Wisata Peninggalan Kolonial Belanda di Bouwplan V Malang
Tidak jauh dari tempat tersebut, terdapat Ardjoenopark yang dahulunya berfungsi sebagai resapan air (saat ini menjadi beberapa bangunan di Jalan Arjuno Kota Malang). Kemudian terdapat bangunan Korem 083 Baladika Jaya yang dahulu pernah menjadi Hotel Astor, yang dimiliki oleh purnawirawan Belanda bernama Mr P M Dee pada 1929. Hotel yang juga pernah menjadi rumah petinggi dan markas Jepang ini pernah dikunjungi oleh Jenderal Sudirman ketika penyerahan tawanan Jepang.
Komunitas History Fun Walk Malang juga sempat mengunjungi bangunan Gabungan Perusahaan Rokok Malang (Gaperoma). Bangunan ini sempat menjadi markas Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki). Kemudian juga pernah menjadi sekolah tinggi kedokteran Malang pada 1960-an yang kemudian menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB).
Komunitas juga menunjukkan monumen Tentara Genie Pelajar (TGP) di dekat Stadion Gajayana. Lalu berdekatan dengan area tersebut, ada pula markas TGP yang kini menjadi SMIP/SMK Bina Cendika YPK. Untuk diketahui, bangunan sekolah ini juga pernah menjadi sekolah MULO di masa Belanda.
Selanjutnya, terdapat Rumah Meneer di Jalan Semeru, Kota Malang yang diyakini pernah menjadi milik orang Belanda. Kemudian dibeli oleh pribumi yang merupakan notaris pribumi pertama di Kota Malang. “Rumahnya masih asli. Ada paviliun yang menjadi Semeru Hostel. Nuansa zaman Belanda masih sangat kental,” ungkapnya.
Di samping itu, para peserta komunitas juga mengunjungi Menara Suling yang lokasinya berdekatan dengan gardu PLN area Jalan Tenes. Menara yang hanya tersisa struktur berkarat tanpa terompet ini merupakan penanda bahaya yang dibangun oleh Belanda. Setidaknya terdapat delapan menara yang dibangun oleh kolonial di Kota Malang.
Untuk diketahui, komunitas History Fun Walk Malang turut mengunjungi beberapa bangunan di area selain jalan bernuansa gunung-gunung di Kota Malang (sesuai tema “Sportpark Gebieb Bergenbuurt”). Bangunan-bangunan yang dimaksud antara lain bioskop Kelud, Pasar Bareng dan rumah pendeta di Jalan Kelud, Kota Malang.
Bioskop Kelud dalam catatan sejarah pernah manjadi Kartinischool pada masa kolonial Belanda. Kemudian pernah menjadi tempat interniran pada zaman Jepang. Artinya, bangunan pernah digunakan sebagai kamp konsentrasi masyarakat sipil Eropa dan Belanda.
Selanjutnya, gedung tersebut difungsikan sebagai bioskop pada era 1970 hingga 1980an. Pada era 1990an, kegiatan bioskop mulai meredup sehingga tidak difungsikan lagi sebagaimana mestinya. Namun bioskop ini diyakini pernah beberapa kali digunakan untuk kegiatan pameran buku dan lainnya pada masa kini.
Selanjutnya, para anggota komunitas juga menunjukkan area Pasar Tua Bareng yang lokasinya tidak jauh dari bioskop. Bangunan tersebut masih mempertahankan nuansa lama tetapi aktivitas pasar sudah tidak terlihat lagi. Kemudian ada pula rumah minimalis modern masa Belanda yang pernah menjadi rumah pendeta (kini menjadi percetakan).
Penampilan bangunan-bangunan peninggalan kolonial Belanda di Kota Malang yang beberapa di antaranya masih sama dengan wujud aslinya sedangkan lainnya sudah tidak dikenali lagi. (aci)
Baca juga :
- Ukhuwah Goals: Wujud Cinta yang Menghidupkan Hati Melalui Do’a
- Boikot FIFA Mengguncang Dunia! Spanyol dan Portugal Ancam Tinggalkan Gianni Infantino, Krisis Terbesar Jelang Piala Dunia?
- Peringatan Hari Anak Nasional 2026: Kolaborasi Yaskat dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos RI di Bantargebang
- Hari Anak Nasional 2026: Rumah Tahfidz Opung dan Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani Berkomitmen Membangun Generasi Qurani
- Selamat Hari Anak Nasional 2026
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


