Jumlah Pelajar Muslim di India Meningkat Drastis

New Delhi — 1miliarsantri.net : Angka pendaftaran siswa Muslim di institusi perguruan tinggi India beberapa waktu belakangan ini mengalami peningkatan signifikan. Hal tersebut disampaikan Menteri Persatuan Negara untuk Pendidikan India, Subhas Sarkar. Sarkar menjelaskan, untuk tahun akademik 2016-17, sebanyak 1.739 juta siswa Muslim terdaftar. Angka tersebut melonjak menjadi 1.922 juta untuk tahun akademik 2020-2021. Pertumbuhan tidak terbatas pada pendaftaran siswa saja. Jajaran pendidik Muslim juga membengkak. Jumlah guru dari komunitas Muslim meningkat dari 67.215 pada tahun akademik 2016-17 menjadi 86.314 pada tahun akademik 2020-2021. “Jumlah guru dari komunitas Muslim juga meningkat secara signifikan menjadi 86.314 pada 2020-2021 dari 67.215 pada 2016-2017,” ujar Sarkar, dikutip dari India Today, Kamis (09/08/2023). Sarkar pun membagikan statistik dari Survei Pendidikan Tinggi Seluruh India, 2020-21. “Sesuai Survei Pendidikan Tinggi Seluruh India (AISHE), 2020-2021, pendaftaran siswa Muslim meningkat menjadi 1.922 juta pada 2020-2021 dari 1.739 juta pada 2016-2017,” imbuhnya. Jumlah guru dari komunitas Muslim menunjukkan peningkatan yang signifikan menjadi 86.314 pada 2020-2021 dari 67.215 pada 2016-2017, sebagaimana dilaporkan dalam AISHE, 2020-21,” terangnya. “Pemerintah mendorong siswa minoritas melalui berbagai inisiatif,” tambah Sarkar. Sarkar mengakui bahwa angka putus sekolah anak-anak Muslim tidak sepenuhnya sejalan dengan pertumbuhan positif tadi. Sementara beberapa siswa dalam komunitas Muslim berkembang secara pendidikan, berkontribusi pada peningkatan partisipasi pendidikan tinggi, kehadiran mereka di pendidikan dasar dan menengah menyusut di beberapa negara bagian. Terlepas dari tantangan ini, perjalanan menuju kemajuan pendidikan bagi siswa Muslim terus berlanjut. Seperti diketahui, sejak kemerdekaan India pada tahun 1947, perjalanan menuju pembangunan menyeluruh dalam komunitas Muslim melalui pendidikan menemui banyak kendala. Namun, dalam beberapa dekade terakhir terlihat kemajuan bertahap pemuda Muslim di bidang pendidikan. Statistik yang muncul menyoroti tren yang penuh harapan, membangkitkan optimisme dalam sektor pendidikan. (kin/reu) Baca juga :

Read More

Sebanyak 30 Pesantren Mengikuti Workshop Ekosistem Halal Value Chain di Bandung

Bandung — 1miliarsantri.net : Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Workshop Pengembangan Ekosistem Halal Value Chain (HVC). Workshop yang fokus sektor pertanian dan perkebunan tersebut digelar bekerja sama dengam Bank Indonesia (BI). Ketua PBNU H Choirul Sholeh Rasyid mengatakan, kegiatan ini berlangsung mulai tanggal 6 hingga 9 Agustus 2023. Semua sesi kegiatan dilaksanakan di Bandung dan diikuti pondok pesantren di bawah naungan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU yang memiliki bisnis di sektor pertanian/perkebunan. “Selama empat hari, para utusan 30 pondok pesantren mendapat materi dan pelatihan yang sangat sesuai kebutuhan masyarakat pondok,” terang Choirul kepada media, Rabu (09/08/2023) Peserta workshop ini berasal dari sejumlah provinsi di Indonesia, di antaranya Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, D.I Yogyakarta, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Aceh, Lampung, Riau, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Banten. Selain Choirul, hadir pula dalam kegiatan ini, Ketua Tim Pokja H. Khudori Faraby, Wakil Ketua Pokja Dr. Basnang Said, 2 Deputi Direktur Bank Indonesia (BI), Indrajaya dan Diana Yumanita. Dalam sambutannya, Choirul Sholeh Rasyid menyampaikan, NU memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Dengan sejumlah lembaga yang dimiliki oleh NU, maka kedepannya diproyeksikan akan berdampak positif bagi ekonomi umat secara luas. Terutama pesantren, semestinya juga tidak hanya berfokus pada pendidikan dan dakwah saja, namun juga dapat mengoptimalkan fungsi pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan ekonomi. “Pesantren tidak hanya, maaf tidak hanya memberikan pengajian, belajar, tapi juga mendorong ekonomi syariah untuk tumbuh dan berkembang,” ujar Choirul. Dia berharap kepada perwakilan pesantren yang hadir agar bertekad dengan serius dalam upaya pengembangan ekonomi pesantren. H. Khudori Faraby selaku ketua Tim Pokja menyampaikan bahwa Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf memberikan dorongan yang sangat positif dalam menyambut program pengembangan ekonomi syariah ini. Dalam kesempatan yang sama, Indrajaya selaku Deputi Direktur Bank Indonesia juga menyampaikan dukungan positif terhadap program kerjasama antara PBNU dengan BI dalam upaya Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah. Indrajaya menyampaikan bahwa workshop yang dilaksanakan bagi 30 pesantren dari sektor pertanian/perkebunan merupakan bentuk tindak lanjut dari MoU yang telah dilakukan antara PBNU dengan BI pada Desember 2022 lalu. Peserta workshop ini ditunjuk secara selektif dari sejumlah pesantren yang bergerak pada sektor bisnis pertanian/perkebunan. Selama beberapa hari, peserta mengikuti sejumlah rangkaian Focus Group Discussion dan site visit ke Pondok Pesantren Al-Ittifaq. Serangkaian kegiatan yang dilaksanakan bertujuan agar pesantren dapat menjadi bagian dari ekosistem Halal Value Chain (HVC) dan dapat mengambil success story dari pesantren pegiat bisnis bidang pertanian dan perkebunan. (den) Baca juga :

Read More

Penanganan Kenakalan Anak Setelah Lulus Dari Pesantren

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pendidikan di pondok pesantren telah lama diakui sebagai salah satu bentuk pendidikan yang membentuk karakter dan akhlak yang kuat pada para santri. Namun, tidak jarang para orangtua merasa khawatir ketika anak-anak mereka tampak berubah menjadi nakal atau kurang terarah setelah menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren. Lalu, bagaimana seharusnya orangtua mengatasi tantangan ini? Pakar pendidikan Islam, Ustadz Mohammad Fauzil Adhim, mengungkapkan, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan ketika menghadapi situasi ini. “Nomor satu, kita tidak boleh terlalu kaku dalam mendekati anak-anak yang baru saja menyelesaikan pendidikan di pondok. Ini sama halnya seperti belajar karate, di mana saat pertama kali belajar, sering kali terasa kaku dan belum begitu terampil,” ujar Ustadz Fauzil dalam kajian ‘Positive Parenting’ di Yogyakarta, Rabu (09/08/2023). Dalam konteks ini, Ustadz Fauzil memberikan analogi belajar karate untuk menjelaskan situasi yang dialami anak yang baru lulus dari pondok. Anak-anak yang baru saja lulus dari pondok mungkin masih dalam proses penyesuaian dan perkembangan, sehingga perlu diberi ruang untuk beradaptasi dengan dunia luar. “Semakin banyak kita mengajak dialog yang lebih dalam, semakin banyak kita mendengarkan mereka, maka semakin mudah kita memahami permasalahannya. Ini seperti berwudhu, di mana semakin banyak kita membasuh, semakin bersih dan suci hati kita,” ucapnya. Namun, bukan berarti pendekatan ini akan berjalan dengan sendirinya. Ustadz Fauzil menegaskan pentingnya komunikasi yang terbuka antara orangtua dan anak. Dia mencontohkan ketika salah satu anaknya ingin pindah dari pondok pesantren setelah lulus SMP. “Ketika salah satu anak saya ingin pindah ke SMA yang lain setelah lulus dari pondok, saya tidak langsung menilai atau memojokkan keinginannya. Saya mendengarkan dengan baik dan memahami alasan di balik keinginannya,” ujar Ustadz Fauzil. Ustadz Fauzil juga mengajak para orangtua untuk belajar dari contoh Rasulullah Muhammad SAW dalam mendidik anak-anak muda. Dia merujuk pada kisah ketika seorang remaja datang kepada Nabi Muhammad SAW dengan niat untuk berzina. Rasulullah tidak langsung mengecamnya, tetapi malah mendekat dan mendengarkan keluhannya. “Dalam kasus ini, Rasulullah menunjukkan bagaimana mendekati anak-anak dengan penuh pengertian. Dengan mendengarkan mereka dan memberikan perhatian, kita dapat membantu meredakan gejolak dan kebingungan yang mereka rasakan,” jelas Ustadz Fauzil. Lebih lanjut, Ustadz Fauzil menekankan pentingnya memahami kebutuhan emosional anak dan memberikan dukungan yang mereka perlukan. Anak-anak perlu merasa didengarkan, diterima, dan mendapatkan perhatian dari orangtua mereka. “Dengan begitu, mereka akan lebih termotivasi untuk melakukan kebaikan dan memperbaiki perilaku mereka,” paparnya. Ustadz Fauzil menyarankan agar para orangtua tidak terburu-buru dalam memberikan nasihat atau arahan kepada anak yang baru saja menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren. Dia mengutip kata-kata bijak dari Ali Bin Abi Thalib yang mengatakan, mendengarkan adalah langkah awal dalam memahami dan memberikan solusi yang tepat. Dengan pendekatan bijak dan penuh pengertian, orangtua dapat membantu anak-anak yang baru lulus dari pondok pesantren untuk menemukan arah yang benar dalam menjalani kehidupan setelah pondok. “Karena itu kita yang perlu lebih banyak mendengarkan, lalu mengarahkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak menjatuhkan, tidak memojokkan, sehingga anak merasa mendapatkan orang yang mau mendengarkan, merasa mendapatkan orang yang memperhatikan, merasa diterima. Dengan itulah anak-anak akan lebih bersemangat untuk melakukan kebaikan-kebaikan,” tutup Ustadz Fauzil. (mif) Baca juga :

Read More

Kemenag Bentuk Tim Khusus Klarifikasi Koreksian Buku Pelajaran Fikih Untuk MTs

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kementerian Agama (Kemenag) membentuk tim khusus untuk mengklarifikasi koreksian konten buku Mata Pelajaran Fikih Kelas VII untuk Madrasah Tsanawiyah (MTs). Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kemenag, Moh Ishom menyampaikan, pembentukan tim ini menindaklanjuti adanya pemberitaan terkait kesalahan yang terdapat dalam penulisan materi buku tersebut. Pemberitaan didasarkan pada hasil temuan Media Literasi Kampus Institut Agama Islam Nazhatut Thullab (MLK IAI Nata) pada delapan buku pelajaran Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) yang diterbitkan oleh Kemendikbudristek, Kemenag, dan penerbit non-pemerintah. Ishom menjelaskan, tim yang dibentuk akan dikirim untuk mengklarifikasi kondisi di lapangan terkait penggunaan buku mata pelajaran tersebut. “Kami membentuk tim untuk mendalami informasi tentang konten pada buku PAI di Madrasah. Mereka akan dikirim untuk mengklarifikasi kondisi di lapangan,” ungkap Moh Ishom dalam siaran pers, Rabu (09/08/2023). Adapun buku-buku itu telah beredar luas, salah satunya di Kabupaten Sampang, Madura. Menurut temuan, materi dalam beberapa buku diduga salah atau menyimpang dari ajaran Ahlusunnah Waljamaah (Aswaja). Ishom menuturkan, hasil temuan dari tim akan menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan terkait buku tersebut. “Khususnya materi tentang rukun khutbah Jumat. Bukan rukun Shalat Jumat seperti yang diberitakan,” ujar Ishom. Ishom juga menyampaikan terima kasih atas masukan MLK IAI Nata. Menurut dia, hal ini menunjukkan masyarakat perlu berpartisipasi turut mengawal peningkatan kualitas pendidikan madrasah ke depan. Senada dengan Ishom, Kepala Balitbangdiklat Kemenag Suyitno mengapresiasi masukan dari MLK IAI Nata. “Kami apresiasi pihak MLK IAI Nata yang telah berupaya melakukan evaluasi terhadap buku-buku yang beredar di masyarakat. Namun kami perlu untuk melakukan verifikasi terhadap hal tesebut,” ujar Suyitno. Ia menambahkan, Kemenag sesuai amanat UU Nomor 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan dan PMA Nomor 9 tahun 2018 tentang Buku Pendidikan Agama, menjadi lembaga yang bertanggung jawab untuk mengurusi buku-buku pendidikan agama. “Kami menyadari tugas berat ini perlu partisipasi dan kolaborasi dengan masyarakat dan pihak penerbit dalam pelaksanaannya. Kami akan lakukan Forum Group Discussion (FGD) dengan pihak terkait di Kabupaten Sampang sebagai respons cepat Kementerian Agama dalam menjaga kemungkinan hal-hal yang tidak diinginkan dengan temuan dalam buku-buku pendidikan agama,” pungkasnya. (rid) Baca juga :

Read More

Ribuan Orang Melakukan Penghormatan Terakhir Untuk Sinead O’Connor

Dublin — 1miliarsantri.net : Sebanyak 3.000 orang lebih berkumpul untuk mengantarkan penyanyi Sinead O’Connor (56) ke peristirahatan terakhirnya. O’connor dimakamkan secara Islami. Mereka yang hadir di sepanjang jalan kota asal Sinead, Dublin, Irlandia, menangis sambil menyanyikan “Nothing Compares to U”. Keluarga penyanyi muallaf itu mengadakan upacara peringatan pribadi pada Selasa (08/08/2023) pagi yang dihadiri oleh Presiden Irlandia, Michael D Higgins; dan perdana menteri Leo Varadkar. Bintang seperti Bono, Edge dan Bob Geldof, juga tampak hadir. Kepala Imam di Pusat Islam Irlandia, Syaikh Dr Umar Al-Qadri, mengatakan kepada Daily Mail bahwa O’Connor akan dimakamkan secara Islami sesuai dengan perpindahan agamanya, merujuknya dengan nama barunya, Shuhada Sadaqat. “Pemakaman jelas pribadi (untuk) keluarga, dan itu adalah upacara yang sangat mengharukan, dan saya rasa itu benar-benar mencerminkan kepribadian Sinead yang indah. Itu sangat spiritual dan mencerminkan identitas Irlandianya serta identitas Muslimnya,” terang Syekh Dr Umar al-Qadri. Dia bersama anggota komunitas Muslim lainnya melakukan sholat jenazah untuk O’Connor. Ia juga mengatakan, O’Connor tidak pernah menjauh dari Allah SWT, tidak seperti orang lain yang memiliki kesulitan dan cobaan dalam hidup mereka. “Dia adalah manusia yang luar biasa, bukan hanya seorang musisi hebat, artis, tetapi yang akan menyentuh hati jutaan orang karena suaranya tetapi juga karena hatinya yang luar biasa. Dia selalu memiliki iman dan keyakinan yang kuat kepada Tuhan,” tambah Syekh Dr Umar al-Qadri. Dia mengatakan, O’Connor berbakat dengan suara yang menggerakkan generasi anak muda, serta dapat membuat para pendengar menangis dengan resonansi dunianya. Suara O’Connor membawa nada harapan untuk menemukan jalan pulang. “Orang-orang Irlandia telah lama menemukan pelipur lara dalam lagu dari penderitaan di tempat yang lebih rendah ini, dan Sinead tidak terkecuali, dan dalam berbagi pelipur lara itu, dia membawa kegembiraan bagi banyak orang di seluruh dunia,” ucap Syekh Dr Umar al-Qadri. Keluarga O’Connor meminta orang-orang yang ingin mengucapkan selamat tinggal terakhir untuk berdiri di sepanjang tepi laut Bray di Co Wicklow, saat iring-iringan melewati jam makan siang, diiringi suara Bob Marley dan Natural Mystic Wailers. Seorang pekemah Volkswagen memimpin mobil jenazah yang membawa O’Connor dalam perjalanan terakhirnya, dengan para pelayat melemparkan bunga ke atap mobil itu. Bunga hydrangea biru dan mawar menutupi dan mengelilingi petinya. Kemudian mobil berhenti di luar bekas rumahnya selama beberapa menit sehingga pelayat dapat memberikan penghormatan. Banyak yang melangkah ke jalan untuk menyentuh kendaraan. O’Connor merupakan seorang ibu dari empat anak yang meninggalkan tiga anaknya yang masih hidup. Ia ditemukan meninggal dunia di flat penthouse miliknya di Herne Hill pada 26 Juli 2023. (tri-reu) Baca juga :

Read More

Rasulullah SAW Membaca Surat Al Mulk Sebelum Tidur

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Surat Al Mulk memiliki keutamaan yang besar untuk diamalkan oleh setiap Muslim. Bahkan Nabi Muhammad SAW telah berpesan kepada umatnya untuk senantiasa membaca surat tersebut setiap hari menjelang tidur. Sebelum tidur, Nabi SAW selalu terlebih dulu membaca surat tersebut. Diriwayatkan dari Jabir RA, dia berkata: عن جابر رضي الله عنه : ” أن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا ينام حتى يقرأ آلم تنزيل ، وتبارك الذي بيده الملك “، “Rasulullah SAW tidak tidur sampai beliau membaca Alif Lam Mim Tanzil (Surat As-Sajdah) dan Tabarakal Lazi Biyadihil Mulku (Al-Mulk).” (HR Tirmidzi) Ada beberapa faedah yang besar bagi Muslim yang membaca surat Al Mulk setiap harinya. Hal ini pun telah dijelaskan oleh Otoritas Fatwa Mesir, Dar al-Ifta, tentang faedah membaca Surat Al Mulk sebelum tidur. Dar Al Ifta menjelaskan, Surat Al Mulk adalah surat yang akan membuat pembacanya memperoleh banyak kebaikan dan diampuni dosa-dosanya. Mengapa demikian? Karena malaikat memohonkan ampunan bagi para pengamal surat Al Mulk. Membaca Surat Al Mulk juga akan memberikan kedamaian dan keamanan bagi seorang Muslim yang rajin membacanya. Sehingga kedekatannya dengan Allah SWT semakin meningkat. Selain itu, Surat Al Mulk menjadi pengantar dan pembimbing menuju surga. Kandungan Surat Al Mulk mengajarkan untuk selalu berserah diri kepada Allah SWT. Bukan berarti menyerah pada keadaan atau semacamnya. Justru dengan begitu, seorang Muslim akan senantiasa selalu bersyukur pada setiap keadaan yang dihadapinya. Akan selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa semuanya hanyalah bergantung kepada Allah SWT, termasuk soal rezeki. Karena rezeki itu telah ditetapkan dan setiap Muslim hanya perlu menjemputnya. Seorang Muslim yang lisannya basah dengan bacaan Surat Al Mulk, menerima pahala yang besar. Ingatlah bahwa setiap huruf dalam Alquran menyimpan kebaikan. Satu kebaikan ini akan dilipatgandakan 10 kali lipat bagi siapa saja yang dikehendaki Allah SWT. Bahkan, Nabi Muhammad SAW ingin supaya setiap Muslim menyimpan surat Al Mulk di dalam sanubari hati. Dalam riwayat Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh aku menginginkan bila surat (Al Mulk) ini dihafal di dalam kalbu setiap umatku.” (HR Ath Thabrani) (yus) Baca juga:

Read More

Sejarah Zakat di Indonesia

Jakarta — 1miliarsantri.net : Direktur Social Trust Fund UIN Syarif Hidayatullah, Amelia Fauziah memaparkan sejarah zakat di Indonesia. Selain itu, berdasarkan catatan kuno yang ditulis Denys Lombard dalam Silang Budaya mengatakan, dulu zakat menjadi daya tarik dakwah, dikarenakan kondisi muslim yang minoritas saat masuknya Islam di Indonesia. “Sehingga zakat diberikan kepada kaum tapa, serta orang yang membutuhkan sehingga banyak yang mulai berfikir bahwa umat Muslim tak hanya mengurusi masalah spiritual tapi juga konteks sosial,” terang Amelia, Selasa (08/08/2023). Hal ini lalu diikuti dengan menguatnya perkembangan zakat di abad ke-13. Tercatat, dalam kitab Bustanus Salatin yang menyebutkan zakat digaungkan oleh Raja di kerajaan-kerajaan Aceh. Namun, hanya sebatas dorongan para Raja untuk membayar zakat tanpa turun langsung untuk mengelola zakat masyarakat. “Meskipun kemudian di satu sisi ada yang mengkritik, seperti kerajaan Banjar yang menganggap kerajaan tidak perlu mengurusi soal zakat. Zakat, menurutnya adalah persoalan ibadah yang menjadi urusan individual,” tutur Amelia. Ragam fenomena ini, menjadi semakin menarik, hingga di masa kolonial Belanda aktivitas berzakat ini terus berkembang dan diintervensi oleh pemerintah kolonial. Saat itu, merangsang adanya gerakan yang menentang, sehingga masyarakat sipil mempergunakan dana tersebut untuk masjid dan lainnya. Sampai pada pemerintahan kolonial tahun 1830-an, mereka seolah melepas tangan perihal zakat yaitu tidak mewajibkan dan tidak melarang bahkan mempersilakan untuk dikelola oleh muslim. Saat itu, mereka berpikir kedermawanan merupakan kewajiban agama dan bersifat pribadi, sehingga tidak perlu dikelola atau diserahkan negara. “Bahkan, salah satu penasehat pemerintah kolonial yang sedikit ‘memahami’ agama Islam secara jelas membuat aturan untuk jangan ada kekerasan dalam hal ini, selama tidak berkaitan dengan politik,” ungkap Amelia. Produk Konkret Zakat Abad XIXPerkembangan zakat terus menguat di abad XIX, setali tiga uang dengan pertumbuhan pesantren pada saat itu yang juga menggunakan dana ZISWAF sebagai sumber dana penting dalam memperkuat pendidikan. “Sebagai contoh, Pondok Pesantren Gontor yang terkenal dengan wakafnya, kemudian lahir juga organisasi keislaman seperti Muhammadiyah, NU, Syarikat Islam, Persis yang membuat sekolah-sekolah,” tutur Amelia. Tabiat pemerintah kolonial saat itu membiarkan kultur ini berkembang selama tidak masuk ke ranah politik. Bahkan, pemerintah kolonial membuat aturan tentang pendaftaran zakat dan wakaf, serta jika terjadi kekerasan dalam pengelolaan yang dalam arti lain karena besaran dana yang besar dengan keamanan yang mengkhawatirkan maka pemerintah turut mengawasi. “Peran pengawasan ini terbawa hingga awal abad 20 dan akhirnya tumbuh luar biasa sehingga berjalan sampai sekarang,” kata Amelia. Pertumbuhan ZISWAF ditandai dengan mampunya dana ini menopang negara. Banyak masyarakat menyumbang untuk negara, seperti Pesawat Dakota RI-001 Seulawah yang dibeli dari uang sumbangan rakyat, diikuti dengan banyaknya kantor-kantor KUA dari tanah wakaf. Maka itu, Presiden Soeharto sempat memimpikan negara dalam kepemimpinannya mengelola dana ZISWAF. Pada 1967-an, Presiden Soeharto membuat aturan khusus dan memproklamirkan diri menjadi amil nasional. Namun sayang, idenya masih terlalu general dan tidak bisa dipahami oleh khalayak. “Tentunya pada saat itu, ada dua hal yang menyebabkan ide tersebut mental, yaitu karena tradisi zakat yang terbiasa dikelola dari dari bawah dan kedua adanya resistensi dari tokoh agama,” tutur Amelia. Pola Hubungan Ideal Antara Negara dan Masyarakat dalam Pengelolaan Dana ZISWAFTata kelola yang dibentuk pemerintah, menjadi bagian paling penting dalam pengelolaan dana sosial keagamaan, khususnya Zakat Infaq Sedekah. Itu karena, penguatan tata kelola ini, nantinya akan mempengaruhi keseimbangan antara negara dan masyarakat sipil dalam mengoptimalkan potensi zakat yang besar. “Melalui undang-undang zakat 23/2011 saat ini, meskipun sudah cukup baik pada beberapa hal namun memiliki titik rentan yang berpotensi menimbulkan conflict of interest,” tutur Amelia. Salah satunya adalah peran ganda yang dimiliki BAZNAS, yakni sebagai AMN operator zakat sekaligus regulator. Hal itu bisa menjadikan kepercayaan dari para pengelola terhadap BAZNAS menjadi lemah. Itu karena Baznas menjadi lembaga yang melahirkan regulasi, namun di saat yang sama menjadi ‘kompetitor’. Ada tiga pilihan dalam pengelolaan dana dengan potensi yang luar biasa ini. Pertama yaitu dengan dikelola negara. Contohnya, negara-negara dibawah Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) seperti Pakistan dan Sudan yang mengelola dana tersebut. Namun, hanya sebatas incomenya saja. Sementara zakat memiliki banyak jenis yang harus dikelola dengan detail. Pada akhirnya setiap individu masih mengirimkan dana ZISWAF secara langsung kepada yang membutuhkan, atau komunitas hingga luar negeri. Kedua, yakni pengelolaan seluruhnya dikelola oleh masyarakat sipil, seperti Islamic charity dari UK. Ketiga, seperti di Indonesia yaitu fifty-fifty, yakni setengah pengelolaan oleh negara dan setengahnya lagi dikelola oleh masyarakat sipil. “Di satu sisi, ini menjadi jalan tengah, namun sebagaimana yang digagas di awal bahwa sebaiknya pemerintah cukup memfasilitasi di fungsinya sebagai regulasi. Kalaupun juga ingin mengelola, harus ada pemisahan fungsi diantara regulator dan operator,” ungkap Amelia. Konflik yang terjadi sekarang cukup memprihatinkan, karena banyak potensi lembaga zakat yang cukup baik seperti yang berasal dari BUMN, Universitas, Masjid tidak bisa berdaya guna dengan baik. Itu dikarenakan secara kelembagaan malah diharuskan menjadi UPZ. Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf merupakan perilaku yang berasal dari hati dan erat sekali kaitannya dengan ibadah individu, sehingga butuh strategi dan pendekatan yang khas sesuai dengan target muzakki. Dengan potensinya yang besar, ZISWAF memang mungkin saja dikelola oleh satu badan (dalam hal ini pemerintah) yang dianalogikan dengan aliran sungai yang bermuara ke satu danau. Dengan asumsi akan membesar dan bisa memberikan manfaat yang besar. “Namun, di saat yang sama hal ini juga mengkhawatirkan, karena jika tak dibarengi dengan tata kelola yang baik justru akan bahaya, akan timbul kebocoran bahkan bah. Maka tata kelola-lah yang menjadi penting. Jika saat ini masyarakat akar rumput sudah memiliki tata kelola yang kuat, tak ada salahnya jika pemerintah berlegowo untuk tak ikut dalam pengelolaan itu akan lebih baik,” pungkas. (mel) baca juga :

Read More

Gus Kautsar : Tidak Ada Istilah Galau Dalam Islam

Surabaya — 1miliarsantri.net : KH. Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar), ulama muda asal Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri mengatakan, dalam Islam tidak ada istilah galau. “Galau itu dilarang dalam Islam dengan dua solusi yakni sabar dan syukur. Apa yang disebut galau itu justru solusi, karena bisa mendekatkan kita kepada mencari Allah,” katanya saat mengisi pengajian Majelis Subuh Gen-ZI di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS), dikutip Selasa (08/08/2023). Dalam pengajian bertema “Merdeka dari Galau” di MAS bersama pendakwah ustadzah Haneen Akira (istri ustadz Hanan Attaki) itu, Gus Kautsar menilai galau merupakan solusi bahwa semua yang ada dan terjadi merupakan garis tangan atas izin Tuhan. “Jadi, kalau Islam secara beneran itu, galau itu nggak ada, karena semuanya atas kehendak Allah dengan tujuan yang indah. Misalnya ketangguhan, memaklumi setiap kejadian, memaafkan siapapun, jadi kalau semuanya dikembalikan kepada Allah akan membuka semua pintu solusi. Semuanya indah, kalau gagal nggak benci, nggak menyalahkan, nggak mencari kambing hitam, tapi muhasabah,” katanya. Di hadapan ribuan jamaah dari kalangan generasi Z Islami dari Surabaya dan sekitarnya itu, putra KH Nurul Huda Djazuli itu mengutip pandangan bijak dari Imam Syafi’i. “Kalau ingin baik ya ikuti orang-orang dulu, seperti Imam Syafi’i. Kalau ikut orang-orang masa kini justru bisa nggak baik,” katanya. Menurut Imam Syafi’i, kata Gus Kautsar, apapun masalah yang menimpa itu dibiarkan saja berlalu dengan membawa masalahnya. Jangan terlalu meratapi masalah yang datang, karena semua masalah itu pasti ada akhir/ending dan semua masalah itu mengajari untuk rela dan sabar. “Imam Syafi’i juga mengajarkan muhasabah kalau menghadapi masalah. Masalah itu merupakan bagian atau jatah dari kehidupan. Kalau sudah jatah untuk kita, dihindari juga nggak mungkin. Kalau bukan jatah kita, dicari juga nggak datang. Yang penting, tetaplah menjadi orang baik, karena masalah itu menunjukkan bahwa manusia itu lemah. Kalau menggugat Allah justru panjang hisabnya,” katanya. (har) Baca juga :

Read More

Komika Abdur Arsyad Selalu Menangis Ketika Mendengar Atau Membaca Hadist Ini

Jakarta — 1miliarsantri.net : Komika Abdurrahim Arsyad bicara panjang lebar tentang pandangan religiusnya terhadap Nabi Muhammad SAW di kanal Youtube podcast Kasisolusi. Dalam obrolan podcast ini, Abdur, begitu ia akrab disapa, yang merupakan lulusan Universitas Muhammadiyah Malang ini mengungkapkan sebuah hadits yang selalu membuatnya menangis kala mendengarnya. Hadits yang dimaksud Abdur adalah hadits yang berisi kerinduan Rasulullah SAW kepada umatnya meski Nabi SAW sendiri belum pernah menemui mereka. Hadits tersebut diriwayatkan dari Abu Hurairah dan ada dalam Shahih Muslim. Berikut ini hadits lengkapnya. جاء في صحيح مسلم عن أبي هريرة: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج إلى المقبرة, فقال:السلام عليكم دار قوم مؤمنين, وإنا إن شاء الله بكم لاحقون، وددت أني قد رأيت إخواننا، فقالوا: يا رسول الله, ألسنا بإخوانك؟ قال بل أنتم أصحابي، وإخواننا الذين لم يأتوا بعد، وأنا فرطهم على الحوض، فقالوا: يا رسول الله, كيف تعرف من يأتي بعدك من أمتك؟ قال: أرأيت لو كان لرجل خيل غر محجلة في خيل دهم بهم ألا يعرف خيله؟ قالوا: بلى يا رسول الله، قال: فإنهم يأتون يوم القيامة غرًّا محجلين من الوضوء، وأنا فرطهم على الحوض، ألا ليذادن رجال عن حوضي كما يذاد البعير الضال، أناديهم: ألا هلم, ألا هلم, ألا هلم. فيقال: إنهم قد بدلوا بعدك، فأقول: سحقًا سحقًا. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW pernah mendatangi pemakaman lalu bersabda, “Semoga keselamatan terlimpahkan atas kalian penghuni makam kaum mukminin. Sungguh insya Allah kami akan bertemu kalian, dan sungguh aku sangat rindu berjumpa dengan saudara-saudara kita.” Mendengar itu, para sahabat pun bertanya, “Bukankah kami semua saudara-saudara engkau, wahai Rasulullah SAW?” Kemudian beliau SAW bersabda, “Kalian semua adalah sahabatku, sedangkan saudara-saudara kita ialah mereka yang akan datang di masa nanti.” Sahabat bertanya lagi, “Bagaimana engkau dapat mengenali mereka yang belum datang dari kalangan umat engkau, wahai Rasulullah SAW?” Beliau SAW bersabda, “Bagaimana jika seorang lelaki memiliki seekor kuda berbulu putih di dahi serta di kakinya, dan kuda itu berada di tengah-tengah sekelompok kuda yang hitam legam. Apakah dia akan mengenali kudanya itu?” Para Sahabat Nabi menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Lantas beliau bersabda lagi, “Karena itu, mereka akan datang dalam keadaan di mana wajah dan kaki mereka putih bercahaya karena bekas wudhu. Aku mendahului mereka ke telaga. Dan ada golongan lelaki yang dihalangi datang ke telagaku sebagaimana dihalaunya unta-unta sesat. Aku memanggil mereka, ‘Kemarilah kalian semua’. Dikatakan, ‘Sungguh mereka telah menukar ajaranmu selepas kamu wafat’. Maka aku bersabda, “Pergilah jauh-jauh dari sini.” (yid) Baca juga :

Read More

MUI Berharap Undang-undang Anti Islamophobia Segera Diberlakukan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong adanya undang-undang anti-islamophobia di seluruh negara khususnya di Asia Tenggara. MUI menilai Undang-undang anti-islamophobia sebagai upaya adanya toleransi yang kuat. “Hubungan antaragama bagus, masyarakat tidak kacau, rukun dan perdamaian bisa dibangun,” terang Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim kepada media di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Selasa (08/08/2023). Sudarnoto menambahkan, MUI terpanggil akan adanya ayat-ayat Alquran terkait dengan kemanusiaan, kebebasan beragama dan menghormati perbedaan dalam memerangi islamophobia. “MUI melihat pada keyakinan Islam itu menganjurkan perdamaian, tidak boleh menghina agama lain, harus ada penghargaan terhadap agama lain,” sambungnya. Tetapi, pada kenyataannya tidak sepenuhnya terjadi. Karena masih banyak kasus-kasus islamophobia di beberapa negara di dunia. Persoalan islamophobia, menurut Sudarnoto, merupakan persoalan yang sangat kompleks karena penyebabnya bukan hanya adanya kebencian terhadap Islam. Tapi punya kaitannya sangat erat dalam hal politik dan kebebasan berekspresi. Prof Sudarnoto menjelaskan, korban dari gerakan islamophobia bukan hanya menyangkut orang Islam, tetapi sebetulnya juga merusak kemanusiaan, hak-hak kemanusiaan, demokrasi, kedaulatan negara dan agama. Oleh karena itu, tegasnya, MUI sebagai payung organisasi Islam yang mewakili negara Muslim terbesar di dunia ini mendorong agar adanya undang-undang di seluruh negara di dunia, khususnya ASEAN terkait dengan anti islamophobia. Sudarnoto menuturkan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah membuat deklarasi pada 15 Maret mengenai hari anti-islamophobia. “Deklarasi ini jangan sampai sebatas dokumen, harus digerakkan secara internasional. Karena deklarasi dari PBB ini semua negara tanpa terkecuali sepanjang menjadi anggota PBB harus komitmen menjaga ini, supaya tidak ada anti Islam, agama dan perbedaan,” tegasnya. Dalam kesempatan ini, Sudarnoto menyebut, kegiatan ini sebagai upaya untuk melihat peta islamophobia di ASEAN munculnya seperti apa. “(Juga mendorong) negara-negara di ASEAN harus ada jaminan undang-undang (anti-islamophobia). Termasuk di Indonesia, harus ada undang-undang yang memberikan jaminan tidak ada orang yang menghina agama,” pungkasnya. (rid)

Read More