Idul Fitri 1447 H: Arab Saudi dan Negara-Negara Teluk Serentak Rayakan Lebaran Hari Ini

Makkah – 1miliarsantri.net: Arab Saudi bersama Negara-Negara Teluk seperti UEA, Qatar, Kuwait, dan Bahrain merayakan Idul Fitri 1447 H hari ini, Jumat 20 Maret 2026, setelah hilal tidak terlihat dan Ramadan digenapkan 30 hari. Pemerintah Arab Saudi menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Keputusan ini diambil oleh Mahkamah Agung Arab Saudi berdasarkan hasil rukyatul hilal. Karena hilal tidak terlihat, bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari. Pelaksanaan Sholat Ied di Kota Makkah disiarkan secara langsung dan dapat disaksikan di berbagai belahan dunia melalui Makkah Live. Pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjidil Haram berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan kemegahan. Sejak dini hari, jutaan umat Islam dari berbagai negara telah memadati area dalam masjid hingga ke pelataran luar. Gema takbir menggema di seluruh penjuru Mekkah, menambah suasana haru dan kebersamaan di hari kemenangan. Sholat Ied tahun 2026 diperkirakan diikuti lebih dari tiga jutaan jamaah, Mengingat Kapasitas Masjidil Haram setelah perluasan bisa mencapai hingga ±3 juta orang dalam kondisi penuh, (termasuk area dalam dan pelataran). Jumlah tersebut bisa bertambah dengan puncak musim umrah Ramadan dan hadirnya jamaah umrah dari berbagai negara. Dalam khutbah Idul Fitri, imam Masjidil Haram menyampaikan pesan penting: “Bertakwalah kepada Allah dan jagalah persatuan umat Islam.” Khutbah juga menekankan pentingnya menjaga amal setelah Ramadan serta mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah perbedaan, dan juga mendoakan umat Islam di Gaza Palestina.*** Penulis dan Editor : Thamrin Humris Sumber : Berbagai Sumber Foto : Tangkapan layar Makah Live.Net

Read More

Trumph Meradang Karena Sekutunya Tak Satu Suara Lawan Iran, Tanda Kekalahan Amerika Serikat Atas Iran?

MIDDLE EAST – 1 miliarsantri.net: Serangan balasan Iran bukan sekadar simbolis. Rudal dan drone dilaporkan menghantam berbagai instalasi militer Amerika di kawasan Teluk—menciptakan dentuman yang tak hanya merobek langit malam, tetapi juga mengguncang dominasi lama Washington di wilayah panas tersebut. Alih-alih mendapat bantuan dari negara sekutunya, Amerika justru dibiarkan pusing menghadapi gelombang serangan balasan Iran yang menghancurkan berbagai fasilitas militernya di Qatar, Bahrain, hingga Uni Emirat Arab. Di tengah kekacauan itu, zionis Israel dilaporkan dalam kondisi porak-poranda setelah puluhan rudal dan drone kamikaze Iran menghantam Tel Aviv dan wilayah lainnya—menyisakan kepanikan dan puing-puing yang belum sempat dibersihkan. Tanda-tanda kekalahan Amerika mulai terasa nyata dan mengerikan. Serangan Iran tak hanya merusak pangkalan militer AS di Teluk, tetapi juga membuka fakta pahit: sekutu-sekutu utama memilih diam, menolak terlibat dalam konflik yang semakin tak terkendali. Sementara itu, Selat Hormuz—urat nadi energi dunia—mulai lumpuh, menciptakan efek domino yang mengguncang ekonomi global dan menebar ketakutan di pasar internasional. Di sisi lain, China dan Rusia berdiri di bayang-bayang konflik. Mereka tidak bergerak secara frontal, namun sikap diam yang condong kepada Iran menjadi sinyal kuat bahwa peta kekuatan dunia sedang bergeser secara perlahan namun pasti. Di media sosial, beredar luas meme yang menggambarkan kondisi Donald Trump saat ini—terlihat kebingungan di tengah tekanan yang kian menghimpit, namun tetap berusaha tegar mencari dukungan dari sekutu yang justru menjauh. Di balik layar, tekanan politik dan militer semakin menyesakkan. Sementara itu, Iran dengan tegas menyatakan tidak ada ruang untuk negosiasi gencatan senjata. Pesan itu menggema keras: konflik ini belum akan berakhir—justru bisa memasuki babak yang lebih gelap. Memasuki minggu ketiga perang yang ia pilih sendiri untuk dilancarkan, Presiden Trump kini berdiri di persimpangan berbahaya. Ia dihadapkan pada pilihan yang tak kalah mengerikan: tetap bertahan dalam pertempuran demi ambisi besar yang telah ia canangkan, atau menarik diri dari pusaran konflik yang kian meluas dan brutal—konflik yang telah menciptakan gelombang kejut militer, diplomatik, dan ekonomi yang mengguncang dunia. Di tengah dentuman rudal dan sunyinya dukungan sekutu, satu pertanyaan besar mulai menggantung di udara: apakah ini awal dari runtuhnya dominasi Amerika di Timur Tengah? Penulis dan Editor : Thamrin Humris Foto : kolase @PalestinaPost

Read More

Badai Pasir Dahsyat Melanda Gaza, Penderitaan Pengungsi Kian Memburuk

Gaza, Palestina — 1miliarsantri.net: Badai pasir dahsyat menyapu wilayah Jalur Gaza pada Sabtu (14/3/2026), memperparah kondisi kemanusiaan yang sudah sangat memprihatinkan di tengah konflik berkepanjangan. Angin kencang disertai debu tebal menerjang berbagai wilayah, merusak tenda-tenda pengungsi dan mempersulit kehidupan ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal. Laporan dari sejumlah sumber lokal Palestina menyebutkan bahwa badai pasir tersebut melanda hampir seluruh wilayah Gaza sejak pagi hari. Debu pekat dan angin kencang menyapu kamp-kamp pengungsi, membuat banyak tenda darurat beterbangan dan rusak. Kondisi ini memperburuk penderitaan para keluarga yang sudah hidup dalam keterbatasan di tempat-tempat penampungan sementara. Tenda Pengungsi Rusak Diterjang Angin Banyak pengungsi di kamp-kamp darurat terpaksa menghadapi badai tanpa perlindungan memadai. Tenda yang digunakan sebagian besar merupakan tempat tinggal sementara yang rapuh dan tidak dirancang untuk menghadapi cuaca ekstrem seperti badai pasir. Akibatnya, angin yang membawa debu tebal dengan mudah menerobos celah-celah tenda, menimbulkan kerusakan pada tempat tinggal darurat serta mencemari makanan dan peralatan rumah tangga warga. Beberapa saksi mata melaporkan bahwa angin kencang membuat langit Gaza berubah menjadi kelabu karena debu yang berputar di udara. Banyak keluarga harus berjuang melindungi anak-anak mereka dari terpaan angin dan pasir yang masuk ke dalam tenda. Ancaman Kesehatan Meningkat Selain merusak tempat tinggal, badai pasir juga menimbulkan risiko kesehatan yang serius bagi warga Gaza. Debu halus yang terbawa angin dapat memicu gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.Para petugas kesehatan memperingatkan bahwa kondisi ini dapat memperburuk penyakit seperti asma dan infeksi saluran pernapasan. Apalagi, fasilitas medis di Gaza saat ini berada dalam kondisi terbatas akibat konflik dan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan. Krisis Kemanusiaan Kian Berat Badai pasir ini datang di saat yang sangat sulit bagi masyarakat Gaza. Jutaan warga Palestina telah mengungsi akibat konflik yang terus berlangsung, dan banyak di antaranya tinggal di kamp-kamp darurat dengan fasilitas yang minim.Angin berdebu yang menerjang kamp-kamp pengungsi disebut semakin menambah penderitaan puluhan ribu keluarga yang sudah hidup dalam kondisi serba kekurangan.*** Penulis dan Editor : Thamrin Humris Foto istimewa : Tangkapan layar YouTube QudsNPS

Read More

Ramadhan 2003 dan Ramadhan 2026: Amerika Rusak Ketenangan Ramadhan dengan Menyerang Irak dan Iran, Ayatollah Khamenei Syahid

Ramadhan 2003 dan Ramadhan 2026: Amerika Rusak Jakarta — 1miliarsantri.net: Ramadhan 2026 kembali dinodai oleh tindakan provokatif Amerika Serikat dengan menyerang Negeri Para Mullah “Iran” pada Sabtu 28/2/2026, yang menyebabkan syahidnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Seyed Ali Khamenei beserta beberapa keluarganya. Bulan Ramadhan dikenal sebagai momen spiritual, puasa, dan refleksi bagi umat Islam di seluruh dunia. Namun sejarah modern mencatat dua periode mengejutkan ketika konflik militer besar melibatkan Amerika Serikat dan negara-negara Muslim saat Ramadhan berlangsung: Invasi Irak 2003 dan serangan terhadap Iran pada Ramadhan 2026. Kedua peristiwa ini memicu kontroversi global dan penderitaan, terutama ketika kekerasan terjadi di tengah bulan suci. Berikut ulasan komprehensif tentang serangan militer Amerika Serikat terhadap Irak pada Ramadhan 2003 dan serangan bersama AS–Israel terhadap Iran pada Ramadhan 2026, serta dampaknya terhadap kaum Muslim, dan reaksi internasional dan kontroversinya. Invasi Amerika Serikat ke Irak (2003) di Bulan Ramadhan Masih membekas dalam ingatan kaum muslim di Irak dan dunia, pada 19 Maret 2003, Amerika Serikat memimpin koalisi untuk menyerang Irak dalam operasi yang dikenal sebagai Operation Iraqi Freedom atau Invasi Irak 2003. Invasi ini dilatarbelakangi oleh klaim pemerintah AS tentang adanya senjata pemusnah massal (WMD) di bawah rezim Saddam Hussein — klaim yang kemudian tidak terbukti. Konflik ini berlanjut selama bertahun-tahun, menyebabkan jatuhnya pemerintahan Saddam, kekosongan kekuasaan, munculnya pemberontakan sektarian, dan dampak kemanusiaan yang besar. Banyak pihak mengkritik invasi tersebut karena tanpa mandat jelas dari Dewan Keamanan PBB dan karena terjadi saat Ramadhan, menambah kerapuhan sosial dan tragedi bagi warga Irak yang menjalankan ibadah puasa. Invasi militer ini menjadi awal dari periode ketidakstabilan panjang di Irak, dengan ribuan warga sipil tewas serta menghancurkan banyak infrastruktur, dan masih diperdebatkan sampai hari ini. Serangan pada Ramadhan 2026 memicu kecaman internasional, termasuk reaksi keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyebut agresi sebagai ancaman eskalasi besar di Timur Tengah, serta tekanan diplomatik agar kembali ke jalur negosiasi. Rusia dan beberapa negara kritis terhadap tindakan AS–Israel, menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional dan agresi terhadap negara berdaulat. Kedutaan Iran bahkan membandingkan serangan tersebut dengan pengalaman Irak dan menunjukkan bahwa narasi “membantu rakyat” yang dipakai untuk membenarkan intervensi sering kali berujung pada penderitaan dan kerusakan bagi masyarakat sipil. Dampak terhadap Umat Islam di Timur Tengah Kedua peristiwa ini — serangan ke Irak (2003) dan serangan bersama ke Iran (2026) — terjadi pada bulan suci Ramadhan, ketika umat Islam secara tradisional berharap damai dan keteraturan sosial. Banyak jamaah dan publik internasional melihat aksi militer tersebut sebagai “penghancuran ketenangan Ramadhan”, memperdalam trauma kolektif dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Bagi warga Muslim di Irak dan Iran, Ramadhan yang seharusnya menjadi waktu ibadah dan kedekatan spiritual berubah menjadi suasana konflik, kehilangan anggota keluarga, kerusakan harta benda, dan ketidakpastian masa depan. Duka Cita dari Ulama Irak dan Dunia Syiah di Baghdad Di ibukota Irak, tokoh-tokoh Syiah serta aliansi ulama setempat berkumpul untuk menyampaikan duka cita besar. Sebagaimana dilaporkan untuk wilayah Baghdad, sejumlah pemimpin dan kelompok Syiah menyatakan: “…dengan kesedihan dan duka yang mendalam, kami berkabung atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei… darahnya akan tetap menjadi sumber inspirasi bagi semua generasi dan kutukan bagi para Zionis pembunuh selamanya.” Beberapa ulama di Irak bahkan menetapkan periode tiga hari berkabung nasional sebagai bentuk penghormatan atas peran Khamenei dalam perjuangan politik dan keagamaan mereka. Amerika Tidak Menghormati Bulan Suci Ramadhan Serangan militer di bulan Ramadhan memang sering menimbulkan sensitivitas besar, karena Ramadhan adalah bulan suci bagi umat Islam yang identik dengan ibadah, kedamaian, dan solidaritas. Peristiwa invasi Irak 2003 dan serangan terhadap Iran pada Ramadhan 2026 adalah pengingat pahit bahwa konflik modern tidak menghormati waktu sakral dan sering kali membawa akibat jangka panjang bagi rakyat Irak dan Iran. Kedua peristiwa sama-sama terjadi di bulan suci, sehingga dianggap sebagai “penghancuran ketenangan Ramadhan.” Serangan yang dilakukan Amerika Serikat pada Sabtu, 28/2/2026 telah menyebabkan sekitar 200 orang tewas termasuk anak-anak di sebuah sekolah di Minab.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Toto Budiman Foto : Tangkapan layar ArabNews dari khamenei.ir

Read More

Gaza di Ambang Krisis: Gencatan Senjata Tertekan Saat Hamas Tolak Pernyataan ‘Pemusnahan’ Israel

Gaza, Palestina — 1miliarsantri.net: Gencatan senjata di Gaza menghadapi tekanan serius setelah Hamas menolak pernyataan pejabat Israel yang dianggap mengancam, mengguncang upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan dan menghancurkan di wilayah itu. Kantor berita Safa News Agency melaporkan bahwa gencatan senjata yang rapuh di Gaza kini berada di bawah tekanan besar setelah gerakan perlawanan Palestina, Hamas, mengecam keras pernyataan pejabat senior Israel yang dianggap sebagai ancaman terhadap keberlangsungan gencatan senjata tersebut. Hamas Anggap Pernyataan zionis Israel Provokatif Dalam pernyataannya, juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyatakan bahwa komentar dari pejabat Israel — khususnya yang menyebutkan tujuan untuk “membongkar atau memusnahkan” Hamas — merupakan provokasi langsung terhadap proses damai yang sedang berlangsung Hamas menilai bahwa retorika semacam itu tidak hanya merusak diplomasi, tetapi juga mengabaikan komitmen terhadap perjanjian yang ada. Pernyataan tersebut dianggap bertentangan dengan semangat gencatan senjata, yang telah dimulai sebagai upaya untuk mengurangi permusuhan di tengah pertempuran yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil dan menghancurkan wilayah tersebut. Hamas menegaskan bahwa ancaman seperti itu memperburuk kondisi rakyat Palestina yang sudah menderita akibat konflik berkepanjangan. Reaksi Internasional dan Krisis Kemanusiaan yang Meningkat Pernyataan Hamas datang bersamaan dengan kritik kelompok negara internasional terhadap tindakan Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat. Sekelompok sekitar 20 negara menyerukan sanksi nyata, bukan sekadar kecaman verbal, terhadap tindakan yang dinilai semakin memperburuk situasi kemanusiaan. Situasi kemanusiaan di Gaza tetap mengerikan — dengan jumlah korban sipil yang sangat tinggi dan kebutuhan mendesak akan bantuan medis, makanan, dan shelter — sementara akses bantuan kemanusiaan masih sering terhambat. Berbagai organisasi internasional terus mendesak pihak konflik untuk memastikan akses bantuan bagi warga sipil yang terjebak di tengah kekerasan. Kondisi Gencatan Senjata yang Rapuh Gencatan senjata yang awalnya membawa jeda bagi pertempuran kini menghadapi tantangan besar. Hamas tidak hanya menolak pernyataan yang dianggap mengancam eksistensi gerakannya, tetapi juga menekankan bahwa setiap perjanjian masa depan harus mencakup komitmen nyata untuk mengakhiri perang dan menarik pasukan dari Gaza. Sementara itu, pihak Israel bersikeras bahwa gencatan senjata hanya akan efektif jika keamanan mereka dan kembalinya sandera dijamin. Polisi militer Israel juga menegaskan bahwa mereka akan melanjutkan operasi militer jika syarat-syarat mereka tidak dipenuhi — sebuah dinamika yang memperumit prospek perdamaian jangka panjang. Perdamaian Masih Jauh Krisis di Gaza tetap menjadi salah satu konflik paling kompleks dan berdarah di dunia saat ini. Penolakan Hamas terhadap pernyataan yang dianggap mengancam dan tekanan diplomatik dari berbagai pihak internasional menunjukkan bahwa gencatan senjata saat ini masih rapuh dan rawan runtuh. Sementara warga sipil terus menderita, kunci untuk tahan lama hanyalah melalui jalur diplomasi yang menghormati hak asasi manusia serta perjanjian damai yang nyata dan adil bagi semua pihak.** Penulis : Thamrin Humris Editor : Toto Budiman Foto istimewa

Read More

Kabar Palestina: Kecaman Dunia terhadap Aneksasi Israel di Tepi Barat, Ancaman bagi Solusi Dua Negara dan Stabilitas Timur Tengah

Langkah aneksasi Israel di Tepi Barat memicu kecaman komunitas internasional. PBB, OKI, dan Liga Arab menilai kebijakan ini melanggar hukum internasional dan mengancam solusi dua negara Palestina–Israel. Gaza, Palestina — 1miliarsantri.net: Langkah terbaru pemerintah Israel terkait perubahan status hukum dan administrasi tanah di Tepi Barat kembali menuai kritik tajam dari berbagai negara dan organisasi internasional. Kebijakan tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi aneksasi de facto terhadap wilayah Palestina yang diduduki sejak 1967. Laporan dari Safa News Agency menyebutkan bahwa komunitas internasional memandang langkah ini sebagai tindakan sepihak yang berpotensi mengubah komposisi demografis serta realitas politik di lapangan. PBB dan Organisasi Internasional Angkat Bicara Perwakilan di United Nations (PBB) menegaskan bahwa setiap upaya aneksasi wilayah pendudukan bertentangan dengan hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan. Prinsip non-akuisisi wilayah melalui kekuatan militer menjadi landasan utama dalam hukum internasional modern. Selain itu, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) serta Liga Arab secara resmi mengecam kebijakan tersebut. Kedua organisasi ini menyatakan bahwa tindakan tersebut dapat menggagalkan prospek solusi dua negara yang selama ini didukung komunitas global. Dampak terhadap Palestina dan Prospek Perdamaian Bagi rakyat Palestina, kebijakan ini dinilai semakin mempersempit peluang terbentuknya negara merdeka yang berdaulat dan berkelanjutan secara geografis. Sejumlah kelompok hak asasi manusia, termasuk Al-Haq, menilai kebijakan tersebut sebagai eskalasi sistematis dalam memperluas kontrol administratif dan hukum atas wilayah pendudukan. Analis politik menilai bahwa langkah ini dapat: Sorotan Hukum Internasional Dalam perspektif hukum internasional, aneksasi wilayah pendudukan dianggap ilegal berdasarkan Konvensi Jenewa dan berbagai resolusi PBB. Banyak negara menilai perubahan status tanah atau legalisasi pemukiman di wilayah pendudukan sebagai bentuk aneksasi bertahap yang bertentangan dengan norma global. Isu ini juga berkaitan erat dengan konsep hak penentuan nasib sendiri (self-determination), yang menjadi prinsip fundamental dalam Piagam PBB. Implikasi Geopolitik Jangka Panjang Jika kebijakan ini terus berlanjut, para pengamat memperkirakan: Krisis ini bukan hanya persoalan bilateral, tetapi telah menjadi isu global yang memengaruhi stabilitas kawasan dan tatanan hukum internasional. Gelombang Kecaman Global atas Kebijakan Israel Kecaman dunia terhadap langkah aneksasi Israel di Tepi Barat menunjukkan bahwa isu ini tetap menjadi perhatian utama dalam diplomasi internasional. Dengan dukungan luas terhadap solusi dua negara, komunitas global menilai bahwa setiap tindakan sepihak berpotensi memperdalam konflik dan menjauhkan peluang perdamaian yang adil dan berkelanjutan.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris dan Toto Budiman Sumber : Berbagai Sumber Foto : SAFA Press Agency

Read More

Kilas Balik Palestina 2025: Tipu Daya Perdamaian, Pelanggaran Gencatan Senjata oleh Israel, dan Luka Kemanusiaan

Kilas balik konflik Palestina sepanjang 2025: pelanggaran gencatan senjata Israel, korban tewas dan luka, serta dampak pengungsian ratusan ribu warga Gaza. Mengapa solusi dua negara dan rencana perdamaian belum membawa keadilan hakiki. Gaza, Palestina – 1miliarsantri.net: Momentum pergantian tahun Masehi dari tahun 2025 dan mengawali tahun baru 2026, 1miliarsantri.net menyajikan ulasan tentang kondisi Palestina. Hingga saat ini zionis Israel terus melakukan pelanggaran gencatan senjata dan kejahatan kemanusiaan yang berdampak pada rakyat Palestina, dilakukan rezim Netanyahu dihadapan mata dunia dan PBB yang seolah-olah tak bernyali menghentikannya. Artikel ini memberikan gambaran komprehensif tentang dinamika konflik sepanjang 2025, termasuk pelanggaran gencatan senjata Israel, jumlah korban tewas, luka dan pengungsi, serta gambaran situasi kemanusiaan yang terus memburuk. Harapan yang Terus Menguap di Palestina Sepanjang 2025, harapan rakyat Palestina untuk meraih kemerdekaan dan kehidupan manusiawi terus diuji. Alih-alih solusi damai yang adil, berbagai upaya penyelesaian justru membawa lebih banyak penderitaan. Konflik yang berlangsung telah menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap penduduk sipil, terutama masyarakat di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Pelanggaran Gencatan Senjata oleh Israel Terus Meningkat Pada Oktober 2025, sebuah gencatan senjata di Gaza mulai diberlakukan sebagai bagian dari Comprehensive Plan yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump dan didukung beberapa negara termasuk Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab, serta mendapat perhatian dari negara-negara seperti Indonesia. Namun data dari Gaza Government Media Office menunjukkan bahwa gencatan senjata tersebut sering dilanggar oleh pasukan Israel. Sejak 10 Oktober 2025, setidaknya 875 pelanggaran dicatat, termasuk tembakan langsung ke warga sipil, serangan artileri, dan pembongkaran rumah-rumah warga. Laporan lain juga mencatat ratusan pelanggaran harian, dengan jumlah total pelanggaran yang dapat mencapai hampir 400 hingga lebih dari 900 kali dalam beberapa minggu setelah gencatan senjata. Data ini menunjukkan bahwa implementasi gencatan senjata sering kali hanya terjadi secara nominal, sementara di lapangan aksi militer terus berlangsung, menimbulkan ketidakamanan dan trauma mendalam bagi warga Gaza. Jumlah Korban: Kematian, Luka, dan Kehilangan 70.000 Syahid dan Ratusan Ribu Korban Luka-Luka Data resmi dari Kementerian Kesehatan Palestina dan badan statistik menunjukkan angka korban yang sangat tinggi: Selama gencatan senjata sejak Oktober 2025, puluhan hingga ratusan warga Gaza terus menjadi korban. Dalam beberapa laporan, setidaknya 411 warga tewas dan lebih dari 1.100 lainnya luka terluka akibat pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut. Dampak Kemanusiaan yang Luas Melansir Anadolu Ajansi, pengungsian massal merupakan salah satu dampak paling menghancurkan dari konflik ini. Menurut laporan UN, setelah runtuhnya gencatan senjata awal, hampir 400.000 warga Gaza terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman. Sebelumnya, laporan lain memperkirakan total pengungsi mencapai lebih dari 1,9 juta orang, yaitu sekitar 90% dari populasi Gaza, yang kehilangan rumah, harta dan akses terhadap kebutuhan dasar. Pelaporan Pelanggaran HAM dan Situasi Kemanusiaan Mengutip Pusat Informasi Palestina, berbagai organisasi hak asasi manusia serta pengamat internasional menyatakan bahwa tindakan militer yang terus berlangsung—termasuk serangan terhadap kawasan sipil, penembakan langsung, dan pembatasan akses kemanusiaan—dapat dikategorikan sebagai pelanggaran HAM. Bahkan beberapa kelompok menyebutnya sebagai pola perilaku yang konsisten dan sistematis. Bukan hanya itu, upaya bantuan kemanusiaan sering terhambat oleh pembatasan akses, penutupan perlintasan, dan larangan bagi beberapa organisasi kemanusiaan dari beroperasi secara efektif di wilayah konflik, sebagaimana diberitakan The Guardian. Solusi Dua Negara dan Kompleksitas Politik Munculnya gagasan “solusi dua negara” sebagai pemecahan konflik sering dianggap sebagai alternatif. Namun bagi banyak rakyat Palestina, konsep ini sering dinilai sebagai solusi yang tidak adil dan tidak realistis, karena tidak menjamin kedaulatan penuh atas tanah mereka sendiri dan sering kali terlihat sebagai kompromi yang memaksa. Rencana perdamaian 20 poin yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump pada 29 September 2025 bersama pemerintah Israel juga menuai kritik tajam dari kelompok kemanusiaan dan rakyat Palestina karena dianggap memperkuat pendudukan dan mengurangi peluang atas kedaulatan yang sejati. Harapan Kemanusiaan yang Tak Boleh Padam Kilas balik konflik Palestina sepanjang 2025 menunjukkan bahwa perdamaian yang sejati masih sangat jauh dari jangkauan. Pelanggaran gencatan senjata yang terus berlangsung, jumlah korban manusia yang tinggi, serta penderitaan jutaan pengungsi menunjukkan bahwa pendekatan militer dan politik saat ini belum mampu menghadirkan solusi yang menghormati martabat dan hak asasi rakyat Palestina. Kemanusiaan harus menjadi pusat dari setiap upaya perdamaian. Dunia perlu mendengarkan suara rakyat Palestina yang telah lama hidup di bawah tekanan konflik, bukan hanya narasi politik yang sering mengabaikan realitas di lapangan.*** Sumber : Berbagai sumber Foto istimewa Penulis : Thamrin Humris Editor : Toto Budiman

Read More

Musim Dingin di Palestina: Satu Keluarga Bertahan Hidup di Atas Banjir & Reruntuhan Khan Younis

Satu keluarga berjuang bertahan hidup di atas banjir dan reruntuhan Khan Younis di tengah badai musim dingin, banjir parah, dan krisis kemanusiaan yang memburuk di Gaza. Khan Younis, Palestina – 1miliarsantri.net: Musim dingin di Jalur Gaza tahun ini memperburuk penderitaan warga Palestina yang sudah puluhan bulan hidup dalam perang, pengungsian, dan kehancuran infrastruktur. Di Khan Younis, sebuah keluarga berjuang mempertahankan hidup di atas banjir dan reruntuhan rumah mereka, tempat perlindungan terakhir di tengah kondisi cuaca ekstrem dan keterbatasan bantuan. Cuaca Ekstrem dan Banjir Musim Dingin di Gaza Musim dingin membawa hujan deras dan angin kencang ke wilayah yang telah hancur akibat perang. Badai musim dingin yang baru-baru ini melanda membawa curah hujan tinggi, mengubah kamp-kamp pengungsian menjadi kolam lumpur dan banjir, serta memaksa keluarga yang sudah rentan berjuang untuk bertahan di tengah air yang terus meningkat. Keluarga tersebut terpaksa bertahan hidup di atas banjir, menggunakan reruntuhan bangunan sebagai alas yang sedikit lebih tinggi, karena tenda tipis yang mereka miliki tidak lagi mampu melindungi dari air dan angin musim dingin. Dalam beberapa kasus, hujan telah merobek atau meruntuhkan struktur tenda, meninggalkan banyak orang tanpa tempat berlindung yang layak sama sekali. Reruntuhan Sebagai Tempat Berteduh Seiring waktu, banyak warga Palestina yang rumahnya hancur akibat serangan dilaporkan memutuskan tinggal di reruntuhan tersebut karena tak ada pilihan lain. Di Khan Younis dan sekitar al-Mawasi, keluarga-keluarga berkumpul di atas puing puing beton dan batu, mencoba membuat lantai yang lebih tinggi untuk menghindari genangan. Namun, reruntuhan pun tak selalu aman. Banyak struktur bangunan yang rapuh retak dan runtuh lebih lanjut di bawah tekanan hujan deras dan angin. Langkah-langkah darurat untuk melindungi diri — seperti menutup celah dengan plastik atau kain tebal — hanya memberikan perlindungan sementara terhadap dinginnya musim dan derasnya air hujan. Dampak Banjir dan Risiko Kesehatan Banjir dan tenda yang basah membuat kondisi hidup semakin tidak manusiawi. Banyak keluarga kehilangan harta benda terakhir mereka, termasuk pakaian, selimut, makanan, dan barang-barang penting lainnya. Dalam banyak kasus, anggota keluarga — terutama anak-anak dan orang tua — menunjukkan tanda-tanda sakit akibat paparan dingin dan lembap yang terus menerus. Lembaga PBB serta organisasi bantuan telah mengingatkan bahwa risiko penyakit dan infeksi meningkat drastis di antara mereka yang hidup dalam kondisi seperti ini, terutama ketika air banjir bercampur dengan limbah dan tenda tidak memiliki drainase yang memadai. Krisis Bantuan dan Hambatan Logistik Krisis musim dingin ini diperparah oleh hambatan dalam aliran bantuan internasional. Meski ada kebutuhan mendesak akan tenda baru, selimut, pakaian hangat, dan material bangunan, pasokan bantuan sering terlambat atau dibatasi oleh syarat masuk dan kendala logistik di wilayah tersebut. UNRWA dan lembaga lainnya terus menekankan pentingnya akses tanpa hambatan untuk pasokan kemanusiaan yang layak guna membantu warga bertahan hidup selama musim dingin ini. Babak Baru Penderitaan Rakyat Palestina Musim dingin telah menjadi babak baru dalam penderitaan warga Gaza, terutama keluarga seperti yang berada di Khan Younis yang harus bertahan hidup di atas banjir dan reruntuhan. Cuaca ekstrem memperburuk kondisi yang sudah kritis akibat perang dan blokade, sementara keterbatasan bantuan global membuat perjuangan mereka menghadapi dingin dan banjir musim ini semakin berat. Keluarga-keluarga Palestina terus bertahan dengan harapan bantuan tiba, meski kenyataan di lapangan menunjukkan tantangan luar biasa yang harus mereka hadapi setiap hari.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Toto Budiman Sumber : Safa Agency Foto : Safa Agency

Read More

Drone Israel Bombardir Bangunan di Khan Younis, Satu Warga Palestina Tewas di Gaza Utara

Serangan drone Israel menghantam bangunan hunian di Khan Younis, Gaza selatan, Ahad (14/12). Pada waktu hampir bersamaan, seorang warga Palestina dilaporkan tewas ditembak di Gaza utara. Simak laporan lengkapnya. Gaza, Palestina — 1miliarsantri.net: Serangan militer Israel kembali menghantam wilayah Jalur Gaza. Sebuah bangunan hunian di pusat Kota Khan Younis, Gaza selatan, menjadi sasaran serangan drone Israel pada Ahad (14/12), sebagaimana dilaporkan media internasional Al Jazeera. Serangan tersebut menyebabkan bangunan mengalami kerusakan parah. Hingga laporan ini disusun, belum ada keterangan resmi mengenai jumlah korban luka akibat bombardir di Khan Younis. Tim penyelamat dan warga setempat dilaporkan masih melakukan evakuasi di sekitar lokasi kejadian. Militer Israel Mengakui Menembak Warga Palestina Di waktu yang hampir bersamaan, militer Israel mengumumkan telah menewaskan seorang warga Palestina di wilayah Gaza utara. Dalam pernyataan resminya, militer Israel menyebut korban ditembak karena diduga melintasi apa yang mereka sebut sebagai “garis kuning”, zona pembatas yang diklaim sebagai area terlarang. Pihak militer Israel beralasan, tindakan tersebut dilakukan karena korban dianggap menimbulkan ancaman langsung terhadap keselamatan pasukan mereka. Namun, hingga kini belum ada penjelasan rinci mengenai identitas korban maupun bentuk ancaman yang dimaksud. Sumber-sumber lokal Palestina menyatakan bahwa warga yang tewas tersebut merupakan warga sipil. Insiden ini kembali menambah daftar panjang korban jiwa di tengah eskalasi kekerasan yang terus berlangsung di Jalur Gaza, baik di wilayah selatan maupun utara. Khan Younis Menjadi Target Serangan Khan Younis sendiri dalam beberapa pekan terakhir menjadi salah satu wilayah yang kerap menjadi target serangan udara Israel. Serangan-serangan tersebut sebagian besar menghantam kawasan permukiman padat penduduk, memicu kekhawatiran akan keselamatan warga sipil. Sejumlah organisasi kemanusiaan internasional berulang kali menyerukan perlindungan terhadap warga sipil dan mendesak dihentikannya serangan terhadap fasilitas non-militer. Situasi kemanusiaan di Gaza dilaporkan terus memburuk seiring terbatasnya akses bantuan dan layanan kesehatan. Hingga kini, ketegangan di Jalur Gaza belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sementara jumlah korban sipil terus bertambah di tengah konflik yang berkepanjangan. Sumber : Free Palestine, Spirit of Al Aqsa dan Al Jazeera Foto : Channel WhatsApp Free Palestine Penulis : Thamrin Humris Editor : Toto Budiman

Read More

Tenda Jadi Satu-Satunya Perlindungan Warga Gaza: 1,5 Juta Pengungsi Bertahan di Tengah Ancaman Banjir dan Blokade

Lebih dari 1,5 juta warga Palestina di Gaza terpaksa bertahan hidup di tenda darurat. Sekitar 900 ribu pengungsi menghadapi risiko banjir, sementara 300 ribu tenda dan tempat berlindung dilarang masuk. Simak laporan lengkapnya. Gaza, Palestina – 1miliarsantri.net: Gaza kembali menghadapi krisis kemanusiaan yang semakin kompleks. Tenda kini menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi warga Palestina di Jalur Gaza, setelah rumah, sekolah, dan fasilitas umum hancur akibat konflik berkepanjangan. Data terbaru menunjukkan sekitar 1,5 juta pengungsi hidup dalam kondisi yang sangat buruk, tanpa perlindungan memadai dari cuaca ekstrem, penyakit, dan ancaman keselamatan lainnya. Situasi semakin memburuk ketika musim hujan datang. Sekitar 900 ribu pengungsi berada dalam risiko tinggi banjir, karena tenda-tenda darurat yang mereka tempati berdiri di atas tanah berlumpur dan wilayah rendah yang rawan genangan. Air hujan dengan cepat merendam area pengungsian, merusak alas tidur, pakaian, hingga persediaan makanan yang terbatas. Upaya Kemanusiaan Terhambat Blokade Zionis Israel Di tengah kondisi tersebut, sekitar 300 ribu unit tenda dan tempat berlindung darurat dilaporkan dilarang masuk ke Gaza, membuat upaya kemanusiaan terhambat. Keterbatasan akses bantuan memperparah penderitaan warga sipil, terutama kelompok paling rentan seperti anak-anak, perempuan, dan lansia. Gambaran krisis ini tampak jelas di berbagai kamp pengungsian. Anak-anak terlihat menggendong adik mereka di tengah hujan, berjalan di genangan air, dengan pakaian basah dan tubuh menggigil. Tenda-tenda tipis tak mampu menahan dingin, hujan, maupun angin, sehingga risiko penyakit seperti infeksi saluran pernapasan, diare, dan penyakit kulit terus meningkat. Krisis Gaza Darurat Kemanusiaan & Lingkungan Organisasi kemanusiaan internasional telah berulang kali memperingatkan bahwa krisis di Gaza bukan hanya darurat konflik, tetapi juga darurat kemanusiaan dan lingkungan. Tanpa akses tenda yang layak, sanitasi, dan perlindungan cuaca, jutaan warga sipil berada di ambang bencana yang lebih besar. Di tengah keterbatasan tersebut, warga Gaza hanya bisa bertahan dengan apa yang ada. Tenda bukan lagi simbol sementara, melainkan harapan terakhir untuk tetap hidup. Sumber : Channel WA Free Palestine & Kantor Media Pemerintah Gaza Foto : Aljazeera Penulis : Thamrin Humris Editor : Toto Budiman

Read More