Doa Bukan Sekedar Rutinitas, Ini Peran Doa Dalam Kehidupan

Situbondo – 1miliarsantri.net: Doa dalam Islam merupakan salah satu bentuk ibadah yang tidak hanya sebagai alat untuk mencapai sebuah tujuan, melainkan juga merupakan sebuah cara untuk berkomunikasi antara hamba dengan Allah. Buya Yahya mengatakan bahwa doa merupakan suatu ibadah (mukhul ibadah) yang agung dan penting. Terkadang di tengah kesibukan dan tekanan hidup, kita lupa bahwa ada satu kekuatan sederhana yang efeknya luar biasa, yakni peran doa dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bukan hanya tradisi atau rutinitas yang dilakukan saat butuh saja, doa sebenarnya bisa menjadi jembatan yang menguatkan batin, membimbing langkah, dan memberi ketenangan yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Doa tidak hanya tentang kata-kata yang bagus dan seberapa panjang kata-kata yang diucapkan. Melainkan lebih pada seberapa dalam kita membuka hati dan menyambungkan diri dengan Tuhan. Nah, dalam artikel ini, kita membakal dua sisi menarik dari peran doa dalam kehidupan sehari-hari. Apa saja itu mari kita simak bersama! Ketika Hati Penat, Doa Menjadi Tempat Pulang Dalam hidup, kita sering kali terjebak dalam rutinitas yang padat, bangun, bekerja, pulang dan tidur. Lalu terulang lagi besok. Di tengah pola yang terus berputar itu, terkadang hati menjadi lelah. Bukan cuma fisik saja, tapi mental juga ikut terkuras. Di saat seperti itu, kita butuh tempat untuk “pulang”. Doa hadir sebagai pelabuhan jiwa. Sebuah ruang sunyi yang mana kita bisa jujur, tanpa perlu takut dihakimi. Peran doa dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya soal permintaan, tapi lebih dari itu, doa adalah bentuk komunikasi yang intim antara manusia dan Penciptanya. Dalam doa kita bisa membicarakan tentang apa pun, rasa takut, harapan, syukur, bahkan kebingungan. Menariknya, doa bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Tidak perlu menunggu suasana religius atau waktu khusus. Justru ketika kita menjadikan doa sebagai bagian dari keseharian, misalnya seperti sebelum memulai aktivitas, saat menghadapi tantangan, atau bahkan hanya untuk mengucap terima kasih atau rasa syukur karena hari berjalan dengan baik, di situlah kita bisa merasakan kedekatan yang nyata dengan Tuhan. Dan hebatnya, ketika kita telah terbiasa berdoa, kita pun belajar untuk lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih peka terhadap hal-hal kecil yang sebenarnya penuh makna. Karena doa tidak mengajarkan kita untuk sekedar meminta, tapi juga belajar untuk menerima dan bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Doa Sebagai Penyeimbang di Era Yang Serba Cepat Mengingat kita hidup di zaman yang serba cepat. Apa-apa harus instan. Informasi datang tanpa henti. Semua berlomba mengejar target, mimpi, dan pencapaian. Tapi, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya “Apa kabar hatiku hari ini? Inilah salah satu alasan mengapa peran doa dalam kehidupan sehari-hari itu penting. Di tengah arus kehidupan yang deras, doa berfungsi sebagai jangkar yang menjaga kita tetap tenang dan tidak hanyut. Ketika dunia luar ramai dan penuh distraksi, doa menciptakan ruang hening yang menenangkan. Doa merupakan ruang hening dalam sujud dan ketika tangan menengadah ke hadapan Allah sang Pencipta dengan harapan dikabulkan segala permohonan dalam kepasrahan, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Mu’min ayat 60, “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.”

Read More

Ustadz Dr. Yahya Waloni ‘Ulama Sekaligus Kristolog’ Berpulang Ke Rahmatullah Saat Kutbah Jumat

Makassar – 1miliarsantri.net: Innalillahi Wainna Ilaihi Roji’un, Ustadz Dr. Muhammad Yahya Waloni seorang Ulama sekaligus Kristolog berdarah Minahasa telah berpulang ke Rahmatullah saat menyampaikan Kutbah Jumat, bertepatan dengan Hari Raya Iedul Adha 1446H/2025M. Ulama dan pendakwah Islam yang mendalami ilmu perbandingan agama, lahir dengan nama Yahya Yopie Waloni, dilahirkan sebagai penganut Kristiani di Manado, Sulawesi Utara pada 30 November 1970. Dan beliau meninggal dunia pada Jumat 10 Dzulhijjah 1446H, atau tanggal 6 Juni 2025M. Ustadz Yahya Waloni yang saat ini berusia 55 tahun, menghembuskan nafas terakhir saat menyampaikan Kutbah Jumat di Masjid Darul Falah, Kecamatan Rappocini, Makassar, Sulawesi Selatan siang tadi. Sebelum menjadi khatib pada sholat Jum’at, pagi harinya Ustadz Yahya Waloni sempat menjadi khatib saat pelaksanaan sholat Iedul Adha di Jalan Rajawali Makassar.***

Read More

Qurban Menggunakan Ayam, Bolehkah? Ini Penjelasan Lengkapnya

Qurban adalah suatu ibadah yang hukumnya sunnah mu’akkad “sunnah yang dikuatkan” bagi orang yang mampu (umat Islam), maka makruh hukumnya meninggalkan ibadah qurban bagi orang yang mampu. Siapakah yang dikatakan “orang yang mampu”? Syaikh Abu Bakar Syattho mengatakan dalam kitabnya ; وَالْمُرَادُ بِهِ مَنْ يَقْدِرُ عَلَيْهَا فَاضِلَةً عَنْ حَاجَتِهِ وَحَاجَة مُمَوَّنِهِ يَوْمَ الْعِيدِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيقِ لِأَنَّ ذَلِكَ وَقْتُهَ “Dan yang dimaksud ‘orang yang mampu’ adalah orang yang mampu berqurban sebagai kelebihan dari kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya pada hari Idul Adha dan hari-hari Tasyrik karena itu merupakan waktu berqurban.” Orang yang mampu adalah orang yang mempunyai kelebihan harta untuk kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya pada hari raya ‘iedhul adha dan hari-hari tasyriq ( 10-13 Dzulhijjah ), maka hukum sunnah mu’akkad berlaku bagi orang tersebut. Hewan Qurban Dan untuk afdholiyyahnya hewan qurban itu ulama’ berbeda pendapat, Imam Malik berpendapat bahwa yang paling utama adalah kambing atau domba, kemudian sapi, lalu unta. Sedangkan Imam al-Syafi’i berpendapat sebaliknya, yaitu yang paling utama adalah unta, disusul kemudian sapi, lalu kambing. Lalu bagaimana dengan orang yang mempunyai kelebihan harta untuk kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya pada hari raya ‘iedhul adha dan hari-hari tasyriq, akan tetapi kelebihan tersebut hanya dapat dibelikan seekor ayam. Apakah masih bisa dikatakan qurban? Dalam menanggapi hal ini, Imam an-Nawawi dalam al-Majmu Syarh Muhadzzab-nya menjelaskan bahwa hewan yang diperbolehkan adalah hanya hewan ternak, yakni unta, sapi dan kambing serta hewan-hewan yang sejenis. Dalam hal ini, Imam an-Nawawi berpedoman pada Al-Qur’an surat al-Hajj ayat 34: وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ Artinya: Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap bahimatul an’am (binatang ternak) yang telah direzekikan Allah kepada mereka. (QS. Al Hajj: 34). Untuk menjelaskan ayat tersebut, Imam an-Nawawi kemudian menyebutkan: فشرط المجزئ في الاضحية أن يكون من الانعام وهي الابل والبقر والغنم سواء في ذلك جميع أنواع الابل من البخاتي والعراب وجميع أنواع البقر من الجواميس والعراب والدربانية وجميع أنواع الغنم من الضأن والمعز وانواعهما ولا يجزئ غير الانعام من بقر الوحش وحميره والضبا وغيرها بلا خلاف Artinya: Syarat diperbolehkannya hewan kurban adalah hewan tersebut merupakan hewan ternak, yaitu unta, sapi dan kambing. Termasuk segala jenis unta, seperti al-bakhati (unta yang memiliki dua punuk) atau al-‘irab (berpunuk satu), juga segala jenis sapi, seperti kerbau, al-‘irab, al-darbaniyah (sapi yang tipis kuku dan kulitnya serta memiliki punuk), begitu juga dengan segala jenis kambing, seperti domba/biri-biri, atau kambing lain. Dan tidak diperbolehkan berkurban selain dengan hewan-hewan ternak yang telah disebutkan, baik berupa hasil kawin silang antara sapi dan keledai ataupun hewan lain. Hal ini tidak diperdebatkan oleh para ulama. (lihat: An-Nawawi, al-Majmū’ Syarḥ Muhazzab, Beirut, Dâr al-Fikr, tt., j. 8, halaman: 392). Dari pernyataan Imam An-Nawawi tersebut sudah dijelaskan bahwa menyembelih kurban selain tiga hewan tersebut dan jenis-jenisnya tidak diperbolehkan. Lalu bagaimana dengan ayam, bukankah ayam termasuk hewan ternak? Bolehkah berkurban dengan ayam?

Read More