Peristiwa Ketika Sultan Agung Mataram Tidak Menunaikan Puasa Ramadhan
“Kakang Penghulu, jangan salah terima. Aku ini kan Kalifatullah, berbeda dengan rakyat kebanyakan kan?” kata Sultan Agung.
Kiai Penghulu pun membenarkan pernyataan Sultan Agung. Namun, menurutnya, menjadi kalifatullah itu adalah menjadi wakil Allah di muka bumi, yang menjadi penguasa keadilan seluruh jagad.
Memiliki jasad yang sama dengan rakyat kebanyakan. Juga memiliki syahwat, memiliki keinginan untuk makan, tidur, bangun tidur. Juga bisa lupa, kaget, tertawa, sakit, meninggal, seperti haknya rakyat kebanyakan.
Karena itu, menurut Kiai Penghulu, sebaiknya Sultan Agung tetap berpuasa di bulan Ramadhan karena rakyat kebanyakan juga berpuasa.
Mendengar penjelasan itu, Sultan Agung tertawa. Lalu bertanya, “Puasanya rakyat kebanyakan itu seperti apa?”
Kiai Penghulu pun menjelaskan, bahwa rakyat kebanyakan setiap bulan Ramadhan bangun jam tiga pagi untuk sahur. Sepanjang hari mereka tidak makan minum.
“Ketika kelelawar sudah beterbangan di sore hari, itulah waktunya berbuka,” kata Kiai Penghulu. Kelelawar akan terbang mencari makan saat matahari tenggelam.
“Apa sudah benar-benar berpuasa jika melakukan hal itu,” tanya Sultan Agung.
Kiai Penghulu pun menjawab, seperti itulah syariat berpuasa di bulan Ramadhan. Maka Sultan Agung pun lantas berpuasa Ramadhan. (mif)
- Persija Sementara Unggul 1-0 Atas Persib dalam Super Big Match
- Lowongan Kerja Product Representative di DepoProyek.id untuk Penempatan Bekasi Raya dan DKI Jakarta
- SPEK Dukung Penguatan Tata Kelola YPK dan Masa Depan IKOPIN University
- Turnamen Sepak Bola U-16 ‘H Jalal Cup 2026’ Digelar di Jatimulya-Kabupaten Bekasi
- Gempa Bumi M5.2 Kembali Mengguncang Pulau Flores dan Sekitarnya
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


