Pemuda-pemuda Palestina Yang Sudah Menjadi Tulang Punggung Keluarga Mereka

Dengarkan Artikel Ini

Ayman belum pernah menekuni profesi ini. Namun, ia menganggapnya sebagai sumber penghidupan, mengingat kebutuhan masyarakat akan roti siap pakai, akibat kelangkaan tepung yang parah, kenaikan harga-harga yang tersedia di pasar sekitar 12 kali lipat, dan ketidakmampuan mayoritas masyarakat yang menderita kemiskinan ekstrim untuk membelinya.

Proses pembuatan roti diawali dari Ayman dengan menguleni, memotong, dan menggembungkan, lalu diteruskan kepada kedua putranya, Anas dan Mahmoud, yang bertugas menggulung adonan menjadi lingkaran-lingkaran berukuran sedang, kemudian mematangkan di kompor sebelum ditawarkan untuk dijual kepada orang yang lewat yang memadati jalanan Rafah.

Tak jauh dari keluarga Rayhan, pengungsi dari Jabalia di Jalur Gaza utara, Ahmed Abu Assi (14 tahun) berseru kepada orang yang lewat sambil menggembar-gemborkan makanan panggang yang dibuat oleh para pengungsi di sebuah apartemen di lingkungan Zaytoun, Kota Gaza.

“Kakek saya, yang mengemukakan ide tersebut, membeli sekantong tepung, dan para wanita menyiapkan kue-kue (makanan panggang) di rumah, dan saya membawanya setiap hari untuk menjualnya di pasar dari pagi sampai malam, supaya kami dapat membeli sayur-sayuran dan kebutuhan-kebutuhan lain sesuai dengan harganya,” ujar Ahmed.

Ahmed merasa puas dengan apa yang didapatnya setiap hari dari menjual makanan yang dipanggang.

“Saya menjual setiap hari semua yang disiapkan keluarga saya,” katanya. (zul)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca