Syekh Abdul Karim Amrullah, Tokoh Pembawa Muhammadiyah Pertama di Sumatera
Ketiga tokoh pembaru Islam di Minangkabau itu saling dukung untuk mengentaskan sikap taklid di kalangan umat. Dalam sebuah risalahnya, Muqaddimah, Syekh Abdullah Ahmad menulis sebagai dukungan terhadap giat dakwah Syekh Abdul Karim Amrullah yang mengimbau agar kaum Muslim tidak bersikap fanatik buta terhadap keempat mazhab fikih.
Kata Syekh Abdul Karim Amrullah, “Mereka (keempat imam pemuka mazhab fikih) bahkan mengimbau para pengikutnya agar kembali kepada Alquran dan hadis bilamana fatwa-fatwa mereka ketahui bertolak belakang dengan ajaran Alquran dan hadis.” Demikian pula dengan kaum adat.
Syekh Abdul Karim Amrullah menegaskan bahwa ajaran-ajaran Islam hanya akan tersebar efektif di tengah masyarakat bilamana kaum penghulu (adat) dibimbing alim ulama. Dalam pemahaman Minangkabau yang sampai kini masih kuat, “Adat bersendikan syariat; syariat bersendikan Alquran.” Dengan demikian, praktik-praktik adat tidak dibenarkan bertentangan dengan ajaran Islam.
Sebagai contoh, Syekh Abdul Karim Amrullah menulis sedikitnya dua buku, al-Fara’id dan Sendi Aman Tiang Selamat, yang mengkritik praktik pembagian harta warisan menurut adat yang berdasarkan garis ibu. Dalam buku yang tersebut terakhir, dia membedakan adanya harta pusaka yang bisa saja tidak menuruti hukum waris Islam karena harta itu milik suku.
Buah kegigihan Syekh Abdul Karim Amrullah mendapatkan apresiasi, antara lain, dari pihak Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Dia bersama dengan Syekh Abdullah Ahmad merupakan orang Indonesia yang mula-mula memperoleh gelar doktor honoris causa (doktor kehormatan) dari salah satu kampus tertua di dunia Islam itu.
Dalam sebuah bukunya, Taufiq Ismail (2011) menuliskan fakta unik tentang hubungan ayah-anak, yakni Syekh Abdul Karim Amrullah dan Buya Hamka. Keduanya sama-sama mendapatkan gelar kehormatan tersebut.
(Ayahanda Buya Hamka) dianugerahi gelar doktor honoris causa oleh Universitas al-Azhar, Kairo, pada 1926. Beliau lebih dikenal dengan julukan Haji Rasul, Inyik Doktor, atau Inyik DR.
Adapun Buya Hamka mendapat penghargaan yang serupa 35 tahun kemudian, pada 1961, orang ketiga dari Indonesia. “Sebagai ayah dan anak, mereka (Buya Hamka dan ayahnya) pasangan pertama yang mendapat kehormatan tinggi tersebut,” tulis Taufiq Ismail.
Pada permulaan abad ke-20, Haji Rasul menilai perlu ada media cetak yang menampung aspirasi umat Islam. Media tersebut akan menjadi sarana dakwah yang efektif, karena masyarakat akan membaca dan mendapatkan pengetahuan.
Pada 1911-1915 bersama Abdullah Ahmad, Haji Rasul mendirikan majalah Al-Munir di Padang. Dia terlibat langsung dalam proses redaksional, mulai reportase hingga penyuntingan.
Setelah dicetak, majalah itu disebarluaskan. Melalui media cetak tersebut, Haji Rasul mendengungkan semangat literasi agar masyarakat gemar membaca. Ketika itu masyarakat hidup dalam kesulitan. Mereka lebih memilih memenuhi kebutuhan harian ketimbang membeli buku.
Dengan media cetak tersebut, umat Islam di tanah Minang dapat mempertahankan Islam terhadap segala tuduhan dan salah sangka. Terbit sekali setiap dua pekan, Al-Munir memuat artikel yang meningkatkan pengetahuan para pembacanya dan sekaligus sebagai pembawa suara pemuda dalam menyuarakan berbagai gagasan pembaruan untuk perbaikan dan kemaslahatan umat.
Dia juga menerbitkan majalah di Padang Panjang bersama Zainuddin Labay el-Yunusi pada 1918. Pada 1916 Abdul Karim Amrullah melawat ke Malaya dalam rangka memperluas pandangan dan usaha penerbitan kembali majalah Al-Munir, yang sudah tidak terbit sejak 1915.
Ia pergi bersama-sama dengan Syekh Daud Rasyidi dan adiknya, Haji Yusuf Amrullah, serta muridnya Saleh. Namun kehadirannya di sini, ternyata mendapat tantangan dari mufti di sana, yakni Syekh Abdullah Shaleh yang sama-sama belajar di Makkah.
Tantangan yang menghalangi jalan dakwah terus dihadapi. Haji Rasul tak gentar. Dia tetap melanjutkan dakwahnya untuk menegakkan panji-panji Islam di Nusantara. Dengan segala keterbatasan ketika itu, dia menghabiskan usianya hanya untuk mendakwahkan Islam. (yan)
Baca juga :
- Ukhuwah Goals: Wujud Cinta yang Menghidupkan Hati Melalui Do’a
- Boikot FIFA Mengguncang Dunia! Spanyol dan Portugal Ancam Tinggalkan Gianni Infantino, Krisis Terbesar Jelang Piala Dunia?
- Peringatan Hari Anak Nasional 2026: Kolaborasi Yaskat dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos RI di Bantargebang
- Hari Anak Nasional 2026: Rumah Tahfidz Opung dan Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani Berkomitmen Membangun Generasi Qurani
- Selamat Hari Anak Nasional 2026
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


