Museum Islam Nusantara Diharapkan Bisa Mempererat Akulturasi
Abdul Azis menambahkan, fase ketiga di abad 19 yang memunculkan tokoh-tokoh kharismatik seperti Mbah Maksum, Mbah Baedowi, dan juga Mbah Kholil, yang ketiganya berdakwah melalui pesantren.
Museum Islam Nusantara tidak berdiri di lingkungan Muslim, sebab di belakang bangunan merupakan daerah Pecinan. Tercatat, ada 200 lebih bangunan Tionghoa kuno, salah satunya adalah Rumah Merah, yang bisa diakses semua masyarakat.
Mengenai Lasem, lanjut Azis, dikenal sebagai Kota Pustaka dan Kota Toleransi, di mana keharmonisan antara Tionghoa, Arab, dan pribumi terjalin sejak ratusan tahun lalu.
Pemilihan lokasi museum yang berada di kawasan Pecinan, diakui Abdul Azis sebagai ciri dan identitas masyarakat Lasem yang penuh toleransi.
”Ciri dan identitas serta toleransinya layak dan patut untuk dilestarikan dan itu merupakan bagian dari peninggalan Lasem,” tutup Abdul Azis. (lif)
Baca juga :
- Gempa Bumi M5.2 Kembali Mengguncang Pulau Flores dan Sekitarnya
- Peluang Emas! Pendaftaran Beasiswa Santri BAZNAS 2026 Resmi Dibuka, Kuota 2.500 Orang
- RESPALDA Al Huda Rawasapi Bawa Pulang Dua Prestasi dari LKBB PION XV SMAN 5 Bekasi
- Update Gempa Susulan Flores M7,7: Tembus 10.232 Kejadian, Pola Mulai Menurun
- Banjarnegara Diguncang Gempa Darat M2.5, Tidak Berpotensi Taunami
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


