Biografi Abu Yazid al Bustami
لله فأجعل له الأنفاس حراسا
Zikir adalah sebuah pintu yang paling besar (untuk mencapai fana’ dan makrifah) pada Allah; maka masukilah, sertailah setiap keluar masuknya nafas dengan zikir, sebab Jalan menuju fana’ menurut Abu Yazid dikisahkan dalam mimpinya menatap Tuhan.
la bertanya, “Bagaimana caranya agar aku sampai pada- Mu? Tuhan menjawab, “Tinggalkan diri (nafsu)mu dan kemarilah. “Abu Yazid sendiri sebenarnya pernah melontarkan kata fana’ pada salah satu ucapannya:
أعرفه بى حتى فنيت ثمّ عرفته به فحيّيْتُ
Artinya:
“Aku tahu pada Tuhan melalui diriku hingga aku fana’, kemudian aku tahu pada-Nya melalui diri-Nya, maka aku pun hidup.”
Kehancuran (fana’) dalam ucapan ini memberikan 2 bentuk pengenalan (Al-Ma’rifat) terhadap Tuhan, yaitu :
Baqa’ berasal dari kata baqiya yang berarti tetap secara lnguistiknya. Sedangkan berdasarkan istilah tasawuf berarti membangun sifat-sifat terpuji terhadap Allah.
Pengertian baqa ‘tidak terpisahkan dari pengertian manusia’ karena keduanya merupakan pengertian yang berpasangan. Jika seorang sufi mengalami fana’, dia juga mengalami baqa’.
Dengan realisasi Fana ‘dan Baqa’, seorang sufi dianggap telah mencapai tingkat ittihad atau menyatu dengan Yang Esa (Tuhan) yang oleh Abu Yazid Al-Bustami disebut “Tajrid Fana ‘fi at-Tawhid”, pemersatu dengan Tuhan, tanpa di dimediasi oleh apapun.
Pemahaman Sufi tentang Fana ‘, Baqa’ dan Ittihad konsisten dengan konsep perjumpaan dengan Tuhan. Fana ‘dan Baqa’ juga dianggap sebagai jalan menuju perjumpaan dengan Tuhan sesuai dengan firman Allah SWT yang berbunyi sebagai berikut:
“Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada-Nya” (Q.S. al-Kahfi, 18 : 110)
Ittihad adalah tahapan selanjutnya yang dialami seorang sufi setelah ia menempuhi tahapan fana dan baqa’. Disebutkan oleh Abdul Razaq Al-Katsani:
التحاد هو شهود الوجود الحق الواحد المطلق الذى الكل به موجود بالحق فيتحد به الكل من حيث كون كل شيء موجوداً به معدوما بنهسه، لا من حيث أنّ له وجوداً خاصاً اتحد به فإنه محال
Artinya:
Dalam tahapan ittihad, seorang sufi bersatu dengan Tuhan, antara yang mencintai dan yang dicintai menyatu, baik substansi maupun perbuatannya. Dalam ittihad identitas telah hilang dan identitas menjadi satu. Sufi yang bersangkutan, karena fananya tak mempunyai kesadaran lagidan berbicara dengan nama Tuhan.
Usaha untuk mencapai fana’, baqa’ dan ittihad Abu Yazid Al-Bustami menjalaninya sebagaimana para sufi pada umumnya, yaitu diawali dengan cara zuhud. Ia berkata ketika seseorang bertanya kepadanya, tentang perjuangan mencapai ittihad. Ia menjawab lebih dari 70 tahun lamanya.
Dengan kata lain, perjalanan sufi bagi Abu Yazid Al-Bustami ditempuh selama hidupnya hingga tujuh puluh tahun lamanya. Ia juga berkata hari pertama aku zuhud terhadap dunia dan segala isinya, pada hari kedua aku zuhud terhadap akhirat dan segala yang akan terjadi disana, dan pada hari ketiga aku zuhud terhadap apa saja selain kepada-Nya.
Seorang sufi dianggap telah mencapai posisi ittihad adalah ketika ia dalam keadaan mabuk (sakr atau trance). Ucapan-ucapan seperti itu juga diucapkan oleh Abu Yazid, antara lain ia berkata:
Pengalaman kedekatan Abu Yazid dengan Tuhan hingga mencapai ittihad disampaikannya dalam ungkapan,
“pada suatu ketika aku dinaikkan kehadirat Tuhan, lalu Ia berkata;”
“Abu Yazid, makhluk-makhluk-Ku sangat ingin memandangmu.
Aku menjawab: “Kekasihku, aku tak ingin melihat mereka. Tetapi jika itu kehendak-Mu, maka aku tak berdaya untuk menentang-Mu. Hiasilah aku dengan keesaan-Mu, sehingga jika makhluk-makhluk-Mu memandangku, mereka akan berkata: Kami telah melihat-Mu. Engkaulah itu yang mereka lihat, dan aku tidak berada di hadapan mereka itu.”
Pernyataan di atas menggambarkan bahwa Abu Yazid telah dekat dengan Tuhan, tetapi ittihad belum ia capai, ittihad tercapai ketika ia mengucapkan sebagai berikut:
“Tuhan berkata, Abu Yazid, mereka semua kecuali engkau adalah makhluk-Ku. Aku pun berkata, aku adalah Engkau. Engkau adalah aku, dan aku adalah Engkau. Konversasi; terputus Kata menjadi satu, bahkan semuanya menjadi satu. Tuhan berkata kepadaku, Hai engkau. Aku dengan perantaraan-Nya menjawab, Hai aku. Ia berkata, “Engkaulah yang satu. Aku menjawab, akulah yang satu. Ia berkata, Engkau adalah engkau. Aku menjawab, aku adalah aku.”
Dalam ajaran ittihad, yang terlihat hanya satu wujud meskipun sebenarnya ada dua wujud, yaitu Tuhan dan manusia. Karena apa yang dilihat dan dirasakan hanyalah formalitas, ittihad ini bisa menjadi pertukaran peran antara manusia dengan Tuhan.
Dalam suasana ini, mereka merasa menyatu dengan Tuhan, sedemikian rupa sehingga yang mencintai dan yang dicintai menjadi satu, hingga orang-orang saling memanggil “Hai.”
Dalam keadaan Fana’nya, Sufi yang bersangkutan tidak memiliki hati nurani sehingga dia berbicara atas nama Tuhan.
Louis Massignon menentukan bahwa ekspresi yang muncul dalam Sufi tanpa menyadarinya berarti bahwa dia adalah Fananya sendiri dan bahwa dia abadi dalam esensi Sejati, maka dia berbicara dengan kata-kata Yang Lebih Benar, bukan kata-katanya sendiri. Kata-kata yang dia katakan dalam keadaan ini tidak akan diucapkan dalam kondisi normal, dan bahkan akan ditolak oleh dirinya sendiri.
Hal ini sejalan dengan Firman Allah SWT pada surah Al-Kahfi ayat 110 :
Artinya:
Katakanlah, Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah SWT memberikan kesempatan kepada manusia untuk bertemu dengannya, bahkan karena merasa begitu dekat dengan Tuhan, Abu Yazid al-Bustami merasakan drinya telah bersama-Nya.
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


