Kisah Bung Karno dan Cecak yang Berharap Sebutir Nasi di Sel Penjara Banceuy yang Gelap dan Lembab

Dengarkan Artikel Ini

Penggeledahan itu dilakukan dengan alasan untuk mencegah terjadinya pemberontakan pada awal 1930.

“Ini adalah tipu muslihat agar dapat mengeluarkan perintah segera untuk menangkap Sukarno,” tambah Bung Karno.

Saat Belanda melakukan penggeledahan, bukan saja rumah-rumah yang menjadi sasaran. Stasiun kereta dan terminal bus pun menjadi sasaran.

Selanjutnya dari Yogyakarta, Bung Karno dan Gatot dibawa untuk dipindahkan ke Penjara Banceuy, Bandung.

“Selku lebarnya satu setengah meter –separuhnya sudah terpakai untuk tempat tidur– dan panjangnya betul-betul sepanjang peti mayat,” urai Bung Karno.

Sel Bung Karno tidak berjendela, tak ada pula jeruji besi. Tembok selnya berupa tembok semen. Pintunya besi berwarna hitam dengan sebuah lubang kecil.

“Lubang itu ditutup dari luar. Penjaga dapat melihat ke dalam, akan tetapi ia tertutup buat kami,” papar Bung Karno.

Ada celah kecil yang letaknya setinggi mata. Jika Bung Karno mengintip ke luar, hanya bisa melihat ke arah depan. Tidak bisa menengok ke bawah atau ke atas.

“Hanya cicaklah yang menjadi kawanku selama berada di Banceuy,” lanjut Bung Karno.

Cecak-cecak itu merayap di loteng. Jika hari sudah gelap, baru merayap ke dinding.

“Bagiku ia adalah ciptaan Tuhan yang paling mengagumkan selama aku berada dalam tahanan,” ujar Bung Karno.

Jika Bung Karno mengulurkan sebutir nasi, cecak itu akan merayap ke dinding. Setelah menangkap nasi, ia akan kembali ke loteng.

“Lima menit kemudian ia datang lagi dan aku memberikan butiran nasi yang lain. Ya, aku menyambutnya dengan senang hati fan menjadi sangat terpikat krpada binatang ini,” kata Bung Karno. (mif)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca