Mengenal dan Memahami Maqashid Syariah serta beragam manfaat nya

Jakarta – 1miliarsantri.net : Bagi sebagian orang awam bisa jadi belum mengenal dan memahami tentang Maqashid Syariah. Maqashid syariah sendiri bila diartikan secara bahasa adalah beberapa tujuan syariah. Tujuan utama dari maqashid syariah adalah merealisasikan kemanfaatan untuk umat manusia (mashâlih al-ibâd) baik urusan dunia maupun urusan akhirat. Dalam ekonomi Iislam dalam hal ini perbankan syariah, maqashid syariah bertujuan untuk mencapai kemaslahatan dan mencegah kemudharatan dalam kegiatan ekonomi maqashid. Penerapan maqashid syariah pada perbankan syariah juga sudah sesuai dengan memerhatikan indikator pada maqashid al-syari’ah yaitu agama (al-din), jiwa (al-nafs),akal (al-‘aql),harta (al-mal),dan keturunan (al-nasl). Penerapan maqashid syariah dapat dilihat pada instrumen investasi dengan akad mudharabah; jaminan dalam akad mudharabah dan musyarakah; transaksi multi akad: rahn dan pemanfaatan marhun atau barang gadai dan jual beli emas secara tidak tunai. Sehingga, maqashid syariah adalah inti dari semua analisis ekonomi, terutama yang berkaitan dengan masalah kemiskinan, distribusi kekayaan, dan pembangunan ekonomi Pertama dalam investasi dengan akad mudharabah maka akan ditinjau berdasarkan dua hal yakni seseorang mempunyai nilai lebih terhadap harta dan mempunyai keterampilan dalam mengelola hartanya, maka diharuskan untuk melakukan serta mengelola secara pribadi. Apabila usaha berhasil, maka semua nilai untung yang didapat menjadi haknya. Sejalan dengan maqashid syari’ah keuntungan dari harta sebagai hak pemilik, apabila tanpa bantuan serta hak orang lain dalam dana tersebut disesuaikan seperti dalam QS (Fushilat [41]: 46) dan QS. Al-Baqarah [2]: 286). Kedua, apabila seseorang mempunyai harta namun tidak dapat atau tidak mempunyai keahlian dalam mengelola 100 sendirian, maka ia dapat menyerahkan pada pihak lainnya dalam melakukan pengelolaan. Ini menjadi satu dari berbagai tujuan. Selanjutnya, maqashid syariah pada jaminan dalam akad mudharabah dan musyarakah. Pada prinsipnya adalah pembiayaan mudharabah tanpa jaminan yang sesuai definisi dari akad mudharabah dan musyarakah sesuai fatwa DSN MUI Nomor 08 Tahun 2000. Selain itu, maqashid syariah juga bisa diterapkan pada transaksi multi akad yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan pasar, memperbesar keuntungan, meminimalisir resiko, dan lainnya. Dalam fiqh sendiri akad-akad pelengkap diberikan dispensasi berbeda dengan akan inti, artinya hal-hal yang harusnya dilarang pada akad tetapi diperbolehkan pada akad pelengkap hal ini sesuai urf dan keterangan para ahli yang mendapat pengesahan oleh dewan pengawas syariah atas dasar kaidah yaitu sesuai prinsip akad yang melengkapi diberikan tolerir berbagai hal yang dilarang dan tidak dapat diberikan tolerir pada saat berdiri sendiri. Selanjutnya, maqashid syariah pada rahn dan pemanfaatan marhun atau barang gadai. Berdasarkan fatwa DSN mengenai rahn diterangkan bahwasanya pinjaman dilakukan dengan menggadai suatu barang untuk jaminan piutang atau rahn yang diizinkan dan jaminan uang menggunakan suatu barang berharga seperti emas yang diizinkan sesuai nash Alqur’an, hadits, serta faedah. Maqashid syariah selanjutnya adalah penerapan pada transaksi jual beli emas secara tidak tunai. Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum jual beli emas secara tidak tunai. Menurut mayoritas fuqaha (mazhab Hanafi, Maliki, Syafi`i dan Hanbali) bahwa jual beli emas secara angsuran itu tidak boleh. Sedangkan menurut Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim dan beberapa ulama kontemporer, jual beli emas secara angsuran itu hukumnya boleh. Dari beberapa perselihan ini disimpulkan berdasarkan pendapat terkuat bahwa boleh jual beli emas dengan angsuran karena emas adalah barang, bukan harga uang. (sam)

Read More

Gereja berumur ratusan tahun dirubah menjadi Masjid

London – 1miliarsantri.net : Sungguh menakjubkan bagi kita jika melihat ada sebuah bangunan gereja yang dibangun sekitar tahun 1870 telah diubah menjadi masjid baru, tentu saja sudah dilakukan renovasi besar-besaran setelah beberapa dekade tidak digunakan. Masjid-e-Taqwa di Pleckgate Road menyelenggarakan sholat kali pertama pada pekan ini di gedung, yang dulunya merupakan rumah bagi Gereja St Chad. “Kami mencoba untuk mempertahankan fitur asli bangunan dan mencoba untuk memasukkan ini ke dalam desain baru,” kata juru bicara masjid, dilansir dari About Islam, Rabu (17/5/2023). Yang paling menonjol di dalam aula sholat, ada balok kayu merupakan fitur yang paling menentukan. Pintu dan lengkungan juga merupakan sesuatu yang membantu memberikan karakter unik masjid sendiri. “Kami mengundang orang-orang yang tinggal di daerah tersebut untuk melihat sendiri transformasi dan kami senang mendengar komentar mereka,” kata juru bicara itu. Masjid baru ini menampung 180 jamaah dan mencakup ruang sholat di atas dua lantai dan area untuk wudlu. Di luar masjid, terdapat halaman untuk tempat parkir mobil, fitur pencahayaan dan lanskap telah menghidupkan kembali bangunan itu. “Ini adalah bangunan yang sangat berkualitas tinggi sekarang dan mereka telah benar-benar meningkatkan ini dari sebelumnya,” kata seorang penduduk lokal, Brian, yang mengunjungi masjid. “Itu indah. Saya belum pernah melihat yang seperti itu,” tambahnya. Pemimpin Blackburn dengan Dewan Darwen Cllr Phil Riley mengunjungi masjid baru-baru ini, memuji renovasi masjid yang mengesankan. “Betapa indahnya bangunan itu dan penghargaan atas upaya yang telah dilakukan semua orang,” katanya. “Ini adalah bangunan semi-derelict untuk jangka waktu tertentu dan sekarang menjadi bangunan yang benar-benar indah. Pekerjaan telah dilakukan dengan begitu berkualitas. Ini benar-benar mengesankan untuk komunitas lokal,” tutup Riley. (yan)

Read More

Waliyah Zaenab pernah dituduh penyebab Wabah Pagebluk di Bawean

Gresik – 1miliarsantri.net : Waliyah Zaenab adalah satu di antara beberapa penyebar Islam di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur. Waliyah Zainab ternyata pernah punya pengalaman diusir warga Kumalasa, Sangkapura, Bawean. Pengusiran dilakukan karena dituduh membawa penyakit pegebluk atai semacam Corona kalau jaman sekarang. Makam Waliyah Zaenab berada di Desa Diponggo, Kecamatan Tambak, Bawean, Gresik. Berjarak 21 kilometer dari Pelabuhan Bawean, bila ditempuh jalur Timur atau belok kiri menuju makam. Bila dari pelabuhan belok kanan, atau ambil jalur Barat. Perjalanan menempuh jarak 32 kilometer. Barulah sampai di Makam Waliyah Zaenab. Diponggo sendiri ada lima dusun. Dengan 1.342 penduduk. Meski begitu, tidak sulit mencari makam Waliyah Zaenab. Ada petunjuk arah untuk menuju ke makam nya yang terletak di depan Masjid Diponggo. KH Nurul Huda selaku takmir masjid, itemani Salim Kepala Desa Diponggo menyampaikan, ada dua versi sejarah tentang Waliyah Zaenab. “Versi pertama, yang didasarkan riwayat Waliyah Zainab atau Dewi Wardah yang tertulis di daun lontar yang berbahasa Arab Pegon di Museum Sultan Hasanuddin. Dewi Wardah adalah putri Kyai Ageng Bungkul atau dikenal dengan Sunan Bungkul. Salah seorang pembesar Kota Surabaya keturunan Raja Majapahit,” ungkap Salim kepada 1miliarsantri.net. Dewi Wardah dinikahkan ayahnya Sunan Bungkul dengan Raden Paku (Sunan Giri). Itupun sebagai garwo triman (isteri hadiah). “Saat itu, Sunan Bungkul nadzar alias berjanji, apabila ada seseorang yang tertimpa buah delima miliknya namun dia tetap hidup maka akan dinikahkan dengan puterinya,” paparnya. Karena Raden Paku sudah lebih dulu menikahi Dewi Murtasiyah puteri dari Sunan Ampel. Maka, Dewi Wardah istri yang dimadu. Hanya beliaunya tidak ingin dimadu. “Beliau pergi berlayar ke arah utara dengan menaiki sentong. Atau kelopak bunga kelapa. Dan sampailah di Bawean. Itupun tidak langsung ke Diponggo, tapi ke Kumalasa Sangkapura. Sebab, saat itu disana jadi syahbandar alias pelabuhan nya,” ungkap KH. Nurul Huda menambahkan. Dalam perjalanan menempuh jarak 81 mil dari Gresik, Dewi Wardah sakit. Karena sakit itulah, warga Kumalasa menolaknya. Kemudian berlayar lagi sampai di Teluk Menangis Diponggo. “Akhirnya menepat dan menyebarkan Islam di Diponggo sampai beliau wafat dan dimakamkan di sini (Diponggo),” ujar KH Nurul Huda. Selain itu, Salim bercerita versi kedua. Yaitu, didasarkan pada buku “Waliyah Zaenab, Putri Pewaris Syech Siti Djenar” karya M Dhiyauddin Qushwandhi. Salim menyebut, Dewi Wardah diperkirakan lahir antara tahun 1575 dan 1585. Putri dari Raden Nur Rakhmat alias Kanjeng Sunan Sendang Duwur di Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Dewi Wardah menikah dengan seorang pria yang dikenal sebagai Pangeran Sedo Laut. Pangeran ini dipercaya sebagai cucu Raden Paku alias Sunan Giri I, Pendiri Giri Kedaton, Gresik. “Dewi Wardah disebut generasi keempat penerus ajaran Syekh Siti Jenar alias Syekh Lemah Abang, pendiri tarekat Akmaliyah di Nusantara,” beber Salim. Pangeran Sedo Laut adalah saudara Sunan Prapen yang berkuasa pada 1545-1625. Sunan Prapen mengutus Pangeran Sedo Laut dan istrinya, Dewi Wardah, mengislamkan Bawean. “Dalam perjalanan itu, Pangeran Sedo Laut meninggal. Dan perjalanan tetep dilanjut. Akhirnya sampai Syahbandar Kumalasa,” ungkapnya. Sesampainya di Kumalasa, lanjut Salim, Dewi Wardah mendapat penolakan. Selain menjadi satu-satunya perempuan yang dinilai warga tabu, juga sakit. Apalagi di Kumalasa juga ada wabah pagebluk yang diduga dibawa Dewi Wardah. “Nah, pagebluk itu sama kayak sekarang ini yang disebut Corona. Warga Kumalasa tidak ingin wabahnya menular, makanya beliau ditolak menetap. Akhirnya, melanjutkan perjalanan dan berhenti di Teluk Menangis, Diponggo. Beliau menangis terus. Dan ditolong Mbah Rambut diajak ke rumahnya di sekitar Masjid Dipinggo,” terang KH Nurul Huda. KH Nurul Huda belum menemukan sejarah yang menyebut model Dewi Wardah alias Waliyah Zaenab mengajarkan Islam di Bawean. Hanya kehadiranya diperkirakan mendahului KH Oemar Mas’ud, penyiar Islam Bawean. Meski begitu, KH Nurukl Huda menambahkan, bila di tempat imam masjid, ada batu hitam yang membekas saat Waliyah Zaenab riyadoh. Bagi yang paham biasanya berdoa kepada Allah di lokasi itu. Tetapi bagi mereka yang belum mengetahui, maka berdoanya di makbaroh. “Makam Waliyah Zaenab sendiri, sangat dikeramatkan. Setidaknya saat itu, ada pesawat atau sesuatu yang lewat di atas makamnya, dipastikan jatuh,” sambung nya. Tidak hanya itu, bila ada warga Kumalasa yang berziarah atau datang ke Desa Diponggo, ada yang rusak. Bisa berupa pagar roboh, tebing roboh atau apapun. Karena Waliyah Zaenab tidak berkenan, akibat penolakan dirinya di Kumalasa. “Itu dahulu. Banyak kakek nenek kami yang cerita. Tapi sekarang yang tidak lagi. Meski begitu, makam Waliyah Zaenab masih tetep keramat,” ungkap KH Nurul Huda. Setiap hari banyak orang datang berziarah ke makam Waliyah Zaenab. Tidak hanya dari Bawean atau Gresik. Bahkan, ada yang datang dari Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. “Sebelum COVID-19 setiap hari bisa 200 sampai 250 orang yang datang berziarah,” pungkasnya. (fq)

Read More

Persahabatan KH Hasan Mustapa dengan Kolonial

Bandung – 1miliarsantri.net : Haji Hasan Mustapa adalah seorang Sastrawan Sunda terbesar. Lahir di Cikajang, Garut pada tahun 1852 dan menutup usia di Bandung di tahun 1930. Sebagai sastrawan yang tentu banyak menghasilkan karya, mulai dari prosa hingga puisi. Karya nya juga tidak hanya berbahasa Sunda, tetapi juga dalam berbagai bahasa, seperti Arab, Melayu, dan Jawa—walau dalam jumlah yang lebih sedikit dibanding dalam bahasa Sunda. Disamping sebagai sastrawan, Haji Hasan Mustapa juga merupakan salah satu pejabat penting di Pemerintahan Kolonial Belanda. Ia pernah menjabat sebagai penghulu di Aceh dan Bandung hingga pensiunnya. Hidupnya berada di akhir periode Cultuurstelsel dan Politik Etis hingga awal masa pergerakan nasional. Latar belakang sosok Haji Hasan Mustapa adalah pesantren dan tarekat. Sejak kecil dididik dalam lingkungan pesantren dan jaringan tarekat di sekitaran tanah Sunda. Keluarga dari Ibunya pun berasal dari ulama Pesantren sekaligus penganut tarekat, seperti KH. Hasan Basari (Kiarakoneng, Garut) dan Kiai Muhammad (Cibunut, Karangpawitan Garut). Bahkan dalam salah satu karya nya ia menceritakan bagaimana pengalaman ia sebagai santri. Berpindah pindah dari satu pesantren ke pesantren lain—setelah menyelesaikan pendidikan di sana. Berbekal ilmu pesantren yang ia dapat, ia dapat mempelajari ilmu agama lain, seperti Fiqh dan Bahasa Arab. Namun, minat utama Haji Hasan Mustapa adalah kepada mistisme (tasawuf). Hubungan ia dengan guru tarekat nya, Kiai Muhammad membuat ia diminta menggantikan guru nya yang lain setelah meninggal. Mereka kemudian berangkat ke Mekkah yang kemudian tinggal disana selama 6 tahun. Selama di Mekkah, ia juga berguru kepada banyak ulama tarekat disana. Baik dari kalangan Qadiriyah, Naqsabandiyah, maupun Syattariyah. Bahkan C. Snouck Hurgronje pun pernah menyatakan bahwa Haji Hasan Mustapa pernah berguru kepada Ulama Terkenal Asal Banten, Syaikh Nawawi Al-Bantani. Singkatnya, Haji Hasan Mustapa tidak bisa dilepaskan dari poros jaringan Sayyid Ulama Hijaz. Pertemuan pertama antara Haji Hasan Mustapa denga C. Snouck Hurgronje diperkiran ketika Haji Hasan Mustapa tinggal di Mekkah selama belasan tahun (1860-1862, 1869-1873, 1880-1885), pertemuan itu diperkirakan pada tahun 1885 M. Saat C. Snouck Hurgronje ‘menimba’ ilmu selama 6 bulan di Mekkah. Pertemuan itu semakin mempererat keduanya. Komunikasi antar keduanya terus berlanjut. Karena keduanya sama-sama menguasi Bahasa arab, maka korenspondensi antar kedua nya dilakukan dalam Bahasa arab. Hubungan persahabatan itu berlanjut bahkan kedua nya berjanji bertemu di Hindia Belanda. Tahun 1889, C. Snouck Hurgronje tiba di Hindia Belanda. Bahkan istri kedua Snouck di Hindia Belanda, Siti Sadijah adalah putri dari wakil penghulu Priangan saat Haji Hasan Mustapa menjabat sebagai penghulu priangan. Kemudian, karena kedekatan keduanya, C. Snouck Hurgronje pun mengajak Haji Hasan Mustapa berkeliling di daerah Sunda dan Jawa. Mengunjungi Ponorogo, Madiun, Surakarta, Yogyakarta, termasuk ke beberapa pesantren. Haji Hasan Mustapa selepas melakukan perjalanan banyak menyalin berbagai primbon, kitab, dan pustaka jawa yang kemudian diserahkan kepada C. Snouk Hurgronje. Termasuk perihal buku-buku tasawuf. Untuk itu, Haji Hasan Mustapa dibayar sekitar f 50 per bulan. Selanjutnya, ia pun disarankan oleh C. Snouck Hurgronje menjadi Penghulu di Kutaraja Aceh. Sebab C. Snouck Hurgronje kagum terhadap sosok Haji Hasan Mustapa. Menjelang pengangkatan sebagai Penghulu Kutaraja Aceh, C. Snouck Hurgronje mengirimkan surat kepada sekertaris pemerintahan di Buitenzorg yang berisi : Haji Hasan Mustapa telah dikenal sangat dekat sejak kurang lebih 10 tahun dan selama waktu itu rasa hormat C. Snouck terhadap watak dan bakatnya yang benar-benar langka, semakin bertambah. Pemukimannya selama 13 tahun di negara Arab didahului oleh telaah beberapa tahun di Priangan, kampung halamannya, telah menyebabkan ia mencapai tingkat yang luar biasa tingginya mengenai syariat Islam untuk daerah-daerah ini. Di negara Arab maupun sesudah ia pulang ke kampong halamannya pada 1885, ia seorang guru yang dihormati dan dicintai. Beberapa karya telah diterbutkannya dalam Bahasa Arab.. Teks-teks surat dapat dikategorikan menjadi enam jenis berdasarkan isi yang disampaikan. Mulai dari Informasi tentang perkembangan Tarekat di Jawa, Pertemuan Snouck Hurgronje dan Haji Hasan Mustapa, Kabar Keluarga Snouck Hurgronje di Priangan, Kiriman Naskah-naskah Nusantara kepada C. Snouck Hurgronje di Belanda, Kiriman naskah karya Haji Hasan Mustapa kepada Snouck Hurgronje di Belanda, dan perihal persahabatan yang diliputi kerinduan. Pada salah satu suratnya terkait tarekat di jawa. Ia menyampaikan kepada C. Snouck Hurgronje bahwa ia pernah ditanya oleh G. A. Hazeu—penasihan Belanda setelah C. Snouck Hurgronje—perihal aliran tarekat yang dicurigai oleh Pemerintah Kolonial Belanda dapat meresahkan dan membahayakan masyarakat dan pemerintah kolonial Belanda. Hazeu menyatakan khawatir terhadap keberadaan beberapa tarekat. Namun, Haji Hasan Mustapa menjawab bahwa aliran tarekat tidaklah perlu dikhawatirkan dan dianggap berbahaya bagi keamanan negara. Bahkan ia menolak anggapan bahwa ahli tarekat sangat membahayakan keamanan. Menurutnya, itu disebabkan adanya iri dari pada priyayi dan ambtenaar terhadap pengaruh tarekat di kalangan masyarakat. Perihal kabar keluarga C. Snouck Hurgonje di Priangan yang sempat diperdebatkan oleh para kalangan, karena C. Snouck Hurgronje sendiri menolak kabar tersebut. Snouck Hurgronje pun tak pernah menyinggung soal adanya keluraga di Priangan, bahkan dari 1000 surat yang sudah sudah dikaji tidak ditemukan satupun perihal ini. Namun, hal itu terpatahkan dengan adanya kabar-kabar yang dikirimkan oleh Haji Hasan Mustapa lewat korenspondensinya. Salah satu suratnya seperi berikut, Di antara kabar lainnya, suatu hari datang Raden Ayu (Lasamitakusuma) untuk memperlihatkan hasil berobat mata dari daerah Selah, ia bercerita tantang anak perempuan, yaitu Emah, yang batal menikah denga laki-laki yang pernah disebutkan di suratnya. Raden Ayu memikirkan karena ia anak laki-laki Guru (kiai) pesantren yang sebagaian kerabatnya (baru) datang dari haji. Emah adalah nama lengkap dari Emah Salamah salah seorang anak Snouck Hurgronje dari istri beranama Sangkana. Emah bersama saudara-saudarnya (Umar, aminah, Ibrahim) diasuh oleh Raden Ayu Laksimatakusuma di Ciamis setelah C. Snouck Hurgronje kembali ke Belanda tahun 1906. Raden Ayu adalah istri dari bupati Ciamis Arya Kusuma Subrata yang masih saudara dekat dengan R. H. Muhammad Taib, penguhulu Ciamis, Ayah Sangkana (Istri Snouck). Perihal naskah-naskah nusantara yang dikirimkan ada beberapa naskah yang disimpan di UB Leiden diketahui adalah kiriman Haji Hasan Mustapa. Kontribusi Haji Hasan Mustapa adalah memfokuskan karangan tentang adat-istiadat Sunda. Yang memang diminta oleh C. Snouck Hurgronje. Hal itu disinyalir dalam konteks kepentingan politik Kolonial Belanda yang mana memfokuskan penggalian informasi pada adat istiadat asli orang Hindia Belanda dibanding Islam. Yang mana Para Orientalis lebih menempatkan kebudayaan asli diatas teks-teks Islam. Sedangkan permintaan pada Penghulu agar mementingkan kajian mengenai…

Read More

Penyebaran Islam di Pulau Bawean

Surabaya – 1miliarsantri.net : Penyebaran Islam di Pulau Jawa sarat dengan muatan sejarah dan memang harus dikupas secara keseluruhan sebagai bekal tambahan ilmu bagi generasi berikut nya. Setelah Wali Songo berdakwah di tanah Jawa, ajaran Islam menyebar luas ke seluruh nusantara. Bahkan, hingga pulau-pulau terpencil seperti Bawean yang berada di Jawa Timur. Bawean merupakan pulau mungil yang berada di tengah Laut Jawa. Lokasinya berada sekitar 120 kilometer sebelah utara Kabupaten Gresik. Dilihat dari peta, pulau ini hanya tampak seperti titik nun huruf Arab. Karena itulah pulau ini dijuluki “Titik Nun dari Pulau Jawa”. Pulau Bawean banyak mendapatkan julukan. Kitab Negarakertagama menyebutkan bahwa pulau ini dulunya disebut dengan nama Buwun. Sementara, pemerintah kolonial Belanda dan Eropa mengenal Bawean dengan sebutan Bovian. Masyarakat Bawean awalnya menganut ajaran animisme dan dinamisme. Namun, setelah berabad-abad lamanya, kini masyarakat Bawean sudah 100 persen menganut agama Islam. Hal ini tak terlepas dari peran dakwah ulama nusantara., Berdasarkan catatan dan dokumen sejarah, Islam masuk ke Pulau Bawean pada abad ke-16. Dalam buku berjudul Bawean dan Islam, Jacob Vrendenbergt mencatat, Islam masuk ke sana sejak 1511 Masehi. Kemudian, ajaran Islam menyebar luas di Bawean setelah datangnya Syekh Umar Mas’ud, tokoh penyebar Islam yang datang dari Pulau Madura. Nama aslinya adalah Pangeran Perigi yang merupakan cucu Sunan Drajat. Berdasarkan catatan historiografi disebutkan bahwa Umar Mas’ud baru berhasil mendirikan kerajaan Islam di Bawean setelah mengalahkan penguasa Bawean yang menganut ajaran animisme dan dinamisme, yaitu Raja Babileono. Saat Umar Mas’ud datang ke Bawean, dakwah yang dilakukannya hampir serupa dengan yang dilakukan para Wali Songo. Dia tidak langsung mengajak masyarakat Bawean masuk Islam. Selama bertahun-tahun dia mendekati masyarakat lebih dulu. Karena keramahan dakwahnya, akhirnya banyak masyarakat Bawean yang bersimpati kepada Umar Mas’ud. Namun, Raja Babileono justru merasa terganggu dengan dakwah Umar Mas’ud tersebut. Penguasa yang ahli sihir itu pun menantang Umar Mas’ud untuk mengadu kesaktian. Atas pertolongan Allah, Umar Mas’ud pun berhasil mengalahkan Raja Babileono. Setelah itu, Umar Mas’ud mendirikan kerajaan Islam di Dusun Sungai Raja, Desa Lebak, dan berkuasa selama 29 tahun mulai 1601 hingga 1630 Masehi. Selama berkuasa, Umar Mas’ud bisa dengan leluasa berdakwah di Pulau Bawean. Untuk melancarkan dakwahnya, dia pun memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah pusat Sangkapura. Umar Mas’ud membangun Sangkupura layaknya kota-kota Islam di Pulau Jawa. Bentuk konsepsi tata kota Islam terlihat dari penempatan keraton di pusat pemerintahan Umar Mas’ud. Keraton yang dikenal sebagai Bengko Delem itu terletak di sisi utara Alun-Alun Bawean. Sementara, di sisi selatan alun-alun dibangun pasar terbesar yang ada di Pulau Bawean. Tidak hanya itu, Umar Mas’ud juga membangun sebuah masjid agung di sebelah barat alun-alun. Konsep tata kota Islam tersebut merupakan prakarsa dari Sunan Giri. Umar Mas’ud wafat pada 1630 Masehi dan dimakamkan di belakang Masjid Jami’ Sangkapura. Dalam buku Pesantren Hasan Jufri dari Masa ke Masa, Ali Asyhar menjelaskan bahwa kerajaan Islam tersebut diteruskan oleh para penurus Umar Mas’ud hingga generasi ketujuh, yaitu Raden Panji Prabunegoro atau Raden Tumenggung Pandji Tjokrokusumo pada 1747-1789 Masehi. (mas)

Read More

Gus Yasin : Santri harus meneladani sifat Kecintaan Mbah Moen terhadap NKRI

Semarang – 1miliarsantri.net : Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, atau yang lebih akrab dipanggil Gus Yasin, meminta para santri di berbagai pondok pesantren agar meneladani mendiang KH Maimoen Zubaer (Mbah Moen) dalam menangkal gerakan radikal yang berpotensi menimbulkan perpecahan di Republik Indonesia. “Kecintaan Mbah Moen terhadap NKRI selalu diwujudkan dalam doa dan penerapan ajaran beliau,” ungkap nya. Putra almarhum Mbah Maimoen ini menambahkan, para santri harus memberikan kontribusi berupa pemahaman mengenai bahaya gerakan radikal, terorisme, dan isu sekularisme. Selain itu, para santri juga perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pondok pesantren di tengah maraknya pihak-pihak yang mengatasnamakan ponpes membuat masyarakat cukup gelisah. “Ini harus dijawab oleh para santri, khususnya anggota Santri Gayeng Nusantara. Untuk memberikan juga ‘ini lho ponpes yang sarat, sanad keilmuannya sambung ke Nabi’,” imbuhnya. Mantan Wagub Jateng yang saat ini mencalonkan diri sebagai Calon DPD Jateng memaparkan, para santri dituntut dapat berkontribusi dan berkolaborasi dengan pemerintah, salah satu langkah nyata yang harus dilakukan adalah turut menyukseskan berbagai macam Program Pemerintah. “Pertumbuhan ekonomi juga menjadi fokus santri yang perlu dikedepankan apalagi di masa pandemi ini pertumbuhan ekonomi juga menjadi fokus pemerintah agar Indonesia dapat bertahan,” katanya. (hud)

Read More

Ustad Hanan Attaki merinding ketika di Baiat Kyai Marzuki

Malang – 1miliarsantri.net : Pendiri gerakan pemuda hijrah, Ustadz Hanan Attaki secara resmi melakukan baiat dan masuk Jami’yyah Nahdlatul Ulama (NU) pada Kamis malam (11/5). Bertempat di Ponpes Sabilurrosyad Gasek, Malang, prosesi baiat Ustadz Hanan Attaki dibimbing langsung oleh Kyai NU asal Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar. Bersamaan dengan acara Halal Bihalal, Ustadz Hanan Attaki yang juga keturunan ulama Aceh siap mengikuti paham Ahlussunnah Wal Jamaah Jami’yyah Nahdlatul Ulama. Dalam prosesi baiat yang disaksikan oleh para kyai, santri dan jamaah yang hadir tersebut, Ustadz Hanan Attaki tampak menggunakan baju koko putih berpeci hitam. Usai dirinya melakukan baiat dan menjadi bagian dari Jam’iyyah NU, pendakwah yang dikenal dengan suara lembutnya tersebut memberikan sambutan pertamanya. Menurutnya, malam pembaitan tersebut menjadi malam terbaik baginya setelah ia dilahirkan ke dunia. Bagi founder pemuda hijrah ini, seorang mukmin itu mengalami dua kali kelahiran dalam hidupnya. Yaitu pertama pada saat secara jasad ia dilahirkan oleh orangtua biologisnya ke dunia. Lalu yang kedua tatkala secara ruhiyah mukmin tersebut dilahirkan oleh guru maupun mursyidnya. “Alhamdulillah, malam ini adalah malam terbaik dalam hidup saya sejak ibu melahirkan saya. Karena bagi seorang mukmin dia dilahirkan 2 kali, pertama jasadnya oleh orangtua biologisnya, kedua dilahirkan ruhiyahnya oleh gurunya atau mursyidnya,” ujar pendakwah lulusan Universitas Al Azhar tersebut dihadapan ribuan jamaah. Sebelumnya perjalanan Ustadz Hanan Attaki di dunia dakwah sempat mengalami lika-liku. Termasuk pada saat ia mendapat penolakan dari warga Pamekasan, Madura karena dugaan keterlibatannya dalam gerakan khilafah HTI. Namun demikian Ustadz Hanan Attaki terbilang sukses menyisir segmen generasi milenial melalui gerakan pemuda hijrah yang ia dirikan. Terbukti banyak generasi muda yang rutin mengikuti kajiannya ditengah peradaban jaman yang mengenaskan. (sul)

Read More

Baiat Para Sahabat dihadapan Rasulullah

Surabaya – 1miliarsantri.net : Dalam membantu dakwah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, para Sahabat lah yang menjadi garda terdepan. Hal ini dibuktikan dengan ucapan sumpah setia (baiat) para sahabat yang diucapkan langsung di hadapan Rasulullah. Syekh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawy dalam Sirah Sahabat membagi macam-macam baiat yang dilakukan sahabat di hadapan Rasulullah: Pertama, baiat untuk Islam. Dari Mujasyi bin Mas’ud dia berkata, “Aku menemui Nabi bersama saudaraku lalu kukatakan kepada beliau, ‘Kami hendak berbaiat untuk hijrah’. Beliau bersabda, “Hijrah telah berlalu, diperuntukkan bagi orang-orang yang melakukannya,”. Aku bertanya, “Lalu untuk apa engkau membaiat kami?”. Beliau menjawab, “Untuk Islam dan jihad,”. Kedua, baiat untuk melaksanakan amal-amal Islam. Ahmad mentakhrij dari Jarir, dia berkata, “Aku berbaiat kepada Rasulullah untuk melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, dan memberikan nasihat kepada setiap orang Muslim,”. Ibnu Ishaq, Ibnu Jarir, dan Ibnu Asakir dari Ubadah bin Ash-Shamit, dia berkata, “Aku termasuk salah satu dari 11 orang yang ikut dalam baiat Aqabah yang pertama. Kami berbaiat kepada Rasulullah SAW seperti baiat para Muslimah Makkah yang hendak hijrah, sebelum beliau mewajibkan perang kepada kami. Kami mengucapkan baiat kepada beliau untuk tidak menyekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membuat-buat kedustaan di antara tangan dan kaki kami, tidak membunuh anak-anak kami, tidak mendurhakainya dalam hal yang makruf. Siapa yang memenuhinya maka baginya surga, dan siapa yang melanggar sebagian di antaranya, maka urusannya kembali kepada Allah. Apabila menghendaki, maka Allah akan mengadzabnya dan jika menghendaki maka Allah akan mengampuninya,”. Ketiga, baiat untuk hijrah. Dari Al-Harits bin Ziyad As-Sa’idy dia berkata, “Aku menemui Nabi sewaktu perang Khandaq. Saat beliau sedang membaiat orang-orang untuk hijrah. Kami mengira bahwa orang-orang selain mereka itu (dari kalangan Anshar) juga diminta untuk berbaiat,”. Keempat, baiat untuk memberikan pertolongan. Dari Jabir, dia berkata, “Rasulullah SAW berada di Makkah selama 10 tahun menyeru manusia dengan cara mendatangi tempat-tempat yang biasanya mereka jadikan untuk berkumpul seperti di PAsar Ukazh dan Majannah serta pada waktu musim haji. Beliau berseru, “Siapakah yang mau melindungiku? Siapakah yang mau menolongku agar aku dapat menyampaikan risalah Rabb-ku, dan dia akan mendapatkan surga?”. Namun beliau tidak mendapatkan seorang pun yang mau. Sebelum akhirnya terdapat tujuh orang laki-laki yang berangkat ke Makkah pada musim haji untuk menghadap Nabi. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, untuk apa kami berbaiat kepada engkau?”. Nabi menjawab, “Kalian berbaiat kepadaku untuk mendengar dan taat saat bersemangat atau malas. Untuk mengeluarkan harta saat sulit atau mudah, untuk menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar,”. Mereka kemudian berkata, “Demi Allah, kami tidak akan meninggalkan baiat ini dan sama sekali tidak akan menyia-nyiakannya,”. Kelima, baiat untuk jihad. Dari Anas dia berkata, “Rasulullah SAW pergi ke Khandaq. Sementara orang-orang Muhajirin dan Anshar sedang menggali parit pada pagi yang dingin. Mereka tidak mempunyai orang upahan untuk mengerjakannya. Ketika melihat keadaan mereka yang letih dan kelaparan, maka beliau bersabda, “Ya Allah, ini adalah kehidupan akhirat. Ampunilah dosa orang-orang Muhajirin dan Anshar,”. Kemudian mereka menyahut, “Kamilah yang berbaiat kepada Muhammad untuk berjihad selagi kami masih hidup,”. Keenam, baiat untuk mendengar dan taat. Dari Ubadah dia berkata, “Kami berbaiat kepada RAsulullah SAW layaknya baiat perang untuk mendengar dan taat pada saat sulit dan mudah, kuat dan lemah, lebih mementingkan hal ini, tidak menentang perintah, berkata dengan benar di mana kami berada dan tidak takut celaan orang yang suka mencela karena Allah,”. (fat)

Read More

Napak Tilas Pesantren di Selatan Jawa

‘Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Didunia Pesantren, hubungan antara murid (santri) dan guru (kiai) itu bukan perkara sepele. Dan, manfaatnya bukan hanya untuk pribadi masing-masing, tapi berpengaruh pada masyarakat secara keseluruhan. Bisa dibayangkan betapa rumitnya hubungan antar pesantren atau jaringan ulama, secara khusus dalam hal ini adalah wilayah selatan Jawa (sebagian wilayah Mataram/Jawa Pedalaman). Di sana ada pertalian sosial yang rumit, ada hubungan darah, perkawinan, transfer keilmuan, politik, hingga hubungan yang sifatnya spiritual melalui laku ajaran tarikat. Bahkan jaminan ikatan jaringan ulama itu sangat kuat, yakni tidak hanya dirangkai ketika mereka hidup di atas dunia, namun diyakini jalinan ini dibawa sampai alam akhirat. Sedangkan bila terus dirunut ke mana ujung awal ajarannya, maka rujukannya sampai ke Rasullah SAW. Memang setelah melakukan ‘blusukan’ langsung ke berbagai pesantren, untuk menuliskan jaringan ulama yang ada di selatan Jawa ini bukan perkara yang mudah. Apalagi, banyak sumber yang ada di literatur sudah tak bisa dikenali. Ketika mengunjungi berbagai pesantren yang bisa dikatakan berumur tua dan penting, para pengasuh pesantrennya mengaku sudah tak paham lagi detail sejarahnya. ”Pesantren kami berdiri bersamaan dengan pendirian Keraton Solo, yakni saat ‘palihan negari’ (Pembelahan kekuasaan Kerajaan Mataram menjadi Solo dan Yogyakarta tahun 1755). Alumni santri kami sudah tak terhitung lagi dan menyebar ke mana-mana,” kata Suntoro, pengasuh Pondok Pesantren Jamsaren, Solo (Surakarta) kepada 1miliarsantri.net Adanya kerumitan di dalam mengkaji jaringan ulama di wilayah Selatan Jawa ini diakui pakar sejarah politik Islam Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, DR Hermanu Joebagio. Hal ini karena jaringannya sudah begitu saling memintal serta bersilangan layaknya rajutan tentunan benang yang sudah menjadi selembar kain. Sepintas kesan dari luar, seolah-olah jaringan ulama itu sudah tak ada lagi. Menurut Hermanu, bila ditelisik lebih dalam, di sana akan segera terlihat bahwa ‘pohon’ jaringan ulama di wilayah itu akhirnya akan terkait dengan pesantren yang didirikan Sunan Giri, di Prapen, Gresik (Jawa Timur), pada abad ke 15 M. Namun, selain terpengaruh pesantren Sunan Giri, jaringan ulama di selatan Jawa juga terkait dengan jaringan ulama yang berasal dari Demak, Makassar (Sulawesi Selatan), Sumatra, Cirebon, hingga berbagai pesantren di Jawa Timur, seperti Pacitan dan Jombang. Bukan hanya itu, di dalam jaringan itu juga sudah dari dulu terkoneksi dengan jaringan ulama internasional, seperti dari Yaman, Arab Saudi, Mesir, Maroko, Sudan, India, dan Campa. Ini bisa dimengerti karena usia jaringan ini melampaui banyak zaman karena sudah terpintal semenjak abad ke-15 M itu. Salah satu buktinya adalah dengan mengacu pada prasasti pendirian Pesantren Al Kahfi di Somalangu di Kebumen yang berdiri pada 4 Januari 1475 M. ”Jadi, menurut saya, asal jaringan ulama di Jawa itu berasal dari ‘satu pohon’, yakni bermula dari Maulana Malik Ibrahim (Sunan Giri) yang berada di Jawa Timur itu. Jadi, asal usul pemikiran pesantren berasal dari sana,” tutur Hermanu menegaskan. Menurut Hermanu, Islam masuk ke Indonesia itu ada dalam dua versi. Pertama, versi Islam yang masuk ke Sumatra, dan satu versi lainnya masuk dari Campa ke Jawa. Sedangkan, khusus Islam yang berada di wilayah selatan Jawa tersebut kemudian mempunyai mempunyai tiga kultur, yakni kultur Arab, Cina, dan Jawa. ”Tiga kultur ini menjadi satu kesatuan dalam kehidupan masyarakat yang ada di selatan Jawa itu. Inilah yang harus dipahami dulu karena memang ada perbedaan masyarakat Jawa yang tinggal di pantai utara dan selatan tersebut,” ujarnya seraya menyatakan bila ciri masyarakat di pesisir utara Jawa itu mempunyai ciri egalitarian dan kosmopolitan, sedangkan yang di pesisir selatan Jawa berciri tertutup dan feodal. Ditegaskan Hermanu, fakta yang selama ini belum banyak diketahui secara luas oleh publik adalah mengenai melalui jalur apa Islam bisa merembes begitu luas di wilayah selatan Jawa itu. Tampaknya tak hanya berkat usaha keras dan sabar dari para ulama, serta berkat ikatan jaringan tarikat, maupun disolidkan dengan jaringan kawin mawin antarkeluarga ulama serta santrinya, peran jalur perdagangan melalui Sungai Bengawan Solo yang memanjang dari Surabaya hingga Surakarta jelas tak bisa diabaikan. ”Harap diketahui sepanjang Sungai Bengawan Solo itu dari zaman dahulu tersebar begitu banyak pesantren. Pusat Kerajaan Mataram yang berada di pedalaman Jawa dihubungkan dengan sungai itu. Selama masih aktif dilayari dari Surabaya ke Solo itu ada 40 tempat persinggahan pedagang (bandar). Bandar terakhirnya itu berada di Mojo (pinggiran Solo) yang merupakan kampung komunitas keturunan Arab,” kata Hermanu. Peran ulama dan pesantren yang ada di pinggiran sungai itu makin penting ketika para penguasa Kerajaan Mataram juga ikut belajar agama Islam di tempat itu. Bahkan, kerap kemudian terjadi hubungan yang sangat erat antara dunia pesantren dan kerajaan. ”Harap diketahui Paku Buwono IV adalah raja yang pernah belajar di sebuah pesantren yang letaknya tak jauh dari Bengawan Solo. Dia bahkan dikenal sebagai raja Jawa yang sangat santri. Setiap Jumat pergi ke masjid dan di setiap harinya, ia selalu memakai baju jubah berwarna putih. Kesantrian ini kemudian dilanjutkan oleh Raja Paku Buwono VI, IX, dan X.Bahkan, Paku Buwono X malah dikenal raja yang sangat melindungi pergerakan Sarekat Islam,” ujar Hermanu. Namun, memang sewaktu era sebelumnya, yakni Sunan Amangkurat I dan II, hubungan ulama dengan kerajaan sempat memercikkan masalah. Saat itu, antara ulama dan Raja Amangkurat I (Raden Mas Sayidin) malah terlibat perbedaan pendapat serius soal suksesi kekuasaan. Para ulama dianggap membangkang kepada raja dan kemudian banyak di antara mereka beserta anggota keluarganya (konon sampai 5.000 orang) dihabisi nyawanya. ”Para ulama yang selamat menyingkir dari pusat kerajaan. Mereka memang banyak pergi ke arah selatan dan barat, seperti Kedu, Banyumas, dan Cilacap. Di sana mereka mendirikan pesantren baru. Jadi, meski para ulama ini dihabisi, jaringan mereka secara diam-diam terus bergerak. Jaringan ini semakin solid dan kemudian muncul kembali dalam perlawanan Pangeran Diponegoro. Jaringan itu terus ada sampai sekarang,” katanya. Sisa jaringan ulama itu masih bisa teraba sekarang ketika mengunjungi Pesantren Somalangu, Desa Sumber Adi, di Kebumen, yang terkait dengan Kesultanan Demak dan Mataram. Bahkan karena berusia sangat tua, hampir 600 tahun, pesantren Somalangu yang didirikan Syekh Abdul Kahfi al-Hasani (ulama berasal dari Yaman yang datang ke Jawa sekitar tahun 1475 M) ternyata punya ikatan yang kuat dengan banyak pesantren yang kemudian muncul di wilayah Banyumas dan Cilacap. Pada kenyataan lain, kuatnya ikatan jaringan ulama di wilayah ini yang sama juga terasa ketika mengunjungi pesantren di Leler Banyumas, Kesugihan…

Read More