KH Mas Mansyur, Tokoh Muhammadiyah yang terlahir dari Keluarga Besar NU

Dengarkan Artikel Ini

Bersama Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hajar Dewantara, Mas Mansyur ditunjuk sebagai pimpinan PUTERA yang kemudian dikenal dengan sebutan Empat Serangkai. Keempat tokoh ini dianggap Jepang sebagai kelompok yang paling berpengaruh di Indonesia.

Selain mengajar kitab kuning di pesantren, ia juga aktif terlibat dalam berbagai gerakan, baik yang bersifat sosial, politik, keilmuan, maupun keagamaan. Bahkan bergabung dengan Sarekat Islam pimpinan HOS Tjokroaminoto dan terlibat mendirikan pusat kajian Taswirul Afkar bersama KH Wahab Chasbullah.

Meski berasal dari latar belakang keluarga Islam tradisional, sejak kecil Mas Mansyur sering mengikuti ceramah-ceramah yang disampaikan oleh KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Pada tahun 1921, setelah berkelana dan aktif di berbagai organisasi, Mas Mansyur akhirnya memutuskan masuk organisasi Muhammadiyah. Awalnya, ia hanya anggota biasa kemudian menjadi Ketua Cabang Muhammadiyah Surabaya, lalu menjadi Konsul Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur.

Pada tahun 1927, ia dipercayai menjadi Ketua Majelis Tarjih pertama, sebuah majelis fatwa bagi warga Muhammadiyah. Puncaknya dalam Kongres Muhammadiyah ke-26 di Yogyakarta pada Oktober 1937, Mas Mansyur resmi ditunjuk menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah.

Di bawah kepemimpinan Mas Mansyur, Persyarikatan Muhammadiyah mengalami kemajuan yang sangat pesat baik dalam dakwah, pendidikan, kaderisasi, maupun dalam pergerakan nasional.

Setelah menjadi Ketua PB Muhammadiyah, Mas Mansyur mulai melakukan gebrakan politik yaitu dengan memprakarsai berdirinya Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI).

KH Mas Mansyur juga terlibat dalam Badan Pengurus Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) bersama 62 tokoh nasional lain.

Setelah proklamasi kemerdekaan, KH Mas Mansyur memimpin arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda dan Sekutu. Atas perlawanannya tersebut ia ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Namun karena kondisi fisiknya yang tidak sehat, KH Mas Mansyur akhirnya syahid di penjara pada 25 April 1946 dalam usia kurang dari setengah abad.

KH Mas Mansyur dikebumikan di makam keluarganya yang berada tak jauh dari Makam Sunan Ampel di sisi timur Masjid Ampel. Pada 26 Juni 1964, KH Mas Mansyur dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional. (nas)


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca