Sejarah Parfum: Mesir Kuno Hingga Persia

Dengarkan Artikel Ini

Di Asia pada masa kuno, parfum—baik yang berupa dupa maupun cairan—dikenal luas setidaknya sejak abad pertama SM. Ia sudah menjadi komoditas yang marak diperdagangkan di Jalur Sutra, yang menghubungkan antara Cina, India, Asia Tengah, Asia Barat, dan Eropa.

Salah satu penyulingan minyak wangi—disebut sebagai ittar atau attar—yang paling awal diketahui ada di daerah sekitar aliran Sungai Indus. Keberadaannya tercatat dalam teks Ayurveda Hindu Charaka Samhita dan Sushruta Samhita. Pada 1975, arkeolog Dr Paolo Rovesti menemukan alat penyulingan di lembah Indus.

Artefak yang berbahan dasar tanah liat itu diperkirakan berasal dari masa 3.000 SM. Penulis buku In Search of Perfumes Lost itu juga melaporkan cara masyarakat India Kuno membuat parfum dari alat tersebut. Pertama-tama, bejana tanah liat diisi dengan larutan bunga serta berbagai bahan lainnya. Tuangkan air mendidih secukupnya ke dalam bejana itu, lalu tutup dengan kain tenun. Uapnya akan meresap pada bahan tersebut. Terakhir, kain itu diperas untuk mengisolasi minyak wangi.

Sebelum datangnya Islam, bangsa Arab telah dikenal sebagai pedagang di jalur maritim Samudra Hindia. Mereka terbiasa menjadi perantara berbagai komoditas dari Cina, Nusantara, dan India, ke wilayah-wilayah di Bulan Sabit Subur dan Eropa. Di antara barang-barang yang diperniagakannya ialah bahan-bahan parfum, semisal kamper, kasturi, dan rempah-rempah.

Para pelaut Arab membawa kapur barus dari lokasi asalnya, Barus, Sumatra, ke Mediterania. Kapur barus merupakan salah satu primadona dalam dunia perdagangan sejak ratusan tahun silam. Di antara kegunaannya ialah sebagai campuran pewangi. Bahkan, inilah salah satu unsur yang ada dalam pembalseman mumi-mumi firaun di Mesir Kuno.

Bangsa Persia pun menggemari parfum. Attar, yakni teknik penyulingan minyak wangi, terus dikembangkan, termasuk ketika Persia menjadi bagian dari kedaulatan Islam. Wewangian merupakan salah satu sumber inspirasi para penyair dan salik setempat. Seorang sastrawan-sufi, Fariduddin Attar, dahulunya merupakan penjual minyak wangi. Nama belakangnya menunjukkan hal itu. (jeha)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca