Jeda Waktu Gencatan Senjata Yang Harus Dimanfaatkan Warga Gaza
Dia mengatakan kepada MEE bahwa jeda waktu akan memberinya kesempatan untuk mengunjungi teman-teman dan kerabatnya yang masih tersisa di sana.
“Saya akan berjalan di jalan-jalan Gaza karena saya rindu berjalan-jalan tanpa rasa takut. Saya akan pergi ke toko-toko jika mereka buka,” katanya.
Sejak serangan mendadak Hamas pada pada 7 Oktober lalu, Israel membombardir Gaza dalam serangan paling mematikan dan merusak yang pernah terjadi di Gaza yang memiliki panjang 40 kilometer.
Para pejabat kesehatan Palestina di Gaza mengatakan pengeboman telah menewaskan lebih dari 14.000 orang, 40 persennya di antaranya adalah anak-anak, dan meratakan sejumlah distrik permukiman. Mereka mengatakan ribuan mayat lainnya mungkin masih berada di bawah reruntuhan, yang masih belum tercatat ke dalam total korban tewas resmi.
Gencatan senjata atas mediasi Qatar dan Mesir dilakukan sejak Jumat lalu. Kedua pihak yang bertikai sepakat akan menghentikan serangan dengan imbalan pertukaran sandera selama empat hari.
Setelah empat hari berakhir, gencatan senjata dapat diperpanjang satu hari untuk setiap 10 tawanan yang dibebaskan, dengan batas waktu sepuluh hari. Sekitar 240 orang yang diculik oleh pejuang Palestina pada 7 Oktober diyakini masih berada di Gaza. Dengan jeda pertempuran selama empat hari tersebut, pertukaran 50 tawanan Israel dan 150 tawanan Palestina bisa dilakukan.
Israel telah memutus sama sekali akses masuknya makanan, bahan bakar dan air ke daerah kantong pesisir tersebut, dan memaksa ratusan ribu warga Palestina di Gaza utara, termasuk Kota Gaza, untuk mengungsi ke daerah selatan.
Perjanjian gencatan senjata akan memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan serta kesempatan bagi warga Palestina untuk bergerak bebas lagi. Meskipun warga Gaza tidak dianjurkan kembali ke sektor utara yang diminta Israel untuk mengungsi.
Meskipun jeda dari perang disambut baik, beberapa orang di Gaza merasa terganggu dengan persyaratan perjanjian tersebut. Seorang warga Gaza, yang tidak ingin disebutkan namanya karena alasan keamanan, mengatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata itu mengejutkan, karena tampaknya jelas-jelas lebih menghargai nyawa warga Israel daripada warga Palestina.
“Empat hari gencatan senjata ini tidak sebanding dengan banyaknya orang yang terbunuh dan terluka, rumah-rumah yang hancur, dan banyaknya orang yang mengungsi atau kehilangan tempat tinggal,” urainya.
Hamas mengatakan bahwa mereka mencapai kesepakatan tersebut karena “tanggung jawab” mereka terhadap rakyat Palestina, yang bertujuan untuk “meringankan penderitaan mereka, menyembuhkan luka-luka mereka” dan memperkuat tekad mereka untuk melawan Israel.
Namun, warga Gaza itu mengatakan bahwa “sangat memalukan” mengetahui bahwa ia tidak dapat kembali ke rumahnya di utara sementara para pemimpin Hamas di luar daerah kantong dapat melakukan perjalanan dengan bebas antara Beirut dan Qatar.
“Gencatan senjata ini hanyalah sebuah kebohongan besar. Ini akan memberi Israel lebih banyak waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi putaran kekerasan berikutnya, yang akan memakan lebih banyak korban,” pungkasnya. (zul/AZ)
Baca juga :
- Ukhuwah Goals: Wujud Cinta yang Menghidupkan Hati Melalui Do’a
- Boikot FIFA Mengguncang Dunia! Spanyol dan Portugal Ancam Tinggalkan Gianni Infantino, Krisis Terbesar Jelang Piala Dunia?
- Peringatan Hari Anak Nasional 2026: Kolaborasi Yaskat dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos RI di Bantargebang
- Hari Anak Nasional 2026: Rumah Tahfidz Opung dan Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani Berkomitmen Membangun Generasi Qurani
- Selamat Hari Anak Nasional 2026
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


