Peran AI (Artificial Intelligence) dalam Pendidikan: Pahlawan atau Musuh Baru?

Surabaya – 1miliarsantri.net : Bayangkan kamu belajar Matematika tapi bukan guru yang ngajar, melainkan aplikasi yang bisa tahu dimana letak kesalahanmu, kasih kamu soal sesuai kemampuanmu dan bahkan bisa memberi penjelasan berulang kali dengan cara yang lebih mudah kamu mengerti. Nah, itulah salah satu bentuk kehadiran AI (Artificial Intelligence) dalam pendidikan. Akhir-akhir ini AI (Artifial Intelligence) atau kecerdasan buatan ini ramai dibicarakan dan diperdebatkan. Kehadirannya dalam di dunia pendidikan menjadi dilema, apakah ini kabar baik atau alarm bahaya? Apakah AI menjadi pahlawan yang memudahkan kita belajar atau musuh baru yang diam-diam merusak semangat belajar kita?   Ketika AI Menjadi Pahlawan di Kelas Bayangkan, kamu punya tutor yang selalu siap sedia 24 jam, tidak pernah lelah dan bisa ngajar sesuai gaya belajarmu. Tidak dapat dipungkiri, AI sudah banyak membantu pelajar (baik siswa dan mahasiswa) zaman sekarang. Mulai dari fitur autocorrect, translate, sampai platform belajar seperti duolingo, chatgpt, deepseek yang menggunakan AI untuk membantu kita belajar dengan cara yang personal. AI bisa menjadi teman belajar pintar yang ngga nge-judge dan selalu siap sedia 24/7. Saat kamu tidak paham konsep trigonometri, AI bisa memberimu penjelasan dengan gaya yang berbeda-beda sampai kamu paham. Tidak perlu menunggu waktu kosong untuk menemui guru dan tidak perlu malu bertanya berulang kali saat kamu masih merasa kurang paham. Menurut laporan UNESCO (2023), dalam dokumen Technology in Education: A Tool on Whose Therms? Implementasi AI dalam pendidikan meningkat pesat. Terutama sejak pandemi COVID-19. AI dianggap sebagai salah satu solusi pembelajaran daring yang adaptif. Menurut organisasi OECD AI tidak hanya memudahkan para pelajar dalam mencerna materi, namun juga memudahkan para guru dalam mencari ide dan bahan ajar. Selain untuk mencari bahan ajar, AI juga membantu guru dalam urusan administrasi, analisis nilai pelajar hingga memberi rekomendasi soal remedial. Dengan begitu guru bisa lebih fokus mendampingi siswa, memimpin diskusi dan membentuk karakter siswa. Istilah mudahnya, AI seperti google yang naik level. Yang tidak hanya bisa membantu memberi informasi, namun juga membantu memproses dan memahami informasinya. Ancaman Ketergantungan Teknologi Meski terdengar sempurna, AI tetap memiliki dampak negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah ketergantungan pelajar terhadap AI. Penelitian studi dari Education Week (2024) mengungkapkan bahwa sekitar 22% pelajar di Amerika Serikat menggunakan AI dalam menyelesaikan tugas akademik. Sedangkan, di Indonesia sendiri menurut survei dari Tito dan Jakpat, 87% pelajar di Indonesia menggunakan AI untuk mengerjakan tugas akademik. Indonesia juga menduduki peringkat tiga pengguna AI terbanyak di dunia.  Sebanyak 1,4 milyar kunjungan platform-platform AI. Hal ini menunjukan betapa besar antusiasme dan potensi AI di kalangan masyarakat. Menghambat Kemampuan Berpikir Kritis dan Penurunan Kognitif Pelajar Selain ketergantungan teknologi, AI juga memberikan dampak negatif yang cukup berdampak pada pelajar. Ketergantungan AI dapat menghambat kemampuan berpikir kritis dan menurunkan penurunan kognitif. Studi dari Education Week (2024) menyatakan. Bahwa, 1 dari 5 dari pelajar di Amerika menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas akademiknya tapa benar-benar memahami prosesnya. Fenomena ini, memperlihatkan gejala ‘malas berpikir’ dimana pelajar kehilangan proses trial and eror pada proses belajarnya, tidak terbiasa menganalisis suatu informasi dan menurunkan kemampuan probelm solving, karena terbiasa menyalin dan menyerahkan. Ketika AI terus menerus diandalkan dalam berpikir dan membuat keputusan, otak tidak terlatih secara optimal. Sehingga menyebabkan penurunan kemampuan mengingat dan memahami konsep karena proses belajar pasif, menurunkan kepercayaan diri intelektual dan kesulitan berpikir kritis karena terbiasa mendapat bantuan jawaban isntan dari AI. Peran Guru VS AI (Artificial Intelligence) dalam Pendidikan Kemajuan teknologi AI bukan berarti AI mampu menggantikan peran guru. AI bisa saja menyampaikan materi secara efisien, namun AI tidak dapat menggantikan relasi manusia dalam pendidikan. Dr. Muhammad Ihsan, dosen teknologi pendidikan Universitas Negeri Jakarta dalam seminar nasional pendidikan digital (2023) menyatakan bahwa guru tetap berperan penting dalam membeimbing nilai-nilai, membangun empati dan panutan moral bagi siswa. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyalur ilmu, namun sebagai pembentuk karakter dan jembatan emosi yang tidak bisa tergantikan oleh teknologi manapun. Dalam hal ini, guru dan kecerdasan buatan (AI) merupakan kolabolator bukan kompetitor. Keduanya adalah dua aspek yang seharusnya bisa menjadi kolaborasi yang bagus dan saling mendukung guna menciptakan pengalaman belajar yang lebih adaptif dan berwarna. Musuh atau Pahlawan? Pada akhirnya, jawaban dari pertanyaan ini kembali lagi pada kebijakan masing-masing individu. Sekali lagi, AI hanyalah alat yang menunjang kemajuan teknologi yang diciptakan untuk mempermudah manusia. Tugas kita bukan menolak teknologi, namun memastikan penggunaannya tetap berpihak pada manusia serta etika dan nilai-nilai pendidikan itu sendiri. Kecerdasan buatan dalam pendidikan ibarat dua sisi mata uang: di satu sisi ia mampu menjadi pahlawan yang mempermudah pembelajaran, namun di sisi lain juga berpotensi menjadi musuh yang mengikis nilai-nilai esensial pendidikan jika tak dikendalikan dengan bijak. Kunci utamanya terletak pada bagaimana kita, para pendidik dan pembuat kebijakan, mampu memanfaatkan AI secara proporsional sebagai alat bantu, bukan pengganti peran manusia demi menciptakan masa depan belajar yang inklusif, beretika, dan bermakna. Kontributor :  Salwa Aulia Editor : Toto Budiman

Read More

Hidup Ala Rasulullah : Sederhana, Produktif, dan Penuh Makna

Surabaya – 1miliarsantri.net: Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tuntutan, teladan hidup Rasulullah ﷺ menawarkan inspirasi yang tak lekang oleh zaman. Gaya hidup beliau yang sederhana, produktif, dan sarat makna menjadi cermin keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Dengan kesederhanaan, Rasulullah tetap mampu menjalankan peran sebagai pemimpin, pendidik, dan teladan umat, tanpa kehilangan ketenangan batin. Artikel ini akan mengajak kita menelusuri bagaimana prinsip hidup beliau dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk meraih keberkahan dan kebahagiaan yang hakiki. Tren hidup tenang seperti minimalisme, meditasi, dan self-care semakin populer di kalangan keluarga muslim modern. Namun tahukah kamu bahwa Islam sudah mengajarkan semua itu sejak lebih dari 1.400 tahun lalu? Nabi Muhammad SAW bukan hanya sosok pemimpin agama, tetapi juga teladan kehidupan yang menyeluruh. Gaya hidup beliau bukan hanya spiritual, tetapi juga sangat manusiawi dan seimbang. Dalam keseharian, Rasulullah menunjukkan bahwa hidup bisa sederhana namun tetap produktif, bisa aktif tanpa melupakan istirahat, dan bisa sukses dunia tanpa kehilangan akhirat. Nah berikut ini beberapa prinsip hidup ala Nabi Muhammad SAW yang bisa kita teladani dan praktikkan di era sekarang. Yuk simak! 1. Hidup Sederhana dan Qanaah Rasulullah SAW menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan. Beliau tidur di atas pelepah kurma, makan secukupnya, dan berpakaian sederhana tanpa berlebihan. Namun kesederhanaan beliau bukan berarti kekurangan. Rasulullah adalah pedagang sukses dan pemimpin umat, tapi tetap rendah hati dan tidak bergaya hidup mewah. Konsep qanaah (merasa cukup) menjadi fondasi dari ketenangan batin. Dalam hidup ala Nabi, kita diajarkan untuk tidak berlomba-lomba dalam urusan dunia, tetapi fokus pada kebermanfaatan dan keberkahan. Di zaman sekarang, ini bisa berarti hidup tanpa terjebak gengsi, tidak mudah tergoda oleh budaya konsumtif, dan mensyukuri apa yang kita punya. 2. Manajemen Waktu yang Seimbang Salah satu kunci produktivitas Rasulullah adalah pembagian waktu yang jelas. Beliau membagi harinya untuk beribadah, berdakwah, bekerja, bersama keluarga, hingga memberi waktu untuk diri sendiri. Pagi hari beliau manfaatkan untuk aktivitas produktif, siang untuk istirahat sejenak, sore dan malam untuk ibadah serta aktivitas sosial. Kita bisa meneladani ini dengan membuat jadwal harian yang proporsional. Tidak hanya mengejar pekerjaan duniawi, tapi juga menyisipkan waktu untuk salat tepat waktu, membaca Al-Quran, berolahraga, hingga waktu berkualitas dengan keluarga. Hidup ala Nabi bukan hanya tentang banyak beribadah, tapi juga mampu mengatur waktu dengan adil dan disiplin. 3. Pola Hidup Sehat dan Teratur Nabi Muhammad SAW sangat menjaga kesehatan tubuh. Beliau makan secukupnya, tidak berlebihan, dan memilih makanan yang bersih serta bergizi seperti kurma, madu, susu, dan air zamzam. Beliau juga menganjurkan umatnya untuk berpuasa, tidak hanya di bulan Ramadan, tapi juga puasa sunnah yang terbukti memberi manfaat medis. Beliau juga menjaga kebersihan diri, seperti memotong kuku, menjaga wudhu, dan menganjurkan mandi secara rutin. Bahkan, Rasulullah menganjurkan untuk bangun pagi, yang kini terbukti membawa banyak manfaat psikologis dan produktivitas. Pola hidup sehat ini sangat relevan dengan gaya hidup modern yang sering kali tak seimbang. Kita bisa memulainya dari hal-hal kecil seperti makan tidak berlebihan, tidur yang cukup, bangun pagi, dan menjaga kebersihan. 4. Aktif Berkarya dan Tidak Bergantung Meski diangkat sebagai Rasul, Nabi Muhammad SAW tetap bekerja keras. Sejak muda beliau menggembala kambing, lalu berdagang dengan jujur, dan setelah menjadi pemimpin umat, beliau tetap turun langsung mengatur strategi dan berdakwah. Beliau juga bersabda, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” Artinya, beliau mendorong umat Islam untuk menjadi pribadi yang mandiri dan memberi, bukan yang hanya menerima. Dalam konteks hari ini, bisa berarti bekerja dengan niat ibadah, tidak bergantung pada bantuan, dan tetap berkarya meskipun dalam kondisi terbatas. 5. Dekat dengan Keluarga dan Lingkungan Sosial Nabi Muhammad SAW adalah suami yang romantis, ayah yang penyayang, dan tetangga yang ramah. Beliau membantu pekerjaan rumah, mendidik anak dengan sabar, dan tidak pernah membentak istrinya. Dalam kehidupan sosial, beliau menyapa orang miskin, mengunjungi orang sakit, dan tersenyum kepada siapa pun. Hidup ala Nabi juga berarti membangun hubungan yang sehat dan penuh kasih dengan orang-orang di sekitar. Dalam dunia yang makin individualistis, kita perlu menghidupkan kembali budaya salam, senyum, tolong-menolong, dan empati kepada sesama. 6. Menjaga Hati dan Mental dengan Dzikir Salah satu kekuatan terbesar Nabi adalah ketenangan batinnya. Dalam menghadapi tekanan, fitnah, bahkan ancaman fisik, beliau tidak pernah kehilangan kendali diri. Rahasianya adalah dzikrullah — mengingat Allah SWT setiap saat. Beliau sering membaca istighfar, tasbih, tahmid, dan takbir dalam setiap aktivitasnya. Bahkan dalam kondisi sulit sekalipun, beliau tetap menjaga lisannya dari keluhan dan mengisinya dengan doa. Di zaman sekarang, ini bisa menjadi cara untuk menjaga kesehatan mental dan hati tetap damai. 7. Menjaga Konsistensi dan Niat dalam Setiap Aktivitas Hidup ala Nabi juga berarti menjalani hidup dengan niat yang jelas dan konsisten. Rasulullah mengajarkan pentingnya niat sebelum berbuat, serta pentingnya istiqamah (konsistensi dalam kebaikan). Bahkan amal kecil yang rutin lebih dicintai Allah daripada amal besar tapi jarang dilakukan. Dalam hidup sehari-hari, ini bisa diterapkan dengan membiasakan kebiasaan baik seperti membaca doa sebelum aktivitas, menyapa orang dengan senyum, bersedekah walau sedikit, dan tetap menjaga ibadah meskipun sibuk. Sedikit demi sedikit, hidup kita akan berubah menjadi lebih berkah. Akhir kata, hidup ala Nabi bukan berarti hidup yang kaku atau berat. Justru sebaliknya, ini adalah gaya hidup yang menenangkan, menyeimbangkan antara dunia dan akhirat, serta memberi makna pada rutinitas harian kita. Di zaman yang penuh distraksi ini, meneladani kehidupan Rasulullah SAW adalah solusi paling otentik untuk menemukan arah, ketenangan, dan keberkahan hidup. Mari kita mulai dari hal sederhana, seperti menata waktu, menyederhanakan gaya hidup, menjaga kebersihan, memperbanyak dzikir, dan mempererat hubungan sosial. Semoga kita semua mampu meneladani Rasulullah SAW dalam segala aspek kehidupan. Karena sebaik-baik teladan, sudah ada pada diri beliau. Shalawat dan salam untuk Nabi yang mulia. Aamiin. Kontributor : Satria S. Pamungkas Editor : Toto Budiman

Read More

Kecerdasan Buatan (AI) Masuk Kurikulum ; Cetak Gen Z yang Memiliki Talenta Digital?

Bekasi – 1miliarsantri.net : Rencana memasukkan kecerdasan buatan (AI) ke dalam kurikulum pendidikan mulai memantik diskusi di berbagai kalangan. Di tengah laju transformasi digital yang kian pesat, langkah ini dinilai strategis untuk membekali generasi muda dengan pemahaman dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Namun, muncul pula pertanyaan: sejauh mana kesiapan sekolah, pendidik, dan peserta didik dalam mengadopsi materi berbasis AI? Artikel ini akan mengulas peluang, tantangan, dan dampak potensial dari kebijakan tersebut dalam mencetak generasi yang tangguh menghadapi era digital. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengalami perkembangan pesat beberapa tahun terakhir. Dari rumah tangga hingga industrial, AI digunakan untuk berbagai keperluan. Peranan penting teknologi dalam kehidupan mendorong banyak negara mengenalkan pendidikan AI, sepertinya halnya Indonesia yang akan meluncurkan kurikulum AI. Kurikulum AI diwacanakan Kemendikdasmen menyasar peserta didik SD, SMP, SMA/SMK sebagai mata pelajaran pilihan. Rencananya mata pelajaran itu akan direalisasikan pada tahun ajaran 2025/2026. Mengingat pada jenjang pendidikan tersebut masih banyak sekolah yang belum memperkenalkan pendidikan teknologi informasi atau AI. Lantas, apakah kurikulum AI mampu mencetak generasi muda yang siap bersaing di tengah gempuran digitalisasi? Menurut Abbiyu Rafi Eriansyah (22) yang merupakan tenaga pengajar, rencana pemerintah menerapkan kurikulum AI merupakan langkah positif untuk mengenalkan teknologi ke siswa sejak dini. Terlebih mereka akan mendapatkan pengalaman baru mempelajari teknologi. “Kurikulum AI tentunya sangat bermanfaat bagi para siswa, di mana mereka secara tidak langsung bersentuhan dengan teknologi yang canggih. Saya melihat ini seperti jembatan yang dibuat oleh pemerintah agar nantinya siswa berpeluang menciptakan inovasi melalui AI,” kata Rafi saat dihubungi melalui sambungan daring. Ia mengungkapkan saat kurikulum AI terealisasi secara optimal, siswa berpeluang besar menjadi generasi yang dapat bersaing dengan perkembangan teknologi dari dalam maupun luar negeri. Jika menelisik secara jangka panjang, katanya, pendidikan AI menjadi bekal bagi siswa agar bisa mendapatkan pekerjaan di sektor teknologi. Bukan tanpa sebab, banyak perusahaan berlomba menciptakan produk-produk berbasis sistem AI yang memberikan kemudahan bagi konsumen ketika menggunakannya serta memperoleh pengalaman berbeda. “Bagi saya (kurikulum) AI ini strategi yang tepat mengasah keterampilan siswa memanfaatkan teknologi AI. Apalagi anak-anak zaman sekarang lekat banget sama teknologi. Kita bisa lihat sekarang ini  banyak anak-anak menggunakan gawai atau perangkat elektronik lainnya sejak usia dini,” jelasnya. “Jika digunakan hanya untuk menonton video dan bermain game , maka tidak akan berdampak positif. Namun jika pendekatannya lebih edukatif dalam menggunakan gawai dan semacamnya, maka bukan tidak mungkin anak-anak lebih memahami teknologi dibandingkan orangtuanya,” sambungnya. Kurikulum AI, katanya, secara tidak langsung membantu para siswa berpikir secara logis, analitis, dan kritis. Dengan cara pikir seperti ini, siswa akan lebih mudah menemukan jawaban atas suatu masalah. Namun, pemerintah tidak akan bisa mencetak generasi unggul melalui kurikulum AI ketika fasilitas di setiap sekolah belum terpenuhi. Rafi menuturkan fasilitas dan sistem pendidikan di Indonesia perlu dibenahi agar penerapan kurikulum AI berjalan baik dan para siswa mendapatkan pembelajaran dengan maksimal. “Kurikulum ini akan sia-sia jika pemerintah tidak memenuhi fasilitas sekolah lebih dulu terutama perangkat elektronik yang memadai. Kalau fasilitas saja tidak terpenuhi, para siswa tidak akan mendapatkan hasil maksimal dari kurikulum tersebut,” tegasnya. Rafi juga menegaskan pemerintah harus memberikan pendidikan ini secara merata ke seluruh sekolah di Indonesia, khususnya yang berada di kawasan 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Ia menginginkan pemerintah tidak terpusat dalam memfasilitasi kebutuhan bahan ajar bagi para siswa. “Perlu digaris bawahi bahwa bukan hanya fasilitas yang dipenuhi, tapi para guru juga harus dibekali pelatihan terkait materi AI, khususnya guru-guru yang ‘gaptek’,” pungkasnya Di sisi lain, bagi siswa, penerapan kurikulum AI cukup dinanti karena ingin mempelajari sesuatu yang baru. Hal itu diungkapkan oleh Muhammad Asadel (15). Baginya jika pendidikan AI telah dilaksanakan, para siswa akan memperoleh ilmu baru sehingga pembelajaran tidak monoton. “Pendidikan AI cukup penting sih karena belajar nggak terkesan itu-itu aja. Manfaatnya juga bisa buat diri sendiri, sekolah, bahkan negara,” kata Asadel, siswa SMA di salah satu Kab. Bekasi. Asadel menginginkan kurikulum AI dilakukan dengan maksimal karena dirinya memiliki ambisi mendalami ilmu teknologi berbasis AI. Ia juga berharap pembelajaran AI lebih sering dilakukan praktik dibandingkan teori. Karena itu, kurikulum AI berpeluang besar mencetak generasi muda agar mampu bersaing di tengah arus transformasi teknologi. Namun, rencana ini harus dibarengi dengan peningkatan fasilitas sekolah berupa lab. komputer atau lainnya sehingga pembelajaran berjalan maksimal. Pemerintah juga tidak boleh melakukan tebang pilih, di mana setiap sekolah di Indonesia mendapatkan hak yang sama. Kontributor : Muhammad Sulthon Sulung Editor : Toto Budiman

Read More

Mengukir Langkah Bersama: Haflah Akhirussanah ke-VI Pondok Tahfidz Modern Al-Imam  

Kediri – 1miliarsantri.net : Semarak Haflah Akhirussanah kembali mewarnai Pondok Tahfidz Modern Al-Imam (PTMA), Gurah-Kediri, dalam gelaran tahunannya yang ke-VI (29/06). Dengan mengusung tema besar “Berjuang Bersama untuk Umat dan Semua Golongan”, acara ini tidak hanya menjadi ajang prosesi kelulusan, tetapi juga momen reflektif, kolaboratif, dan penuh semangat kebersamaan antara para santri, ustadz, wali santri, serta seluruh elemen pondok. Bertempat di lapangan depan pendopo Pondok Tahfidz Modern Al-Imam Gurah, Kediri, acara dimulai pada pukul 07.10 WIB dengan diawali penampilan hadroh dari santri putra. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penampilan syarhil Qur’an, tahfidz, tari piring, hingga lagu-lagu islami dari siswa-siswi SD Islam Plus Al-Imam. Seluruh rangkaian acara berlangsung dalam suasana hangat, khidmat, dan meriah, dipadukan dengan sorakan riang dari para wali santri yang hadir mendampingi putra-putrinya. Dipandu 3 MC (master of ceremony) dari santri dan santriwati PTMA yang bersemangat dan atraktif dengan kepercayaan diri tinggi, audiens dibuat terpukau dengan kepiawaian mereka berbahasa Arab dan Inggris. Sungguh menjadi sebuah catatan prestasi yang perlu diapresiasi, mengingat PTMA baru berdiri kurang lebih 6 tahun. Banyak yang awalnya menyangsikan eksistensi PTMA, mengingat untuk di wilayah Kediri sendiri saja, jumlah pondok pesantren sudah cukup banyak. Menariknya bahkan ada calon wali santri yang rela hadir, hanya sekedar untuk melihat langsung prosesi haflah akhirussanah dan kelulusan tahun ini. Untuk memastikan mereka menitipkan buah hatinya di tempat yang tepat. Dalam sambutan utamanya, Abah Qidam Lubis selaku pimpinan yayasan menegaskan kembali semangat pondok sebagai tempat pemersatu berbagai latar belakang kelompok umat Islam yang beragam.“Kita semua hadir di Al-Imam bukan untuk membawa firqah masing-masing, tapi untuk menyatukan langkah dalam membina generasi Islam ke depan. Wali Santri di PTMA sangat beragam dari berbagai aliran seperti Muhammadiyah, Nahdiyin, Salafi dan lainnya melebur dalam satu niat: membangun peradaban Qur’ani,” ujarnya menegaskan. Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh santri bernama Fauzul dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, acara dilanjutkan dengan prosesi kelulusan santri dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Momen tersebut menjadi salah satu titik haru dalam Haflah, ketika nama-nama para wisudawan dipanggil satu per satu dan naik ke atas panggung untuk menerima piagam penghargaan. Total wisudawan tahun ini mencapai puluhan santri yang terdiri dari siswa-siswi SD Islam Plus Al-Imam, SMP PTMA, dan SMA PTMA. Dalam sesi apresiasi, diumumkan juga para siswa berprestasi tahun ajaran 2024/2025. Untuk tingkat SD kelas 6, peringkat pertama diraih oleh Jasmine Ainun Attamamy, peringkat kedua oleh M. Fawwas Nabigh Assyauqi, dan peringkat ketiga oleh Najwa Fatin Nur Rahmah. Sedangkan untuk siswa terbaik dalam bidang akademik tingkat SMP adalah: Muhammad Iqdam Dzakyunnuha (kelas 7), Moch. Hilmy Syauqillah (kelas 8), dan Rama Riezky Rasheedi (kelas 9). Sementara itu, prestasi membanggakan juga datang dari lulusan SMA PTMA. Beberapa santri dinyatakan lulus dan diterima di perguruan tinggi unggulan nasional, antara lain: Jauhar Ramadhan – Universitas Negeri Malang (S1 Manajemen), Melody Salsabilla – UIN Syekh Wasil Kediri (S1 Jurnalistik Islam), Rizkia Nurul Fitri – Universitas Negeri Malang (S1 PGSD) dan Waode Vibry Dwi Marsya – Universitas Muhammadiyah Malang (S1 Ilmu Komunikasi). Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa para lulusan Pondok Tahfidz Modern Al-Imam tidak hanya unggul dalam bidang keagamaan, namun juga mampu bersaing di dunia akademik nasional. Untuk menguji kualitas hapalan Al-Qur’an para santri dan santriwati, para wali santri diberikan kesempatan untuk mengujinya. Khusus untuk pertanyaan di surah Al Baqoroh, santri bahkan diminta untuk menyebutkan posisi ayat dan halaman surahnya. Hal yang membuat para wisudawan cukup deg-degan karena diuji di depan publik langsung. Alhamdulillah walaupun sempat nervous awalnya, para santri dan santriwati yang mendapatkan pertanyaan dari audies, terlihat mampu dan lancar dalam menyambung ayat atau menyebutkan posisi surahnya. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan sambutan dan mauidhoh hasanah oleh Kyai Gufron Uya. Beliau masih terhitung kerabat dari Abah Qidam Lubis.  Dalam sambutannya Kyai Gufron menyampaikan pentingnya memiliki frekwensi yang sama antara assatidz dan santri/santriwati yang diajar. Kebiasaan berwudhu dulu sebelum melakukan aktivitas mengajar yang dilakukan oleh para assatidz PTMA, merupakan kebiasaan baik yang perlu terus dilanjutkan. Sehingga saat berada di ruang kelas, kontrol emosi selalu terjaga dan tenang menghadapi tingkah polah santri yang beragam. Acara ini ditutup pada pukul 11.30 WIB dengan pembacaan doa serta ramah tamah bersama wali santri dan dewan asatidz. Sekaligus peresmian asrama pondok putra dan pembagian raport santri di gedung baru. Haflah Akhirussanah ke-VI menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan pondok tidak hanya terletak pada jumlah hafalan, tetapi juga pada karakter, akhlak, dan kesiapan para santri untuk terjun ke masyarakat dengan nilai-nilai Islam yang kuat. Dengan semangat kebersamaan, Pondok Tahfidz Modern Al-Imam terus berikhtiar mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap berjuang demi umat dan seluruh golongan. Haflah Akhirussanah ke-VI Pondok Tahfidz Modern Al-Imam menjadi penanda indah berakhirnya tahun ajaran 2024/2025 dengan penuh syukur dan kebersamaan. Setiap rangkaian acara bukan hanya ajang apresiasi, tetapi juga momentum mengukuhkan tekad untuk terus berjuang dalam menghafal dan mengamalkan Al-Qur’an. Semoga langkah yang telah diukir bersama ini menjadi bekal keberkahan bagi seluruh santri, pengajar, dan keluarga besar Pondok Tahfidz Modern Al-Imam dalam menapaki masa depan yang lebih gemilang di bawah naungan ridha Allah SWT. Kontributor : Zufar Rauf Budiman Editor : Toto Budiman

Read More

Badge Pahala : Bisakah Ibadah Di-Gamifikasi Tanpa Kehilangan Ikhlas

Surabaya -1miliarsantri.net : Di era digital yang serba interaktif, beribadah tidak lagi hanya soal sajadah, mushaf, dan masjid. Kini, gawai seperti smartphone pun ikut sibuk membantu kita khatam Al-Qur’an, menghitung rakaat, hingga mengingatkan dzikir. Lewat berbagai aplikasi dengan konsep gamifikasi, merambah hampir semua aspek kehidupan termasuk aspek spritual. Fungsi  badge (lencana), streak (rekor beruntun), dan leaderboard (papan peringkat), menjadikan sebagian Muslim semakin terpacu untuk rajin beribadah, setidaknya secara angka atau simbol pencapaian. Tapi pertanyaannya: di mana letak keikhlasan, kalau ibadah pun mulai diukur dengan lencana digital? Artikel ini akan mengulas potensi dan tantangan gamifikasi ibadah, serta bagaimana kita bisa memanfaatkannya secara bijak agar tetap menjaga kemurnian tujuan spiritual. Tren Gamifikasi Ibadah Gamifikasi atau pendekatan seperti permainan memang fenomena menarik. Di satu sisi, ia menawarkan motivasi baru: membuat rutinitas spiritual lebih terasa menantang dan seru. Di sisi lain, ia juga memunculkan kekhawatiran: apakah kita benar-benar melakukannya karena Allah, atau demi poin dan pengakuan sosial? Prinsip gamifikasi sendiri sederhana: mengambil elemen permainan, seperti poin, peringkat, atau badge lalu menempelkannya pada aktivitas non-permainan. Dalam konteks ibadah, tren ini lahir dari kebutuhan generasi digital yang butuh dorongan visual untuk disiplin. Aplikasi seperti Muslim Pro, Quran Companion, Umma, hingga Habitica (yang multi-agama) memanfaatkan ini. Pengguna bisa melihat statistik tilawah harian, jumlah rakaat yang tercatat, atau progres khatam. Beberapa bahkan mengirim notifikasi jika streak (rekor berturut-turut) terputus. Bagi sebagian orang, badge ‘30 hari tanpa bolong shalat’ terasa membanggakan. Ada sensasi achievement unlocked mirip main game, hanya saja ini berbalut ibadah. Singkatnya fungsi badge sebagai penghargaan personal, fungsi streak sebagai pemicu konsistensi dan leaderboard sebagai penyemangat kompetisi sosial. Apa Kata Agama? Dalam Islam, niat menjadi kunci pembeda. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari-Muslim). Artinya, dua orang yang sama-sama shalat bisa mendapat balasan berbeda tergantung isi hati mereka. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan panjang lebar tentang bahaya riya’ — pamer amal supaya dipuji manusia. Dalam dunia fisik, bentuknya bisa beribadah supaya dipandang saleh. Di dunia digital, bisa jadi riya’ tampil dalam bentuk ‘flex’ streak tilawah di Instagram Story. Ayat Al-Qur’an pun mengingatkan: “Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148). Tapi perlombaan ini bukan di ruang publik semata, melainkan di ruang batin: siapa yang paling tulus mendekat pada Allah. Di sisi lain, psikologi modern mengenal motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik lahir dari dorongan internal — niat tulus, kebutuhan spiritual. Sedangkan motivasi ekstrinsik datang dari hadiah, pengakuan, atau hukuman. Gamifikasi jelas mengandalkan motivasi ekstrinsik: badge, notifikasi, ranking. Hal ini tidak sepenuhnya buruk, kok. Penelitian B.J. Fogg (Stanford) menjelaskan bahwa persuasive technology memang efektif memengaruhi perilaku. Badge bisa jadi starter untuk membentuk kebiasaan baik. Tapi, jika terlalu bergantung pada reward, motivasi asli bisa padam. Lama-lama, ibadah kita akan terasa hampa tanpa notifikasi. Suara Developer : Kenapa Harus ‘Di-Game–kan’? Beberapa developer aplikasi Islami beralasan, pendekatan gamification hanyalah strategi adaptasi. Mereka paham, generasi muda lebih mudah terpancing menyelesaikan target jika dibuat fun. Daripada lupa tilawah sebulan, lebih baik rajin walau karena streak. Anggap saja pintu awal membiasakan diri. Di sisi lain, para ustadz sering menekankan, app hanyalah alat bantu. Niat tetap di tangan pengguna. Fitur reminder, poin, atau badge tidak otomatis mencemari ibadah — asalkan tidak diumbar, apalagi dijadikan ajang pamer. Solusi Bijak : Gunakan  Saja, Tapi Jangan Tergantung Teknologi itu netral — tergantung siapa yang memegang. Gamifikasi ibadah tidak harus diharamkan. Bahkan bisa jadi pintu kebaikan kalau ditempatkan dengan benar. Beberapa saran praktis: Sempatkan muhasabah: tanyakan ke diri sendiri, “Kalau tanpa badge, aku masih mau ibadah nggak?” Pada akhirnya, gamifikasi hanyalah teknologi. Badge pahala di aplikasi tak ada artinya kalau niat hati tak lurus. Leaderboard streak Quran tidak menjamin ridha-Nya. Karena yang menilai hanyalah Allah — bukan algoritma, apalagi follower. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. (QS. Al-Baqarah: 148). Boleh saja kita memanfaatkan teknologi, tapi tetap letakkan niat sebagai penuntun. Badge hanyalah alat. Pahala sejati hanya Allah yang tahu. Apapun aplikasinya, kembalilah ke prinsip: amal tergantung niat. Semoga kita tetap mampu mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan. Semoga badge digital jadi saksi ikhtiar, bukan bukti pamer. DAFTAR PUSTAKA Kontributor : Faruq Ansori Editor : Toto Budiman

Read More

Gunung Berbalut Hijab – For some, lifestyle is the source of life

Surabaya – 1miliarsantri.net  : Mendaki gunung merupakan salah satu kegiatan favorit untuk mengisi waktu liburan. Pemandangan yang indah dan keingingan untuk berinteraksi dengan alam yang masih natural menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi sejak film 5 cm disiarkan di bioskop-bioskop di Indonesia pada 2012, jumlah pendaki meningkat drastis. Keindahan alam di pegunungan yang dikemas dalam bentuk film benar-benar menarik banyak penonton. Menurut Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Gunung Semeru tidak pernah menerima jumlah pengunjung lebih dari 5000 pertahun sebelum film 5cm muncul di bioskop. Karena seringnya jumlah pendaki membludak, TNBTS akhirnya membatasi jumlah pendaki perhari sampai sekarang. Tidak hanya di TNBTS, gunung-gunung popular lainnya Gede Pangrango dan Merbabu sekarang juga membatasi dan mendata jumlah pendaki dengan alasan keamanan dan kelestarian, karena membludaknya jumlah pendaki terutama di hari libur. Semakin banyak jumlah pendaki mengakibatkan semakin banyaknya karakeristik para pendaki. Jikalau sebelumnya pendaki gunung hanya mereka yang berasal dari kelompok pecinta alam atau pelatihan fisik dan survival seperti tim Search and Rescue (SAR, sekarang hampir siapapun ingin mendaki gunung dengan alasan-alasan yang berbeda-beda. Salah satu yang paling mencolok diantara karakteristik atau kelompok pendakian yaitu pendaki berhijab panjang yang memakai rok. Fenomena perempuan berhijab mendaki gunung, kini semakin sering terlihat di berbagai jalur pendakian Nusantara. Mereka tampil percaya diri menapaki jalur terjal dengan balutan busana syar’i yang tetap santun tanpa mengurangi semangat petualangan. Kehadiran para pendaki berhijab ini mematahkan stereotip bahwa hijab membatasi aktivitas fisik, tetapi juga menjadi inspirasi bahwa kecintaan pada alam, selaras dengan komitmen menjaga nilai-nilai keimanan. Apapun niat para pendaki, bisa dipastikan mayoritas pakaian mereka hampir sama yaitu celana dan kaos yang berarti nyaman dan nggak ribet, karena ketika naik gunung kita akan berhadapan dengan berbagai medan yang sulit, dan diharapkan pakaian tidak akan mengganggu ketika mendaki. Bayangkan kita harus mendaki trek yang lumayan terjal dan rok menghalangi kaki kita untuk melangkah. Bayangan seperti itulah yang dilihat kebanyakan pendaki ketika melihat pendaki berhijab yang memakai rok. Perjalanan mendaki pun menjadi simbol keteguhan hati, kemandirian, sekaligus wujud syukur atas ciptaan Allah yang menakjubkan. Mundur ke beberapa tahun sebelumnya, ketika aturan olahraga wanita profesional melarang penggunaan hijab dikarenakan tidak sesuai standar internasional, atlit dari negara mayoritas muslim harus memilih antara melepaskan hijab dan mengikuti pakaian standar internasional untuk mewujudkan mimpinya atau mempertahankan hijab tapi melepaskan kesempatan untuk menjadi atlit professional. Situasi perlahan berubah, sampai ketika Nike mengeluarkan produk The Nike Hijab Pro pada musim semi 2018. Menurut BBC, hijab khusus olahraga sudah berkembang bertahun-tahun sebelumnya, tapi Nike merupakan perusahaan besar pertama yang berfokus kepada kebutuhan pakaian olahraga perempuan muslim. Nike mengubah perspektif Hijab dalam dunia olahraga ke arah yang lebih baik secara profesional maupun general. Pergerakan hijab sebenarnya sudah dimulai secara internasional sejak 2012 ketika pelari berhijab mengambil panggung global di London. Kembali kepada pendaki yang memaki hijab panjang dan rok ketika mendaki gunung. Dalam situasi yang berbeda, mereka menghadapi masalah yang sama dengan atlit professional. Mereka ingin menerapkan prinsip mereka ke dalam berbagai kegiatannya. Berbagai macam rok dibuat untuk kenyamanan pendaki, diantara yang paling terkenal yaitu model celana berbalut rok. Itu sangat jenius. Ketika berjalan biasa menjadi rok, ketika mendaki jalan yang terjal, maka akan menjadi celana tanpa memperlihatkan lekuk kaki karena tertutup kain rok yang fleksibel. Mereka naik gunung dengan prinsip mereka. Namun, yang paling membedakan pendaki hijab rok ini bukanlah pakaiannya, tetapi niatnya untuk mendaki gunung. Alam bisa menambah rasa syukur mereka terhadap pencipta. Kalau pendaki lain menghabiskan malam di gunung dengan tidur sampai pagi, mereka meniatkan bangun sepertiga malam untuk tahajud sambil menggigil karena kedinginan, setelah itu masih menyempatkan diri membaca alquran. It’s a lifestyle with valuable values. Tren ini pun dibarengi dengan semakin banyaknya influencer dengan value yang sama. Peran Influencer dalam sebuah gaya hidup itu penting. Bagi Heriyanti & Wirapraja (2018: 141), pesan yang influencer berikan dapat mempengaruhi perilaku pengikutnya. Bagi beberapa hal, Influencer juga dapat memberikan jaminan keamanan bagi pengikutnya bahwa mereka tidaklah sendirian dan secara tidak langsung membentuk komunitas dengan visi yang sama. Bermunculannya influencer pendaki gunung dan traveler dengan pakaian syari seperti akun Instagram dailyalya dengan postingannya yang berfokus di naik gunung, jalan-jalan dan kajian keagamaan, seakan menambah karakteristik pendaki gunung yang mungkin selama ini tidak ada. Influencer  tersebut juga membantu para pendaki lainnya mengubah perspektif mereka terhadap pendaki berhijab dengan rok panjang. Bayangkan membuka media sosial dan melihat postingan dari pendaki berhijab dengan rok panjang lewat di explore anda dan postingan tersebut dilike oleh banyak orang. Pemikiran orang-orang perlahan berubah. Melihat rombongan pendaki melaksanakan ibadah di jalur pendakian bukan lagi menjadi hal aneh. Hal tersebut menjadi gaya hidup yang semakin umum. Para pendaki hijab dengan rok panjang sudah berjuang keras untuk prinsipnya, untuk gaya hidupnya. Mereka tidak kalah dengan keadaan dan mereka boleh bangga akan hal tersebut. Mereka telah membalut gunung dengan hijabnya. Kontributor : Fikri Maulana Editor  : Toto Budiman

Read More

Gaya Hidup Muslim: Harmoni Antara Iman dan Kehidupan Modern

Surabaya – 1miliarsantri.net: Gaya hidup Muslim atau Muslim lifestyle adalah cara hidup yang berpijak pada ajaran Islam sebagai pedoman utama dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Lebih dari sekadar ritual ibadah, gaya hidup ini mencerminkan nilai-nilai spiritual, moral, sosial, dan bahkan ekonomi yang diajarkan dalam Islam. Di tengah arus globalisasi dan modernitas yang begitu cepat, gaya hidup Muslim hadir sebagai jalan tengah yang menyeimbangkan antara keimanan dan dinamika dunia modern. 1. Landasan Gaya Hidup Muslim Gaya hidup Muslim berakar pada dua sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah (ajaran dan teladan Nabi Muhammad SAW). Setiap aspek kehidupan seorang Muslim, mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur, diatur dalam kerangka nilai-nilai Islam. Hal ini meliputi akhlak, pola makan, berpakaian, hubungan sosial, hingga manajemen waktu dan keuangan. Prinsip utama dalam gaya hidup ini adalah tauhid (keyakinan akan keesaan Allah), yang kemudian mendorong setiap Muslim untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Kesadaran bahwa hidup adalah bentuk pengabdian kepada Allah menjadikan setiap tindakan memiliki makna spiritual. 2. Keseimbangan Dunia dan Akhirat Salah satu ciri utama gaya hidup Muslim adalah upaya menyeimbangkan antara kebutuhan duniawi dan akhirat. Islam tidak melarang umatnya untuk sukses dalam hal dunia seperti bisnis, pendidikan, atau karier. Justru, Islam mendorong umatnya untuk menjadi yang terbaik dalam bidangnya, selama dilakukan dengan cara yang halal dan etis. Konsep ihsan (berbuat dengan sebaik-baiknya) mendorong seorang Muslim untuk selalu optimal dalam pekerjaan, disiplin dalam waktu, serta jujur dalam setiap transaksi. Prinsip ini sejalan dengan tuntutan kehidupan modern yang menekankan produktivitas dan profesionalisme. 3. Pola Hidup Sehat dan Bersih Islam sangat menekankan kebersihan dan kesehatan. Konsep thaharah (bersuci) tidak hanya berkaitan dengan wudhu atau mandi wajib, tetapi mencakup kebersihan tubuh, pakaian, makanan, dan lingkungan. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kebersihan adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim) Dalam hal makanan, gaya hidup Muslim mengedepankan konsumsi yang halal dan tayyib (baik dan sehat). Ini berarti tidak hanya memperhatikan aspek halal dari sisi hukum agama, tetapi juga memastikan makanan tersebut bergizi dan tidak membahayakan kesehatan. Saat ini, gaya hidup sehat ala Muslim menjadi tren tersendiri, seperti konsumsi makanan organik, herbal, dan alami yang sejalan dengan nilai halalan thayyiban. 4. Pakaian sebagai Identitas dan Etika Berpakaian dalam gaya hidup Muslim tidak sekadar soal mode, tetapi juga refleksi dari nilai etika dan identitas. Konsep berpakaian dalam Islam mengedepankan prinsip kesopanan, kesederhanaan, dan kehormatan. Bagi laki-laki dan perempuan, aurat harus dijaga sesuai dengan syariat. Tren fashion Muslim modern saat ini berhasil menyatukan nilai religius dengan selera gaya. Banyak brand lokal maupun internasional yang menghadirkan busana Muslim yang modis tanpa mengesampingkan nilai-nilai syar’i. Inilah bukti bahwa gaya hidup Muslim bisa tetap relevan dan dinamis di tengah tren global. 5. Hubungan Sosial dan Kemanusiaan Gaya hidup Muslim juga menekankan pentingnya menjalin hubungan sosial yang baik. Islam sangat menjunjung tinggi nilai kasih sayang, tolong-menolong, dan keadilan dalam masyarakat. Konsep ukhuwah (persaudaraan) mengajarkan bahwa seorang Muslim harus peduli terhadap sesama, terutama kaum lemah dan yang membutuhkan. Zakat, infak, dan sedekah bukan hanya kewajiban spiritual, tapi juga mekanisme sosial yang mampu menciptakan keadilan dan keseimbangan ekonomi dalam masyarakat. Gaya hidup Muslim mendorong umatnya untuk aktif dalam kegiatan sosial, menjadi pribadi yang bermanfaat, dan menjaga perdamaian. 6. Teknologi dan Digital Life dalam Gaya Hidup Muslim Di era digital, gaya hidup Muslim juga merambah dunia teknologi. Aplikasi pengingat salat, e-commerce halal, platform zakat digital, hingga influencer Muslim yang membagikan inspirasi hijrah di media sosial, adalah contoh nyata bahwa Islam mampu hadir dalam berbagai aspek kehidupan modern. Namun demikian, seorang Muslim tetap dituntut untuk bijak dalam menggunakan teknologi. Prinsip amanah (bertanggung jawab) dan hijab digital (etika dalam dunia maya) menjadi penting dalam menjaga adab dalam berselancar di dunia digital. 7. Kesimpulan Gaya hidup Muslim adalah manifestasi dari ajaran Islam yang menyatu dalam setiap aspek kehidupan. Ia bukan gaya hidup yang kaku atau kuno, melainkan fleksibel dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, selama tetap berpijak pada nilai-nilai tauhid, etika, dan kemanusiaan. Di tengah tantangan global dan pengaruh budaya luar, gaya hidup Muslim hadir sebagai solusi untuk hidup yang lebih seimbang, bermakna, dan berkepribadian. Menjadi Muslim di zaman modern bukanlah halangan, justru menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam tetap relevan dan menyejukkan bagi dunia. Dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan dalam setiap aspek aktivitas, seorang muslim dapat tetap produktif, kreatif, dan terbuka pada perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri spiritualnya. Inilah harmoni yang mengajarkan kita bahwa kemajuan dan ketakwaan bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi untuk menciptakan kehidupan yang lebih bermakna dan berkah. Kontributor : Angga Setiawan Editor : Toto Budiman

Read More

Self Healing Islami: Menemukan Ketenangan Hati Lewat Ibadah Sehari-hari

Surabaya – 1miliarsantri.net : Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, istilah self healing makin sering terdengar. Banyak orang merasa butuh “menyembuhkan” diri dari stres, overthinking, atau luka batin yang menumpuk. Caranya bermacam-macam: ada yang liburan ke alam, menikmati kopi sendirian di kafe, atau memanjakan diri di rumah. Namun, bagi seorang Muslim, self healing sejati bukan hanya soal melepas penat secara fisik. Lebih dari itu, Islam mengajarkan cara merawat hati agar tetap tenang dan kuat, dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menariknya, nilai-nilai mindfulness yang kini ramai diperbincangkan di barat, sebenarnya sudah diajarkan Islam sejak berabad-abad lalu. Ibadah Harian Sebagai Penawar Stres Salah satu “obat” stres yang sering dilupakan adalah shalat khusyuk. Gerakan shalat yang teratur, dari takbir hingga salam, adalah latihan mindfulness yang mendalam. Saat shalat, kita diajak berhenti sejenak dari riuhnya urusan dunia, memusatkan hati hanya pada satu tujuan, yakni menghadap Sang Pencipta. Sholat khusyuk bukan hanya gerakan fisik, melainkan ibadah yang menghubungkan hati dengan Allah SWT. Orang yang khusyuk merasakan ketenangan, ketundukan, dan penghayatan bahwa ia sedang berdialog langsung dengan Tuhannya. Air wudhu yang membasuh wajah, tangan, kaki, dapat membersihkan bukan hanya hadas, tapi juga rasa penat. Ruku’, sujud, dan duduk di antara dua sujud melatih tubuh tetap lentur, sekaligus menenangkan pikiran. Tidak heran Rasulullah SAW menjadikan shalat sebagai penyejuk hati, penenang di tengah letihnya hidup. Selain shalat, dzikir dan doa juga menjadi penyangga jiwa. Dengan berdzikir, kita mengingat kembali siapa diri kita sebenarnya: hamba yang lemah tanpa pertolongan-Nya. Lafaz sederhana seperti Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar yang diulang pelan-pelan, bisa meredakan cemas. Begitu juga doa, ia menjadi cara paling jujur untuk menumpahkan isi hati, meminta pertolongan, dan melepas beban yang selama ini disimpan sendiri. Membaca Qur’an, Bersilaturahmi, dan Me Time yang Bermakna Bagi banyak orang, Al-Qur’an bukan hanya bacaan ibadah, tapi juga sahabat hati. Ayat-ayatnya yang lembut menenangkan pikiran, mengingatkan bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan. Kadang cukup beberapa ayat, lalu direnungi maknanya, hati sudah terasa lebih ringan. Selain mendekat pada Allah, Islam juga mengajarkan self healing lewat silaturahmi. Bercerita pada teman yang dipercaya, saling mendengar tanpa menghakimi, bisa membuat beban terasa setengah lebih ringan. Bahkan Rasulullah SAW menganjurkan kita menjaga hubungan baik dengan keluarga, tetangga, sahabat. Dari situ, kita belajar bahwa self healing bukan hanya tentang “menyendiri”, tetapi juga tentang “berbagi”. Tentu saja, aktivitas me time juga perlu. Islam tidak melarang seseorang mengambil jeda. Nabi pun beristirahat, berjalan di alam, bercengkerama bersama sahabat. Jalan-jalan ke pegunungan, berkemah, sekadar ngopi di teras rumah, semuanya bisa jadi healing asal tidak melanggar batas syariat dan tidak berlebihan. Bahkan bisa menjadi ibadah bila diniatkan untuk menjaga amanah tubuh agar tetap sehat. Merawat Diri, Merawat Iman Di era digital, banyak orang merasa lelah tapi tak tahu cara istirahat. Gawai terus menyala, pikiran sulit diam, hati gelisah. Di sinilah pentingnya membangun kebiasaan kecil, seperti tidur yang cukup, makan sehat, dan menjauh sejenak dari layar ponsel. Semua ini bisa jadi ibadah jika diniatkan menjaga kesehatan demi tetap kuat beribadah. Pada akhirnya, self healing Islami bukan sekadar metode sesaat, tapi cara merawat iman setiap hari. Shalat lima waktu, dzikir, membaca Qur’an, silaturahmi, hingga merawat tubuh, semuanya saling terhubung. Kita diajak kembali pada diri sendiri, lalu kembali pada Allah. Karena sekuat apa pun kita berusaha menenangkan hati dengan cara dunia, kedamaian sejati tetap datang dari-Nya. Di tengah hiruk pikuk kehidupan, luangkan waktu untuk menepi. Tarik napas, ambil wudhu, dan sampaikan semua gelisahmu pada Dia Yang Maha Mendengar. Hati yang dekat dengan-Nya adalah hati yang selalu menemukan jalan pulang. Pada akhirnya, setiap dari kita sedang berproses untuk sembuh. Bukan hanya dari lelah fisik, tapi juga dari penatnya pikiran dan rapuhnya hati. Dan tak ada obat yang lebih manjur daripada kembali mengingat untuk apa kita diciptakan, yakni menjadi hamba, yang ketika lelah, selalu punya sandaran. Semoga setiap langkah kecil menuju ketenangan ini jadi bagian dari ibadah. Karena sebaik-baik istirahat bukan di dunia, tapi kelak saat kita pulang dalam keadaan damai dan dicintai oleh-Nya. Self healing Islami bukan sekadar upaya menenangkan diri, tetapi juga jalan mendekatkan hati kepada Allah SWT melalui ibadah sehari-hari. Dzikir, shalat, membaca Al-Qur’an, dan doa yang tulus menjadi sumber kekuatan batin yang mampu mengikis kegelisahan dan menumbuhkan ketenangan hakiki. Dengan menjadikan ibadah sebagai penopang jiwa, setiap ujian hidup dapat dihadapi dengan sabar, ikhlas, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi hamba yang tawakal. Kontributor : Yesika Fara Editor : Toto Budiman

Read More

Menyoal Minim Kemampuan Literasi, Jelang Penerapan Kurikulum Kecerdasan Buatan

Jakarta – 1miliarsantri.net : Langkah strategis dalam menyongsong era digital, diambil sebagai pilihan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI saat ini. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof. Abdul Mu’ti mengatakan kurikulum kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan coding bakal diterapkan sebagai mata pelajaran pilihan pada tahun ajaran baru 2025/2026. Kebijakan tersebut diperkirakan mulai terlaksana di medio Juli mendatang. Abdul Mu’ti menambahkan nantinya kurikulum tersebut mulai diajarkan untuk jenjang siswa kelas 5 sekolah dasar (SD)  hingga sekolah menengah atas (SMA). Dia menegaskan dua mata pelajaran itu akan diterapkan di sekolah yang sudah siap dari segi sarana internetnya  dan alat yang mumpuni. Pengenalan awal pembelajaran digital dilakukan dengan materi logika komputasi dan kecerdasan buatan. Adapun tujuan Kemendikdasmen memasukkan AI dan coding ke kurikulum guna membangun generasi yang unggul. Terutama dalam hal menguasai teknologi dan mampu menggunakannya untuk hal positif. Isi materi pembelajaran AI dan coding dirancang secara bertahap, relevan, dan menyesuaikan dengan usia peserta didik.  Lantas jelang penerapannya, kurikulum itu mendapat sorotan dari sejumlah pihak. Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji menyampaikan mestinya pemerintah lebih fokus untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa terlebih dulu yang duduk di tingkat SD dan SMP. Sebab kemampuan peserta didik dalam dua aspek tersebut, dinilai masih rendah. “Saya enggak bisa bayangkan (kemampuan) literasi dan numerasi ini masih sangat buruk, tapi  kita paksakan AI dan coding terus jadinya apa? Menurut saya di jenjang pendidian dasar kita ini SD, SMP sudah kebanyakan mata pelajaran. Jadi enggak jelas kompetensi yang dicapai tuh apa, pendidikan karakternya jadi tidak berhasil. Kemudian kemampuan dasar literasi dan numerasi juga progresnya tidak bagus,” ucapnya ketika dihubungi 1miliarsantri.net, Jumat (27/6/2025). Menurutnya, mata pelajaran AI dan coding itu lebih tepat diterapkan pada jenjang SMA,  “Karena menurut saya pendidikan dasar ini lebih pas untuk penguatan literasi, numerasi dan karakter jauh lebih penting,” tuturnya. Rendahnya kemampuan literasi dan numerasi dalam pendidikan di Indonesia tercermin dari hasil penilaian Programme for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Pada penilaian PISA 2022, secara keseluruhan Indonesia mendapatkan skor PISA 369 poin. Ironisnya, skor PISA 2022 ini merupakan skor terendah Indonesia yang nilainya relatif sama dengan skor tahun 2003 dan 2006. Dilihat dari masing-masing aspek yang dinilai, diketahui untuk pengetahuan matematika, Indonesia mendapatkan skor 366 poin. Penilaian pada aspek membaca, Indonesia mendapatkan skor 359 poin. Terakhir, domain sains dengan skor 383 poin. Dari ketiga domain penilaian tersebut, jelas bahwa penilaian terendah yang didapatkan Indonesia adalah pada aspek membaca. Bila dibandingkan dengan negara tetangga di kawasan Asia lainnya, situasi pendidikan di Indonesia menyedihkan. Misalnya Singapura dengan rata-rata skor PISA 560; Jepang mencapai skor 533; Korea Selatan mendapatkan angka 523; serta sejumlah negara lainnya, seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand, mendapat skor lebih baik dari Indonesia. Hal senada juga disampaikan Ketua Bidang Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G)  Iman Zanatul Haeri. Dia tak menampik bahwa penggunaan AI kini sudah merambah dunia pendidikan di Indonesia. Namun dia mengingatkan betapa perlunya peningkatan kemampuan literasi dan numerasi sebagai pondasi, sebelum mempelajari AI. Sebab AI juga tak lepas dari bias informasi yang jika ditelan mentah-mentah, bisa merugikan kelompok tertentu atau memperkuat stereotipe yang sudah ada. “Kelemahan AI ini juga mengandung bias karena dia menyediakan pikiran tunggal dan ini sebenarnya juga perlu diantisiapsi bagi anak-anak. Oleh karena itu kami melihat bahwa pembelajaran AI  ini bukan prioritas utama, proritasnya adalah meningkatkan daya literasi dan numerasi anak-anak kita. Karena kalaupun itu tidak ditingkatkan dulu, maka  pembelajaran AI akan menjadi sangat mentah,” jelasnya ketika dihubungi. Mengutip dari situs Artificial Intelligence Center Indonesia (AiCI),  bias dalam AI terjadi ketika sistem kecerdasan buatan menghasilkan keputusan yang condong atau tidak adil. Bias ini dapat muncul dari berbagai sumber, termasuk data yang digunakan untuk melatih AI. Dampak negatif bias dalam AI termasuk diskriminasi, ketidakadilan, dan memperkuat stereotipe. Iman menambahkan perlu adanya aturan dalam penggunaan AI di dunia pendidikan agar guru maupun siswa bisa terlindungi dari bias tersebut. “Kami dari P2G sejak lama  mengusulkan  agar ada pengaturan etik AI di dunia pendidkan atau AI for Education kita bisa mengacu pada Beijing Concensus, di mana ketika kita  hidup di tempat yang banyak AI kata dalam naskah tersebut guru dan siswa harus dipersiapkan  untuk hidup di lingkungan seperti itu. Persiapan ini bukan hanya soal pelatihan, tapi juga perlindungan bagaimana melindungi guru dan siswa kita. Misalnya dari bias AI  yang bisa merusak hubungan guru dan siswa karena ada aktor ketiga di dalam kelas,” terangnya. Menghadapi era penerapan kurikulum kecerdasan buatan, kemampuan literasi yang kuat menjadi pondasi penting agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, kreatif, dan bijak dalam memanfaatkannya. Kontributor : Ardhi Ridwansyah Editor : Toto Budiman

Read More

Museum Imersif: Wisata Edukatif Kekinian untuk Libur Sekolah Anak

Surabaya – 1miliarsantri.net : Berwisata saat libur sekolah menjadi momen yang paling dinantikan anak-anak untuk melepaskan penat setelah rutinitas belajar. Salah satu rekomendasi tempat libur sekolah edukatif yaitu museum berteknologi imersif, wisata edukatif kekinian yang memadukan teknologi interaktif, pameran visual memukau, dan pengalaman belajar yang seru.  Museum selama ini memiliki stigma berupa bangunan diam, sekadar sebagai tempat menyimpan benda-benda kuno di masa lampau. Bahkan kerap kali muncul olok-olok ‘dimuseumkan saja’ saat ada suatu barang yang tampak sudah tak berguna dan usang. Museum berteknologi imersif bukan sekadar rekomendasi tempat wisata edukatif. Akan tetapi sebagai ruang pengalaman interaktif bagi generasi muda dengan sejarah, budaya lebih relevan, atraktif dan inklusif. Transformasi ini menjadi jawaban terhadap stigma lama tentang museum yang selama ini dikenal sebagai tempat ‘kaku’ dan ‘membosankan’. “Tapi selama ini kan anak lebih suka ke mall kalau liburan. Karena lebih nyaman dan relevan dengan mereka. Kalau museum ‘kemasan’nya baru seperti berteknologi imersif maka akan mampu menggaet antusiasme generasi muda,” ujar Founder Komunitas Historia Asep Kambali kepada 1miliarsantri.net, Kamis (26/6). Tak hanya menghibur, museum imersif mengajak anak-anak mengeksplorasi ilmu pengetahuan, seni, dan budaya dengan cara yang lebih menyenangkan dan mudah dipahami. Inilah pilihan liburan yang tak sekadar memberi hiburan, tetapi juga memperkaya pengetahuan dan kreativitas mereka. Diketahui museum berteknologi imersif memanfaatkan teknologi digital canggih untuk menciptakan pengalaman yang lebih interaktif. Pengunjung seolah-olah masuk dan berada di lingkungan dan situasi nyata terkait objek di dalam museum. Misalnya, melalui pemanfaatan Virtual Reality (VR) di mana pengunjung mampu menjelajahi lingkungan digital tiga dimensi seperti berjalan di kota kuno hingga melihat peristiwa sejarah secara langsung. Lalu ada pula Augmented Reality (AR) melalui penambahan elemen digital (gambar, suara, hingga animasi) ke dunia nyata yang dapat dilihat di layar smartphone hingga tablet. Selanjutnya, Extended Reality (XR)  adalah gabungan dari Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), dan Mixed Reality (MR), yang menciptakan spektrum pengalaman imersif antara dunia nyata dan dunia digital. Ini memungkinkan berwisata secara virtual dengan pengalaman yang lebih realistis dan interaktif. Penelitian global dari Proyek Museum in the Metaverse (MiM) oleh Universitas Glasgow mengungkap tingginya minat publik dalam pemanfaatan teknologi VR dan XR untuk mengakses koleksi museum. Adapun 79% responden tertarik menggunakan teknologi VR dan XR untuk menjelajahi koleksi museum. Sejumlah museum di Indonesia yang telah memanfaatkan teknologi imersif diantaranya Museum Surabaya Siola yang memberikan pengalaman pengunjung untuk menelusuri sejarah transportasi dari masa kolonial hingga modern. Di Jakarta, terdapat Museum Wayang tampil dengan wajah baru melalui pemanfaatan teknologi imersif seperti AR, VR, Mixed Reality (MR), ruang 360°, hingga hologram dan permainan interaktif. Di Indonesia, beberapa museum telah menerapkan teknologi imersif seperti Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), dan video-mapping untuk menciptakan pengalaman yang lebih interaktif dan menarik. Diantaranya museum Surabaya Siola menghadirkan perjalanan sejarah transportasi melalui VR dan AR. Sementara Museum Wayang di Jakarta dilengkapi dengan AR, VR, Mixed Reality, ruang 360°, dan hologram. Ada pula Museum Nasional Indonesia memiliki Ruang Imersif dengan proyeksi sejarah Nusantara secara visual. Tak ketinggalan di Jawa Tengah terdapat Museum Sangiran yang menggunakan AR untuk menampilkan rekonstruksi manusia purba. Di daerah Bali, Agung Rai Museum of Art (ARMA) menghadirkan pertunjukan tari tradisional melalui teknologi imersif. Bahkan situs bersejarah seperti Candi Borobudur kini dapat dijelajahi secara virtual. Teknologi ini menjadi cara baru untuk menghidupkan sejarah dan budaya, terutama bagi generasi muda. Museum Sebagai Ruang Edukasi Interaktif, Personal dan Emosional Dengan dukungan teknologi tersebut, museum mampu menciptakan pengalaman yang lebih personal dan mendalam bahkan mampu menyentuh sisi emosional pengunjung. Contohnya, pengunjung dapat “masuk” ke dalam Perang Diponegoro melalui simulasi VR yang realistis, menyaksikan langsung bagaimana taktik perang gerilya dijalankan, atau mengalami suasana sidang BPUPKI lewat rekonstruksi digital suara dan gambar. Lebih dari memperkaya pengetahuan sejarah, pengalaman ini membentuk keterhubungan emosional pengunjung dengan peristiwa masa lalu. Dengan merasakan langsung atmosfer dan dinamika sejarah, pengunjung tidak sekadar memahami fakta, tetapi juga menghayati nilai-nilai perjuangan, semangat kebangsaan, dan makna kebudayaan yang diwariskan. Inklusivitas dan Aksesibilitas Museum Digital Melalui teknologi digital ini pula memungkinkan museum untuk menjadi lebih inklusif mempunyai aksesibilitas yang tinggi. Itu artinya, kita tak perlu lagi khawatir harus datang ke museum secara langsung tapi bisa mengaksesnya melalui smartphone manapun dan kapanpun. Melalui teknologi AR dan VR, koleksi museum kini bisa diakses dari rumah, sekolah, atau bahkan melalui ponsel pribadi. Sebagai contoh, Museum Nasional Indonesia telah mulai mengembangkan tur virtual yang memungkinkan siapa pun untuk ‘berjalan’ di dalam museum secara online. Koleksi seperti arca, prasasti, atau artefak budaya bisa dilihat dari berbagai sudut, lengkap dengan penjelasan multimedia. Menghidupkan Kembali Identitas Budaya melalui Teknologi Lebih dari sekadar modernisasi fasilitas, transformasi museum berteknologi imersif merupakan asa untuk menghidupkan kembali identitas budaya. Di tengah gempuran budaya global, museum bisa menjadi ruang pertemuan lintas generasi untuk mengenal, memahami, dan menghargai akar budaya sendiri. Melalui penyajian yang atraktif dan kontekstual, generasi muda tidak hanya diajak mengetahui cerita masa lalu, tetapi juga memahami relevansinya terhadap masa kini dan masa depan. Tak hanya memberikan hiburan visual yang memukau, tempat ini juga merangsang rasa ingin tahu, kreativitas, dan pemahaman mereka terhadap berbagai pengetahuan baru. Jadi, jika Anda ingin menghadirkan liburan yang berkesan sekaligus bermanfaat, mengajak anak menjelajahi museum imersif bisa menjadi pengalaman tak terlupakan yang memperkaya wawasan mereka sejak dini. Kontributor : Ramadani Editor : Toto Budiman

Read More