Tunduk Total kepada Allah SWT Dapat Menemukan Kebahagiaan Hakiki
Pertama, otak yang cerdas. Cerdas disini berarti paham. Itu karena bebal, terkadang data-data yang sudah ada itu tidak membuat orang-orang percaya atas Rabb-nya.
Kedua, pengelolaan syahwat yang baik. Sekalipun sudah mengetahui kebenaran-kebenaran, terkadang seseorang masih berbuat menyalahi kebenaran. Dalam konteks ini, syahwat perlu dikelola.
Ketiga, dinamika proses kehidupan. Kesadaran atas penghambaan ini bisa timbul dan tenggelam sepanjang dinamika hidup. Dengan demikian, manusia membutuhkan Allah sepanjang hidup untuk menjaga.
“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. [QS Fatir (35):15]
Semakin seseorang memerlukan Allah, maka dia semakin mulia di hadapan-Nya. Sebaliknya, semakin tidak memerlukan Allah, maka dia semakin hina di hadapan-Nya.
“Kemuliaan seseorang itu ketika ia memerlukan Allah. Orang yang tidak mau berdoa itu tidak lebih baik dibandingkan dengan orang yang terus berdoa kepada Allah,” tambah Ustadz Fauzi.
Hidup bukan untuk ditanggung sendiri, karena manusia adalah hamba Allah. Setiap masalah tidak perlu dipikirkan sendiri, namun dikeluhkan kepada Allah. Ini akan terasa karena manusia adalah seorang hamba.
- Mempertahankan kesadaran ketaatan sepanjang hayat
Manusia perlu perlu mempertahankan kesadaran penghambaan sepanjang hidup. Itu karena keimanan seseorang bisa naik atau turun. Jika Allah kabulkan semua yang diminta, maka niscaya manusia akan berlaku dzalim di muka bumi.
Maka itu, ada beberapa ekspresi akhlak seseorang yang sudah kuat ketaatannya kepada Allah. Di antaranya rendah hati berarti tidak congkak dan tidak ujub, terasa ketulusannya dalam hidup, tidak perhitungan, berakhlak mudah, jinak yakni gampang taat dan diatur serta tidak menentang, hangat terhadap sesama, dan tidak menyakiti sesama.
“Pekerjaan rumah bagi kita bersama adalah kemampuan untuk istiqomah dalam penghambaan kepada Allah SWT. Semoga Allah mudahkan kita semua untuk ini,” pungkas Ustadz Fauzi. (mif)
Baca juga :
- Ukhuwah Goals: Wujud Cinta yang Menghidupkan Hati Melalui Do’a
- Boikot FIFA Mengguncang Dunia! Spanyol dan Portugal Ancam Tinggalkan Gianni Infantino, Krisis Terbesar Jelang Piala Dunia?
- Peringatan Hari Anak Nasional 2026: Kolaborasi Yaskat dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos RI di Bantargebang
- Hari Anak Nasional 2026: Rumah Tahfidz Opung dan Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani Berkomitmen Membangun Generasi Qurani
- Selamat Hari Anak Nasional 2026
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


