Trans7 Minta Maaf ke Pesantren Lirboyo: ‘Mengaku Lalai’ — Ini Penjelasannya…
Sejumlah poin tuntutan dari pihak alumni pun dikonfirmasi telah direspons, bahkan dengan jaminan tertulis dalam waktu 1 × 24 jam.
Tak hanya itu, pihak manajemen juga melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Lirboyo pada 15 Oktober 2025 guna menyampaikan permohonan maaf langsung kepada pimpinan pesantren.
Baca Juga : Gaza Update-Jubir Pejuang Palestina: Kesepakatan Pertukaran Tawanan Menandai Jalan untuk Mengakhiri Perang Genosida: Trans7 Minta Maaf ke Pesantren Lirboyo: ‘Mengaku Lalai’ — Ini Penjelasannya…Tanggapan Pesantren dan Harapan ke Depan
Pihak pesantren menyambut klarifikasi tersebut dengan sejumlah catatan. KH Oing Abdul Muid menyatakan bahwa pertemuan itu bersifat silaturahim dan bahwa tanggapan resmi terhadap pernyataan harus disampaikan oleh masyayikh Lirboyo yang lebih berwenang.
Namun, ada penyesalan bahwa figur utama perusahaan Trans Corp, seperti Chairul Tanjung, tidak hadir secara fisik dalam permintaan maaf tersebut, sebagaimana diberitakan Jakarta Daily.
Pesantren berharap bahwa kejadian ini menjadi momentum pembelajaran bagi semua media: bahwa dunia pesantren bukanlah objek sensasi, melainkan lembaga mulia yang harus dihormati dan dijaga marwahnya.
Refleksi & Pelajaran yang Bisa Diambil
- Tanggung jawab media terhadap bahan eksternal – Bahwa meskipun produksi mengambil materi dari pihak luar, media tetap berkewajiban melakukan penyuntingan, verifikasi, dan sensor secara menyeluruh.
- Sensitivitas budaya & keagamaan – Lembaga keagamaan seperti pesantren memiliki tatanan nilai dan penghormatan khusus. Media perlu lebih arif dalam meramu narasi yang berkaitan dengan mereka.
- Keterbukaan dan akuntabilitas – Permintaan maaf terbuka dan audiensi langsung menunjukkan sikap menghargai pihak yang terluka. Bukan sekadar “permintaan maaf semu”, tetapi langkah nyata memperbaiki sistem.
- Peran publik dan pengawasan masyarakat – Kritik warganet, alumni, dan tokoh agama berperan penting dalam menjaga media agar tidak melampaui batas etika.
Media memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga etika dan kredibilitas, termasuk saat menggunakan materi eksternal, mengolah konten sensitif budaya dan agama, serta bersikap terbuka dan akuntabel kepada publik. Hal ini dapat diwujudkan melalui proses penyuntingan dan verifikasi yang ketat, narasi yang arif dan menghormati, permintaan maaf yang tulus, serta kesediaan untuk diawasi dan dikritik oleh masyarakat. ***
Penulis : Thamrin Humris
Editor : Thamrin Humris
Foto : Tangkapan Layar Youtube CNN
Sumber : DetikNews dan Jakarta Daily
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


