Ponpes Al-Raudloh Kajen Bangun Kedekatan Empati dengan Santri
Jakarta — 1miliarsantri.net : Pondok Pesantren Al-Raudloh Kajen mempunyai cara khusus untuk menciptakan pesantren ramah anak. Menurut pengasuh pesantren, KH Muhammad Farid Abbad, upaya untuk mencegah terjadinya kekerasan bisa menggunakan pendekatan personal dan emosional (ikatan batin) dengan para santri.
Di pesantren yang ia asuh, regulasi atau peraturan bukan hanya sekadar hitam di atas putih, tetapi juga hukum yang perlu ditegakkan dengan pendekatan.
Pendekatan yang ia gunakan untuk menciptakan pesantren ramah santri ialah dengan pendekatan kultural.
Ia menambahkan, yang ditekankan di pesantren yang ia asuh bahwa pesantren merupakan rumah bersama baik bagi santri, pengurus maupun pengasuh. Relasinya seperti bapak dengan anak dan kakak dengan adik.
“Maka setiap hari saya pribadi atau abah dan ibu berinteraksi (dengan santri), tidak hanya saat ngaji dan kegiatan pesantren saja. Namun, setiap hari itu kadang ngobrol, makan jajan bersama dan ngopi bersama. Itu adalah mekanisme kultural. Hingga saat ini kita hapal satu persatu nama-nama santri kita,” jelasnya.
Dia mempunyai strategi khusus apabila terjadi kekerasan terhadap santri, terutama kekerasan mental atau perundungan.
Salah satu budaya santri yang cukup kental yakni gojlok-gojlokan. Ia sebagai pengasuh memantau selama dua puluh empat jam sehari agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Namun apabila terjadi kasus gojlok-gojlokan yang mengarah pada perundungan, ia dengan sigap akan menegur santri tersebut dan menyelesaikannya secara kekeluargaan.
Menurutnya, ia bisa tahu apa masalah yang dihadapi santri lewat aduan dari pengurus atau mendengar langsung dari kamarnya. Karena kamar tidurnya berhadap-hadapan dengan kamar santri.
“Teguran pasti ada, sanksi atau punishment yang mendidik kita lakukan. Tapi konflik dan kebencian itu penting untuk kita hilangkan (antara) kelompok-kelompok yang merundung dan yang dirundung. Kenapa di Al-Roudlah sangat minim terjadi perundungan, karena kedekatan kita dengan santri tidak ada sekat atau jarak,” ungkapnya.
Bangun wadah konseling dan crisis center Pria yang akrab disapa Gus Farid ini menjelaskan bahwa di pesantrennya ada sub lembaga atau divisi yang berfungsi semacam untuk mengonseling santri yang bernama Crisis Center.
Lembaga tersebut berfungsi untuk menerima aduan, curhatan, masukan dan kritik santri dan berdiri sejak tahun 2020. Karena, kata Farid, pesantrennya menekankan hubungan kekeluargaan dalam pola kehidupan sehari-hari.
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


