influencer

Promosi Produk Halal Lewat Influencer, Boleh Nggak Menurut Islam? Ini Jawabannya!

Jakarta Timur – 1miliarsantri.net: Pernah nggak sih kamu scroll TikTok atau Instagram dan nemu influencer yang lagi review produk halal, entah itu skincare, makanan, atau minuman, terus kamu langsung tergoda buat beli? Fenomena ini sekarang udah jadi hal yang super umum. Banyak brand halal pakai jasa influencer buat memperluas jangkauan promosi. Tapi, di sisi lain, muncul juga pertanyaan yang sering bikin galau: “Sebenarnya boleh nggak sih promosi produk halal lewat influencer menurut Islam?” Nah, yuk kita bahas dan cari tahu jawabannya bareng-bareng, biar kamu nggak cuma ikut trend, tapi juga tetap paham batasannya sesuai syariat. Dunia Digital & Gaya Baru Promosi Halal Di era digital kayak sekarang, promosi lewat influencer udah jadi senjata utama buat bisnis. Influencer punya kekuatan besar, mereka bisa memengaruhi keputusan beli ribuan orang hanya lewat satu postingan. Kalau dulu promosi halal dilakukan lewat brosur, spanduk, atau bazar, sekarang cukup dengan satu video aesthetic di TikTok dan caption jujur di Instagram, boom …… penjualan bisa naik drastis. Tapi, justru karena pengaruhnya besar, cara promosi ini harus dikendalikan dengan nilai-nilai Islam. Islam nggak melarang promosi atau jualan, selama dilakukan dengan cara yang jujur, sopan, dan nggak menipu. Bahkan, Rasulullah ﷺ sendiri dikenal sebagai pedagang yang jujur dan amanah. Artinya, promosi halal lewat influencer boleh-boleh aja, asal tetap dalam koridor etika Islam. Syarat Utama Promosi: Jujur dan Nggak Berlebihan Promosi dalam Islam intinya harus menghindari dua hal: gharar (ketidakjelasan) dan tadlis (penipuan). Artinya, produk yang diiklankan harus sesuai dengan kenyataan, bukan hasil editan atau klaim palsu. Kalau influencer mempromosikan skincare halal misalnya, mereka harus benar-benar pernah pakai produknya, bukan cuma asal endorse karena dibayar. Dan kalau produk itu punya batas penggunaan tertentu (misalnya hasilnya nggak instan), ya harus dijelasin juga. Baca juga: Usaha Syariah ‘Meraih Laba’ Tanpa Kehilangan Berkah Pilih Influencer yang Punya Nilai Sejalan Sekarang banyak banget influencer, tapi nggak semuanya cocok buat promosi produk halal. Buat bisnis halal, penting banget buat milih influencer yang punya gaya hidup dan citra sejalan dengan nilai syariah. Misalnya: -Kalau kamu jual produk hijab, pilih influencer yang juga berhijab dan dikenal punya konten positif. -Kalau kamu promosi makanan halal, jangan sampai influencer-nya pernah terlibat kasus konsumsi makanan non-halal. -Kalau kamu promosi produk keuangan syariah, pastikan influencer-nya paham basic tentang riba dan etika finansial Islam. Tujuannya bukan buat menghakimi, tapi biar pesan yang disampaikan lebih kredibel dan membawa nilai positif. Soalnya, promosi halal itu bukan cuma soal jualan, tapi juga dakwah kecil lewat gaya hidup. Hindari Unsur yang Bertentangan dengan Syariat Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam promosi lewat influencer menurut Islam, antara lain: 1. Jangan menampilkan aurat atau konten yang menggoda. Misalnya, promosi pakaian muslim tapi pose atau outfit-nya justru berlebihan, ini bisa jadi kontradiktif dengan nilai produk yang dijual. 2. Jangan mengandung unsur ghibah atau menjatuhkan produk lain. Promosi halal seharusnya fokus menunjukkan keunggulan produk sendiri, bukan membanding-bandingkan dengan cara menjatuhkan kompetitor. 3. Hindari musik atau visual yang mengandung hal haram. Kalau promosi pakai video, pastikan kontennya tetap sopan dan nggak mengandung unsur yang dilarang seperti musik dengan lirik vulgar atau gerakan yang tidak pantas. Promosi yang barokah itu bukan cuma dilihat dari jumlah view, tapi dari niat dan dampaknya. Baca juga: Generasi Z dan Transformasi Gaya Bisnis di Indonesia Strategi Promosi Halal yang Efektif Lewat Influencer Oke, sekarang masuk ke bagian praktisnya. Gimana sih caranya biar promosi produk halal lewat influencer bisa tetap efektif tapi juga sesuai syariah? Berikut beberapa tips yang bisa kamu coba: 1. Edukatif tapi ringan Jangan cuma promosi “beli-beli-beli.” Ajak influencer buat ngasih edukasi. Misalnya, kalau kamu jual minuman herbal halal, influencer bisa bahas manfaat bahan-bahan alami dari sisi kesehatan dan sunnah. 2. Gunakan narasi kejujuran Influencer yang jujur lebih dipercaya daripada yang hiperbola. Minta mereka cerita pengalaman pribadi, bukan script kaku. “Aku udah coba 3 minggu dan emang ngerasa kulitku lebih lembap, tapi hasilnya beda-beda ya tiap orang.” Kalimat kayak gini jauh lebih dipercaya dan sesuai etika Islam. 3. Kolaborasi dengan pesan positif Bisa banget bikin campaign yang nyentuh nilai kebaikan, kayak “Cantik itu bersih, bukan berlebihan,” atau “Halal lifestyle buat hidup lebih tenang.” Promosi kayak gini nggak cuma menjual produk, tapi juga menebarkan nilai-nilai Islam yang menenangkan hati. Kesimpulannya:  Boleh, Asal Tetap Jaga Nilai! Jadi, promosi produk halal lewat influencer boleh dalam Islam, selama dilakukan dengan cara yang jujur, sopan, dan tidak menipu. Ingat, tujuan bisnis halal bukan cuma cari untung, tapi juga menyebarkan kebaikan dan menjaga keberkahan. Influencer bisa jadi jembatan bagus buat memperkenalkan produk halal ke audiens yang lebih luas, asal mereka juga paham tanggung jawab moral dan spiritual di balik konten yang dibuat. Karena pada akhirnya, bisnis halal bukan cuma tentang label, tapi juga tentang niat dan akhlak. Kalau semua pihak, dari pemilik brand sampai influencer, sama-sama jaga niatnya untuk berdakwah lewat cara yang modern dan beretika, insyaAllah promosi halal ini nggak cuma sukses di dunia, tapi juga bernilai di sisi Allah SWT. Penulis : Vicky Vadila Muhti Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More
produk halal

Wow Ini Keren! Dari Dapur ke Dunia, Begini Cara Bawa Produk Halal Tembus Pasar Global

Jakarta Timur – 1miliarsantri.net: Kamu punya usaha makanan rumahan, tapi diam-diam suka mikir, “Gimana ya caranya biar produkku bisa dikenal sampai luar negeri?” Tenang, kamu nggak sendiri! Banyak pelaku UMKM halal yang punya mimpi serupa, mulai dari jualan sambal, kue kering, sampai skincare herbal. Kabar baiknya, dunia lagi ngebuka lebar banget peluang buat produk halal. Pasar halal global sekarang nilainya lebih dari USD 2 triliun, dan terus naik tiap tahun! Nggak cuma negara Timur Tengah, tapi juga Eropa, Amerika, bahkan Jepang dan Korea mulai banyak nyari produk halal. Nah, artinya, peluang buat kamu yang punya produk halal itu besar banget asal tahu cara mainnya. Tapi gimana sih caranya yang benar? Nah, baca terus artikel ini sampai selesai, biar tau jawabannya! Apa Itu Halal Value Chain Sebelum mikir ekspor, penting banget buat paham dulu konsep rantai nilai halal (halal value chain). Ini bukan cuma soal makanan nggak mengandung babi atau alkohol aja, tapi lebih luas: mulai dari bahan baku, proses produksi, pengemasan, distribusi, sampai cara promosinya. Contoh nih, kamu jual sambal rumahan. Kalau cabai dan minyak yang kamu pakai udah jelas halal dan proses masaknya higienis, itu bagus. Tapi kalau kemasannya dari bahan daur ulang yang bersih dan distribusinya nggak campur dengan produk non-halal, itu bisa jadi nilai tambah yang luar biasa buat pasar global. Karena di luar negeri, kepercayaan konsumen itu nomor satu. Sekali mereka yakin brand kamu jujur dan transparan, mereka bakal loyal banget. Baca juga: Cara Menjalankan Usaha Tanpa Riba, Panduan Bisnis Halal dari Nol Urus Sertifikasi Halal dan Legalitas Usaha Buat pasar global, sertifikat halal itu kayak paspor buat produkmu. Tanpa itu, kamu bakal susah banget tembus ke supermarket besar atau platform internasional. Di Indonesia, kamu bisa mulai dari BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal) atau lembaga pendamping halal (LPH) seperti MUI. Setelah itu, kalau kamu mau ekspor, cari tahu juga sertifikasi halal yang diakui negara tujuan. Misalnya, Malaysia punya JAKIM, Singapura punya MUIS, dan Timur Tengah biasanya pakai sertifikat yang diakui GCC Standardization Organization (GSO). Selain halal, jangan lupa juga urus izin edar, PIRT, dan sertifikasi ekspor kalau kamu jual produk makanan atau minuman. Kalau produkmu kosmetik, kamu perlu izin BPOM dan label bahan aktif yang aman. Birokrasi mungkin terdengar ribet, tapi tenang, sekarang udah banyak banget program pemerintah dan lembaga pendukung UMKM yang bantuin gratis atau murah! Buat Kemasan dengan Desain dan Bahan Terbaik Ingat, kalau mau produkmu dikenal dunia, kemasan itu ujung tombak. Bayangin aja, kamu jual sambal tapi pakainya botol plastik polos dan stiker print biasa. Dibanding produk luar yang desainnya rapi dan elegan, tentu calon pembeli bakal milih yang tampilannya lebih profesional. Coba invest sedikit buat desain kemasan yang menarik dan modern, tapi tetap bawa unsur lokal. Misalnya, kamu jual sambal khas Minang, bisa pakai motif batik kecil atau tagline “Taste of Indonesia” di label. Desain yang bagus bukan cuma bikin produkmu terlihat profesional, tapi juga membantu orang luar negeri langsung tahu identitas produkmu. Dan jangan lupa, pastikan kemasan kamu tahan lama dan aman dikirim ke luar negeri. Banyak UMKM gagal ekspor cuma karena kemasan mereka rusak di perjalanan! Bangun Branding yang Kuat Lewat Cerita Konsumen global suka banget sama cerita di balik produk. Mereka pengin tahu siapa kamu, kenapa kamu bikin produk itu, dan apa nilai yang kamu pegang. Kalau kamu mulai bisnis sambal karena resep turun-temurun dari nenek, ceritain itu! Namun jika kamu bikin produk skincare halal karena pengin bantu orang muslim tetap cantik tanpa khawatir bahan haram, tulis juga di website atau packaging. Cerita-cerita kayak gitu bikin produkmu lebih dekat dan punya nilai emosional. Ingat, sekarang yang dijual bukan cuma barangnya, tapi makna dan kisah di baliknya. Baca juga: Program Sekolah Bisnis Pesantren Upaya Pemberdayaan Masyarakat Manfaatkan E-Commerce dan Digital Marketing Kamu nggak harus punya toko fisik di luar negeri buat jualan global. Cukup dengan platform digital. Mulai dari marketplace seperti Shopee International, Tokopedia Global, Amazon, Etsy, atau bahkan Tiktok Shop. Selain itu, kamu juga bisa ikut program export coaching dari Kementerian Perdagangan atau Bea Cukai yang bantu UMKM belajar jualan ke luar negeri. Tapi jangan cuma asal upload produk ya. Pelajari juga strategi digital marketing global, seperti: Kalau bisa, bangun website resmi biar brand kamu lebih kredibel di mata pembeli luar. Cari Mitra Ekspor dan Komunitas UMKM Halal Biar nggak jalan sendirian, gabunglah ke komunitas atau platform ekspor seperti Smesco Indonesia, Halal Export Center, dan Indonesian Halal Lifestyle Center (IHLC). Biasanya mereka sering adain pelatihan, pameran produk halal, sampai business matching antara UMKM dan buyer luar negeri. Di situ, kamu bisa ketemu banyak peluang baru dan dapet insight langsung dari pelaku usaha yang udah sukses ekspor. Tetap Pegang Prinsip Halal & Berkah Akhirnya, kunci utama dalam bisnis halal global bukan cuma “untung besar,” tapi keberkahan. Jangan tergoda buat ngurangin kualitas bahan atau nyembunyiin proses yang nggak halal cuma demi cepat laku. Ingat, kepercayaan itu susah dibangun tapi gampang banget hilang. Kalau kamu konsisten menjaga integritas dan niat baik, percayalah! Produkmu akan punya jalan sendiri buat dikenal dunia. Jadi, kalau kamu punya produk halal yang dibuat dari hati, jangan ragu buat mimpi besar. Mulai dari dapur kecilmu, kamu bisa banget menembus pasar dunia. Yang penting, persiapkan dengan matang, bangun brand yang jujur, dan terus belajar. Dunia butuh lebih banyak produk halal yang bukan cuma enak, tapi juga membawa nilai kebaikan. Siapa tahu, beberapa tahun lagi, produkmu bukan cuma dikenal di kampung halaman, tapi juga di rak supermarket Dubai, London, atau Tokyo. Karena setiap bisnis halal yang kamu bangun dengan niat baik, pasti ada jalan untuk mendunia. Penulis : Vicky Vadila Muhti Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More

Estetika Halal: Mengapa Produk Muslim-Friendly Kini Juga Soal Gaya

Surabaya – 1miliarsantri.net : Di etalase pusat perbelanjaan, kemasan-kemasan produk halal tidak lagi tampil sederhana. Botol serum bertuliskan “Halal Certified” kini bersanding dengan label minimalis bergaya Skandinavia. Mukena travel dijual dalam pouch kulit sintetis pastel yang ramping dan elegan. Hijrah hari ini tidak hanya mengubah kebiasaan, tetapi juga membentuk estetika baru yang dikemas secara visual dan strategis. Konsumen muslim urban kini tak hanya mencari kehalalan dari sisi bahan dan proses, tapi juga memperhatikan desain, kemasan dan estetika. Dalam satu dekade terakhir, pasar produk halal dan Muslim-friendly mengalami pertumbuhan signifikan. Label halal kini bukan hanya keperluan fiqh, melainkan telah menjadi bagian dari identitas gaya hidup yang menjanjikan loyalitas konsumen. Banyak brand berlomba-lomba menawarkan produk dengan citra Muslim-friendly, mulai dari perlengkapan ibadah, kosmetik halal, hingga kebutuhan harian. Namun di balik tren ini, muncul pertanyaan mendasar: apakah estetika halal ini merupakan ekspresi religius yang otentik, ataukah semata bentuk reduksi spiritualitas menjadi gaya pasar? Ambiguitas ini terlihat dari cara brand memosisikan nilai-nilai Islam dalam kampanye mereka. Sebuah produk pelembab kulit, misalnya, tidak hanya menonjolkan bahan wudhu-friendly, tetapi juga menyisipkan kutipan hadis dengan tipografi serif yang mewah. Tentu, ini bisa membantu sebagian konsumen, terutama mereka yang baru memulai perjalanan hijrah. Namun ketika desain mengambil alih substansi, spiritualitas berisiko menjadi tren musiman. Media sosial turut mempercepat transformasi ini. Hijrah kini tak hanya dimaknai sebagai perjalanan spiritual, tetapi juga sebagai penampilan visual yang terstruktur dan Instagramable. Feed berisi flatlay skincare halal lengkap dengan caption inspiratif membuat hijrah tampak seperti hal yang harus rapi dan siap difoto. Untuk sebagian Muslimah, ini bisa menjadi motivasi positif. Namun bagi yang lain, justru menciptakan tekanan psikologis seolah hijrah harus tampil ‘sempurna’ sejak awal. Di sisi lain produk halal yang menarik, bisa menjadi media dakwah yang lembut dan efektif. Risiko Komersialisasi: Ketika Halal Menjadi Simbol Gaya Hidup Premium Di satu sisi, perkembangan ini membuktikan bahwa konsumen Muslim kini lebih sadar akan pilihan dan ingin menghadirkan nilai agama dalam kehidupan modern. Mereka tak hanya ingin produk tanpa bahan haram, tetapi juga yang mendukung gaya hidup Islami kontemporer. Maka tidak mengherankan jika konsumen rela membayar lebih untuk pasta gigi berlabel halal, atau mukena travel premium bordir nama. Namun bila tidak disikapi dengan bijak, estetika halal bisa terjebak dalam logika konsumsi berlebihan. Ketika produk halal dikemas sedemikian rupa agar tampak premium, kaburlah batas antara kebutuhan spiritual dan hasrat gaya. Ada perbedaan halus antara memakai mukena untuk khusyuk dan memakai mukena aesthetic demi tampilan hijrah. Untuk menghadapi ini, Muslimah perlu memaknai tren secara lebih sadar. Berikut tips yang bisa diterapkan: Kini, sejumlah komunitas Muslim mulai bergerak lebih reflektif. Mereka memilih mengadakan barter perlengkapan ibadah, memperbaiki sajadah lama, atau mengubah isi akun media sosial menjadi ruang berbagi perjalanan spiritual yang jujur. Gaya hidup Islami didekati sebagai proses batin, bukan sekadar penampilan luar. Saat estetika halal telah menjadi arus utama, tugas kita adalah menjaga agar makna spiritualnya tetap utuh. Kita boleh bersyukur atas kemudahan dalam menjalani syariat melalui produk yang tersedia, namun penting untuk terus mengingat bahwa hijrah adalah proses jiwa, bukan sekadar tampilan katalog. Bila semua terasa seperti perlombaan visual, barangkali sudah waktunya untuk bertanya kembali: untuk siapa semua ini? Wallahu a’lam. (***) Penulis :  Faruq Ansori Editor : Toto Budiman dan Glancy Verona Foto by AI

Read More

Tiga Hal Penting yang Harus Dipersiapkan Sebelum Mengurus Sertifikat Halal MUI

Surabaya – 1miliarsantri.net: Sertifikasi halal dari MUI kini menjadi kebutuhan mendesak bagi pelaku usaha, terlebih setelah diterapkannya kewajiban sertifikasi halal secara bertahap melalui Undang-Undang Jaminan Produk Halal No. 33 Tahun 2014. Banyak pelaku usaha, terutama pemula, kebingungan harus mulai dari mana. Penulis pernah mengalami situasi dimana bekerja di perusahaan pembalut yang baru berdiri 1 tahun. Mereka ingin segera mendapat sertifikat halal MUI agar menguatkan kepercayaan customer terutama yang muslimah. Awalnya penulis hanya sebagai anggota yang dimintakan tolong melengkapi dokumen SJH tanpa briefing yang jelas. Alhasil saya searching berdasarkan info di google. Pas proses audit yang terjadi saat pandemi 2020, ternyata 80% dokumen SJH harus direvisi padahal saat itu tim auditor sudah mengecek dan menginterview bagian pabrik produksi yang berada di luar negeri. Akhirnya tim halal perusahaan dirombak lagi. Penulis diberikan tugas oleh manajemen untuk menjadi ketua tim halal dan harus memperbaiki dokumen SJH dengan kurun waktu 3 minggu. Lebih dari itu auditor tidak bisa memberikan kelayakan halal. Alhamdulillahnya selesai tepat waktu dan produk mendapat label halal MUI. Dari proses itu, penulis menemukan bahwa ada tiga hal utama perlu disiapkan secara serius, yaitu tim halal, dokumen SJH, dan kesiapan biaya agar tidak kebingungan di tengah jalan. 1.   Tim Halal: Ketua yang Kompeten Adalah Pondasi Sesuai dengan standar Sistem Jaminan Halal (SJH) dari LPPOM MUI, Tim Manajemen Halal (TMH) adalah tim internal perusahaan yang bertanggung jawab memastikan pelaksanaan dan pengawasan terhadap implementasi SJH di perusahaan. Tim ini wajib dibentuk sebelum mengajukan sertifikasi. Peran tim halal yang paling utama adalah ketua karena dialah yang akan mensosialisasikan, menerapkan sistem halal, melakukan pemantauan terhadap jalannya SJH ke divisi yang terkait, membuat dokumen laporan SJH, koordinasi dengan audit. Kalau ketua tidak kompeten maka akan menjadi penghambat terealisasinya sertifikat halal. Adapun kriteria ketua tim halal yang diakui dalam sistem SJH adalah: Memahami proses produksi di perusahaan secara menyeluruh, sebagai berikut: Setelah penulis terpilih menjadi ketua tim halal perusahaan, auditor halal dari MUI menyarankan untuk mulai mengikuti training sertifikat halal ke IHATEC (Indonesia Halal Training dan Education Center). Pelatihan berlangsung 2 hari, dimana hari pertama diberikan literasi seputar kehalalan dan hari kedua pelatihan pembuatan dokumen SJH untuk 11 kriteria. Di hari terakhir, peserta wajib mengikuti tes pengetahuan selama pelatihan. Minimal harus mendapat point 60-70 agar tidak mengikuti tes ulang. Dan alhamdulillah penulis berhasil mendapat 72. Jadi hasil sertifikat ini nantinya akan menjadi dokumentasi untuk SJH di kriteria pelatihan. Menurut LPPOM MUI dalam Pedoman SJH, kekuatan tim halal menentukan keberhasilan implementasi sistem halal secara berkesinambungan. Karena itu, pemilihan ketua tim tidak boleh sekadar formalitas, melainkan berdasarkan kapasitas, integritas, dan akses koordinasi. 2.   Dokumen SJH: Edukasi Sistem dan Kepatuhan Syariah Salah satu tantangan dalam proses sertifikasi halal adalah penyusunan dokumen SJH. Dalam penulisan SJH setiap kriteria harus dilengkapi dengan bukti dokumentasi yang valid. Sistem Jaminan Halal terdiri dari 12 kriteria utama, yakni: Kebijakan Halal. Kebijakan Halal meliputi: Tim Manjemen Halal, Pelatihan, Bahan, Produk, Fasilitas, Prosedur Tertulis Kritis, Kemampuan Telusur, Penanganan Produk yang Tidak Memenuhi Kriteria, Audit Internal dan Kaji Ulang Manajemen. Bagi pembaca 1miliarsantri.net yang berniat mendaftarkan sertifikat halal MUI untuk pertama kalinya. Mulai sekarang bisa dipersiapkan dokumen penting terutama dalam memenuhi kriteria di point 4-6 karena itu sebagai hal yang terpenting/utama untuk di cek proses kehalalannya. Dokumen yang dibutuhkan untuk kriteria 4-6 SJH itu antara lain: Dokumen SJH tidak hanya bentuk kepatuhan administratif, tapi juga komitmen syariah. Al-Qur’an menyebut: “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik-baik (halal) yang telah Kami rezekikan kepadamu, dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 172) Ayat ini menegaskan bahwa kehalalan bukan sekadar label, tapi bagian dari keimanan. Maka dari itu, menyiapkan dokumen SJH adalah bentuk tanggung jawab kolektif untuk menjamin produk benar-benar halal dari hulu ke hilir. 3. Biaya Sertifikasi: Sesuaikan dengan Skala Usaha Biaya sertifikasi halal sering menjadi alasan pelaku usaha menunda pendaftaran. Namun sebenarnya, biaya telah diatur sesuai klasifikasi usaha oleh BPJPH dan LPPOM MUI: Pelaku usaha disarankan mempersiapkan dana tidak hanya untuk audit, tapi juga pelatihan ketua tim halal dan proses perbaikan dokumen jika dibutuhkan. Melihat ini sebagai investasi akan membantu pelaku usaha lebih siap secara mental dan strategis. Karena dengan sertifikat halal, bukan hanya pasar Muslim terbuka luas, tapi juga kepercayaan pelanggan meningkat. Langkah ini tak hanya penting untuk mematuhi regulasi, tapi juga untuk menjaga usaha agar tetap dalam koridor syariah. “Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim no. 1015) Sertifikasi halal bukan sekadar dokumen legalitas, tapi cermin tanggung jawab spiritual dan profesional. Dengan menyiapkan tim halal yang kompeten, dokumen SJH yang sesuai standar, dan biaya yang realistis, proses menuju halal akan jauh lebih mudah dan berkah.** Penulis : Iftitah Rahmawati Foto Ilustrasi AI Editor : Toto Budiman dan Iffah Faridatul Hasanah

Read More