Para Pengungsi di Tengah Cuaca Dingin dan Kelaparan Memenuhi Kota Rafah
“Lebih dari dua bulan kami berdiri di jalanan, merasakan dingin dan lapar, tak seorang pun melihat kami dengan mata, kami lelah dan mati karena kedinginan, dan tidak tahu kemana harus pergi,” ungkapnya.
Dia melanjutkan, “Kami ingin dunia berdiri bersama kami, bahkan jika hanya satu hari atau satu jam. Sebelumnya, kami berada di Bureij di sekolah yang dimiliki oleh UNRWA, setidaknya kami memiliki tempat untuk berlindung. Namun, sekarang kami menderita di jalanan, tidak tahu di mana dan bagaimana kami bisa duduk sama sekali.”
Kepala Pemerintah Kota Rafah, Ahmad al-Sufi, mengatakan, sejumlah besar penduduk mengarah ke Kota Rafah, yang pada dasarnya sudah menderita dari kepadatan penduduk yang sangat tinggi. Jumlah pengungsi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah setempat. Tidak ada alat transportasi yang dapat berjalan dengan mudah di jalanan karena kepadatan yang tinggi dan keberadaan tenda pengungsi di jalan-jalan.
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


