Berlibur Sekaligus Belajar Mengenai Topeng Tari Panji di Dusun Bobung

Dengarkan Artikel Ini

Salah satu perajin tersebut adalah Samadi (42 tahun). Ia merupakan perajin di dusun ini yang masih bertahan dengan produk topeng klasiknya.

Menempati rumah yang sederhana sekaligus bengkel kerja menyungkil topeng klasik itu. Ia mengaku bahwa memproduksi topeng klasik tersebut memberikan kepuasan pada batinnya.

Keahlian membuat topeng klasik sudah mulai langka. Hingga saat ini, kualitas topeng klasik produksi Samadi diakui sangat halus dan detail.

Bahan baku topeng itu berasal dari kayu albasia (sengon), pule, serta kayu terbelo puso. Namun, yang paling banyak diminati topeng kayu terbelo puso.

Samadi bercerita, awalnya ia membuat 32 tokoh topeng klasik tari Panji. Topeng-topeng itu mewakili 32 karakter berbeda. Namun, dalam perkembangannya karakter ini juga berkembang.

“Kalau dulu memang hanya beberapa karakter saja, tapi sekarang untuk topeng klasik tari Topeng Panji, sudah mencapai 60 karakter,” ujarnya.

Tiap karakter, ia melanjutkan, memiliki warna dan sentuhan yang berbeda-beda. Sehingga, untuk membuat satu karakter topeng, membutuhkan waktu dua sampai lima hari, tergantung dengan tingkat kesulitannya.

Karena itu, satu buah topeng buatannya relatif lebih mahal. Untuk satu topeng mentahan (belum diberi sentuhan warna), harganya berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 900 ribu.

Jika sudah diberikan sentuhan warna, ia melanjutkan, harganya jauh lebih tinggi, berkisar Rp 400 ribu hingga Rp 3 juta. Untuk harga tertinggi ini biasanya karena permintaan, misalnya memberikan sentuhan warna emas murni 24 karat.

“Khusus untuk sentuhan warna, dipercayakannya kepada Supriadi, juga perajin di Bobung yang memiliki kemampuan menyungging (mewarnai),” ujar Samadi.

Suroso menambahkan, produk topeng klasik ini memiliki pangsa pasar yang terbatas untuk kalangan tertentu saja. Karena itu, nilai ekonomisnya cukup tinggi. Bahkan, topeng klasik buatan Samadi ini telah merambah pasar ekspor.

Selain topeng klasik tari Topeng Panji, perajin Dusun Bobung, seperti Samadi, juga membuat topeng klasik Panji Cirebonan.

“Ini menunjukkan perajin Bobung sudah diakui memiliki keahlian khas dalam membuat topeng klasik,” katanya.

Belum banyak terungkap dalam penelitian resmi siapa perintis kerajinan topeng di Dusun Bobung. Namun, sebagian besar perajin mengamini jika kerajinan topeng ini tak dapat dilepaskan dari peran Mbah Karso, pendahulu warga yang juga salah seorang abdi Keraton Yogyakarta.

Dari tokoh tersebut kemudian menurun ke Mbah Wagio dan seterusnya hingga saat ini. Generasi sekarang merupakan generasi perajin yang mendapatkan keahlian secara turun-temurun, namun miskin keahlian pada topeng klasik.

Sehingga, jumlah perajin di Dusun Bobung itu berkembang pesat. Sekitar 80 persen dari warga dusun ini kini memiliki keahlian membuat kerajinan kayu, baik topeng klasik, topeng batik, loro blonyo, dan kerajinan lainnya.

Di balik pesatnya pertumbuhan perajin tersebut, Suroso melanjutkan, ada satu hal yang masih menjadi ganjalan bagi masa depan kerajinan kayu desa itu. Saat ini produk kerajinan kayu sudah merambah pasar nasional dan bahkan internasional. Seperti, Singapura, Amerika, dan negara- negara Eropa. Hanya saja dalam hal ekspor masih melalui agen trading. Sehingga, ketika produk kerajinan ini sampai ke negara tujuan ekspor, belum mencantumkan nama Bobung.

“Bahkan barang yang keluar walaupun hanya di Yogya, belum punya nama Gunungkidul,” ujar Suroso yang juga pengurus Kopinkra Dusun Bobung ini. (mif)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca