10 Kerajaan Islam di Nusantara Yang Pernah Mengalami Kejayaan

Dengarkan Artikel Ini

Mahmud Syah sempat memindahkan ibu kotanya ke Bintan, namun kembali diluluhlantakkan Portugis. Peristiwa inilah yang menjadi awal mula invasi militer Eropa ke Nusantara.

Peninggalan Kerajaan Malaka yang masih berdiri sampai sekarang antara lain Masjid Raya Baiturrahman Aceh, dan Masjid Agung Deli.

  1. Kerajaan Islam Cirebon (1430-1677)
    Kerajaan Cirebon atau Kasultanan Cirebon adalah Kasultanan Islam yang cukup besar di Jawa Barat pada abad 15-16 Masehi. Lokasinya yang berada di pantai utara Pulau Jawa menjadikan Kerajaan Cirebon sebagai jalur perdagangan dan pelayaran yang penting.

Dari sinilah Cirebon tumbuh menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat.

Kasultanan Cirebon pertama kali didirikan pada 1430 oleh Pangeran Walangsungsang yang dinobatkan sebagai Sultan Cirebon I. Kemudian pada 1479 Sultan Cirebon I menyerahkan jabatan dan kekuasaannya kepada Sunan Gunung Jati yang tidak lain ada keponakannya sendiri dan menjabat sebagai Sultan Cirebon II.

Sultan atau penguasa Kerajaan Cirebon selanjutnya adalah Sultan Abdul Karim yang merupakan penguasa Kasultanan Cirebon terakhir sebelum terbagi menjadi dua yaitu kesultanan Kasepuhan dan kesultanan Kanoman.

Peninggalan Kerajaan Cirebon yang paling terkenal yakni Keraton Kasepuhan Cirebon, Keraton Keprabon, Patung Harimau Putih, Bangunan Mande, dan Kereta Kasepuhan Singa Barong, dan Mangkok Kayu Berukir.

  1. Kerajaan Demak (1478-1554)
    Kerajaan Demak merupakan Kerajaan Islam pertama dan terbesar di pesisir Pulau Jawa. Kerajaan yang berdiri pada 1478 ini dipimpin oleh Raden Patah. Kerajaan Demak merupakan pelopor penyebaran agama Islam di Nusantara lantaran dukungan para Wali Songo.

Kemunculan Kerajaan Demak terjadi pada masa kemunduran Kerajaan Majapahit. Beberapa wilayah kekuasaan Majapahit memisahkan diri.

Kerajaan ini tercatat memiliki 5 raja tersohor yang pernah berkuasa, seperti Raden Fatah, Pati Unus, Sultan Trenggono, Sunan Prawata, dan Arya Penangsang. Pada masa kejayaannya, Kerajaan Demak ini tak tersaingi.

Kemunduran Kerajaan Demak dipicu oleh perang saudara antara Pangeran Surowiyoto dan Trenggono yang berujung saling bunuh untuk merebut takhta.
Kemudian pada 1554, Kerajaan Demak runtuh akibat pemberontakan Jaka Tingkir yang berhasil mengalihkan pusat kekuasaan ke daerah Pajang dan mendirikan Kerajaan Pajang.

  1. Kerajaan Islam Banten (1526-1813)
    Kerajaan Banten pernah berjaya di tanah Pasundan, Banten pada 1526. Sultan pertama Kerajaan Banten adalah Sultan Maulana Hasanudin yang merupakan anak dari Sunan Gunung Jati.

Pemimpin yang paling terkenal di Kesultanan Banten adalah Sultan Agung Tirtayasa. Di bawah kekuasaannya, ia banyak memimpin perlawanan terhadap Belanda lantaran VOC menerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten.

Islam menjadi pilar bagi Kesultanan Banten dan menempatkan ulama sebagai peranan penting dalam kehidupan masyarakat.

Inilah yang membuat tarekat dan tasawuf berkembang di Banten. Tradisi lain yang dipengaruhi perkembangan Islam juga dapat terlihat pada seni bela diri debus.

Runtuhnya Kesultanan Banten salah satunya diakibatkan oleh perang saudara. Anak dari Sultan Ageng Tirtayasa, yakni Sultan Haji, berusaha merebut kekuasaan dari tangan sang ayah.

  1. Kerajaan Pajang (1568-1586)
    Kerajaan Pajang berdiri sebagai kelanjutan Kerajaan Demak usai mengalami keruntuhan. Kerajaan yang berpusat di Jawa Tengah ini didirikan oleh Sultan Hadiwijaya atau dikenal sebagai Jaka Tingkir yang berasal lereng Gunung Merapi.

Jaka Tingkir merupakan menantu Sultan Trenggono yang diberi kekuasaan di Pajang. Usai merebut kekusaan Demak dari Aria Penangsang, seluruh kekuasaan dan benda pusaka Demak dipindahkan ke Pajang. Jaka Tingkir mendapat gelar Sultan Hadiwijaya dan sekaligus menjadi raja pertama Kerajaan Pajang.

Islam yang semula berpusat di pesisir utara Jawa (Demak) dipindahkan ke pedalaman membawa pengaruh yang besar dalam penyebarannya. Semasa pemerintahannya, politik dan agama Islam mengalami perkembangan.

Kemudian Jaka Tingkir melakukan ekspansi ke timur hingga Madiun tepatnya di tepi aliran sungai Bengawan Solo. Pada tahun 1554 Jaka Tingkir mampu menduduki Blora dan Kediri pada 1577.

Bekas peninggalan Kerajaan Panjang yang masih ada antara lain Masjid dan Pasar Laweyan, Makam Sultan Hadiwijaya, dan kompleks makam pejabat Panjang.

  1. Kerajaan Mataram Islam (1588-1680)
    Kerajaan Mataram Islam berpusat di Kotagede Yogyakarta pada 1588. Kerajaan ini dipimpin oleh dinasti yang mengaku sebagai keturunan Majapahit, yakni keturunan Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan.

Awal mula Kerajaan Mataram Islam adalah dari Kadipaten yang berada di bawah Kesultanan Pajang dan berpusat di Bumi Mentaok. Kemudian diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai hadiah atas jasa yang diberikannya.

Raja pertama adalah Raden Mas Sutawijaya atau Penembahan Senapati yang tak lain adalah putra Ki Ageng Pemanahan. Kerajaan Islam Mataram mengalami masa kejayaan pada masa pemeritahan Mas Rangsang atau Sultan Agung.

Ia berhasil melakukan ekspansi dan menguasai hampir seluruh wilayah di tanah Jawa. Ia juga melakukan perlawanan kepada VOC dengan bersama Kesultanan Banten dan Cirebon.

Kerajaan Mataram Islam mengalami perpecahan usai konflik politik dan mengakibatkan pembagian wilayah kekuasaan, yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta yang tertuang dalam Perjanjian Giyanti.

Peninggalan kerajaan yang hingga kini masih dapat dijumpai adalah Masjid Agung Gedhe Kauman, Masjid Kotagede, Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning, Masjid Agung Surakarta, dan Masjid Al Fatih Kepatihan Solo, batas administrasi wilayah, dan aksara Jawa Hanacaraka.

Itulah 10 kerajaan Islam pertama dan tertua di Indonesia yang juga banyak memiliki benda dan situs yang ditinggalkan. Peninggalan bersejarah harus terus dilindungi serta dilestarikan sebagai salah satu wujud identitas bangsa. (feb/red)


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca