Assikalaibineng Kitab Kuno Suku Bugis Makassar
“Aksaranya macam-macam, ada Sulapa Eppa, Serang, dan Jangang-Jangang,” tulis Muhlis Hadrawi pada halaman 10 buku itu.
Assikalaibineng Terinspirasi dari Ajaran Islam
Sejatinya, Assikalaibineng adalah kitab tuntunan berhubungan suami-istri yang diatur sesuai budaya Bugis-Makassar, tapi tak lepas dari nilai-nilai Islam. Buku ini berisi tentang tips, trik, etika bahkan doa-doa saat ingin berhubungan badan atau setelahnya.
Terbukti pada salah satu bagian dalam buku ini dijelaskan dalam teks berbahasa Bugis dan ditulis dalam aksara Lontara, perihal ritual malam pertama. Seperti yang diajarkan, sang pria dianjurkan memulai dengan niat dan melihat dirinya sebagai aksara Arab Alif dan perempuan sebagai aksara Arab Ba, lalu dianjurkan memberi salam.
Pada bagian lain dalam buku itu disebutkan, sang suami disebut sebagai Ali atau sahabat dan menantu Nabi Muhammad lalu perempuan disebut sebagai Fatimah yang tak lain adalah putri Nabi Muhammad.
Saat pria memegang tangan perempuan, dia dianjurkan bersyahadat dan berniat Malaikat Jibril yang menikahkan dan Nabi Muhammad yang menjadi wali atas kehendak Allah Ta’ala. Kitab Persetubuhan Bugis ini juga banyak menjelaskan tentang titik-titik rangsangan pada perempuan, atau bahkan tentang siklus perubahan titik rangsangan perempuan yang sesuai dengan siklus menstruasinya. Dalam kitab itu titik pusat rangsangan tertinggi perempuan disebut Mani.
“Inilah pengetahuan dari Baginda Ali ketika hendak berhubungan dengan Fatimah. Malam Jumat dia mencium ubun-ubun sebab di situlah maninya berada, Sabtu dia mencium kepalanya, sebab di situlah maninya berada, malam Ahad, Ali mencium mata Fatimah sebab di situlah maninya berada, malam Senin diciuminya perantara keningnya,” tulis Muhlis menerjemahkan salah satu manuskrip Lontara yang dia peroleh.
Di manuskrip lain disebutkan ada tujuh titik rangsangan yang menjadi daerah sensasi saat malam pertama. Ketujuh titik itu berbeda pada setiap harinya tergantung hari apa malam pertama itu berlangsung.
Ketujuh titik itu adalah Buwung atau ubun-ubun pada malam Jumat, Ulu atau Kepala pada malam Sabtu, mata pada malam Ahad, Lawa Anning atau perantara alis pada malam Senin, Inge’ atau hidung pada malam Selasa, Pangolo atau payudara pada malam Rabu, dan Uluwati atau Ulu Hati pada malam Kamis.
“Efek rangsangan terbaik bila dilakukan pada rangkaian titik peka itu, diraba, lalu selalu diiringi ciuman, sebelum masuk ke tahap penetrasi, yang diikuti beberapa mantra dalam bahasa Arab dan Lontara,” jelas Muhlis Hadrawi dalam buku yang ditulisnya itu. (hen)
Baca juga :
- INFO LOKER DKI Jakarta 2026: Program Padat Karya dengan Gaji Setara UMP Rp5,7 Juta per Bulan
- MTs dan SMP Islam Al Huda Rawasapi: Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah
- Piala Dunia FIFA 2026: Brazil Ditahan Imbang Maroko 1-1, Hingga Menit 80
- Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) Ke-30 Tahun 2026 dan Pengabdian Masyarakat Program Studi S1 Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Kuningan
- Masjid Out Of The Box: Dari Gagasan Menuju Pusat Peradaban dan Pemberdayaan Umat
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


