UNRWA Menyatakan Sebagian Besar Warga Sipil di Gaza Sangat Membutuhkan Bantuan Kemanusiaan
Sementara ayah Ahmad sangat mengkhawatirkan masa depan pendidikan putranya dan bagi cita-citanya untuk belajar kedokteran, neneknya, Haleema Damaseh, 70 tahun, mengkhawatirkan layanan kesehatan. Sebelum perang di Gaza dimulai Oktober lalu, layanan yang ditawarkan klinik-klinik UNRWA sudah berkurang.
Muhammad mengatakan UNRWA hanya memberikan perawatan medis dan resep untuk kondisi kronis. Layanan itu akan berhenti jika UNRWA tidak dapat lagi beroperasi.
“Klinik UNRWA berhenti menyediakan obat diabetes yang saya butuhkan. Jadi, anak saya membelinya dengan harga hampir 100 dolar AS per bulan,” kata Haleema.
Ia khawatir hal ini tidak akan berkelanjutan untuk jangka panjang. Terutama dengan krisis ekonomi yang parah di daerah pendudukan Tepi Barat akibat tindakan keras di wilayah Palestina sejak perang pecah.
Tindakan keras ini mencakup pemblokiran jalan, penggerebekan di kamp-kamp dan kota-kota dan jam malam yang ketat. Lapangan pekerjaan anjlok dan harga-harga melonjak, sementara Otoritas Palestina berjuang untuk membayar gaji pegawai negeri.
Kepala Komite Populer untuk Pelayanan di Aida, bagian dari Departemen Urusan Pengungsi PLO, Saeed al-Azha menjelaskan kamp-kamp tersebut sering diserbu. Penggerebekan dan penangkapan semakin sering akhir-akhir ini, memperparah kondisi para pengungsi Palestina.
Ia memperingatkan kondisi akan semakin memburuk jika pendanaan untuk operasi UNRWA ditangguhkan.
“Para pengungsi Palestina akan berjuang untuk tidak kehilangan UNRWA. Mereka akan mengambil sikap di lima wilayah di mana badan tersebut bekerja, di Gaza, Yordania, Lebanon, dan Suriah, selain daerah pendudukan Tepi Barat. UNRWA memiliki arti penting secara politis sebagai saksi dari peristiwa Nakba dan warga Palestina tidak ingin kehilangan lembaga yang diamanat PBB sebelum para pengungsi mendapatkan hak mereka untuk kembali ke rumah mereka yang dirampas pada 1948,” tambahnya.
Direktur Operasi UNRWA di Wilayah Tepi Barat Adam Pollock mengatakan penghapusan UNRWA dan layanannya “akan menjadi resep untuk meningkatkan ketegangan, terutama mengingat populasi pemuda di kamp-kamp lebih dari 30 persen”. (zul/AP)
Baca juga :
- Ukhuwah Goals: Wujud Cinta yang Menghidupkan Hati Melalui Do’a
- Boikot FIFA Mengguncang Dunia! Spanyol dan Portugal Ancam Tinggalkan Gianni Infantino, Krisis Terbesar Jelang Piala Dunia?
- Peringatan Hari Anak Nasional 2026: Kolaborasi Yaskat dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos RI di Bantargebang
- Hari Anak Nasional 2026: Rumah Tahfidz Opung dan Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani Berkomitmen Membangun Generasi Qurani
- Selamat Hari Anak Nasional 2026
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


