Ponpes Al-Raudloh Kajen Bangun Kedekatan Empati dengan Santri

Dengarkan Artikel Ini

Hal ini mempermudah santri untuk menyampaikan keluh kesah, tekanan dalam pembelajaran dan masalah lainnya. Menurutnya dengan adanya Crisis Center tersebut pihaknya mempunyai data dan rekam jejak santri.

Ia berharap Crisis Center ini tidak hanya menjadi ruang konseling semata namun juga pengembangan bakat.

“Artinya atau tidak hanya masalah yang kita tangani. Tentu manusia mempunyai dua dimensi, dimensi kelebihan dan kekurangan. Maka Crisis Center mempunyai dua sisi itu.

Pertama untuk menyelesaikan kekurangan-kekurangan para santri di sisi lain bagaimana kita melihat kemampuan para santri yang layak untuk ditumbuh kembangkan,” ujar pria yang juga mengasuh Halaqah Ngaji Selapanan di berbagai daerah ini.

Pengurus sekaligus Santri Senior Pesantren Al-Raudloh, Khoirul Intifaul Ma’robby mengatakan, sepanjang pengalamannya mondok di pesantren Al-Raudlah, pola pengasuhan santri mengedepankan empati dan tanpa kekerasan fisik maupun mental.

Menurutnya, realitas kehidupan di pesantrennya dapat dikategorikan ramah anak. Relasi antar-santri dan santri terhadap guru terjadi dalam hubungan yang harmonis dan penuh kasih sayang.

Ini terbukti saat ada santri melakukan kesalahan pengurus atau guru tidak memberi hukuman fisik atau marah, namun dilakukan pembinaan dan bimbingan terhadap santri tersebut.

Menurutnya, pola relasi antar-santri dibangun dengan dasar kasih sayang dan saling menghormati sehingga tidak terjadi gesekan seperti perundungan maupun kekerasan fisik.

Bahkan santri senior diberi tugas untuk menjadi mentor belajar dan penyesuaian diri bagi santri-santri junior atau adik kelas. (yan)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca