Pengertian Tawakal
Hadis masyhur yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, Telah datang seorang lelaki yang mengendarai unta kepada Rasulullah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku membiarkan unta ini dan bertawakal kepada Allah? Atau melepaskannya dan bertawakal kepada Allah?” Rasulullah kemudian menjawab, “Tambatlah unta tersebut dan bertawakallah kepada Allah!”.
Al-Qur’an juga memerintahkan solat khauf ketika dalam kondisi perang. Al-Qur’an memerintahkan untuk membagi tentara menjadi dua bagian: satu bagian yang melakukan solat dibelakang imam, dan bagian yang lain bersiap siaga menghadapi musuh.
Al-Qur’an juga mewasiatkan agar selalu waspada dan memegang senjata, hingga tak ada kesempatan sedikitpun bagi musuh untuk mencuri kesempatan ketika mereka sedang sibuk melaksanakan salat.
Macam-Macam Tawakal
Ditinjau dari sudut orang yang bersikap tawakal, tawakal itu dibagi menjadi dua bagian, yaitu: tawakal kepada Allah dan tawakal kepada selain Allah.
- Tawakal kepada Allah
Tawakal kepada Allah dalam keadaan diri yang istiqamah serta dituntun dengan petunjuk Allah, serta bertauhid kepada Allah secara murni dan konsisten terhadap agama Allah baik secara lahir maupun batin, tanpa ada usaha yang memberikan pengaruh kepada orang lain.
Ditambah dengan tawakal kepada Allah untuk menegakkan, membanteras bid’ah, memerangi orang-orang kafir dan munafik, serta memperhatikan kemaslahatan kaum muslim dengan memerintahkan kebaikan serta mencegah kemungkaran.
Ini adalah sikap tawakalnya para nabi dan para ulama’ sesudah mereka, dan inilah sikap tawakal yang paling agung dan yang paling bermanfaat.
- Tawakal kepada selain Allah
Menurut Abdullah Umar ad-Dumaiji bahwa tawakal kepada selain Allah ini terbagi menjadi dua bagian.
Pertama, tawakal syirik yaitu tawakal kepada selain Allah dalam urusan yang tidak bisa dilakukan kecuali Allah SWT.
Seperti orang-orang yang bertawakal kepada tahgut (sesuatu yang disembah selain Allah) dan orang yang sudah mati, tawakal kepada tangkal dan sebagainya, untuk meminta pertolongan mereka, yang berupa kemenangan, perlindungan, rezeki dan syafa’at. Inilah syirik yang paling besar, karena sesungguhnya urusan-urusan ini dan yang sejenisnya tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Allah SWT.
Ada juga yang bertawaal kepada selain Allah dalam urusan- urusan yang bisa dilakukan menurut dugaannya oleh yang ditawakalkan nya. Seperti bertawakal kepada sebab-sebab yang nyata dan biasa, seperti seseorang yang bertawakal kepada seorang pemimpin atau raja yang mana Allah telah menjadikan di tangan pemimpin itu rezeki atau mencegah kejahatan dan hal-hal yang serupa itu lainnya, ini adalah syirik yang tersembunyi.
Hal ini dikarenakan hati tidak bertawakal kecuali kepada siapa yang diharapkan darinya, mereka bertawakal kepada kekuatan, ilmu, teman, guru, raja atau harta tanpa melihat kepada Allah, dan tidaklah seseorang mengharapkan kepada sesama makhluk atau bertawakal padanya melainkan ia gagal dalam mendapatkan apa yang diingini, dan ini adalah perbuatan syirik.
Hikmah Tawakal
Sikap seorang insan yang bertawakal kepada Allah diibaratkan benih yang baik, dibaja dan disirami dengan baik. Kemudian, tumbuhlah buah yang baik yaitu hasilnya bisa dimakan dan diberi kepada orang yang memerlukan.
Begitu juga tawakal, tawakal kepada Allah dengan benar akan melahirkan kehidupan yang baik sama ada kehidupan pribadi maupun kehidupan berjemaah.
- Timbulnya Ketenangan dan Ketentraman
Orang yang bertawakal kepada Allah akan merasakan ketenangan dan ketentraman yang memenuhi sudut-sudut jiwanya.
Orang yang bertawakal akan merasa aman di saat orang lain merasa takut, rasa tenang di saat orang lain merasa bimbang, rasa yakin di saat orang lain merasa ragu, keteguhan hati di saat orang lain merasa goyah, penuh harapan di saat orang lain berputus asa, dan ia akan merasa ridha ketika orang lain marah. Keadaan inilah yang dirasai para nabi dan rasul.
Seperti Nabi Musa, ketika ia berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”.
- Kekuatan
Orang yang bertawakal kepada Allah akan merasakan kekuatan, yaitu kekuatan jiwa dan batin. Sepertinya hal Rasulullah dan para sahabat ketika menghadapi musuh di medan Badar.
Kaum muslimin tidak pernah menghiraukan jumlah para musuh mereka dan juga tidak pernah menghitungnya. Mereka sentiasa bertawakal kepada Allah.
- Timbulnya Harapan
Sifat orang yang bertawakal kepada Allah akan adanya harapan akan memperoleh apa yang diinginkan, keselamatan dari hal yang dibenci, terlepas dari kesusahan, hidayah dari kesesatan dan diperolehnya keadilan atas kezaliman.
Mereka tidak pernah merasa dalam hati rasa hilang harapan dan berputus asa karena itu adalah bagian dari kesesatan dan kekufuran.
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


