Tentara Israel Ceritakan Kebiadaban IDF Selama Berada di Gaza
Ketiga tentara tersebut memiliki motivasi yang berbeda atas keputusan mereka untuk tidak bertugas di Gaza lagi, dari ketidakpuasan terhadap cara militer Israel melakukan perang hingga frustrasi dengan keengganan pemerintah untuk menyetujui kesepakatan yang dapat mengakhiri pertempuran.
Ketiga tentara cadangan berbicara secara terbuka tentang keengganan mereka untuk kembali bertugas mewakili minoritas. Sebagian dari mereka merasa penolakan militer di Israel secara umum dianggap ilegal.
Bulan lalu, sebanyak 41 tentara cadangan menandatangani sebuah surat terbuka yang menyatakan bahwa mereka tidak akan lagi bertugas dalam serangan militer ke kota Rafah di selatan Gaza.
“Setengah tahun di mana kami ambil bagian dalam upaya perang telah membuktikan kepada kami bahwa aksi militer saja tidak akan membawa pulang para sandera. Setiap hari yang berlalu membahayakan nyawa para sandera dan tentara yang masih berada di Gaza, dan tidak memulihkan keamanan bagi mereka yang tinggal di Gaza dan perbatasan utara,” tulis mereka.
‘Semua yang dilakukan ini hanya menyebabkan lebih banyak kematian di pihak kami atau pihak Palestina’
Guru kewarganegaraan Tal Vardi, yang melatih operator tank cadangan di utara Israel selama masa tugasnya di militer, mengatakan, “Setiap orang yang berakal sehat dapat melihat bahwa kehadiran militer tidak membantu membawa para sandera kembali.”
“Jadi, jika kita tidak membawa pulang para sandera, yang terjadi hanyalah menyebabkan lebih banyak kematian di pihak kita atau pihak Palestina… Saya tidak bisa membenarkan operasi militer ini lagi. Saya tidak mau menjadi bagian dari militer yang melakukan hal ini,” tegasnya.
“Jika ada, beberapa operasi ini telah membahayakan para tawanan, dan tentara juga telah membunuh beberapa orang secara tidak sengaja,” katanya, merujuk pada sebuah insiden pada Desember lalu ketika tentara Israel menembak mati tiga tawanan di Gaza yang mendekati mereka sambil melambaikan bendera putih.
Seorang anggota Michael Ofer Ziv yang menjelaskan bahwa insiden itu membangkitkan keyakinan kuat dalam dirinya bahwa setelah dia menyelesaikan tugas militernya di perbatasan Gaza, dia tidak akan kembali.
“Jadi, jika kita tidak membawa pulang para sandera, yang terjadi hanyalah menyebabkan lebih banyak kematian di pihak kita atau pihak Palestina. Saya tidak bisa membenarkan operasi militer ini lagi. Saya tidak mau menjadi bagian dari militer yang melakukan hal ini,” pungkasnya. (zul)
Baca juga :
- RTO/RTQ Opung dan Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani: ‘Selamat Atas Diselenggarakannya SPU LPPTKA BKPRMI’
- LPPTKA BKPRMI Kabupaten Bekasi Gelar Silaturahmi Pembinaan Unit (SPU)
- Gaido Group dan Yayasan Masjid Pantai Nusantara Sepakati Kolaborasi Ekonomi Syariah, Dorong Lahirnya 1 Juta Pengusaha
- Ukhuwah Goals: Wujud Cinta yang Menghidupkan Hati Melalui Do’a
- Boikot FIFA Mengguncang Dunia! Spanyol dan Portugal Ancam Tinggalkan Gianni Infantino, Krisis Terbesar Jelang Piala Dunia?
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


