Ciri-ciri Orang Lalai Dalam Melakukan Sholat

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Shalat adalah tiang agama Islam. Setiap Muslim wajib mendirikan shalat minimal 17 rakaat dalam lima waktu setiap harinya. Keutamaan ibadah tersebut didapat bila kita tidak lalai dalam shalat. Allah SWT berfirman dalam surah Al Ma’un ayat 4 yang berbunyi, “Celakalah orang yang shalat”. Seruan ini ditujukan bagi mereka yang lalai dalam shalat. Lalu, apa ciri-ciri dari orang yang lalai dalam shalatnya? Imam Ibnu Qayyim menyebut sejumlah ciri orang yang lalai dalam shalat, yaitu. Aa Gym mengatakan, ciri pertama ini dimiliki orang munafik yang menganggap shalat adalah beban dan berat dijalankan. “Ketika orang lain tidak mengetahui dia cenderung tidak mau shalat dan dia suka ingin diketahui oleh orang lain bahwa dia melaksanakan shalat,” kata Aa Gym dalam salah satu kajiannya. Padahal, Allah Ta’ala mencintai orang yang shalat di awal waktu, “ash-shalatu’ ala waqtiha”. Gerakan yang dilakukan dengan cepat tidak dengan tu’maninah sehingga tidak ada kenikmatan dalam menikmati bacaan juga gerakan shalat. Semakin panjang bacaan Imam ketika shalat maka lamunan dan perencanaan dalam pikirannya akan semakin panjang. Sehingga mengingat hanya Allah semakin sedikit. (yus) Baca juga :

Read More

Pemerintah Indonesia Studi Banding ke Lembaga Tabung Haji Malaysia

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pemerintah Indonesia melakukan kegiatan studi banding ke Lembaga Tabung Haji Malaysia. Kunjungan yang dilakukan Kementerian Agama (Kemenag), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK RI) dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) ini bertujuan mencari praktik terbaik, sebagai kriteria Pemeriksaan Kinerja atas Pelaksanaan Ibadah Haji 1444 H/2023 M. Selain untuk tujuan itu, Auditor BPK RI Ahmadi Nur Supit menyebut kunjungan ini juga mengagendakan sesi berbagi (sharing session), terkait penyelenggaraan ibadah haji dan pengelolaan keuangan haji sebagai objek tolak ukur atau benchmarking. “Kami mengagendakan benchmarking ke Lembaga Tabung Haji Malaysia, sebagai sharing session terkait penyelenggaraan ibadah haji dan pengelolaan keuangan haji sebagai objek benchmarking,” ujarnya dalam keterangan yang diterima 1miliarsantri.net Jumat (08/09/2023). Mengingat kegiatan ini berkaitan dengan penyelenggaraan haji, maka pihaknya mengajak Kemenag dan BPKH sebagai lembaga yang menyelenggarakan ibadah. Penyelenggaraan haji di kedua negara ini disebut mempunyai sistem yang berbeda. Untuk Indonesia, biaya penyelenggaraan haji masih dibebankan pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang dikelola setiap tahun dan hasil dari nilai manfaat yang dikelola BPKH. Tidak hanya itu, terkait kontrak layanan di Tabung Haji dilakukan perjanjian dengan penyedia layanan di Arab Saudi sudah 3-5 tahun sebelumnya. Sedangkan untuk kontrak perjanjian Indonesia dengan penyedia layanan di Arab Saudi, dilakukan pada saat tahun berjalan. “Apakah dimungkinkan kita dapat melakukan perjanjian seperti itu? Nanti kita akan cari solusinya, maka itu BPK memfasilitasi pertemuan ini. Ke depannya, pengalaman yang didapat dari Tabung Haji ini bisa memberikan suatu yang positif dan akan menjadi contoh pada perbaikan haji kedepan,” sambungnya. Sementara itu, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kemenag, Subhan Cholid, menyampaikan pada penyelenggaraan haji Tahun 1444H/2023M ini ada kesamaan yang menimpa jamaah saat berada di Masyair (Arafah, Muzdalifah dan Mina). Pemerintah Indonesia dan Malaysia pun disebut sudah berdiskusi panjang terkait kejadian di Masyair ini. Ia berharap dengan pertemuan ini dapat dicari solusi, agar kejadian yang menimpa jamaah haji ini tidak terulang kembali. “Arab Saudi sudah terlena karena pada tahun 2022, yang jamaahnya hanya 46 persen dan tidak ada masalah sama sekali. Sehingga pada musim haji tahun 2023 ini dinilai akan sama dengan kondisi jamaah tahun 2022, yang akhirnya mereka lalai untuk melalukan mitigasi,” tukas Subhan. Terkait istitha’ah kesehatan, pihaknya akan belajar dengan Malaysia yang angka kematian jamaahnya tergolong kecil. Di musim haji tahun depan, Kemenag berencana akan merubah pola keberangakatan jamaah. “Yang ini kami perlu belajar dengan Malaysia. Konon angka kematiannya itu kecil, karena pemeriksaannya ketat sejak di Tanah Air. Tahun ini (Indonesia) pemerikasan kesehatan akan dilakukan sebelum pelunasan dan akan segera dibahas oleh DPR. Jadi yang tidak lolos kesehatan tidak diizinkan pelunasan biaya haji,” pungkasnya. (rid) Baca juga :

Read More

Pelaksanaan Haji 2024, Nigeria Mendapatkan Kuota 95 Ribu Jamaah

Riyadh — 1miliarsantri.net : Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mengumumkan persiapan haji 2024 dengan alokasi kuota jamaah. Nigeria telah mendapatkan 95 ribu kuota jamaah. Nigeria diberikan kuota dalam jumlah besar karena kemampuannya untuk menghabiskan alokasi yang sama yang dikeluarkan pada tahun 2023. Ketua Komisi Haji Nasional (NAHCON) Alh. Zikrullah Hassan mengumumkan alokasi kuota jamaah haji tahun 2024 saat melakukan pertemuan dengan kepala badan jamaah haji negara dan pimpinan operator tur di Abuja, sebagaimana dilansir The Guardian, Kamis (04/09/2023). Dengan keluarnya alokasi nasional, Alh. Hassan mengisyaratkan bahwa komisi haji kemudian menyetujui alokasi 71 ribu kuota jamaah ke 36 negara bagian. Adapun rinciannya yaitu Kaduna 6.004; Kano 5.934; Sokoto 4.996; Kebbi 4.752; Katsina 4.513 dan FCT 4.368. Di Barat Daya, Lagos mendapat bagian terbesar sebesar 3.517; Osun 1.764; Oyo 1.386; Ogun 1.191; Ondo 491 dan Ekiti memiliki alokasi daftar 246. Demikian pula Edo memiliki 412; Lintas Sungai 67; Saya 199; Delta 64; Bayelsa 58; Anambra 15 sedangkan Enugu mendapat 14 slot jamaah. Abia dan Akwa-Ibo tidak mendapat alokasi. Hasan mengungkapkan, calon jamaah haji harus memperkirakan tingginya biaya haji 2024 yang wajar mengingat sifat nilai tukar mata uang asing yang berfluktuasi terhadap mata uang lokal. Hassan mencatat, meskipun penyelenggaraan ibadah haji akan ditentukan oleh nilai tukar dolar, biaya pameran udara dan layanan di Arab Saudi juga akan memainkan faktor utama dalam keseluruhan biaya haji 2024. “Otoritas Saudi telah mengumumkan bahwa penerbitan visa bagi calon jamaah haji akan ditutup 40 hari sebelum tanggal Arafah. Dia juga mengingatkan pengelola haji bahwa era keterlambatan masuk dan konsesi kepada VIP telah berakhir,” terangnya. Ibadah haji 2024 akan berbeda dari sebelumnya karena dimensi baru yang diperkenalkan. Untuk ibadah haji tahun depan, penerbitan visa akan ditutup 40 hari sebelum Arafah. Berbeda dengan tradisi kami di mana kami akan mengeluarkan visa untuk VIP beberapa hari ke Arafah. “Dengan alokasi kuota jamaah ke negara bagian, maka persiapan telah dimulai. Karena itu, kami masih mengatasi beberapa tantangan yang dihadapi selama haji terakhir di bidang terbatasnya ruang dan kekurangan makanan di Muna, kami telah menulis pengaduan resmi yang meminta pengembalian dana dan permintaan maaf,” tutupnya. (dul) Baca juga :

Read More

Indologi, studi mengenai India, dirintis oleh ilmuwan Muslim bernama al-Biruni.

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : George Sarton dalam magnum opus-nya, Introduction to the History of Science, memuji sosok al-Biruni. Ilmuwan Muslim serba bisa dari abad ke-10 M itu dipandangnya turut meletakkan tonggak penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan, serta merintis era modern. “Semua pasti sepakat bahwa al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman,” tulis profesor Harvard University itu. Tokoh ini bernama lengkap Abu Rayhan Muhammad bin Ahmad al-Biruni. Ia lahir pada tahun 362 H/973 M di Beruniy, sebuah distrik region Asia tengah. Pada masa itu, daerah tersebut termasuk wilayah Negeri Khwarazmi—kini Republik Uzbekistan. Salah satu peran penting al-Biruni terletak pada upaya merintis Indologi. Sebutan ini mengacu pada kajian ilmiah mengenai Anak Benua India. Saat berusia 44 tahun, al-Biruni mendampingi Sultan Mahmud Ghazni dalam ekspedisi ke Anak Benua India. Kala itu, raja tersebut baru saja mendirikan ibu kota baru bagi negerinya, Ghaznawiyah, di Kabul (kini Afghanistan). Kepergian sang sultan ke India tentunya bertujuan meneguhkan ekspansi wilayahnya. Bagaimanapun, al-Biruni memiliki agenda yang agak berbeda. Saintis tersebut menggunakan kesempatan ini untuk melakukan studi lapangan mengenai masyarakat dan kebudayaan India. Ia juga mulai belajar menguasai Sanskerta, yakni bahasa kebanyakan masyarakat setempat. Perjalanan selama beberapa tahun itu membuahkan karya, Kitab fii Tahqiq maa li’l Hind min Ma’qulatin fil ‘Aql aw Mardhula (Kajian atas Hal yang Disampaikan Masyarakat India, Baik Rasional Maupun yang Tertolak). Dengan menulis buku ini, al-Biruni membuka jalan bagi Indologi sebagai sebuah studi keilmuan baru. Ia tetap menegakkan kaidah-kaidah ilmiah dalam menyelidiki kebudayaan setempat. Dalam arti, subjek masyarakat didekatinya tanpa menaruh prasangka terlebih dahulu (free of prejudices). Karena itu, kecenderungannya selalu objektif dan imparsial dalam menulis. Dalam menulis buku tersebut, al-Biruni menerapkan metode kronologis. Ia pun mengkritik cara sejumlah cendekiawan India pada masanya yang kurang begitu tertarik pada penulisan sejarah yang rasional, objektif, dan merujuk pada urutan waktu terjadinya peristiwa-peristiwa historis. “Sayangnya, orang-orang India tidak begitu memerhatikan urut-urutan (peristiwa) sejarah. Mereka kurang hati-hati dalam menghubungkan secara kronologis, misalnya, suksesi kepemimpinan raja-rajanya. Saat dicecar mengenai informasi atau gagap menjelaskan (mengenai sebuah peristiwa masa lalu –Red), mereka cenderung akan mendongeng,” tutur al-Biruni dalam karyanya, Kitab fii Tahqiq maa li’l Hind, seperti dinukil dari MS Khan dalam artikelnya, “Al-Biruni and the Political History of India” (1976). Para peneliti pada era modern memuji al-Biruni. Sebab, dirinya begitu teliti dalam memilah antara yang fakta dan yang fiksi ketika mempelajari kultur masyarakat India. Ketelitian itu tentu lebih jelas ketika sang sarjana Muslim melakukan riset non-humaniora, semisal fisika, astronomi, atau matematika. Karena itu, banyak sejarawan mengakuinya sebagai peletak dasar metode ilmiah. Menurut al-Biruni, metode yang tepat untuk menulis historiografi, di samping kronologi, adalah komparasi. Peradaban India pun dibandingkannya dengan peradaban atau kebudayaan lain yang pernah dipelajarinya, semisal Yunani Kuno, Persia pra-Islam, Kristen, atau Yahudi. Dalam pengamatannya, kebudayaan India tidak jauh berbeda dengan beberapa tradisi tersebut. Umpamanya, panteisme yang ditemukan dalam kepercayaan Hindu, juga tampak indikasinya dalam tradisi Yunani. Fenomena kasta yang diterapkan masyarakat India ditemukan pula polanya dalam Persia. Keduanya meyakini bahwa manusia terbagi ke dalam strata sosial sejak lahir. Tentunya, al-Biruni tidak melewatkan topik sumbangsih peradaban India bagi khazanah ilmu secara global. Contohnya, sistem angka India, anka, yang dibaca secara deretan—dari kiri ke kanan. Ia menilai, sistem numeral itu jauh lebih praktis dibandingkan sistem bilangan Romawi. Selama mengikuti misi Sultan Mahmud di India, al-Biruni tidak meninggalkan kegiatan penelitiannya dalam bidang sains alam. Ia menemukan berbagai metode untuk, antara lain, mengukur ketinggian matahari serta keliling dan radius bumi. Astronom yang juga ahli geografi tersebut juga memperkenalkan pembagian jam ke dalam perhitungan 60-an (sexagesimal), yakni menit dan detik. Sebagai fisikawan, dirinya selalu mengandalkan eksperimen. Misalnya membuktikan berat jenis benda-benda walaupun dalam beberapa hal teorinya masih cenderung mendukung Aristotelian. Al-Biruni merupakan seorang ilmuwan multitalenta (polymath) yang penuh dedikasi. Mahmud mengistimewakannya di antara para cerdik cendekia di lingkungan istana. Salah satu karyanya adalah Al-Qanun al-Mas’udi. Buku yang ditulisnya dalam bahasa Arab itu menghimpun berbagai pemikirannya tentang ilmu falak, geografi, dan teknik sipil. Seperti tampak pada judulnya, buku tersebut dipersembahkannya untuk reputasi sang raja Ghaznawiyah. Sebagai balasan, sang sultan memberikannya koin perak sebanyak bobot yang bisa diangkut seekor gajah. Akan tetapi, hadiah itu ditolaknya dengan halus seraya menyebutkan kebaikan-kebaikan yang sudah diperolehnya dari negara. Pada 1030 M, Sultan Mahmud meninggal dunia. Kedudukan penguasa ini digantikan oleh pangeran yang bernama Muhammad. Dalam masa pemerintahan raja-baru tersebut, al-Biruni menyelesaikan sebuah karyanya untuk bidang geologi, Al-Jamahir fii Ma’rifat al-Jawahir. Beberapa bulan sebelum wafat, sarjana ini menerbitkan buku tentang ilmu medis, Kitab al-Sadala fi’l Thibb. Menurut Riaz Ahmad dalam “Al-Biruni: A Great Muslim Scientist, Philosopher and Historian (973-1050 AD)”, jumlah karya yang dihasilkan al-Biruni di sepanjang hayatnya mencapai 180 judul. Dari total tersebut, sebanyak 103 judul diterbitkan pada masa hidupnya. Terlepas dari itu, pada 1948 M sekelompok peneliti menghimpun 15 naskah peninggalan al-Biruni perihal astronomi dan matematika ke dalam buku Rasa’il al-Biruni. Sang saintis terus menginspirasi di lintas zaman. Banyak pihak merayakan legasinya. Pada 1986, sebuah kawah di bulan dinamakan “9936 al-Biruni.” Gugusan pulau di dekat Antartika pun diberi nama Kepulauan Biruni. Di Iran, tanggal kelahiran sang “guru banyak ilmu”, 4 September, ditetapkan sebagai hari persatuan insinyur survey. Al-Biruni berpulang ke rahmatullah pada 1050 M di Ghazna. Dirinya meninggalkan banyak maslahat untuk dunia menuju era modern. (yus) Baca juga :

Read More

Santri Pesantren Al Hikmah 2 Brebes Juara Runner Up Kompetisi Internasional Debat Bahasa Arab di Qatar

Jakarta — 1miliarsantri.net : Prestasi santri Indonesia kembali teruji di kancah internasional. Kali ini santri Madrasah Aliyah (MA) Pesantren Al Hikmah 2 (Malhikdua), Brebes menjadi runner up perhelatan International School Debating Championship 2023 (ISDC). Ajang ini berlangsung di Education City Doha, Qatar, 2-4 September 2023. ISDC 2023 adalah kompetisi debat Bahasa Arab kasta tertinggi dalam kancah internasional yang diadakan oleh Qatar Debate yang merupakan bagian dari Qatar Foundation. Delegasi Malhikdua berangkat ke Doha setelah lolos babak penyisihan yang digelar secara daring, 6 – 7 Mei 2023 lalu. Delegasi yang diturunkan Malhikdua terdiri atas empat siswa dan satu guru pembimbing. Mereka mewakili Indonesia pada kompetisi tersebut. Pada Semi Final, Indonesia masuk pada kategori penutur Bahasa Asing/Arabic as Foreign Language (AFL) bersama Malaysia, Singapura, dan Kazakhstan. Namun demikian, dalam kategori ini, para peserta masih bisa berjumpa dengan negara penutur asli/native. Pada babak pertama, Indonesia bertemu dengan Tunisia sebagai negara penutur asli. Tim Indonesia harus mengakui keunggulan tim Tunisia. Pada ronde kedua dan ketiga, Indonesia berhasil mengalahkan tim Malaysia dan Singapura sehingga mengantarkannya ke Final. Babak Final diikuti oleh tim Indonesia dan Singapura. Sebab, tim dari dua negara inilah yang mendapatkan nilai tertinggi pada babak sebelumnya. Indonesia dengan perolehan nilai tertinggi dan Singapura urutan kedua. Tema debat yang diangkat pada babak final berhubungan dengan teknologi digital dan politik. Persisnya, berkenaan larangan bagi perusahaan sosial media untuk menyediakan akun-akun para pejabat dan politikus. Mosi ini baru diberikan 20 menit sebelum debat dimulai. Sehingga, kedua tim harus jeli dalam menelaah dan menganalisis sesuai dengan problematika internasional dari sisi perpolitikan yang terjadi saat ini. Hasilnya, wakil Indonesia harus puas dengan perolehan runner up, meski Singapura sempat dikalahkan pada semifinal. “Hasil ini merupakan kerja sama tim yang sangat luar biasa sehingga bisa sampai final. Ini juga tidak terlepas dari upaya para siswa dan dewan guru Malhikdua, baik ikhitar lahir maupun batin. Kami cukup puas dan bangga dengan perolehan ini,” terang Sutanto, Lc guru pembimbing melalui pesan singkat dari Doha, Kamis (07/09/2023). Guru lulusan Universitas Al Azhar Cairo tersebut juga menuturkan bahwa keikutsertaan Malhikdua dalam kompetisi ini merupakan mimpi besar Malhikdua dari tahun 2017. Sebelumnya, tim Malhikdua meraih posisi III pada Debat Bahasa Arab Tingkat ASEAN di International Islamic University Malaysia (IIUM) di Kuala Lumpur Malaysia. “Malhikdua selalu punya mimpi besar, salah satunya prestasi internasional yang perlu dicapai dalam bidang bahasa, di samping prestasi internasional bidang sains dan teknologi. Prestasi yang lahir dari Qatar ini akan menjadi batu loncatan untuk bisa terus meraih prestasi lainnya. Kami tidak akan berhenti untuk bermimpi, walaupun saat ini baru bisa di runner up,” lanjutnya. Mewakili Tim Debat Malhikdua, Ajid Maulana Izza mengaku bahwa kompetisi ini mempunyai feedback yang sangat banyak sekali. “Ini pertama kalinya saya berpergian ke luar negeri. Dan sekali ke luar negeri tidak tanggung-tanggung menjadi wakil Indonesia di Doha Qatar. Wah, Qatar negara Timur Tengah sangat maju sekali bidang pendidikan dan teknologinya, paling tidak ini memotivasi kami selaku siswa Program Keagamaan untuk bisa studi lanjut di universitas Qatar atau Timur Tengah lainnya. Saya dan teman-teman tetap merasa bangga atas capaian ini, membawa harum bangsa Indonesia di ajang bergengsi Internasional,” kenangnya. (wink) Baca juga :

Read More

Cucu Pangeran Antasari ini Sangat Tangguh Melawan Belanda

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Ratu Zaleha atau Djaleha lahir di Muara Lawung, tahun 1880. Dia adalah putri dari Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari, yang gigih berjuang mengusir Belanda dalam Perang Banjar, melanjutkan perjuangan Pangeran Antasari. Sejak kanak-kanak, Zaleha telah merasakan getirnya perjuangan bersama ayahnya dan kakeknya melawan penjajah Belanda. Saat ditinggal mati kakeknya, Pangeran Antasari, Zaleha sangat kehilangan. Ketika beranjak dewasa, Zaleha bersama ayahnya gencar mengusir penjajah dan selalu dikejar-kejar Belanda sampai masuk hutan ke luar hutan. Sebelum ayahnya meninggal, Gusti Zaleha diberi cincin kerajaan dari ayahnya. Sejak itu pula dia menggantikan ayahnya sebagai Sultan dan Pemimpin Perang Tertinggi, lalu diberi gelar Ratu Zaleha. Bersama sang suami, Gusti Muhammad Arsyad, Zaleha melanjutkan perjuangan ayahnya. Ratu Zaleha dapat menghimpun kekuatan dari suku-suku Dayak Dusun, Kenyah, Ngaju, Kayan, Siang, Bakumpai, Suku Banjar. Dia berjuang bersama seorang wanita pemuka Dayak Kenyah bernama Bulan Jihad atau Wulan Djihad. Ada juga nama Illen Masidah dan lain-lain. Selama masa perjuangan fisik, Ratu Zaleha bersama Bulan Jihad juga memberikan pelajaran baca tulis (Arab Melayu) dan ajaran agama Islam kepada anak-anak Banjar. Keduanya juga memberi penyuluhan kepada perempuan-perempuan Banjar tentang peranan perempuan, ajaran agama Islam, dan ilmu pengetahuan. Ratu Zaleha sangat murka ketika suami dan pasukannya dilumpuhkan Belanda. Suaminya ditangkap, lalu diasingkan ke Buitenzorg atau Bogor pada 1 Agustus 1904. Zaleha tidak patah arang. Bersama pengikutnya, dia membangun pertahanan di Benteng Manawing dan Tambang Batu Bara Oranje Nassau untuk mengadang gempuran pasukan Belanda yang memiliki persenjataan lengkap. Meski menderita kelelahan fisik dan batin luar biasa karena menjadi buruan Belanda, Ratu Zaleha menolak menyerah. Ia terus melawan. Bahkan, senjata kelewang Ratu Zaleha disebut pernah memotong leher serdadu Belanda dalam suatu pertempuran di Barito. Anggraini Antemas dalam artikelnya di Harian Utama edisi 26 September 1970 yang berjudul “Mengenang Kembali Perjuangan Pahlawan Puteri Kalimantan Gusti Zaleha” menyebutkan, dalam suatu medan perang di lembah Barito, Ratu Zaleha terkepung pasukan Belanda. Hutan di sekitarnya dibakar oleh pasukan Belanda hingga menjadi lautan api. Di bawah desingan peluru dan kepungan api yang membakar, Ratu Zaleha keluar mempertahankan hidupnya yang terakhir. Rambutnya yang cukup panjang dan disanggul rapi telah putus dilanda peluru. Lengannya yang kiri ditembus pula oleh peluru yang lain sehingga badannya bergelimang merah darah. Baju dan celana compang-camping, darahnya mengalir membasahi tubuh, namun air matanya tak pernah jatuh setetes pun menyesali perbuatannya itu. Wasiat almarhum ayah dan suaminya sebelum masuk perangkap Belanda tetap dipegang teguh. Namun, pada tahun 1906, Ratu Zaleha ditangkap Belanda di salah satu rumah penduduk di Banjarmasin. Konon, pemilik rumah telah bersekongkol dengan Belanda. Zaleha akhirnya menyerahkan diri. Saat itu, fisiknya lemah dan salah satu lengannya terkena tembakan Belanda saat bergerilya di hutan sebelum ia bersembunyi di rumah penduduk. Setelah tertawannya Ratu Zaleha, berakhirlah Perang Banjar yang dimulai tahun 1859. Belanda dengan leluasa menjajah bumi Kalimantan ini. Setelah Zaleha ditangkap, ia diasingkan ke Bogor dan bertemu dengan suaminya. Kurang lebih 31 tahun Zaleha dan keluarganya hidup di pengasingan. Di masa tuanya, Ratu Zaleha kembali ke kampung halaman. Dia meninggal 23 September 1953 dan dimakamkan di Kompleks Makam Raja-Raja Banjar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. (mif) Baca juga :

Read More

KH Abdul Wahab Abdul Gafur : Berharap Perda Haji Mempermudah Jamaah Haji Persiapan Pelaksanaan Haji

Manado — 1miliarsantri.net : Tokoh Agama Islam sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Utara, KH Abdul Wahab Abdul Gafur mengatakan pihak legislatif dan eksekutif berperan penting dalam mewujudkan peraturan daerah (perda) haji di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). “Kami berharap pihak legislatif dan eksekutif serta semua elemen masyarakat di Sulawesi Utara untuk mendukung dan mengambil langkah-langkah penting agar Perda ini segera terwujud demi kemaslahatan banyak orang,” ujar Abdul, di Manado, Kamis (07/09/2023). Terobosan ini sangat baik dan berharap semua pihak terutama pemerintah dan DPRD Sulawesi Utara untuk merespon dan menindaklanjuti inisiatif yang baik ini. Abdul mengatakan bagi tim efektif atau tim penyusun naskah akademik dan rancangan peraturan daerah tentang Standardisasi Biaya Lokal Penyelenggaraan Haji Melalui Peraturan Daerah lakukan dengan baik. Abdul menambahkan bahwa selain sebagai pelaksanaan terhadap amanat UU No 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji. Keberadaan peraturan daerah tentang standarisasi biaya lokal haji juga menjadi bagian dari praktik manasik haji yang mempermudah jamaah dan pemerintah daerah sehingga penyelenggaraan haji di Sulawesi Utara makin baik. “Kami mendukung sepenuhnya inisiatif yang diambil Pak Kakanwil Kemenag Sulut H Sarbin Sehe untuk mendorong lahirnya peraturan daerah tentang standarisasi biaya lokal haji di Sulawesi Utara. Hal ini sebagai bagian dari praktik manasik yang mempermudah jamaah dan pemerintah dalam penyelenggaraan ibadah haji,” pungkasnya. (pur) Baca juga :

Read More

Sekolah di Prancis Pulangkan Ratusan Siswi Karena Tetap Memakai Abaya

Paris — 1miliarsantri.net : Beberapa sekolah di Prancis terpaksa memulangkan puluhan siswi nya lantaran menolak mengganti abaya saat masuk kelas pada hari pertama tahun ajaran baru, Senin (04/09/2023). Menteri Pendidikan Prancis Gabriel Attal mengatakan, sebanyak hampir 300 siswi melanggar aturan yang melarang pakaian yang dianggap sebagai simbol agama ke sekolah. Attal menyebut, sebagian besar siswi setuju untuk mengganti abaya, namun 67 siswi lainnya menolak dan dipulangkan. “67 tujuh dari mereka menolak melepaskan abaya. Saya tidak ingin dapat mengidentifikasi agama siswa di sekolah hanya dengan melihat pakaian mereka,” ungkap Attal, sebagaimana dikutip dari Anadolu, Rabu (06/09/2023). Sebelumnya, pemerintah Prancis telah mengumumkan pelarangan abaya di sekolah-sekolah dengan alasan hal itu melanggar aturan sekularisme dalam pendidikan yang telah melarang penggunaan jilbab yang dinilai sebagai bentuk afiliasi agama. Kebijakan ini merupakan ‘angin segar’ bagi kelompok sayap kanan. Namun, kelompok sayap kiri berargumentasi bahwa tindakan tersebut merupakan penghinaan terhadap kebebasan sipil. Menteri berusia 34 tahun itu mengatakan siswi yang menolak masuk pada hari Senin (04/09/2023) diberikan surat yang ditujukan kepada keluarga mereka yang mengatakan bahwa “sekularisme bukanlah sebuah kendala, melainkan sebuah kebebasan.” Attal juga menekankan pentingnya dialog dan menjelaskan tujuan aturan ini. Jika kejadian serupa muncul lagi, Attal memastikan adanya dialog baru. Belum lama ini, pemerintah Prancis melarang penggunaan abaya di sekolah. Menteri Pendidikan Gabriel Attal mengungkapkan busana yang dikenakan oleh sebagian perempuan Muslim itu melanggar hukum sekuler Prancis di bidang pendidikan. “Tidak mungkin lagi mengenakan abaya di sekolah,” lanjutnya. Pakaian tersebut semakin banyak dikenakan di sekolah-sekolah, sehingga menyebabkan perpecahan politik di mana kelompok sayap kanan telah mendorong pelarangan tersebut, yang menurut kelompok kiri menilai hal tersebut melanggar kebebasan sipil. Ada laporan tentang semakin banyaknya penggunaan abaya di sekolah dan ketegangan di sekolah terkait masalah antara guru dan orang tua. “Sekularisme berarti kebebasan untuk membebaskan diri melalui sekolah. Masuk ke kelas, tidak boleh bisa mengidentifikasi agama siswa hanya dengan melihatnya,” kata Attal, sambil menggambarkan abaya sebagai isyarat keagamaan, yang bertujuan untuk menguji perlawanan republik terhadap perlindungan sekuler yang harus dimiliki sekolah. Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menekankan komitmen terhadap prinsip sekularisme dalam sistem pendidikan negaranya. Sikap ini diambil menyusul pengumuman Menteri Pendidikan Prancis Gabriel Attal baru-baru ini tentang larangan pakaian keagamaan di sekolah-sekolah negeri, termasuk abaya, yang dikenakan oleh wanita Muslim. “Sekolah di negara kami gratis dan wajib, namun bersifat sekuler. Karena kondisi itulah yang memungkinkan adanya kewarganegaraan. Oleh karena itu, simbol-simbol agama apapun tidak mempunyai tempat di dalamnya,” pungkas Macron. (mar/AP)

Read More

Kisah Musailamah Mengaku Nabi

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Suatu ketika, Musailamah al-Kazzab di hadapan baginda Nabi Muhammad SAW sudah mengaku sebagai Nabi. Setelah baginda Nabi Muhammad SAW wafat, ulah Musailamah al-Kazzab semakin menjadi-jadi. Ketika itu orang-orang Arab banyak yang murtad dari lslam, maka Musailamah al-Kazzab semakin mendapatkan kekuatan. Sehingga Sayyidina Abu Bakar As-Shidiq Radhiyallahu ‘anhu semakin memeranginya. Allah SWT memberi kekuatan kepada lslam dan Musailamah dapat dibunuh. Akan tetapi, pada pertempuran itu, satu shahabat Nabi Muhammad SAW mati syahid, termasuk para hafizh Alquran. Sayyidina Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Amirul Mukminin Abu Bakar, “Dalam pertempuran itu banyak para hafizh Alquran yang syahid. Aku khawatir jika ada pertempuran lagi, akan semakin banyak hafizh Alquran yang mati syahid, dan dikhawatirkan akan banyak bagian Alquran yang hilang. Untuk itu, sebaiknya Alquran ditulis di satu mushaf, agar selamat dan terjaga.” Abu Bakar berkata, “Bagaimana aku berani mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh baginda Rasulullah SAW?” Namun Umar bin Khattab terus mendesaknya dan menyampaikan pentingnya mengumpulkan Alquran. Akhirnya, Abu Bakar menyetujui usul Umar bin Khattab. Maka Abu Bakar memanggil Sayyidina Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu. Zaid bin Tsabit bercerita, “Aku datang kepada Abu Bakar, sedangkan Umar bin Khattab sudah berada di sana.” Kemudian Abu Bakar menceritakan pembicaraannya dengan Umar bin Khattab mulai dari awal sampai akhir. Setelah itu Abu Bakar berkata, “Kamu seorang pemuda yang cerdas, orang-orang sangat mempercayai kamu, dan tidak ada yang bersangka buruk terhadap kamu. Selain itu, kamu termasuk penulis wahyu pada zaman baginda Rasulullah SAW. Oleh sebab itu, kumpulkanlah Alquran yang ada pada orang-orang dan tulislah di satu mushaf.” Zaid bin Tsabit menjawab, “Demi Allah, seandainya aku diperintahkan memindahkan sebuah gunung dari suatu tempat ke tempat lain, hal itu lebih mudah bagiku daripada harus mengumpulkan Alquran.” Zaid bin Tsabit berkata kepada Abu Bakar dan Umar bin Khattab, “Mengapa hal itu harus dilakukan, padahal baginda Rasulullah SAW tidak pernah melakukannya?” Abu Bakar dan Umar bin Khattab terus memberikan pemahaman kepada Zaid bin Tsabit sampai menerimanya. Menurut sebuah riwayat, Abu Bakar berkata kepada Zaid bin Tsabit, “Jika kamu menyetujui pendapat Umar, maka aku akan memerintahkannya. Jika kamu tidak setuju, maka aku tidak berniat memerintahkannya.” Zaid bin Tsabit bercerita, “Setelah lama membahasnya dengan Abu Bakar dan Umar bin Khattab, akhirnya Allah SWT membukakan hatiku untuk mengumpulkan Alquran menjadi satu. Untuk menunaikan perintah itu, aku mencari dan mengumpulkan Alquran yang tertulis di tempat yang terpisah-pisah dan yang tersimpan di dada para sahabat (Rasulullah SAW) (HR Imam Bukhari) Kitab Kisah-Kisah Sahabat yang ditulis Syaikhul Hadits Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi diterbitkan Pustaka Ramadhan menjelaskan, dalam kisah di atas kita dapat mengetahui tentang ketaatan para sahabat Nabi Muhammad SAW kepada Rasulullah SAW. Bagi mereka, lebih mudah memindahkan gunung daripada harus melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Allah SWT pasti menganugerahkan pahala yang besar di dalam buku catatan amal para sahabat Nabi SAW, karena jasa mereka dalam mengumpulkan Alquran yang merupakan dasar agama. Zaid bin Tsabit begitu hati-hati dalam mengumpulkan Alquran, sehingga ia tidak mengambil ayat yang tidak tertulis. Zaid bin Tsabit hanya mengumpulkan catatan-catatan yang telah ditulis pada masa baginda Nabi Muhammad SAW masih hidup, kemudian mencocokkannya dengan Alquran yang ada di dada para sahabat Nabi SAW yang hapal Alquran. Untuk mengumpulkannya diperlukan usaha yang sangat gigih, karena ayat-ayat Alquran telah ditulis di tempat yang terpisah-pisah. Namun, semuanya dapat dikumpulkan. Sayyidina Ubay bin Ka’ab Radiyallahu ‘anhu yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang paling mahir dalam Alauran selalu ikut membantu usaha ini. Melalui usaha ini, seluruh Alquran telah dikumpulkan untuk pertama kalinya oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW. (yus) Baca juga :

Read More

Kisah Az-Zahrawi, Seorang Ahli Bedah yang Luar Biasa Kehebatannya

Jakarta — 1miliarsantri.net : Az-Zahrawi lahir pada 938 di Kordoba, Andalusia. Dia merupakan tokoh yang menulis At-Tasrif, sebuah ensiklopedia medis yang mencakup berbagai aspek kedokteran, termasuk kebidanan, kesehatan ibu dan anak, dan pembedahan Abad ke-10 merupakan puncak kejayaan Bani Umayyah di Andalusia. Di bawah kepemimpinan ‘Abd ar-Rahman An-Nasir (memerintah 912-961) dan putranya, Al-Hakam II, dinasti ini membangun kedaulatan atas sebagian besar Semenanjung Iberia. Ibu kota Cordoba berkembang menjadi kota metropolitan terbesar di Eropa, sebuah kota yang berkembang dengan setengah juta penduduk, di mana institusi pendidikan dan keagamaan serta perdagangan dan industri berkembang dalam atmosfer yang penuh dengan intelektual. Pada 936, An-Nasir memulai pembangunan ibu kota baru, Az-Zahra, di lereng Al-Arus, sebuah gunung yang terletak enam mil di sebelah barat laut Kordoba. Ditujukan terutama sebagai pusat politik dan militer, kota baru ini menjadi monumen arsitektur Muslim abad ke-10. Istana-istana megah, tempat tinggal, dan taman-tamannya yang indah membuat beberapa sejarawan menjulukinya sebagai “Versailles-nya Bani Umayyah.” Bani Umayyah dan Ilmu PengetahuanMengutip About Islam, pada saat yang sama, Bani Umayyah Andalusia memberikan dukungan yang besar terhadap seni dan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu hayati. Sebagai hasilnya, sejumlah besar dokter terkemuka tertarik ke ibu kota dan menambah kemajuan kedokteran dan farmasi Islam dengan tulisan dan penelitian mereka. Di kota kerajaan di tengah-tengah atmosfer pencapaian intelektual inilah Abu al-Qasim Khalaf bin Abbas Az-Zahrawi, yang dikenal di Barat dengan nama latinnya Albucasis, lahir sekitar tahun 938. Dia adalah ahli bedah Muslim terbesar, dengan ahli bedah Eropa pada masanya menganggapnya sebagai otoritas yang lebih besar daripada Galen, ahli bedah yang diakui di dunia kuno. Teks-teks bedah Eropa abad pertengahan lebih sering mengutip Az-Zahrawi daripada Galen. Namun, karena Az-Zahra, kota kelahirannya, dihancurkan pada tahun 1011, tidak banyak yang diketahui dengan pasti tentang kehidupan awalnya. Jadhwat al-Muqtabis (On Andalusia Savants) karya Al Humaydi berisi biografi pertama yang ada (meskipun, samar-samar) tentang dokter Islam yang hebat ini, yang hanya mencantumkan leluhurnya, tempat tinggal, dan perkiraan tanggal kematiannya. Karya TulisApa yang diketahui tentang Az-Zahrawi terdapat dalam satu-satunya karya tulisnya: At-Tasrif liman ‘Azija ‘an at-Ta’lif (Metode Pengobatan). At-Tasrif adalah ringkasan 30 risalah yang disusun dari data medis yang dikumpulkan Az-Zahrawi dalam karir medisnya selama lima dekade sebagai pengajar dan praktisi medis. Dalam At-Tasrif, Az-Zahrawi menghasilkan sebuah ensiklopedia medis yang mencakup sejumlah aspek kedokteran dengan penekanan khusus pada kebidanan, kesehatan ibu dan anak, serta anatomi dan fisiologi tubuh manusia. At-Tasrif menguraikan penyebab, gejala dan pengobatan penyakit, dan membahas persiapan obat-obatan dan terapi, yang meliputi obat muntah dan jantung, obat pencahar, geriatri, tata rias, dietetika, materia medica, berat badan dan ukuran, serta penggantian obat. Pembahasan Az-Zahrawi tentang kesehatan ibu dan anak serta profesi kebidanan merupakan hal yang menarik dalam sejarah keperawatan. Teksnya menyiratkan bahwa ada profesi bidan dan perawat terlatih yang berkembang selama abad ke-10 Andalusia. Dia dan dokter ahli dan dokter kandungan lainnya menginstruksikan dan melatih para bidan untuk menjalankan tugas mereka dengan pengetahuan dan kepercayaan diri. Volume terakhir dan terbesar dari At-Tasrif, “On Surgery”, tidak lain adalah pencapaian terbesar dalam bidang bedah pada abad pertengahan. Buku ini merupakan risalah bedah independen pertama yang pernah ada. Ahli Bedah MuslimKarya ini mencakup berbagai masalah bedah termasuk kauterisasi, perawatan luka, ekstraksi anak panah, dan pengaturan tulang pada patah tulang sederhana dan patah tulang majemuk. Az-Zahrawi juga mempromosikan penggunaan antiseptik pada luka dan cedera kulit; menemukan jahitan dari usus hewan, sutra, wol, dan bahan lainnya; serta mengembangkan teknik untuk memperlebar saluran kemih dan pembedahan untuk mengeksplorasi rongga tubuh. Az-Zahrawi adalah orang pertama yang merinci operasi klasik untuk kanker payudara, litotripsi untuk batu kandung kemih, dan teknik untuk mengangkat kista tiroid. Dia menggambarkan dan mengilustrasikan tang kebidanan, tetapi hanya merekomendasikan penggunaannya pada janin yang sudah meninggal, dan memberikan deskripsi pertama yang diketahui tentang postur kebidanan yang sekarang dikenal sebagai “posisi Walcher.” At-Tasrif juga merupakan karya pertama yang mendiagramkan instrumen bedah, merinci lebih dari dua ratus di antaranya, yang sebagian besar dirancang oleh Az-Zahrawi sendiri. Banyak dari instrumen ini, dengan modifikasi, masih digunakan sampai sekarang. Dengan bangkitnya kembali minat Eropa terhadap ilmu kedokteran, At-Tasrif dengan cepat menjadi referensi standar yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebanyak lima kali. Susunan karya ini, diksi yang jelas, dan penjelasannya yang jernih, semuanya berkontribusi pada popularitas dan kesuksesan besar. Pengaruh Az-Zahrawi terhadap perkembangan bedah di Eropa sangat dalam dan bertahan lama. Guy de Chauliac, “Pemulih Bedah Eropa” yang diakui, mengutip Az-Zahrawi lebih dari 200 kali. (yan) Baca juga :

Read More