Pesona Kecantikan Nyai Subang Larang dan Pengaruh nya di Pajajaran

Dengarkan Artikel Ini

Dari pernikahannya, Nyi Subang Larang dikaruniai tiga anak yaitu Raden Kian Santang, Nyi Rara Santang, dan Raja Sengara. Setelah dewasa, perilaku ketiganya berbeda dengan perilaku ayahnya yang beragama Buddha. Ketiga anak tersebut justru sering berkunjung ke pesantren Syekh Quro dan bercampur dengan para santri.

Perilaku ketiga anak tersebut yang lebih dekat dengan ajaran Islam membuat ibunya khawatir Prabu Siliwangi marah. Sebab, dia tak ingin seorang Muslim berada di Keraton Pajajaran yang kental dengan ajaran Hindu-Buddha. Sebab Prabu Siliwangi menilai Muslim bisa membuat negaranya hancur

Namun jika itu terjadi di luar Keraton Pajaran seperti Karawang dan Banten, Prabu Siliwangi tidak terlalu memperhatikan meskipun ada seorang Muslim. Karena penjelasan tersebut, ketiga anaknya mengusulkan kepada ibunya agar menempati suatu tempat yang jauh dari Keraton Pajajaran agar bisa menjalankan ajaran Islam dengan tenang.

Dalam suatu kesempatan, Raden Kian Santang, Nyi Rara Santang, dan Raja Sengara bertanya kepada ibunya selama tinggal di Keraton. “Bagaimana dengan kanjeng Ibu, apakah masih ingat akan ajaran Guru Karawang (Syekh Quro)?”. Ibunya lalu menuturkan sudah lupa terhadap pelajaran Guru Karawang. Namun imannya masih kuat di dadanya. Kendati demikian jika terdengar Prabu Siliwangi akan berbahaya karena dia tidak menghendaki seorang Muslim di Keraton Pajajaran.

Singkat cerita, Nyi Subang Larang dengan tiga anaknya kemudian meminta kepada Prabu Siliwangi untuk tinggal di Banten dengan alasan membasuh raga menghadapi hari tua. Alasan tersebut tidak sebenarnya disampaikan Nyi Subang Larang. Alasan sebenarnya untuk menghindari ketiga anaknya tidak mampu menyembunyikan identitas kemuslimannya.

Dalam kisa lain disebutkan bahwa Prabu Siliwangi telah masuk Islam ketika menikahi Nyi Subang Larang. Sebagaimana disebutkan dalam “Sejarah Cirebon” P.S. Sulendraningrat bahwa syarat Prabu Siliwangi menikahi Nyi Subang Larang terlebih dahulu harus memeluk Islam. Syekh Quro, guru dari Nyi Subang Larang bertindak sebagai penghulunya.

Setelah meninggalnya Prabu Siliwangi pada tahun 1482 M, tahta kerajaan jatuh kepada putra mahkota, Pangeran Cakrabuana. Lalu Pangeran Cakrabuana menyerahkan tahta kerajaan kepada Sunan Gunung Jati. Sejak naiknya Sunan Gunung Jati ke tahta kerajaan, Cirebon menjadi negara merdeka yang bercorak Islam. (yei)


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca