GPIB dan SMAN 11 Jakarta Gelar Penyuluhan Anti-Bullying dan Radikalisme Era Digital

Gerakan Pendidikan Indonesia Baru “GPIB” DPW DKI Jakarta bersama SMAN 11 Jakarta menggelar penyuluhan anti-bullying dan pencegahan radikalisme era digital untuk melindungi siswa dan membangun sekolah yang aman, ramah anak, dan berkeadaban. Jakarta –  1miliarsantri.net: Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) DPW DKI Jakarta bekerja sama dengan SMAN 11 Jakarta Timur menyelenggarakan acara penyuluhan Anti-Bullying dan Kekerasan dalam Lingkungan Sekolah (PABK), serta penyuluhan Pencegahan Radikalisme di Era Digital. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya keamanan dan harmoni di lingkungan sekolah, dengan menghadirkan narasumber yang berkompeten. Penyuluhan anti-bullying dan kekerasan di sekolah, disampaikan oleh Yulina Dewi, SH, MH – salah satu pengurus GPIB DPW DKI Jakarta yang juga berprofesi sebagai jaksa di Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Tujuan Penyuluhan Giat penyuluhan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang perundungan, memberikan pemahaman akan dampak buruknya bagi korban dan pelaku, serta membangun lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan saling menghormati. Siswa juga diajarkan cara mencegah, melawan, dan melaporkan kasus bullying agar dapat tumbuh optimal secara fisik dan mental. Melalui penyuluhan, peserta dapat memahami definisi bullying, bentuk-bentuknya (fisik, verbal, siber), serta dampaknya (trauma, rendahnya rasa diri, gangguan mental). Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk: Acara penyuluhan berlangsung menarik ditandai dengan antusiasnya pasa siswa SMAN 11 Jakarta Timur mengikuti keseluruhan rangkaian acara, yang diselenggarakan pada Rabu, 7 Januari 2026. Hadir dalam kesempatan tersebut, Kepala Sekolah SMAN 11 Jakarta Dra. Penina Sianmbela, Ketua Umum GPIB Ir. Agung Karang, Wakil Ketua GPIB DPW DKI Jakarta Dani Hendro, Ketua DPC GPIB Jakarta Timur Mohamad Amin, serta Handoko A dari Kesbangpol, Yudhi dari Kesbangpol, Devi Sarasaty dari Kesbangpol dan Rini Humas Komite Sekolah SMA 53 Jakarta. Turut hadir, Doli Arusdin Situmeang Guru SMAN 11 Jakarta Timur, Yosep Dian Sulistyo Guru SMAN 11 Jakarta Timur, Agung Bintang Karang Pengurus DPP GPIB, Yenti Sofia Pengurus GPIB DPW DKI Jakarta, Sekretaris DPW Nurhayati, Bendahara DPW Rahayu Desy Leni SE, Wakil Bendahara DPW Lina Herlina, Ketua OKK GPIB DPW DKI Jakarta Nani Wijaya, Suhana Pengurus GPIB DPW DKI Jakarta, dan Titik Suparti Humas DPW DKI Jakarta. Sambutan dan Harapan Kepala Sekolah SMAN 11 Jakarta Timur Dra. Penina Sinambela, M.Pd, Kepala Sekolah SMAN 11 Jakarta Timur, menyampaikan apresiasinya, “Terima kasih kepada tim GPIB yang telah mengedukasi anak-anak. Mudah-mudahan materi yang disampaikan bermanfaat.” Diapun melanjutkan,

Read More

Filantropi Islam di Era Digital, Mari Jadikan Donasi sebagai Gaya Hidup

Bogor – 1miliarsantri.net : Perkembangan teknologi tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga cara mereka berbuat baik. Dalam konteks Islam, muncul kembali istilah yang semakin relevan dengan zaman yaitu filantropi Islam yang menjadikan donasi sebagai gaya hidup. Filantropi Islam adalah bentuk kepedulian sosial yang diatur dalam ajaran agama, dengan tujuan menyeimbangkan distribusi kekayaan dan menumbuhkan kesejahteraan umat. Namun di era digital ini, makna filantropi tidak berhenti pada kegiatan amal tradisional. Ia berkembang menjadi sistem sosial yang lebih terstruktur, transparan, dan berkelanjutan menjembatani kebaikan antara mereka yang mampu dan mereka yang membutuhkan melalui teknologi. Dalam Islam, filantropi merupakan instrumen penting dalam menjaga keadilan sosial. Zakat menjadi kewajiban bagi yang mampu, infak dan sedekah menjadi bentuk kepedulian sukarela, sementara wakaf berfungsi menjaga manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Melalui instrumen-instrumen ini, Islam mengajarkan bahwa kekayaan bukan untuk ditimbun, tetapi untuk disalurkan agar menciptakan keseimbangan ekonomi dan mengurangi kesenjangan sosial. Yang menarik, konsep filantropi Islam tidak hanya berbicara tentang memberi, tetapi juga tentang memberdayakan. Artinya, penerima manfaat tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mandiri. Inilah esensi sosial ekonomi yang menjadi dasar dari setiap gerakan ziswaf  membangun kesejahteraan umat dengan cara yang berkelanjutan. Transformasi Filantropi di Era Digital Era digital menghadirkan perubahan besar pada cara beramal. Kini, filantropi Islam memasuki babak baru dengan kehadiran platform digital seperti aplikasi zakat, dompet donasi online, hingga gerakan crowdfunding yang mengusung nilai kemanusiaan dan keagamaan sekaligus.   Teknologi menjadikan proses berbagi lebih mudah, cepat, dan transparan. Donatur dapat memantau penyaluran dana, lembaga dapat memperluas jangkauan, dan masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam program sosial tanpa terhalang jarak dan waktu. Lebih jauh lagi, digitalisasi juga menumbuhkan kesadaran baru bahwa berbagi kini bukan sekadar tindakan spontan, tetapi bagian dari tanggung jawab sosial yang bisa dilakukan secara konsisten. Setiap klik donasi bukan hanya transaksi keuangan, melainkan bentuk nyata dari semangat tolong-menolong yang dihidupkan kembali dalam konteks modern. Menjadikan Donasi sebagai Gaya Hidup

Read More

Kecerdasan Buatan (AI) Masuk Kurikulum ; Cetak Gen Z yang Memiliki Talenta Digital?

Bekasi – 1miliarsantri.net : Rencana memasukkan kecerdasan buatan (AI) ke dalam kurikulum pendidikan mulai memantik diskusi di berbagai kalangan. Di tengah laju transformasi digital yang kian pesat, langkah ini dinilai strategis untuk membekali generasi muda dengan pemahaman dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Namun, muncul pula pertanyaan: sejauh mana kesiapan sekolah, pendidik, dan peserta didik dalam mengadopsi materi berbasis AI? Artikel ini akan mengulas peluang, tantangan, dan dampak potensial dari kebijakan tersebut dalam mencetak generasi yang tangguh menghadapi era digital. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengalami perkembangan pesat beberapa tahun terakhir. Dari rumah tangga hingga industrial, AI digunakan untuk berbagai keperluan. Peranan penting teknologi dalam kehidupan mendorong banyak negara mengenalkan pendidikan AI, sepertinya halnya Indonesia yang akan meluncurkan kurikulum AI. Kurikulum AI diwacanakan Kemendikdasmen menyasar peserta didik SD, SMP, SMA/SMK sebagai mata pelajaran pilihan. Rencananya mata pelajaran itu akan direalisasikan pada tahun ajaran 2025/2026. Mengingat pada jenjang pendidikan tersebut masih banyak sekolah yang belum memperkenalkan pendidikan teknologi informasi atau AI. Lantas, apakah kurikulum AI mampu mencetak generasi muda yang siap bersaing di tengah gempuran digitalisasi? Menurut Abbiyu Rafi Eriansyah (22) yang merupakan tenaga pengajar, rencana pemerintah menerapkan kurikulum AI merupakan langkah positif untuk mengenalkan teknologi ke siswa sejak dini. Terlebih mereka akan mendapatkan pengalaman baru mempelajari teknologi. “Kurikulum AI tentunya sangat bermanfaat bagi para siswa, di mana mereka secara tidak langsung bersentuhan dengan teknologi yang canggih. Saya melihat ini seperti jembatan yang dibuat oleh pemerintah agar nantinya siswa berpeluang menciptakan inovasi melalui AI,” kata Rafi saat dihubungi melalui sambungan daring. Ia mengungkapkan saat kurikulum AI terealisasi secara optimal, siswa berpeluang besar menjadi generasi yang dapat bersaing dengan perkembangan teknologi dari dalam maupun luar negeri. Jika menelisik secara jangka panjang, katanya, pendidikan AI menjadi bekal bagi siswa agar bisa mendapatkan pekerjaan di sektor teknologi. Bukan tanpa sebab, banyak perusahaan berlomba menciptakan produk-produk berbasis sistem AI yang memberikan kemudahan bagi konsumen ketika menggunakannya serta memperoleh pengalaman berbeda. “Bagi saya (kurikulum) AI ini strategi yang tepat mengasah keterampilan siswa memanfaatkan teknologi AI. Apalagi anak-anak zaman sekarang lekat banget sama teknologi. Kita bisa lihat sekarang ini  banyak anak-anak menggunakan gawai atau perangkat elektronik lainnya sejak usia dini,” jelasnya. “Jika digunakan hanya untuk menonton video dan bermain game , maka tidak akan berdampak positif. Namun jika pendekatannya lebih edukatif dalam menggunakan gawai dan semacamnya, maka bukan tidak mungkin anak-anak lebih memahami teknologi dibandingkan orangtuanya,” sambungnya.

Read More

Dari Tribun Ke Timeline! Fenomena Bersosmed Bagi Supporter Bola Mania Di Era Digital

Surabaya – 1miliarsantri.net: Di era digital yang serba cepat ini, semangat mendukung klub sepak bola tak lagi terbatas hanya di stadion. Kini, bersosmed bagi supporter bola mania telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup penggemar sepak bola. Dari unggahan skor pertandingan hingga adu argumen soal siapa yang lebih hebat antara Messi dan Ronaldo, media sosial menjadi tribun virtual yang dipenuhi emosi, kreativitas, bahkan kontroversi. Tapi, apakah bersosmed bagi supporter bola mania hanya sekadar hiburan? Atau justru menjadi kekuatan baru yang mampu membentuk identitas komunitas fans di seluruh dunia? Mari kita telaah lebih dalam bagaimana dunia media sosial telah mengubah wajah dukungan terhadap tim-tim besar seperti Barcelona, Real Madrid, hingga Persija dan Persib yang punya basis fans besar di Indonesia. Peran Media Sosial dalam Mendekatkan Jarak Emosional Supporter Media sosial kini tak sekadar menjadi ruang berbagi, tapi juga tempat mengekspresikan cinta dan loyalitas pada klub sepak bola kesayangan. Bersosmed bagi supporter bola mania telah membuka peluang bagi siapa pun untuk terhubung langsung dengan pemain idola, mengikuti update klub, hingga terlibat dalam kampanye atau diskusi komunitas. Misalnya, penggemar Barcelona di Indonesia bisa mengikuti akun resmi klub dan tahu informasi latihan tim secara real-time. Demikian juga fans Real Madrid bisa menonton highlight pertandingan hanya beberapa menit setelah laga usai. Hal ini menciptakan kedekatan emosional yang sebelumnya sulit dicapai jika hanya mengandalkan media konvensional. Komunitas Supporter yang Aktif dan Solid di Platform Sosial Kehadiran media sosial memperkuat komunitas online para fans. Bersosmed bagi supporter bola mania membuat interaksi antar sesama fans jadi lebih intens dan terorganisir. Bahkan, komunitas virtual ini bisa melahirkan berbagai kegiatan positif di dunia nyata. Contohnya: Tanpa media sosial, diskusi seperti ini hanya terjadi di warung kopi atau stadion. Kini, satu unggahan bisa menjangkau ribuan orang dan memicu reaksi global. Tantangan dan Dampak Negatif Bersosmed bagi Supporter Bola Mania Meskipun punya banyak manfaat, bersosmed bagi supporter bola mania juga membawa tantangan tersendiri. Tidak semua interaksi bersifat positif. Tak jarang muncul gesekan antar fans, saling hina, hingga penyebaran hoaks atau provokasi yang bisa memperkeruh suasana. Dan beberapa risiko nyata yang sering muncul, seperti:

Read More