Amangkurat 1 Pekerjakan Secara Paksa 300 Ribu Orang di Ibu Kota Baru Mataram, Pasca Penggantian Sultan Agung

Dengarkan Artikel Ini

Wiroguno pun pergi ke Blambangan, tetapi tidak pernah kembali. Pendukung Amangkurat I membunuh Wiroguno dengan alasan ia tidak menjalankan perintah raja secara tepat. Keluarga Wiroguno pun dihabisi.

Sebelum pergi ke Blambangan, Wiroguno sempat membantu Pangeran Alit melakukan pemberontakan. Pangeran Alit yang gagal merebut posisi putra mahkota pada 1437, melakukan gerakan politik lagi pada 1647 di usianya yang ke-19.

Pada tahun itu ia memerintahkan pendukungnya menyerang alun-alun selatan untuk melaksanakan kudeta. Ia mendapatkan dukungan dari kalangan santri. Namun, pemberontakannya bisa ditumpas oleh Amangkurat I dan Pangeran Alit terbunuh.

Kepada rakyat, Amangkurat I menunjukkan belasungkawa atas kematian Pangeran Alit. Ia gunduli kepalanya, untuk menarik simpati kalangan santri.

Namun, di balik tindakannya itu, ia mencari cara untuk membalas dendam kepada kalangan santri yang telah mendukung adiknya melakukan kudeta-gagal. Ia panggil empat orang kepercayaannya, yang sebaya dengannya, yang telah membantunya sejak ia belum menjadi raja.

Mereka diinstruksikan untuk menyebar ke empat penjuru angin bersama para pengikut masing-masing. Tugasnya, jangan ada satu pun kalangan santri dan kiai yang luput dari tindakan tegas raja.

Setelah mereka berada di posisi masing-masing, mereka akan bergerak setelah mendapat isyarat istana. Isyarat itu berupa bunyi tembakan senjata.

“Belum setengah jam berlalu setelah bunyi tembakan, 5.000-6.000 jiwa dibasmi dengan cara yang mengerikan,” tulis De Graaf. Hamka menyebut angka sampai 7.000 santri dan kiainya yang menjadi korban tindakan raja ini. (mif)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca