berjuang untuk merawat yang terluka di tengah kekurangan pasokan penting yang berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah korban tewas. Di tempat lain, tujuh warga Palestina, termasuk seorang anak, tewas dalam serangan udara di dekat kamp Nuseirat di Gaza tengah. Selain itu, pengeboman artileri di kamp Bureij menewaskan lebih banyak warga Palestina, termasuk seorang anak. Di Gaza selatan, tiga orang tewas, dan beberapa lainnya cedera dalam serangan udara di daerah Khirbet al-Adas di utara Rafah. Sementara itu, para korban dibawa ke Kompleks Medis Nasser di Khan Yunis. Aljazirah juga telah mengonfirmasi bahwa pasukan Israel menargetkan Sekolah Al-Fakhoura yang dikelola UNRWA di Jabalia, yang membakar sekolah dan permukiman di sekitarnya. Pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia pada isu kontra-terorisme, Ben Saul, pada Senin (28/10/2024) mengecam tindakan militer Israel di Gaza dan menyerukan kepada semua negara untuk menghentikan pasokan senjata kepada Israel, dengan alasan pelanggaran hukum humaniter. Berbicara dalam konferensi pers di New York, Saul menyoroti pola serangan yang disengaja, sembarangan, dan tidak proporsional yang merugikan banyak warga sipil oleh Israel. Saul menggambarkan penggunaan amunisi dengan daya ledak tinggi di area padat penduduk, yang secara alami tidak dapat membedakan antara warga sipil dan target militer, serta penggunaan kelaparan dan penolakan bantuan sebagai “senjata perang.” Menggarisbawahi kekhawatiran atas tindakan Israel yang melanggar norma-norma internasional, Saul kembali menyerukan semua negara untuk tidak menyediakan senjata atau amunisi kepada Israel, karena itu akan melanggar kewajiban negara lain dalam memastikan penghormatan terhadap hukum humaniter. Ia juga menyatakan kekecewaannya terhadap Israel yang mengabaikan seruan berulang dari badan internasional untuk menghormati hukum humaniter. “Sayangnya, Israel tidak menanggapi pesan dari Dewan Keamanan, Mahkamah Internasional, jaksa Pengadilan Kriminal Internasional, banyak pemerintah, Majelis Umum, dan Dewan Hak Asasi Manusia,” paparnya.

Read More

Hamas Akan Terus Menyerang Israel Sampai Menggapai Kemenangan

Gaza — 1miliarsantri.net : Gerakan Palestina Hamas tidak dapat dihancurkan dan yakin bahwa mereka pada akhirnya akan menang, kata Basem Naim, anggota senior biro politik Hamas, beberapa waktu lalu. “Hamas adalah gerakan pembebasan yang dipimpin oleh orang-orang yang ingin kemerdekaan dan martabat, dan ini tidak dapat dihancurkan,” katanya dalam pernyataan yang dikutip oleh Press TV. Pernyataan Naim disampaikan setelah Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan pada Kamis (17/10/2024) bahwa mereka telah membunuh pemimpin Hamas, Yahya Sinwar. “Sangat menyakitkan dan menyedihkan kehilangan orang-orang yang dicintai, terutama para pemimpin luar biasa kami, tetapi yang kami yakini bahwa ini adalah nasib semua orang yang berjuang untuk kemerdekaan mereka,” kata Naim. Naim juga menambahkan gerakan tersebut percaya bahwa takdir mereka adalah “kemenangan atau mati syahid.” Pasukan Israel telah membunuh lebih dari 1.000 warga Palestina di Gaza utara selama hampir tiga pekan terakhir, kata Juru Bicara Pertahanan Sipil Palestina Mahmoud Bassal. Pengeboman Israel juga memaksa separuh jumlah penduduk di wilayah itu melarikan diri, sedangkan penduduk lainnya terjebak di sana tanpa pasokan air atau makanan. Lewat video di media sosial pada Ahad (27/10), Bassal mengatakan bahwa serangan Israel masih terus berlanjut. “Lebih dari 100.000 warga Palestina di daerah Jabalia, Beit Hanoun, dan Beit Lahia menderita akibat pengepungan dan pengeboman Israel, sementara separuh populasi lainnya yang berjumlah sekitar 200.000 jiwa, terpaksa mengungsi ke Kota Gaza, provinsi terdekat di utara,” kata Bassal.

Read More