Kemunduran Islam di Era Syekh Syakib Arslan
وما قولك في عزة دون استحقاق, وفي غلة دون حرث ولا زرع, وفي فوز دون سعي ولا كسب, وفي التأييد دون أدنى سبب يوجب التأييد؟
“Segala yang anda katakan mengenai kemuliaan atau kekuatan (tidak mengerti teorinya) itu tidak sepantasnya, apa jadinya hsil panen tanpa ada yang ditanam, apa jadinya kesuksesan tanpa disertai dengan adanya usaha dan kerja keras, apa jadinya sebuah tekad yang bulat tanpa disertai dengan adanya sebab untuk mewujudkannya?”
Tidak heran bahwa ucapan seperti itu terlontar dari lisan Syakib Arslan dengan melihat kondisi umat Islam pada saat itu yang semakin malas, suka mengesampingkan amal ibadah, menyelisihi syariat yang telah Allah SWT tetapkan berupa yang haq dan batil, antara yang muḍarat dan manfaat, hingga yang positif dan negatif.
Menurut Arslan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemunduran umat Islam. Pertama adalah kebodohan, tidak tanggung-tanggungnya kebodohan mereka hingga tidak bisa membedakan antara khamr dan cuka. Seakan-akan zaman jahiliyah kembali menghantui keberadaan umat Islam dan menjadi sandra yan paten yang tidak bisa ditolak.
Kedua yaitu ilmu yang tanggung, kejadian seperti ini merupakan hal yang lebih bahaya daripada kebodohan. Karena suatu kebodohan jika Allah SWT telah menunjukkannya kepada seorang mursyid yang alim maka dia akan taat dan tidak membangkang pada sang mursyid, sedangkan orang yang memiliki ilmu setengah-setengah dia akan menjadi orang yang merasa paling benar bahkan tidak menyadari bahwa sebenarnya dia tidak tahu dan merasa tidak puas atas ketidaktahuannya, seperti yang dikatakan oleh suatu maqalah Arab:
إبتلائكم بمجنون خير من إبتلائكم بنصف مجنون
“Bencana yang menimpamu berupa orang gila itu lebih baik daripada bencana yang menimpamu berupa orang setengah gila (ilmunya setengah-setengah).
Ketiga, rusaknya akhlak serta hilangnya nilai-nilai moral dari apa yang telah diajarkan oleh Al-Qur’an, mereka sendiri juga menggerus tekad bulat yang telah dipelopori oleh pendahulunya (Ulama Salaf) dalam menggapai kesuksesan. Pentingnya akhlak telah dikesampingkan dari sebuah ilmu pengetahuan, padahal akhlak jauh lebih penting dari sebuah ilmu pengetahuan, seperti yang dikatakan dalam sebuah syair milik Ahmad Syauqi:
وإنما الأمم الأخلاق ما بقيت # فإن هم ذهبت أخلاقهم ذهبوا
Krisis akhlak tidak hanya dialami pada umumnya umat Islam, tetapi juga dialami oleh para pemimpin mereka khususnya. Hingga para pemimpin beranggapan bahwa rakyat membiarkan mereka untuk berbuat seenaknya tanpa memikirkan kemaslahatan umat. Bagaikan singa yang berusaha mengejar mangsanya, tidak puasnya para elit politik memanfaatkan para rakyat untuk kepentingan diri sendiri, para pembelot agama bertopeng menjadi Ulama’ gadungan dan berfatwa agar diperbolehkannya membunuh pada rakyat yang tidak taat pada pemerintah atau pemimpin.
Keempat, adanya sifat pengecut dan rasa takut. Setelah umat Islam terkenal akan sifat pemberani serta tidak takut terhadap musuh yang melawannya, namun justru saat itu mengalami kemerosotan mental. Bahkan sebagian dari mereka takut pada namanya kematian. Berbanding terbalik dengan kaum ifrinjh (Romawi) yang tidak memiliki rasa takut sama sekali atas musuh yang dihadapi, mereka pun tidak menghina atau meremehkan pada rivalnya meskipun jauh bandingannya dalam segi intelektual dan moralnya. Sifat yang dimiliki oleh orang Romawi itu seharusnya ada pada orang muslim, Allah SWT berfirman dalam kitab suci-Nya:
ولا تهنوا في ابتغاء القوم إن تكونوا تألمون فإنهم يألمون كما تألمون وترجون من الله ما لا يرجون
“Dan janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan, sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan.” (An-Nisa: 104)
Sifat pengecut dan penakut inilah yang akhirnya menimbulkan rasa putus asa dari rahmat Allah SWT, umat Islam telah lupa bahwa berputus asa merupakan hal yang tidak etis secara akal serta dilarang dalam syariat. Karena merupakan bentuk kufur terhadap nikmat yang telah Allah SWT berikan, mereka lalai atas firman Allah SWT:
الذين قال لهم الناس إن الناس قد جمعوا لكم فاخشوهم فزادهم إيمانا وقالواحسبنا الله ونعم الوكيل. فانقلبوا بنعمة من الله وفضل لم يمسسهم سوء
“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang yang mengatakan padanya, “Orang-orang (quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka “, ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) dan iman mereka dan mereka menjawab, “ Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung”. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah dan mereka tidak ditimpa suatu bencana..” (Ali Imran: 173-174)

Selain itu, Arslan juga menambahkan dua sebab lain, yakni ultra-modernisme dan konservativisme. Arslan mengkritik kaum muslim konservatif karena dia menganggap bahwa mereka melanggengkan kemiskinan dengan mereduksi Islam hanya berurusan dengan masalah akhirat. Mereka juga dia tuduh memerangi ilmu sains, matematika, seni dan memvonis sebagai praktek orang kafir. Ini justru menghindarkan muslim dari manfaat ilmu pengetahuan.
Arslan menganjurkan kembali kepada nilai-nilai Islam dahulu karena umat Islam pernah berjaya pada zamannya. Namun, dia juga menganjurkan agar umat Islam belajar kepada negara-negara yang sudah jauh lebih maju seperti Eropa, Amerika, Jepang dan lain-lain.
Untuk kembali bangkit dan meraih kemajuan yang tinggi, Arslan menyarankan “jihad” dalam pengertian “pengorbanan” jiwa dan harta dalam membangun peradaban.
Peradaban Barat dan peradaban maju mana pun, menurutnya, menerapkan jihad dalam pengertian ini juga. Untuk meraih ilmu pengetahuan, misalnya, bangsa-bangsa itu harus mengeluarkan dana dan sumber daya yang besar serta harus mempertahankan identitas mereka.
“Contoh paling bagus adalah orang-orang Eropa. Pelajari mereka sebaik mungkin, kita tidak akan mendapati satu negara pun dari mereka yang ingin kehilangan identitas mereka menjadi orang lain. Inggris tetap Inggris, Prancis tetap menjadi Prancis, dst.”
Arslan lalu mengatakan bahwa semua hal itu harus menjadikan Al-Qur’an sebagai inspirasi untuk menggapai kemajuan:” Jika muslim berusaha dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai inspirasi mereka akan dapat menyaingi negara maju lainnya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tetap menjaga keimanan mereka sebagaimana mestinya.”
Seruan menjadikan Al-Qur’an sebagai inspirasi sejalan dengan gerakan modernisme Islam lain. Hanya saja bagaimana metodologi pengambilan inspirasi dari Al-Qur’an masih absurd. Namun, bagaimanapun juga, kesediaannya untuk belajar kepada orang lain, seperti negara Barat dan Jepang, menunjukkan sifat keterbukaannya.
Tetapi keterbukaan mereka juga diiringi dengan kritis dan berjarak, karena nilai utama yang dijadikan inspirasi tetaplah nilai Islam dan Al-Qur’an. Di sinilah umat Islam harus mempertahankan otentitas dan sekaligus tidak anti pada modernitas dalam pemikirannya dan pergerakannya. (mas)
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


