Ketika Sultan Agung Buatkan Kelompok Orang Kalang Permukiman

Dengarkan Artikel Ini

Mereka bongkar rumah mereka, lalu diangkut dengan gerobak pedati, yaitu gerobak yang ditarik oleh dua ekor kerbau. Peralatan untuk mengolah katu juga mereka bawa pindah ke permukiman baru.

Pada masa Amangkurat I, orang-orang Kalang tercatat bermukim di Jipang dan Lamongan. Pada masa Amangkurat II, 7.000 orang Kalang yang menjadi tanggung jawab Tumenggung Sosrowijoyo. Mereka tidak lagi tinggal di hutan.

Sosrowijoyo memiliki tugas memelihara konpleks keraton. Di bawah Sosrowijoyo, orang-orang Kalang itu bejerja menelihara kompleks keraton Kartosuro.

Ketika Mataram dibagi dua menjadi Yogyakarta dan Surakarta, orang Kalang juga dibagi dua. Yogyakarta dapat 3.000 orang Kalang, Surakarta juga mendapat 3.000 orang Kalang.

Pada awal-awal mereka dibuatkan permukiman, Sultan agung melalukannya dengan setengah memaksa. Jika tidak, mereka tak akan pindah dari hutan.

“Sangat mungkin hal itu dilakukan untuk memudhkan pengawasan dan juga untuk menghubungi mereka jika diperlukan,” ujar Agus Aris Munandar. (jeha)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca