Konflik Gaza Memperlihatkan Wajah Persaudaraan, Murabith dan Syuhada

Dengarkan Artikel Ini

Ummu Mustafa Shabir bersama sembilan anggota keluarga memutuskan berangkat ke Kota Rafah. Awalnya, dia tak bisa membayangkan jika harus bergabung bersama para penyintas di pusat pengungsian UNRWA.

Suami Ummu Mustafa menderita atrofi otak sehingga membutuhkan bantuan orang lain untuk beraktivitas. Dia juga harus merawat tujuh putri dan dua putra. Namun apa yang terjadi? seorang ‘pahlawan’ menawarkan untuk tinggal di apartemennya.

Tak sampai di situ, semua kebutuhan Ummu Mustafa terpenuhi. Dia mendapatkan air minum dan perlengkapan tidur. Dia menggambarkan situasi itu dengan satu kata “persaudaraan”.

“Mereka memperlakukan kami seolah-olah kami adalah keluarga, dan kami tidak merasa terasing dari mereka,” ujarnya. (bal/AZ)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca