KH Miftachul Akhyar : Biasakan Berkata dan Berdoa Yang Baik dan Benar

Surabaya — 1miliarsantri.net : Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengajak masyarakat membiasakan dalam kehidupan sehari-hari dalam bertutur dengan ucapan yang baik, termasuk di dalam berdoa. Ada waktu-waktu yang mustajab dalam setiap pergantian masa. Dikhawatirkan, doa yang jelek itu terucap tepat pada waktu yang memang mudah dimakbul oleh Allah swt. “Kalau kamu memohon kepada Allah atau menginginkan sebuah cita-cita, periksa cita-cita itu, jangan cita-cita yang remeh murahan, isi doa yang penting. Jaga mulutmu dari ucapan yang jelek. Kenapa? Kalau harapan itu tepat pada waktu yang mustajabah, ya malapetaka,” terang Kiai Miftach di kanal Youtube Multimedia KH Miftachul Akhyar dikses Kamis (31/08/2023). Penjelasan ini dijabarkan Kiai Miftach saat mengurai maksud sebuah hadits Rasulullah SAW yang ada di Kitab Jami’ As-Shogir, sebagaimana berikut: “Rasulullah saw bersabda: Apabila salah seorang di antara kalian mempunyai cita-cita, maka lihatlah apa yang dia cita-citakan, kerana dia tidak mengetahui apa yang ditulis (ditakdirkan) tentang cita-citanya”. Hadits dengan kualifikasi sanad hasan ini dijelaskan KH Miftachul Akhyar, memberi pesan bahwa hendaknya seseorang berhati-hati dalam berdoa atau bercita-cita. Permohonan yang disandarkan kepada Allah swt harus benar-benar dipastikan baik, bukan sebaliknya. Menurut Kiai Miftach, ulama memberikan banyak pandangan soal waktu-waktu yang mustajabah. Dengan demikian, perbedaan itu yang semestinya memacu kalangan Muslim khususnya untuk terus berdoa memohon kepada Allah untuk mewujudkan harapan-harapan baiknya. “Kita tidak tahu kapan waktu mustajabah. Oleh karena itu kalau doa, sehari semalam isi dengan doa, karena dalam sehari semalam akan ada saat yang mustajabah. Kapan? Kita tidak tahu. Ada yang mengatakan setelah Ashar, ada yang mengatakan mendekati Maghrib, ada yang mengatakan waktu matahari mau terbenam,” ungkapnya. Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya, Jawa Timur ini juga mengajak kepada orang tua agar tidak sampai mendoakan anaknya dengan hal-hal yang kurang pantas. Kendati dalam kondisi marah karena ulah buah hatinya. “Termasuk orang tua memarahi anak-anaknya mengeluarkan kata-kata yang jelek, disebut anak yang durhaka misalnya. Ini kalau tepat pada saat mustajabah, wah ini malapetaka,” tuturnya. Kiai Miftach kemudian mengurai hadits sahabat Jabir yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abi Daud tentang larangan berkata jelek kepada seorang anak, saudara, dan orang lain yang dikenal. “Karena ada haditsnya, jangan kalian mendoakan jelek kepada anak-anakmu, saudara-saudaramu, siapapun yang engkau kenal, takutnya atau khawatirnya doa yang jelek itu pas deng saat mustajabah,” pungkasnya. (yat) Baca juga :

Read More

Baznas Berkontribusi Melawan 4,5 Juta Kemiskinan dan Kebodohan di Indonesia

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ketua Badan Zakat Nasional (Baznas), Prof Noor Achmad, menegaskan, para amil zakat adalah orang yang menyelamatkan manusia dan kemanusiaan. Badan amil zakat di Indonesia sudah berkontribusi melawan kemiskinan dan kebodohan secara nyata. “Terdapat 36 juta penduduk Indonesia yang miskin, 4.5 jutanya adalah miskin ekstrim, ini menjadi tantangan bagi seluruh lembaga amil zakat untuk ikut serta mengentaskannya dari kemiskinan,” urai Noor dalam pertemuan Optimalisasi Pendayagunaan Dana Zakat di hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, dikutip Rabu (30/08/2023). Noor juga meminta agar tasarruf benar-benar tepat sasaran, dengan berpegang teguh pada prinsip kaidah 3A yakni Aman Syar’i, Aman Regulasi dan Aman NKRI. Dia menyampaikan, ke depan harus dipetakan dan dikoordinasikan bersama antara Baznas dengan seluruh lembaga amil zakat dalam pemetaan dan distribusi zakat. “Ini perlu dilakukan agar lebih merata dan tepat sasaran serta membawa dampak yang lebih cepat dan sangat positif bagi para mustahik,” lanjutnya.. Pertemuan Optimalisasi Pendayagunaan Dana Zakat tersebut diadakan Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah (Lazis) Assalam Fil Alamin (ASFA) yang menghadirkan berbagai pengurus amil zakat di Indonesia. Lazis ASFA berkomitmen menyiapkan SDM berkualitas untuk menghadapi kejayaan Indonesia pada 2045. Kejayaan Indonesia ditandai pada kurun waktu 2030-2045. Dalam kurun waktu itu terdapat 70% warga Indonesia berusia produktif antara 15-62 tahun. “Pada masa itu, mereka yang berusia produktif paling berperan mewarnai dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Para pemuda nantinya yang menjadi CEO perusahaan, menempati posisi direksi, menginisiasi, dan menjalankan berbagai program strategis bangsa Indonesia,” kata Ketua ASFA Foundation, Syafruddin Kambo. Dia menjelaskan, Indonesia dan dunia pada umumnya dihadapkan pada tantangan kemajuan teknologi. Kecerdasan buatan semakin berkembang dan robot juga semakin berperan. Dua hal ini akan banyak menggantikan manusia, sehingga menyebabkan peranan manusia berkurang karena digantikan keduanya. “Indonesia merupakan negara strategis dari sisi geografis dan jumlah penduduk, jika potensi ini dikelola dengan baik, maka Indonesia akan menjadi negara maju. Indonesia punya potensi besar jadi negara maju dan dihormati bangsa lain di dunia,” kata Syafruddin. Untuk menuju kejayaan Indonesia 2045, pihaknya melalui Lazis ASFA berkomitmen untuk berkontribusi menyiapkan SDM berkualitas. Lazis ASFA telah menyalurkan lebih dari Rp60 miliar dana zakat kepada para mustahik dengan tepat sasaran, melalui pendekatan program; pendidikan, kemanusiaan, ekonomi, kesehatan dan sosial dakwah. Jumlah dana tersebut sudah disalurkan sejak Oktober 2022 hingga Juli 2023 tahun ini. Sementara itu Wakil Ketua Lazis ASFA KH Anizar Masyhadi menjelaskan dana sebanyak itu disalurkan kepada lebih dari 115 ribu jiwa penerima manfaat di 25 provinsi Indonesia dan 7 negara. “Penekanan Lazis ASFA adalah untuk percepatan dan pengembangan SDM yang berbasis pada penguatan lembaga pesantren, sekolah dan ormas Islam, dimana para penerima beasiswa nantinya akan kembali pada lembaga pendidikan yang ada di Indonesia, selain juga untuk fakir, miskin dan asnaf lainnya”, tegas Anizar. (Iin) Baca juga :

Read More

Kegigihan Sultan Agung dalam Melawan VOC

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kisah Sultan Agung Hanyokrokusumo tentu sudah cukup sering kita dengar, raja ke-3 Kerajaan Mataram yang sangat disegani pada zamannya. Saat memerintah Mataram, Sultan Agung berhasil membawa kerajaan menuju era kejayaan. Seiring waktu, Mataram terus berkembang pesat dan menjadi salah satu kerajaan terkuat di Nusantara kala itu. Sultan Agung memiliki nama asli Raden Mas Jatmika atau biasa dikenal juga sebagai Raden Mas Rangsang. Dia merupakan putra pertama dari Prabu Hadi Hanyakrawati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Mengutip laman Dinas Kebudayaan Jogja, Sultan Agung lahir di Kotagede pada 14 November 1593. Naik takhta sekitar tahun 1613, tepatnya ketika masih berusia 20 tahun. Di era kepemimpinan Sultan Agung, Mataram berkembang pesat dan menjadi kerajaan besar. Mataram Islam mencapai puncak kejayaan pada 1627, tepatnya sekitar empat belas tahun Sultan Agung memimpin kerajaan tersebut. Seiring perkembangannya, Mataram juga memperluas pengaruh dan kekuasaannya. Bahkan, selama kurun 1613-1645 wilayah kekuasaan Mataram Islam telah meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat. Berkembang pesatnya Mataram bukan tanpa alasan. Hal ini tak terlepas dari keberadaan Sultan Agung sebagai penguasanya. Saat era kepemimpinannya, Sultan Agung dikenal dengan berbagai keahliannya di berbagai sektor. Sebut saja seperti bidang militer, politik, ekonomi, sosial dan budaya, serta lain sebagainya. Hal inilah yang mengantarkan peradaban Mataram pada tingkat yang lebih tinggi. Sultan Agung sangat berani Menentang VOC, terlepas dari statusnya yang disegani sebagai penguasa Mataram, Sultan Agung juga pernah mencatatkan perjuangan kala melawan VOC di Batavia. Dalam hal ini, dia menganggap keberadaan Belanda di Batavia dapat membahayakan negara. Sultan Agung menggunakan berbagai strategi berbeda untuk menekan pengaruh VOC sebagai bentuk perlawanannya. Dalam sejumlah serangan militer yang dilakukan, pasukan Mataram cukup memberikan perlawanan yang cukup sengit bagi VOC. Meski tidak membawa keberhasilan seperti merebut Batavia secara menyeluruh, tekad dan semangat Sultan Agung untuk mengusir VOC menjadi pemantik para pejuang lain untuk mempertahankan Tanah Air. Sampai akhir hayatnya, Sultan Agung tidak sudi berdamai dengan Belanda meski diberikan banyak tawaran menggiurkan. Tak hanya memiliki strategis jenius dalam membawa Mataram menuju kejayaan, Sultan Agung juga dikenal sebagai raja yang sakti mandraguna. Dari sekian banyak kisah kesaktiannya, salah satu yang cukup menarik adalah dikatakan mampu mengendalikan makhluk gaib menjadi abdi dalem. Menurut Babad Tanah Jawi, Sultan Agung mempunyai seorang abdi bernama Juru Taman. Konon, abdi dalem ini dulunya adalah manusia. Namun, dia berubah wujud menjadi siluman dan mempunyai kesaktian mandraguna yang istimewa dan sulit dikalahkan. Dulunya, Juru Taman itu adalah abdi dalem Panembahan Senopati, kakek Sultan Agung. Dikisahkan, suatu hari Panembahan Senopati mendapat telur Lungsung Jagat dari Kanjeng Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul untuk dimakan. Panembahan Senopati tidak langsung memakan telur pemberian Ratu Kidul. Dia membawanya ke istana dan memberikannya kepada Ki Juru Taman, abdi dalem yang sangat setia dan saat itu dalam keadaan sakit keras. Begitu memakan telur Lungsung Jagat, Ki Juru Taman langsung sembuh dari penyakitnya. Namun, dia berubah menjadi raksasa dan memiliki kesaktian yang hebat serta berumur panjang. Setelah itu, dia terus hidup sebagai makhluk gaib yang melayani Mataram. Bahkan, dia juga masih setia menjadi abdi dalem saat Sultan Agung berkuasa. Menjelang tahun 1645, Sultan Agung merasa bahwa ajalnya sudah semakin dekat. Dia membangun Astana Imogiri sebagai pusat pemakaman keluarga raja-raja Kesultanan Mataram yang akan dimulai dari dirinya. Tak hanya itu, dia juga menuliskan serat Sastra Gending sebagai tuntunan hidup trah Mataram. Sesuai dengan wasiatnya, nantinya dia akan digantikan oleh putranya yang bernama Raden Mas Sayidin sebagai raja Mataram. Benar saja, Sultan Agung wafat di Mataram pada 1645. Atas jasa-jasanya dia juga ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975. (mif) Baca juga :

Read More

Viral Siswa SD Sholat Berjamaah didalam Gerbong Kereta Api

Blitar — 1miliarsantri.net : Sebuah video rombongan siswa SD Blitar sedang melakukan shalat berjamaah di gerbong kereta viral di media sosial (medsos). Dalam video yang beredar tersebut nampak para siswa berjajar di lorong gerbong. Nampak dalam video juga beberapa siswi mengenakan mukena juga ikut berjamaah dari bangku mereka. Para siswi ini mengikuti gerakan imam saat sujud. Tidak ada keterangan dalam unggahan video itu. “Adem dipandang,” tulis akun @kajianmuswarah Sementara narasi dalam video itu tertulis rasa syukur sang guru melihat pemandangan anak didiknya sholat berjemaah. “Melihat pemandangan ini saat jadi guru sedang capek-capeknya -tanda love,” tulisnya. Video itu bahkan sudah ditonton lebih dari 1,5 juta kali degan ribuan komentar netizen. Banyak di antara netizen yang mengaku merinding melihat momen ini. “Terharu dan merindin campur aduk. Semoga anak2 kami menjadi anak sholeh dan sholehah ya Allah,” tulis @agen*** “Yakinlah gurunya yak akna pernah melihat muridnya keleat batas karena aama slelau jadi pegangan mereka,” kata @Aku* “MasyaAllah terharu lihat kaya gini, apalagi saat perjalanan, semoga Allah selalu menjaga keselamatan guru2 dan anak2 soleh+sholelah ini,” ujar @818* (cak) Baca juga :

Read More

Wapres Ma’ruf Amin Resmikan Zona KHAS ITS

Surabaya – 1miliarsantri.net : Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan Zona Kuliner Halal, Aman dan Sehat (Zona KHAS). Menjadi yang pertama di Jawa Timur untuk kalangan perguruan tinggi, zona ini diresmikan secara langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia (RI), Prof Dr KH Ma’ruf Amin melalui kegiatan Sarasehan Ekonomi dan Keuangan Syariah di Hotel Sheraton Surabaya, Rabu (30/8). Peresmian yang dilakukan di Hotel Sheraton Surabaya ini juga didampingi oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Direktur Bisnis dan Kewirausahaan Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Ir Putu Rahwidhiyasa, Rektor ITS Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng IPU AEng dan Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim MA. Seremoni peresmian juga dihadiri oleh para anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Timur, anggota Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah Jawa Timur serta para penggiat ekonomi dan keuangan syariah di Provinsi Jawa Timur. Dalam laporannya, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengungkapkan potensi Jawa Timur sebagai kontributor utama pengembangan ekonomi dan keuangan syariah nasional. Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa Jawa Timur telah berkontribusi sebesar 25 persen terhadap perekonomian nasional Indonesia. “Tahun ini, Jawa Timur juga berhasil menyabet juara umum dalam penghargaan ekonomi syariah oleh KNEKS,” ujarnya bangga. Melalui arah pengembangan ini, berbagai industri halal untuk menumbuh kembangkan roda ekonomi dan keuangan berbasis syariah terus dijalankan. Peresmian Zona KHAS ITS ini menjadi tonggak awal yang signifikan bagi Jawa Timur dalam menjalankan program-program percontohan nasional. “Upaya yang dilakukan dalam memenuhi komitmen ini didukung penuh oleh Wakil Presiden RI, sehingga dapat direalisasikan satu persatu,” pungkas Emil menutup laporannya. Selaras hal tersebut, Wakil Presiden RI Prof Dr KH Ma’ruf Amin merasa senang dengan adanya peresmian Zona KHAS ITS ini. Hal tersebut didasarkan pada pentingnya optimisme dan kerja sama dalam menjalankan gerakan jihad ekonomi bangsa di tengah tantangan dan dinamika global yang dihadapi oleh Indonesia dalam tahap pemulihan ekonomi nasional. “Hadirnya zona ini, menjadi langkah nyata menuju pengembangan ekonomi syariah yang lebih kuat dan berkelanjutan,” tutur Ma’ruf Amin. Menyambut peresmian ini, Rektor ITS mengatakan, kantin pusat ITS yang bertransformasi menjadi Zona KHAS ini dianggap sebagai yang terbaik di Indonesia. Melalui kerja sama dengan KNEKS serta pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur dan Dinkes Kota Surabaya, ITS memastikan bahwa pedagang di zona KHAS ini memenuhi standar kebersihan dan sanitasi yang ketat. Syarat-syarat administratif, termasuk sertifikasi kehalalan produk dan Nomor Induk Berusaha (NIB), turut mengamankan legalitas dan kualitas usaha para pedagang. Dengan menghadirkan Zona KHAS, ITS telah mendampingi UMKM dalam memberikan sertifikasi halalnya. Selain itu, keberadaan zona ini membuka jalan menuju pengalaman kuliner yang lebih nyaman, berkualitas, dan mendukung pertumbuhan bisnis pedagang. “Transformasi ini sebagai bukti nyata ITS dalam memajukan layanan kuliner dengan memberi perhatian khusus pada nilai-nilai halal, kebersihan, dan kesehatan,” ujar rektor yang kerap disapa Ashari tersebut dengan bangga. (hp)

Read More

Surban Hitam Sunan Kalijogo Luluhkan Amarah Sultan Agung

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Sultan Agung Hanyokrokusumo atau Raden Mas Rangsang (1593), merupakan Raja Mataram yang mengantarkan kejayaan puncak agama Islam di Tanah Jawa. Selain kisahnya mengusir penjajah Belanda di Batavia, ada beberapa kisahnya menarik untuk dibahas. Sultan Agung digambarkan sebagai raja yang digdaya, sakti, cerdas, dan pintar itu dikisahkan pernah mengguncang dan menaklukkan Kota Makkah, Arab Saudi dengan mengirimkan sebuah malapetaka wabah penyakit mematikan dipicu atas murka dari sang raja. Raja Mataram itu murka lantaran tersingung atas penolakan keras dari pemegang otoritas Kota Makkah saat itu, yakni Imam Syafi’i. Wabah penyakit sengaja dikirimkan lewat Penguasa Pantai Selatan, yakni Ratu Nyi Roro Kidul untuk meredakan amarah Sultan Agung. Murkanya Sultan Agung itu bisa reda setelah Kanjeng Sunan Kalijaga turun tangan ikut menenangkan dengan memberinya sebuah hadiah istimewa berupa serban hitam bekas Nabi Muhammad SAW. Serban itu dikirim Imam Syafi’i lewat Sunan Kalijaga sebagai permintaan maaf. Dalam Babad Nitik Sarta Cabolek diceritakan berawal kebiasaan Sultan Agung salat Jumat di Makkah berujung membuat terjadinya malapateka besar. Atas kesaktiannya itu, Sultan Agung bisa sekejap mata berada di Kota Makkah untuk menunaikan ibadah salat. ”Sultan Agung salat di Masjid Makkah setiap hari Jumat,” demikian tertulis di Babad Nitik Sarta Cabolek seperti diringkas de Grave (2001. 176-177). Usai salat Jumat di Makkah, Sultan Agung menemui Iman Supingi, ulama besar pemegang otoritas di Makkah. Iman Supingi yang dimaksud adalah Imam Syafi’i, salah satu Imam yang dikenal dari empat madzab dalam ajaran agama Islam. Pelafalan nama Imam Syafi’i menjadi Iman Supingi, karena menyesuaikan dengan lidah orang Jawa kala itu. Usai salat, Sultan Agung saat itu meminta izin kepada Iman Supingi untuk mendirikan sebuah pesarean (makam) di Kota Makkah. Sultan Agung berharap ketika tutup usia nanti, dia bisa bermakam di Makkah yang lokasinya berdekatan dengan makam para nabi. Namun permintaan yang disampaikan baik-baik itu, ditolaknya. Dalam cerita legenda yang disampaikan Babad Nitik Sarta Cabolek, Iman Supingi melakukan penolakan itudengan alasan bahwa Sultan Agung tidak layak untuk bermakam dekat makam nabi. Musababnya, Sultan Agung diketahui terlahir dari sebuah pertemuan seorang manusia dengan bangsa jin atau dewa, sehingga keberadaanya dapat meresahkan para nabi. Alhasil, Sultan Agung tidak bisa menerima alasan yang diutarakan Iman Supingi tersebut. Raja Jawa itu seketika tersinggung. “Sultan Agung murka,” demikian yang tertulis dalam buku “Naik Haji di Masa Silam, Tahun 1482-1890”. Saat itu langsung Sultan Agung bertolak ke tanah Jawa dengan penuh kekecewaan dengan penuh amarah. Kala itu, dia mendatangi Pantai Selatan tempat di mana Kanjeng Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul bertakhta. Sultan Agung di sana mengadu. Dalam legenda sejarah Mataram Islam, Kanjeng Ratu Kidul merupakan istri dari raja-raja Jawa. Kanjeng Ratu Kidul lantas mengusulkan untuk menyerang Makkah dengan cara menyebarkan wabah penyakit. Sultan Agung yang dalam keadaan emosi, langsung mengiyakan. Alhasil, Kanjeng Ratu Kidul kemudian mengirimkan wabah secara gaib ke Makkah. “Maka Ratu Kidul memerintahkan kepada dua panglimanya, Nyai Ira Kidul dan Nyai Kidul untuk mengepalai pasukan “lelembut dan teluh” ke Mekkah dan menyebarkan penyakit di sana”. Dalam riwayat cerita Babad Nitik Sarta Cabolek, disebutkan bahwa Kota Makkah kemudian geger. Malapetaka yang berupa pagebluk meneror tanah suci. Maut tiba-tiba merajalela, di mana tiap hari banyak orang mati tanpa sebab yang jelas. Para imam berusaha membendung wabah dengan memperbanyak salat dan pengajian. Namun, kematian tak kunjung berhenti. ”Satu-satunya tempat yang tidak kena malapetaka ini yakni Masjidilharam dan orang berbondong mencari perlindungan di dalamnya”. Singkat cerita, Sunan Kalijaga saat salat Jumat di Makkah mendengar malapateka yang sedang terjadi. Iman Supingi menceritakan bahwa kota Mekkah diserang wabah penyakit sejak kedatangan Sultan Agung satu bulan sebelumnya. Sunan Kalijaga berjanji akan memeriksa apakah “cucunya” (Sultan Agung) ada sangkut pautnya dengan pagebluk yang sedang melanda kota Mekkah. “Dan Iman Supingi menitipkan serban hitam bekas milik Nabi Muhammad supaya diberikan kepada Sri Sultan, sambil mengatakan bersedia meminta maaf kepadanya,” tulis Babad Nitik Sarta Cabolek. Begitu kembali ke Jawa, Sunan Kalijaga langsung mendatangi Mataram untuk menghadap Sultan Agung. Dalam pertemuan itu hadir pula Pangeran Purbaya, kakak sultan. Sunan Kalijaga menyampaikan apa yang dikatakan Iman Supingi. Awalnya, Sultan Agung enggan memberi maaf karena masih sakit hatinya. Bahkan, hatinya masih marah. Namun setelah dibujuk Pangeran Purbaya, ditambah adanya hadiah serban hitam, Raja Jawa itu kemudian bersedia memaafkan. Sunan Kalijaga menamai serban hitam hadiah itu Tunggul Wulung. Didampingi Sunan Kalijaga, Sultan Agung lantas bertolak ke Makkah. Saat bertemu Sultan Agung, Iman Supingi menyampaikan permintaan maafnya. Sultan Agung kemudian menyatakan terima kasih kepada Kanjeng Ratu Kidul dan wabah yang menyerang kota Makkah seketika sirna. Di Makkah, Iman Supingi mengizinkan keinginan Sultan Agung untuk mendirikan pesarean. Sunan Kalijaga mengatakan kepada Sultan Agung, rakyat Jawa akan kesulitan memuja Sultan sebagaimana mestinya jika makamnya berada di Makkah. Solusinya, Sunan Kalijaga mengambil segumpal tanah dari pesarean nabi-nabi dan membungkusnya dengan kain. Dengan karamahnya, segumpal tanah itu kemudian dilempar ke Pulau Jawa. ”Sambil menjelaskan kepada Sultan, di mana tanah itu jatuh, di situlah pesarean boleh dibuka”. Gumpalan tanah Mekkah itu jatuh di Gunung Girilaya. Saat Sultan Agung mendatangi lokasi, dia keduluan Sultan Cirebon yang menyatakan ingin bermakam di situ karena tanahnya keramat. ”Silakan, kata Sultan Agung, dan Sultan Cirebon mangkat seketika”. Sultan Agung sudah rela saat meninggal tidak dimakamkan di Makkah. Sunan Kalijaga kemudian kembali melemparkan segumpal tanah. Gumpalan tanah itu jatuh di bukit Imogiri. Di tanah keramat itu, Sunan Kalijaga dengan kesaktiannya membuat mata air memancur dari batu. Di Imogiri tersebut Sultan Agung kemudian mendirikan pesarean raja-raja Mataram Islam dan keluarganya hingga sekarang. (mif) Baca juga :

Read More

Perkuat Dakwah Internasional, MUI Gandeng Uzbekistan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Untuk memperkuat dakwah internasional, Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan bekerja sama dengan Uzbekistan. Hal tersebut disampaikan Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLNKI) Prof Sudarnoto Abdul Hakim usai menerima kunjungan delegasi dari Uzbekistan di kantor MUI Pusat. Selanjutnya MUI akan melakukan kunjungan ke negara tersebut. “Insyaallah bulan September kami akan berkunjung ke Uzbekistan. Ini merupakan salah satu cara MUI untuk mengembangkan program Internasional dan dakwah di luar negeri. Termasuk juga bagian dari diplomasi MUI di tingkat dunia,” terang Prof Sudarnoto pada media, Selasa (29/08/2023). Delegasi yang hadir dalam kesempatan ini yaitu HE Muzaffar Kamilov (Penasihat Presiden Uzbekistan sekaligus rektor International Islamic Academy of Uzbekistan), Muzaffar Abuazimov (Charge d’ Affairs Kedubes Uzbekistan di Indonesia), Sharofiddin Khusenov (Deputi Wali Kota Bukhara), Dr Zokirjon Ruziev (wakil rektor IIAU), Bakhodir Khujaev (Pimpinan Internasional Office IIAU), dan Abdirakhmon Omonkulov. Adapun kunjungan delegasi Uzbekistan ke MUI siang tadi menawarkan beberapa kerja sama, salah satu tawaran tersebut adalah pelatihan imam dan khatib. Prof Sudarnoto menyebut fokus utama kunjungan delegasi tersebut terdapat dalam beberapa bidang. Mereka menawarkan kerja sama dalam pendidikan, fatwa, sertifikasi halal, hingga pelatihan imam dan khatib. “Salah satu tawaran kerja sama dari mereka yaitu pelatihan imam dan khatib. Tawaran ini lahir salah satunya adalah karena Indonesia merupakan negara dengan jumlah Muslim terbesar yang juga memiliki banyak masjid di dalamnya,” urainya. Dia menambahkan bahwa tawaran kerja sama yang disampaikan merupakan konsentrasi yang selama ini MUI geluti. Ia berharap tawaran tersebut nantinya akan berbuah kerja sama yang konkret. “Pihak Uzbekistan meminta bahwa kerja sama nantinya juga dapat melebar ke berbagai bidang seperti ekspor, ekonomi, dan yang lainnya,” ungkapnya. Sementara itu, Muzaffar Kamilov, dalam pertemuan tersebut mewakili Uzbekistan sebagai pembicara yang menawarkan berbagai kerja sama. Hal ini tentunya disambut baik oleh pihak MUI. Selain itu, kegiatan kunjungan ini dihadiri pula oleh beberapa ketua MUI seperti KH Sholahuddin Al Aiyub (Ketua MUI Bidang Ekonomi Syariah dan Halal), KH Yusnar Yusuf Rangkuti (Ketua MUI Bidang Kerukunan Antar Umat Beragama), KH Abdullah Jaidi (Ketua MUI Bidang Pendidikan dan Kaderisasi), KH Cholil Nafis (Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah), serta para anggota Komisi HLNKI. (rid) Baca juga :

Read More

Bongkar Aib Pasangan di Medsos dalam Pandangan Islam

Surabaya — 1miliarsantri.net : Dalam perspektif Islam, ikatan pernikahan bukan sekadar bentuk halal hubungan suami-istri atau sekadar memenuhi kebutuhan fitrah manusia, namun lebih dari itu merupakan ibadah yang disyariatkan. Sebagai bagian dari ibadah, hendaknya suami dan istri saling mencintai, menghormati, dan berusaha memahami serta membantu satu sama lain dalam kehidupan berumah tangga. Kemitraan ini berdiri di atas landasan kesamaan maksud, tujuan, sikap, intuisi dan perasaan. Selain itu, juga sebagai bentuk kerja sama dan solidaritas dalam menyelesaikan segala permasalahan yang timbul dalam kehidupan suami-istri yang dapat diselesaikan antara suami dan istri. Hubungan antara suami dan istri memang unik. Setiap mitra memiliki banyak hak, namun hak tidak datang tanpa tanggung jawab. Dalam Islam, mengurus suami mempunyai kedudukan yang penting. Hal ini disamakan dengan peran Jihad (perang suci di jalan Allah). Sayyidina Ali radhiallahu ‘anhu menyatakan, “Jihad seorang wanita adalah merawat suaminya dengan baik”. Namun belakangan ini, di media sosial banyak ditemukan keluhan para istri terhadap suami. Terkadang jika seorang istri tidak puas dengan pekerjaan atau penghasilan suaminya atau jika ada masalah lain di antara mereka, istri bisa saja mengeluh dan hal ini tidak bijak jika menuliskan hal seperti itu di media sosial. Sebaliknya, terkadang suami mengeluh mengenai perubahan penampilan istrinya setelah menikah maupun tuduhan bahwa istri boros dan sejenisnya. Setiap keluarga mempunyai masalahnya masing-masing, dan setiap masalah pasti ada solusinya. Menebar aib suami atau istri bukan salah satunya. Ketidakpuasan seorang istri terhadap suaminya maupun sebaliknya dapat diatasi dengan berbicara kepada pasangan. Banyak permasalahan yang dapat diselesaikan dengan komunikasi yang baik dan saling pengertian. “Hukumnya tidak boleh. Itu sama saja membuka aib pasangan,” ucap KH Muhammad Zaitun Rasmin kepada 1miliarsantri.net, Selasa (29/08/2023). Dalam hadist dari Abu Sa’id al-Khudriy berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di hari kiamat adalah seorang laki-laki (suami) yang bercampur (bersetubuh) dengan istrinya, kemudian membeberkan rahasia istrinya tersebut”. (HR Muslim) Kemudian larangan membuka aib suami dalam Islam juga didukung oleh hadist, “Tidaklah seorang hamba menutupi (aib) seorang hamba (yang lain) di dunia melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat”. (HR Muslim) Seorang istri dapat mengubah rumahnya menjadi surga yang tinggi atau neraka yang membara. Ia bisa mengantarkan suaminya ke puncak kesuksesan atau ke ampas kesialan. Membicarakan suami di belakang punggungnya adalah tindakan yang tidak loyal. Ketika sudah menikah, kesetiaan pertama adalah kepada suami, bukan kepada keluarga atau kelompok sosial. Namun jika ada masalah yang memang membutuhkan penengah, maka diperbolehkan untuk menghubungi. “Boleh diceritakan kepada yang dipercaya dapat menyelesaikannya. Lebih baik jika dari keluarga. Tapi yang bukan keluarga pun boleh, asalkan amanah dan tidak membuka rahasia pada yang lain,” pungkas Ustadz Zaitun. (har) Baca juga :

Read More

Prancis Akan Melarang Pemakaian Abaya atau Gaun Panjang

Paris — 1miliarsantri.net : Pemerintah Prancis akan melarang pemakaian abaya atau gaun panjang yang kerap dikenakan perempuan muslim di sekolah. Menteri Pendidikan Prancis, Gabriel Attal, beralasan abaya melanggar hukum sekuler yang ketat dalam bidang pendidikan. “Tidak mungkin lagi mengenakan abaya di sekolah,” Attal mengatakan kepada televisi TF1, dikutip Selasa (29/08/2023). Attal mengatakan akan menerbitkan peraturan yang jelas kepada para kepala sekolah secara nasional mulai 4 September 2023 mendatang. Larangan ini dilakukan usai perdebatan panjang di tingkat parlemen akan penggunaan abaya di sekolah-sekolah Prancis. Sebelumnya negara ini telah lama melarang penggunaan hijab di sekolah. Sejumlah laporan akan banyaknya penggunaan abaya memicu ketegangan di sekolah antara guru dan orang tua. “Sekulerisme berarti kebebasan untuk membebaskan diri melalui sekolah,” kata Attal, seperti dikutip Arab News, Selasa (29/08/2023). Ia menggambarkan abaya sebagai simbol keagamaan, yang bertujuan menguji perlawanan republik terhadap perlindungan sekuler. “Masuk ke dalam kelas, tidak boleh bisa mengidentifikasi agama siswa hanya dengan melihatnya,” ujarnya. Pada Maret 2004, Prancis mengeluarkan undang-undang yang melarang mengenakan simbol agama apa pun di sekolah. Larangan ini termasuk pengenaan salib besar, kippa Yahudi, dan jilbab. Namun berbeda dengan hijab, abaya berada di wilayah abu-abu yang hingga saat ini belum ada larangan sama sekali. Pengumuman ini merupakan langkah besar pertama yang dilakukan Attal, sejak ia dipromosikan musim panas ini untuk menangani portofolio pendidikan yang kontroversial. Bersama Menteri Dalam Negeri Gerald Darmanin, ia disebut sebagai bintang baru potensial yang berperan penting setelah Macron mundur pada 2027 nanti. (bar/AP) Baca juga :

Read More

Keutamaan Menempati Shof Terdepan dalam Sholat Berjamaah

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Sebagaimana diketahui dimana jamaah shalat yang menempati urutan shaf terdepan akan mendapatkan keutamaan dibandingkan lainnya. Hal ini telah disampaikan oleh Rasulullah SAW sebelumnya, seperti apa keutamaannya? Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصُّفُوفِ الْمُتَقَدِّمَةِ “Allah dan para Malaikatnya bershalawat pada orang-orang yang berada di shaf-shaf terdepan” (HR. An Nasa-i no. 810. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa-i). Di samping itu, dalam riwayat lain disebutkan: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الأَوَّلِ “Allah dan para Malaikatnya bershalawat pada orang-orang yang berada di shaf pertama” (HR. Ahmad no.18152, Ibnu Majah 825) Rasullah SAW menganjurkan umatnya untuk sholat tepat waktu, berjamaah di Masjid. Banyak fadilah bagi siapa saja yang istiqomah sholat berjamaah di masjid, salah satunya dia akan memiliki cahaya di atas cahaya. “Jika seorang muslim menjaga salat berjamaah maka dia akan memiliki cahaya di atas cahaya. Apabila salat berjamaah dilaksanakan di masjid maka akan sempurna cahayanya, sehingga keberuntungan dan ke bagian akan dirinya,” tulis Dr Musthafa Dieb Al-Bugha Syekh Muhyidin Mistu dalam kitabnya “Al-Wafi, Syarah Hadist Arba’in Imam An-Nawawi.” Orang yang sholat berjamaah, dia akan masuk surga bersama muqarrabin dan orang-orang baik. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang sholat lima waktu secara berjamaah, maka dia akan melewati shirat (jembatan) seperti kilat yang berkilau, dia berada dalam golongan As-Sabiqun (para pendahulu). Pada hari kiamat, dia datang dengan wajah bagaikan bulan di malam purnama” (Riwayat Ath-Thabarani). (yus) Baca juga :

Read More