Perjuangan Kartini Dalam Memperjuangkan Hak dan Kesetaraan Perempuan

Dengarkan Artikel Ini

Kartini juga banyak membaca buku selain bertukar surat dengan teman-temannya yang lain. Karena banyaknya buku yang dibaca Kartini, beliau jadi mengetahui cara berpikir perempuan Eropa yang lebih modern dan bebas dibandingkan perempuan Jawa pribumi kala itu.

Kartini yang hobi membaca mulai dari buku, surat kabar, hingga majalah menimbulkan ketertarikannya untuk memajukan perempuan pribumi. Karena pada saat itu, perempuan pribumi memiliki kedudukan atau stratifikasi sosial yang terbilang rendah. Menurut Kartini, perempuan pribumi harus mendapatkan kesetaraan, persamaan, dan kebebasan.

Kartini yang pada saat itu sedang dipingit, tidak banyak hal yang dapat ia lakukan tetapi surat yang Kartini tulis menjadi salah satu bentuk perjuangannya. Beliau menuliskan gagasan-gagasannya mengenai emansipasi perempuan. Beliau menjelaskan penderitaan yang dirasakan perempuan Jawa yang tidak bebas menuntut ilmu dan harus dipingit sehingga hal tersebut mengekang kebebasan perempuan.

Kemudian di tahun 1903, Kartini akhirnya menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Sedikit yang kita ketahui, rupanya Kartini memiliki jarak usia yang cukup jauh dengan suaminya. Kartini yang pada saat itu sudah berusia 24 tahun, dipaksa menerima perjodohan dari ayahnya. Sebab pada saat itu, usia 24 tahun dianggap perawan tua apabila belum menikah. Kartini akhirnya menerima perjodohan tersebut karena beliau menghormati dan ingin berbakti kepada ayahnya.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca