Beberapa Tokoh Reformis Arab Saudi

Dengarkan Artikel Ini

Dinasti Saud memerintah Kerajaan Arab Saudi hingga kini. Salah seorang tokoh wangsa tersebut yang terus dikenang dalam sejarah adalah Faisal bin Abdul Aziz. Ia mulai memasuki dunia pemerintahan sejak 1926 M, usai ayahandanya mengeluarkan maklumat yang menunjuk dirinya sebagai wakil Kerajaan di Hijaz dan sekaligus pemimpin Majelis Permusyawaratan di sana. Ketika itu, sosok ini masih berusia 20 tahun.

Raja Abdul Aziz wafat pada 1953. Semula, Sa’ud selaku putra sulung almarhum diangkat sebagai penerus takhta, sesuai amanat Abdul Aziz. Adapun Faisal diberi jabatan perdana menteri. Namun, persaingan kemudian muncul di antara mereka.

Tampaknya, Raja Sa‘ud kurang suka dengan adanya posisi perdana menteri, yang membuat seolah-olah kekuasaannya kurang absolut. Apalagi, Faisal pun memegang jabatan ketua kabinet. Dalam berbagai kesempatan, sang perdana menteri kerap menyuarakan gagasan pembaruan.

Akhirnya, Faisal mengundurkan diri dari posisi perdana menteri pada 1960. Raja Sa’ud lalu mengambil alih kendali atas kabinet. Namun, ketidakstabilan politik masih saja terjadi.

Pada 23 Maret 1964, ulama-ulama Arab Saudi mengeluarkan fatwa yang menyerukan Raja Sa’ud agar menyerahkan segala urusan pemerintahan kepada Faisal. Adapun Sa’ud berlaku sebagai raja, yakni simbol persatuan negeri. Fatwa itu menuai dukungan para menteri. Akhirnya, sang raja menerima fatwa tersebut.

Pergolakan politik toh tak berhenti. Akhir Oktober 1964, sejumlah pembesar Dinasti Saud beserta para ulama mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. Mereka menyerukan berhentinya Sa’ud dari posisi raja. Selanjutny, Faisal didorong naik sebagai penerus takhta. Mulai tanggal 2 November 1964, perubahan itu mewujud sudah. Faisal menjadi raja Arab Saudi.

Raja Faisal menjalankan kebijakan-kebijakan yang membuka ruang bagi modernisasi di Arab Saudi. Ia, antara lain, memaklumkan penghapusan perbudakan dan penyusunan Undang-Undang Perburuhan. Sang raja juga mendorong pembaruan dalam bidang pelayanan pendidikan dan kesehatan masyarakat. Dalam masa pemerintahannya pula, Kerajaan terbagi ke dalam wilayah-wilayah provinsi, dengan majelis permusyawaratan pada masing-masing.

Raja Faisal membuka keran kebebasan berpendapat, yang lebih progresif daripada era pendahulunya. Dalam bidang ekonomi, ia mencanangkan pembangunan industri dan pertanian. Visinya sudah menjangkau jauh agar Arab Saudi tidak melulu bergantung pada pemasukan dari sektor pertambangan minyak dan gas bumi.

Seturut dengan kondisi zaman ini, Raja Faisal menyambut gelombang dekolonisasi negara-negara di Asia dan Afrika. Ia menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara mayoritas Muslim, termasuk yang dahulu dijajah Eropa. Dalam konteks regional Timur Tengah, ia terdepan dalam mengimbau kerja sama negara-negara Arab, termasuk dalam memerangi Zionis-Israel.

Yang luar biasa adalah manuver diplomatiknya di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Raja Faisal berhasil mewujudkan embargo minyak agar dilakukan negara-negara Arab anggota OPEC terhadap Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat pro-Israel. Embargo itu terjadi pada Oktober 1973, ketika konflik terjadi lagi antara entitas Zionis itu dan Palestina—serta sekutu Arab.

Kebijakannya itu akhirnya mampu menaikkan harga minyak dunia sehingga menguntungkan negara-negara Timur Tengah dan negara-negara OPEC pada umumnya, termasuk Indonesia. Alhasil, inilah pertama kalinya Indonesia mengalami masa kejayaan minyak dan gas bumi (oil boom). Adapun oil boom kedua yang dialami RI ialah ketika revolusi pecah di Iran pada 1979 yang menyebabkan terganggunya pasokan migas dan, pada akhirnya, melonjakkan harga minyak dunia.

Bagaimanapun, bagi Raja Faisal, langkah caturnya di OPEC bukan demi bertambahnya profit itu sendiri, melainkan tujuan yang lebih luhur, yakni menekan AS dan sekutu-sekutu Barat yang pro-Israel. Ia pun mendukung perjuangan Palestina dengan menerjunkan pasukan ke medan perang dalam melawan Israel. Di palagan yang terjadi di perbatasan Yordania-Israel serta dataran tinggi Golan dan Sinai, bala tentara Saudi diterjunkan. Berkat ketegasannya itu, Raja Faisal menjadi pemimpin yang paling berpengaruh di dunia Arab dan Islam. Tokoh ini dipandang sebagai pemersatu negara-negara Arab.

Pengaruhnya di tataran global memang diakui luas. Majalah Time menganugerahinya sebagai “Man of the Year” pada 1974. Namun, usianya kian dekat di ujung.

Pada 25 Maret 1975, Raja Arab Saudi Faisal ditembak mati oleh keponakannya sendiri, Pangeran Faisal Ibn Musaed. Alasan pembunuhan tersebut masih tidak jelas kala itu. Seperti dilansir laman BBC History, Raja Faisal sempat dilarikan ke rumah sakit sesaat setelah ditembak dan dinyatakan masih hidup. Dokter kemudian mengejutkan jantungnya dan memberinya transfusi darah, tetapi nahas, para dokter tidak dapat menyelamatkannya.

Pangeran Faisal Ibu Musaed diduga menembakkan tiga peluru ke arahnya dengan pistol dari jarak dekat selama audiensi kerajaan. Menurut saksi mata, Pangeran Musaed sedang menunggu di ruang antre dan berbicara dengan utusan Kuwait yang sedang menunggu untuk bertemu dengan raja.

Raja Faisal telah membungkuk ke depan mencium memohon untuk jangan menembak, tetapi Pangeran Musaed dilaporkan telah mengeluarkan pistol dan menembaknya di bawah dagu dan kemudian melalui telinga. Salah satu pengawal raja memukul pangeran dengan pedangnya, meskipun pedang masih dalam keadaan terbungkus. (dul)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca