Konflik Gaza Memperlihatkan Wajah Persaudaraan, Murabith dan Syuhada
Ummu Mustafa Shabir bersama sembilan anggota keluarga memutuskan berangkat ke Kota Rafah. Awalnya, dia tak bisa membayangkan jika harus bergabung bersama para penyintas di pusat pengungsian UNRWA.
Suami Ummu Mustafa menderita atrofi otak sehingga membutuhkan bantuan orang lain untuk beraktivitas. Dia juga harus merawat tujuh putri dan dua putra. Namun apa yang terjadi? seorang ‘pahlawan’ menawarkan untuk tinggal di apartemennya.
Tak sampai di situ, semua kebutuhan Ummu Mustafa terpenuhi. Dia mendapatkan air minum dan perlengkapan tidur. Dia menggambarkan situasi itu dengan satu kata “persaudaraan”.
“Mereka memperlakukan kami seolah-olah kami adalah keluarga, dan kami tidak merasa terasing dari mereka,” ujarnya. (bal/AZ)
Baca juga :
- Ukhuwah Goals: Wujud Cinta yang Menghidupkan Hati Melalui Do’a
- Boikot FIFA Mengguncang Dunia! Spanyol dan Portugal Ancam Tinggalkan Gianni Infantino, Krisis Terbesar Jelang Piala Dunia?
- Peringatan Hari Anak Nasional 2026: Kolaborasi Yaskat dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos RI di Bantargebang
- Hari Anak Nasional 2026: Rumah Tahfidz Opung dan Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani Berkomitmen Membangun Generasi Qurani
- Selamat Hari Anak Nasional 2026
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


