Jadikan Setiap Ramadhan Sebagai Ramadhan Terakhir Kita di Dunia

Dengarkan Artikel Ini

“Kalaulah”, kata yang disematkan Nabi SAW dalam hadistnya, artinya bisa jadi kita tidak tahu ganjarannya, bisa jadi kita tidak mungkin melaksanakannya. Allah SWT rahasiakan ganjarannya yang tidak terhingga dengan balasan pahala yang unlimited. Allah SWT tidak ingin menyusahkan hamba-Nya beribadah puasa setiap hari tanpa ada Idul Fitri.

Ramadhan menjadi momentum umat untuk kembali jiwa dan raganya kepada sang Pencipta. Sebelas bulan sebelumnya, umat diperadukkan dengan aktivitas keduniawian. Untuk shalat, shaum, berinfak, berderma, dan berbagi dengan sesama terkadang terlalaikan. Bulan Ramadhan mengembalikan itu semua ke titik nadir, manusia sebagai ciptaan Allah.

Apa pun kondisi kita saat ini, sebagai umat Muslim, semua sudah ditakdirkan Allah SWT, tetap berhusnudzon (berbaik sangka), dan jangan sekali-sekali berpikiran su’udzon (berburuk sangka). Semua takdir tidak ada yang buruk, semuanya baik. Baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Begitu sebaliknya, buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu,” (QS. Al-Baqoroh: 216). (yat)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca