80 Persen Disabilitas Netra Muslim tak Bisa Baca Alquran Braille

Dengarkan Artikel Ini

Ia menyampaikan, untuk mengatasi kekurangan guru SLB, direkrutlah guru sekolah umum untuk mengajar di SLB.

“Guru SLB sangat kekurangan, jadi kita terpaksa rekrut guru-guru yang non-SLB, padahal guru SLB itu khusus (yang punya kemampuan khusus mengajar siswa disabilitas),” ujar Susan.

Dia mengungkapkan, perhatian pemerintah terhadap guru dan siswa SLB dirasa sangat minim khususnya terhadap mereka yang tunanetra. Susan menaruh harapan besar terhadap Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) yang sekarang. Dia merasa menteri sebelumnya kurang perhatian terhadap siswa dan guru SLB.

Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Baharudin menjelaskan, langkanya pengajar Alquran Braille terjadi karena jumlah SLB yang khusus menerima peserta didik disabilitas netra saat ini hanya sedikit. Kalaupun ada SLB yang sudah menerima peserta didik dengan ragam kekhususan pun, dia mengatakan, jumlah peserta didik disabilitas netra hanya sedikit.

Di sisi lain, ujar dia, jumlah guru yang memahami sistem simbol braille Indonesia itu diantaranya sistem simbol Arab braille masih sangat kurang. Baharuddin mengungkapkan, pihaknya sudah mencetak banyak buku braille kemudian bekerja sama dengan Kementerian Agama khusus Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ). Hanya saja, belum ada tenaga khusus untuk Alquran Braille.

”Pada prinsipnya pemerintah terus berusaha untuk memenuhi kebutuhan guru pengajar Alquran braille. Hanya saja penerimaan atau ketika dibuka misalnya lowongan terkait dengan guru-guru ini, tidak banyak yang memenuhi kuota,” sambungnya.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca