Kisah Anak-Anak Gaza, Mengubur Mimpi hingga Melihat Keluarga Mati

Dengarkan Artikel Ini

Beruntungnya, Ahmed dan Omar memiliki seorang paman bernama Ibrahim Abu Amsha yang memutuskan untuk menjaga dan merawat mereka bersama keluarganya. Tempat demi tempat mereka datangi untuk mengungsi, namun serangan israel yang terus membabi buta membuat Ahmed Kembali terluka akibat terkena pecahan kaca dari sebuah ledakan.

Serangan kedua itu membuat Ahmed kehilangan kakinya, bahkan salah seorang keluarga yang juga bersama Ahmed pada saat itu dinyatakan tewas. Ibrahim sangat berkeinginan untuk mengirim Ahmed berobat ke luar Gaza, karena ada banyak mimpi yang ingin dilakukan oleh Ahmed.

“Dia bermimpi bisa melakukan banyak hal, bahkan saat kami pergi bersama untuk menonton pertandingan sepak bola, Ahmed berkata ingin menjadi pemain sepak bola terkenal,” ujar Ibrahim.

Kisah Amal dan Puisi Pilu nya

Pada suatu malam, saat Amal sedang asyik menggambar di ruang tamu, tiba-tiba suara jet melintas rendah, lalu tidak lama berselang semua gelap. Amal terbangun di rumah sakit dan seluruh keluarganya tewas. Ibunya hancur tertimpa reruntuhan. Kini, Amal tinggal di Kamp Pengungsian Rafah bersama dengan seorang tetangga yang selamat.

Disana, Amal menuliskan sebuah puisi “Langit sekarang bukan tempat Bintang, tapi tempat bahaya datang. Aku cuma mau jadi anak kecil, tapi semua orang menyuruhku kuat, aku capek.”

Baca juga : Kuburan Anak-anak: Gaza dalam Surat Emine Erdoğan kepada Melania Trump

Cita-cita Anak-anak Gaza hanya satu: Hidup Sampai Besok

Peperangan di Gaza membuat sejumlah pihak menunjukkan kepedulian salah satunya kepada anak-anak di Gaza. Pusat Pelatihan Komunitas untuk Manajemen Krisis (CTCCM) dengan dukungan dari Aliansi Anak Perang, menggambarkan kondisi kesehatan mental anak-anak di Gaza.

Anak-anak mengalami trauma akibat peperangan ini, bahkan temuan dalam studi yang dilakukan menyatakan bahwa 96% anak-anak di Gaza merasa bahwa kematian sudah dekat dan hampir setengahnya yakin mereka akan meninggal akibat perang. Tidak hanya itu, gejala-gejala psikologis juga mulai terlihat seperti, ketakutan, penarikan diri dan kecemasan parah disertai dengan perasaan putus asa yang mendalam.

Bahkan ketika seorang anak dari Palestina ditanyakan “Apa cita-citamu nanti? Anak itu hanya menjawab pelan, “Hidup sampai besok”. (***)

Sumber berita:

marinews.mahkamahagung.go.id

adararelief.com

bbc.com

Penulis : Gita Rianti D Pratiwi

Editor : Toto Budiman, Iffah Faridatul Hasanah


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca